
Di rumah sakit sudah ramai keluarga, Reva sudah menangis histeris mendengar kabar putranya dan calon menantunya kecelakaan.
"Sabar sayang, Wildan sudah menghubungi kita mengatakan jika mereka baik-baik saja." Bima mengusap kepala Reva yang menangis tidak tenang.
Erik keluar dari ruangan Wildan tersenyum mengatakan Wildan baik-baik saja, dia hanya mengalami luka ringan." Erik meminta keluarga untuk tidak mengkhawatirkan Wildan, hanya saja Ar yang lumayan parah.
"Siapa yang menyebabkan kecelakaan ini?" Tatapan Reva tajam, Ravi dan Tian saling pandang, karena mereka sudah memperingatkan untuk menunda pekerjaan.
"Mungkin kecelakaan normal Mam, mobil ditabrak dari belakang." Ravi berusaha berpikir positif, sebelum mendapatkan penjelasan dari Wildan dan Ar soal kecelakaan mereka.
"Jangan bohongi Mami Ravi, tanpa kalian mengungkapkannya Mami sudah tahu jika kecelakaan ini disengaja." Air mata Reva menetes, Viana menatap Ravi yang hanya menundukkan kepalanya.
Dalam bisnis pasti ada yang namanya saingan, kabar bahagia selalu diiringi dengan konflik. Terutama Wildan yang hidup dengan bebas.
Pintu terbuka, Wildan langsung keluar menatap tajam Winda yang duduk diam bersama Vira. Kaki Wil terluka sampai jalan saja pincang.
"Kenapa pengantin kaki pincang?" Reva menangis lagi.
"Winda kamu ikut kak Wil." Wildan melangkah menjauhi keluarga yang masih menatapnya tajam.
"Jika ada masalah dengan Winda, pastinya ada sangkut pautnya dengan Vira." Mata Vira menatap Wildan tajam, langsung berdiri meminta maaf.
"Sadar kalian membuat masalah, sekarang aku tanya kapan terakhir kalian membuat masalah?" Cara pandang Wildan sudah mengintrogasi, Ar juga keluar dari kamar rawat dengan menggunakan alat bantuan karena kakinya mengalami keretakan.
"Kita bisa membereskan mereka." Winda langsung melangkah pergi.
"Winda, sampai kapan ingin saling membalas? jika salah minta maaf tidak akan menjatuhkan harga diri kamu, demi kebaikan semua orang. Mungkin hari ini kita kecelakaan demi menghindari orang lain terlibat, jika tidak di lampu merah akan terjadi kecelakaan beruntun." Ar menatap mata Winda yang tidak terima dengan ucapannya, Winda langsung melangkah mendekati Ar.
"Lalu mau kamu apa?"
"Minta maaf, bukan hanya kita yang terluka, tapi mereka juga."
"Baiklah, setelah dia ada di kuburan." Winda tersenyum sinis, kekesalannya sudah terpancing.
__ADS_1
Vira menarik Winda, dia menyetujui untuk meminta maaf.
"Memang siapa pelakunya?" Vira tersenyum menatap Ar yang sempat menolong korban saat kecelakaan.
"Dia perempuan yang kamu siram dengan bubur panas, saat kita kembali." Vira berdehem, Winda langsung menatap serius.
Wildan menggelengkan kepalanya, Winda langsung melangkah pergi menolak untuk meminta maaf, dia tidak akan menyakiti orang jika tidak mengusiknya.
Bima mengejar putrinya meminta Winda mengalah satu kali saja, perdebatan terjadi Bima tidak bisa menaikan nada bicaranya jika berurusan dengan Winda.
"Winda kamu bisa tidak lebih sopan dengan Papi kamu?" Reva menatap tajam.
"Winda tidak akan minta maaf, dia yang harus meminta maaf lebih dulu."
"Kamu sadar tidak sudah merusak wajah dia, kamu gila Win sampai orang cacat begitu." Reva berteriak menatap putrinya.
Windy langsung mengehentikan perdebatan, melarang Winda menjawab Maminya.
"Gila, kenapa memangnya jika Winda gila?"
Steven langsung memeluk Winda, menyentuh kedua bahu gadis yang bagi Stev paling sulit dibaca pikirannya.
"Winda dengarkan kak Stev, jangan meminta maaf jika kamu merasa benar, tapi berikan satu jawaban agar semua orang paham jika memang kamu tidak wajib meminta maaf." Steven menatap mata Winda yang menyimpan kemarahan, dia sangat mempercayai Winda jika tidak pernah menyakiti orang jika dia benar.
