
Sudah hampir satu minggu di Bali, Bella duduk di pinggir kolam menatap langit biru di depannya juga ada laut yang sangat indah.
Seharunya dia sudah menikah dan halal, tapi musibah menimpa mereka membuat pernikahan di undur.
Suara tawa Winda sudah terdengar, keadaannya cepat pulih karena memang tidak pernah bisa diam.
Winda langsung menceburkan diri ke kolam, berenang mendekati Bella yang menatapnya.
"Memang kamu sudah boleh berenang Win?" Bella tersenyum.
"Boleh tidaknya siapa peduli, Winda tidak sakit. Rasanya enak sekali bisa berendam." Winda menyelam berkali-kali.
Suara Maminya pulang terdengar, Winda langsung lompat ke atas berpura-pura kecebur dalam kolam.
"Winda, Winda kebanyakan gaya mendengar suara Mami langsung naik." Bella tertawa lucu.
Winda dan Bella menatap Vira yang sudah membawa bebek, Rasih langsung berenang bersama Vira.
Melihat Vira juga mandi Winda langsung mandi lagi, Bening juga datang bersama Binar langsung berenang, Billa juga membawa Embun.
"Kalian berdua baru dari sakit sudah berenang." Billa menggeleng kepalanya.
Vira langsung berenang ke arah Bella, melihat lautan yang sangat indah. Alam Indonesia memang luar biasa indahnya.
"Kenapa kita tidak pernah berpikir untuk traveling?" Vira tersenyum menikmati indahnya alam.
"Iya ya, padahal alam sesuatu yang sangat indah." Winda menatap Bella yang tersenyum.
"Bali memang memiliki tempat wisata yang luar biasa indahnya, menjadi tempat pariwisata yang sangat wajib dikunjungi. Selain memiliki pantai yang indah, Bali juga terkenal dengan sebutan pulau Dewata karena kentalnya budaya Hindu." Bella tersenyum.
"Tahu dari mana Bel?"
"Lihat di Mbah gogeling." Bella tersenyum melihat mata Vira dan Winda.
"Kita liburan ke pulau seribu, katanya di sana bagus." Winda langsung duduk di pinggir kolam.
"Memangnya di mana Win pulau seribu?" Vira mengerutkan keningnya.
"Tanya saja Mbah gogeling, dia maha tahu yang kita butuhkan. Ada pulau seribu, ada kota seribu masjid, ada pulau seribu pura, seribu sungai, seribu laut, seribu langit." Winda tertawa melihat tatapan Rasih.
"Aunty kalau sudah tahu bodoh jangan di perlihatkan, bikin malu keluarga Bramasta." Rasih menggeleng.
__ADS_1
Vira sudah tertawa, Bella memegang perutnya melihat Winda yang mengejar Rasih sampai lari ke dalam villa.
Embun tertawa melihat Winda yang kesal, Winda langsung menggendong Embun membawanya berenang.
"Asih bisa mengejek orang, padahal dia juga sama bodohnya." Winda melotot.
"Bodoh ...," Embun mengikuti ucapan Winda, meskipun tidak jelas.
"Winda kamu mengajari anak aku apa?" aku kasih tahu kak Erik kamu mengajari Embun bicara bodoh." Billa langsung melangkah masuk.
"Kak ... kak Bil ... sekalian bawa anaknya." Winda meletakkan Embun di pinggir kolam.
Binar tertawa langsung menggendong Embun yang menyukai air, langsung membawanya ke pinggir kolam.
Vira tersenyum menatap Winda yang menyelam, takut dimarah Erik yang memang sangat berhati-hati menjaga Embun.
"Kak Bel sedih karena penikahan diundur?" Vira duduk di samping Bella.
"Pastinya, tapi mungkin ini yang terbaik. Kamu dan Winda sudah sehat menjadi kebahagiaan terbesar kami." Bella memeluk Vira.
"Alhamdulillah, aku pikir kami berdua sudah mati." Vira tersenyum melihat Winda berdebat dengan Erik yang sama cerewetnya.
Winda tidak pernah ingin disalahkan, langsung menuduh Billa yang mengajarinya. Erik hanya tersenyum melihat istrinya kesal.
Vira tersenyum, saat Winda terjatuh seharusnya pramugari bisa menolong Winda, tapi tidak memperdulikannya. Melihat Winda dan Vira mencoba bertahan menjadi tontonan semua pramugari.
