SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SALAH LIRIK


__ADS_3

Keluarga Arsen mendapatkan berita duka, Viana dan Rama memutuskan untuk keluar negeri menemui keluarga Verrel adik kandung Vi.


Ravi juga ingin ikut pergi, tapi melihat kondisi Vira yang hamil muda tidak memungkinkan jika banyak yang pergi meskipun Vira dan Wildan tidak mempermasalahkan.


Reva Bima, Jum Bisma juga pergi karena masih keluarga. Windy dan Steven diminta kembali untuk menemani pergi ke luar negeri menjaga orangtua.


Wira tinggal bersama Winda, karena pergi bukan untuk bersenang-senang. Windy akan mewakili adik-adiknya yang tidak bisa berkunjung, karena kondisi Vira yang masih memiliki baby juga sedang hamil, Winda juga sedang sibuk mengurus dua bayi, Bella juga tidak bisa melihat kedua anaknya yang sedang aktif.


Billa ingin pergi, tapi dilarang karena harus menjaga Vira, Ravi Kasih juga dilarang pergi.


"Kalian semua harus kompak, saling menjaga." Bima menatap anak cucunya yang menganggukkan kepalanya.


"Mommy, jangan sedih. Ravi kirim salam untuk Uncle Verrel, turut berdukacita atas berpulangnya istri Uncle." Ravi memeluk mommynya.


"Iya, kamu jaga Vira, juga Asih."


"Windy, kamu tidak masalah Wira tinggal." Rama menatap Wira yang terlihat ragu untuk tinggal, dia terbiasa ikut ke manapun orangtuanya pergi.


"Tinggal saja, nanti bisa panggilan video. Mommy Daddy tidak lama." Wira menatap Mommynya yang menahan tawa.


"Kamu ingin ikut tidak?"


"Tidak, tapi harus mengabari Wira terus."


Semuanya tertawa melihat ekspresi Wira, tidak heran dia tidak memiliki adik karena tidak rela jika kedua orangtuanya membagi Kasih sayang.


"Sekarang Wira sudah besar, berhenti menjadi buntut Mommy Daddy kamu, lihat sudah banyak adik." Erik mengejek Wira yang masih ragu.


"Mommy."


"Ikut tidak Wira?" Windy menatap tajam putranya."


"Emmhh, tidak. Wira harus menjaga Arum."


"Tidak akan menangis, janji lelaki dulu bersama Daddy." Steven mengulurkan jari kelingkingnya, Wira ragu-ragu untuk menyambutnya.


"Di sana banyak teman tidak Daddy?"


"Banyak, karena di sana keluarga besar Arsen."


"Tidak tidak, Wira harus menjaga adik-adik." Tangan Wira menyambut tangan Daddy-nya.


Senyuman Steven terlihat, langsung memeluk putranya yang mulai dewasa dalam berpikir meskipun sikap manjanya belum berubah.


Seluruh keluarga langsung bersiap, Windy masih menatap putranya yang menggenggam tangan Winda. Senyumannya terlihat melambaikan tangan. ( Melepaskan ke luar negeri, tapi jujur aku deg-degan teringat kecelakaan Vanessa Angel. Aku yang nulis, tapi rasanya sedih banget bayangin posisi Wira sebagai putra semata wayang.)


Air mata Wira menetes, langsung bersembunyi dibalik tubuh Winda. Langsung cepat menghapus air matanya berdiri kembali sambil tersenyum.

__ADS_1


Tangan Winda mengusap kepala keponakan nakalnya yang selalu bertengkar dengannya, tapi sekarang Wira sudah besar dan mulai belajar mandiri.


"Ayo pulang, nanti jika Wira rindu uncel siap mengantarkan ke luar negeri." Ar menggandeng tangan Wira untuk kembali.


***


Pagi-pagi Vira sudah bersantai bersama Winda sambil berjemur bercerita juga menjaga anak-anak.


Kasih dan Bella juga ada di sana memantau kondisi anak-anak yang sedang asik bermain.


Vira menerima panggilan dari Billa jika Wildan menabrak seorang wanita, kondisi Wildan baik-baik saja.


"Ayang Wil kecelakaan?"


"Lagi?" Winda berteriak kuat.


"Billa mengatakan baik-baik saja, ada kak Tama yang mengurus kasusnya."


"Astaga, ada saja masalah yang tidak berkesudahan." Kasih juga mendapatkan pesan dari suaminya jika seorang wanita muda ingin menjebak Wildan dengan kecelakaan agar bisa meminta uang.