"Apa jaminannya kak Stev?"
"Kak Steven akan membuat wanita itu yang meminta maaf kepada kamu." Steven juga deg-degan jika sudah membuat kesepakatan dengan Winda.
Senyuman Winda sinis, mengirim sebuah bukti dari file tersembunyi handphone Winda yang sudah lama dia sembunyikan.
Seluruh keluarga melihat ponsel masing-masing langsung teriak kaget, Winda mengirimkan bukti soal beberapa bulan yang lalu sebelum mereka kembali. Winda menemukan keanehan dari video Asih yang diunggah oleh pengasuhnya.
Demi keamanan Rasih, Winda menghubungi penjaga Rasih untuk berhati-hati. Bodyguard wanita yang menyamar menjadi pengasuh untuk lebih waspada, pengasuh Asih seseorang yang bekerja di bawah Vira yang tersebar di sekitar keluarga, tapi hanya Winda, Vira, Bella dan Billa yang tahu.
__ADS_1
Sebenarnya Rasih sudah lama diincar oleh para penculik anak penjabat, saat kembali Winda sengaja pergi ke tukang bubur langganan mereka untuk bertemu langsung dengan pelaku.
Sengaja juga menyiramnya dengan bubur panas agar mendekati Winda, Vira dan Bella. Winda merahasiakan penyelidikan kepada Bella dan Vira karena belum terbukti.
"Jika aku tidak memperingati pengasuh Asih, sudah lama kita semua terkena masalah." Winda menatap tajam.
"Pantas saja dia mengenali kita, padahal Vira lupa-lupa ingat. Mereka sudah mengawasi keluarga kita demi bisa mendapatkan banyak uang." Vira menganggukkan kepalanya.
"Kenapa wajahnya hancur Win?" Windy menatap binggung.
"Bubur memang panas, tapi tidak akan membuat hancur wajah. Dia sengaja mengubah wajahnya, menyebabkan kecelakaan lalu berpura-pura terluka juga setelahnya meminta bayaran tinggi. Akhirnya keluarga Bramasta dan Prasetya tertipu." Winda menendang kursi langsung melangkah pergi.
"Ah satu lagi, ingatkan dia untuk meminta maaf sebelum aku membuat wajahnya lebih buruk, sekalian membusuk di penjara." Vira langsung melangkah pergi mengejar Winda, langsung merangkul Winda yang memang memiliki banyak rahasia, juga tidak pernah merasa dirinya salah.
Viana bertepuk tangan pelan, dia mengagumi cara kerja Winda yang tidak membuat heboh keluarga. Menyelesaikan masalah dengan cara santai, halus.
"Winda mirip Vi dulu, tidak banyak bicara tapi banyak orang hancur. Winda bisa menjadi pengacara hebat, tapi tidak pernah memiliki kasus. Memangnya kenapa?" Vi menatap Stev yang hanya tersenyum.
"Menurut pandangan Stev dia memiliki kasus yang belum terpecahkan, tidak akan mengaggap dirinya sendiri pengacara yang hebat jika meninggalkan satu kasus di tengah jalan. Prinsip pengacara yang hebat semuanya harus berakhir di meja persidangan." Senyuman Stev terlihat bangga dengan adik kecilnya.
"Kak Vi, siapa pengasuh Asih sebenarnya?" Reva berbisik, Viana juga binggung.
"Entahlah, mereka seperti bekerja bukan karena bayaran yang mahal."
"Jangan bilang mereka bodyguard yang Vira pekerjaan dari grup V."
"Reva, jika memang iya biarkan saja. Jangan sampai suami kita tahu jika Komplotan aku dulu masih eksis." Viana tersenyum bersama Reva yang menyembunyikan kebenaran dari suami mereka.
"Siapa pengasuh Asih sebenarnya? Ravi harus mencari tahu."
"Jangan, biarkan saja. Paling penting dia menjaga keamanan anak-anak kamu, bekerja dengan baik dan menurut dengan keluarga kita. Oke sayang." Vi mengusap punggung Ravi.
"Sudah, masalah ini minta orang lain yang membereskan, kalian berdua harus istirahat untuk bersiap-siap menikah. Tidak lucu malam pertama kaki pincang." Reva tertawa melihat Wildan dan Ar.
__ADS_1
***