Vira mengerti, siapa yang ingin terluka? semuanya ingin menyelamatkan diri sendiri, menutup mata dan telinga seakan tidak melihat apapun.
Winda menangis saat pesawat sudah bisa mendarat, langsung duduk kembali bersama Vira, saling menggenggam langsung pertama kali keluar.
"Sebenarnya tangan, kaki gemetaran Bel tapi melihat keluarga yang juga panik, tidak ingin menjadi beban. Bisa keluar lalu melihat seluruh keluarga dalam keadaan baik sudah lebih dari cukup." Vira meneteskan air matanya.
"Bella minta maaf kak Vir, sungguh kami tidak mengetahui apapun yang terjadi." Bella menghapus air mata Vira.
"Kami pergi ke rumah sakit ingin cek, karena Winda sesak napas, hidungnya juga berdarah, tapi melihat keadaan Yusuf lebih parah dari kami, sehingga masih bersyukur." Vira tersenyum melihat Winda yang berenang.
"Trauma naik pesawat tidak Vir? Binar duduk di samping Vira.
"Emh, tidak juga. Vira takut karena kita bersama keluarga besar, jika hanya sendiri ya sudah pasrah." Senyuman Vira terlihat mengatakan jika dia tidak trauma.
"Winda, kamu trauma tidak naik pesawat?" Billa menatap Winda yang sedang berpikir.
__ADS_1
"Trauma pasti, tapi Winda tidak ingin naik kapal laut lama sampainya." Winda langsung tertawa kuat.
Vira tertawa bersama Bella, Billa hanya tersenyum melihat Winda sudah kembali gila.
Senyuman terlihat berbicara dengan santai sambil mengobrol, Binar juga bergabung menceritakan kandungannya, Karin dan Kasih juga ikut mengobrol.
Tingkah jail Vira mulai muncul menggoda Karin yang masih pengantin baru, mempertanyakan rasanya malam pertama.
Karin mengerutkan keningnya malu-malu, bagi yang pengalaman sudah paham dengan senyuman Karin, tapi rasa penasaran Bella, Vira dan Winda tidak terobati.
"Jika kalian penasaran langsung menikah saja." Karin tersenyum.
"Yeee Uncle Ar pulang, Ning mau bertemu uncle." Bening langsung mengambil baju mandinya, berlari ke dalam villa bersama Rasih.
Semuanya langsung berdiri melangkah ke dalam villa, Vira juga mengambil baju ganti untuk melihat ke dalam.
Winda hanya diam saja masih ada di dalam kolam, Bella juga melangkah masuk, tapi menghentikan langkahnya.
"Winda, kamu masih ingat pesan Fly." Bella tersenyum.
Winda hanya tersenyum saja, langsung berenang ke pinggir kolam melihat lautan. Winda masih mengigat saat Fly mengatakan cintanya kepada Yusuf.
Senyuman Winda terlihat, dia wanita tangguh tidak akan muda terkalahkan. Cinta memang indah, tapi terlalu merepotkan.
Air laut saja masih mengkhianati pantai, dia akan datang lalu pergi, apalagi cinta. Mungkin hanya sedang singgah, bukan untuk menetap.
Winda langsung naik, mengambil bajunya melangkah masuk melihat Yusuf yang juga memperhatikannya.
Vira tersenyum menatap Yusuf, mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan keluarganya.
"Kami memiliki hutang kepada kak Ar." Vira tersenyum.
"Kamu jauh lebih hebat Vira, aku tidak pernah melihat wanita tangguh dan setia seperti kamu. Maaf karena sudah membuat kamu terluka, kejadian kemarin kita anggap pengalaman hidup, jangan merasa memiliki hutang budi, kita semua memang ditakdirkan selamat." Yusuf tersenyum menatap Vira, langsung menatap Winda yang melangkah pergi.
Mami langsung tersenyum, kagum sekali dengan calon menantunya.
"Winda, aku sudah menepati janji. Maaf juga sudah membuat kamu terluka." Yusuf menatap Winda yang tidak menoleh sama sekali langsung masuk ke dalam kamar.
"Janji apa?" Vira meminta Yusuf berbisik.
"Winda meminta aku berjanji agar cepat pulih, jika tidak dia akan membatalkan perjodohan." Yusuf tersenyum.
__ADS_1
Vira langsung teriak heboh, berlari menuju kamar Winda, Bella juga langsung berlari, Billa langsung memberikan anaknya kepada Erik ingin mendengar pengakuan Winda.
***