"Jika ada masalah, artinya kita memang hidup." Bella tersenyum, menatap Vira yang melayangkan pukulan.


Sudah sore Wildan belum juga pulang, Vira menatap kesal juga khawatir. Ar mobilnya sudah terparkir, Erik juga, Tian juga baru tiba, hanya Ravi dan Wildan yang belum muncul.


Virdan menatap Maminya, mengambil pengeras suara langsung berteriak kuat.


Winda yang mendengar langsung tertawa, Ar yang baru saja meneguk air minum langsung menyembur.


Embun langsung keluar rumah, menatap Vira sambil geleng-geleng. Asih juga muncul menggunakan sepeda melihat Vira yang mirip orang gila, berdiri di depan gerbang bersama Virdan yang terheran-heran.


"Aunty tidak tahu malu, teriak-teriak." Asih melotot.


"Suka-suka Aunty."


"Boleh Em pinjam, ingin bernyanyi." Suara Embun berteriak terdengar sampai ke ujung jalan.


Mobil Wildan yang baru tiba juga langsung berhenti, membuka kaca mobil melihat Virdan menyimpan kepalanya menggunakan jaket Asih.


Ravi juga baru sampai hanya bisa mengusap dada melihat putrinya goyang heboh bersama Embun, Kasih langsung berlari ingin memukul putrinya yang suaranya teriak-teriak.


"Dasar keturunan Prasetya, jika tidak heboh dan mengguncang dunia tidak tenang hidupnya." Winda tertawa melihat putrinya yang sudah merangkak, sangat senang melihat Asih dan Embun berjoget.


"Sayang, Arum bukannya juga keturunan Prasetya." Ar tersenyum menunjukkan ke arah putrinya.


"Asih! pulang mandi." Kasih menarik telinga putrinya.


"Nanti!" Asih masih lanjut joget.

__ADS_1


"Amit-amit, ya Allah jangan sampai putriku mirip dua anak ini." Vira mengusap perutnya melangkah menjauhi Asih dan Em.


Suara Billa sudah besar, berteriak memanggil Embun yang masih bernyanyi.


"Balonku ada lima ... ye ye ye, ku pecahkan semua ye habis. Lanjut kak Asih."


"Cicak cicak di pohon, diam-diam mengintip datang seekor ular, buntutnya langsung putus."


Ravi cekikikan tertawa, memegang perutnya tidak punya kata-kata lagi melihat dua wanita yang sama konyolnya.


Wildan langsung menggendong putranya, membiarkan dua biduan bernyanyi.


"Bulan ayo bernyanyi." Asih memberikan mix ke mulut Bulan.


"Haaa hahaha hahaha."


"Lagu apa haha." Embun mengambil mix kembali dirampas oleh Embun membuat Bulan langsung marah.


"Tidak heran kalian berdua tidak lulus nilai bernyanyi, lirik lagu diubah sesuka hati kalian." Kasih menatap tajam putrinya.


"Mommy, kenapa mommy suka marah-marah? Asih capek mendengarnya." Asih menegur Kasih sambil bernyanyi.


Ravi memeluk istrinya, mengusap punggung istrinya untuk lebih sabar lagi.


Vira yang memulai perkara hanya diam saja, melihat Raka datang mencabut speaker. Menatap tajam Asih dan Em yang langsung menundukkan kepalanya.


"Ada apa ini?" Wira dari lantai atas berteriak.


"Kalian tahu tidak sudah menganggu?" Raka menaikan nada bicaranya.


"Raka, jaga nada bicara kamu. Jika tidak suka mendengarkan bisa kamu menggunakan headset, jangan didengar." Wira menatap tajam Raka yang langsung melangkah pulang.


Asih dan Em memberikan jempol untuk Wira yang selalu membela mereka.


Vira tersenyum melihat Wira, menatap suaminya yang juga menahan tawa.


"Embun, perbaiki lagi lagu kamu balon pecahnya satu-satu bukan langsung lima." Wira masuk kembali ke kamarnya untuk lanjut tidur.


"Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Merah kuning kelabu merah muda dan biru, haduh panjang sekali kenapa tidak langsung dipecahkan saja semuanya?" Embun menatap Asih yang sudah lanjut main sepeda.


Vira masuk bersama Wildan, wajah Vira terlihat khawatir.


"Siapa yang Ayang tabrak?"


"Gadis yang di rumah sakit, sekarang dia dirawat." Wildan ingin mandi terlebih dahulu, baru bercerita.


***

__ADS_1


__ADS_2