SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PENDARAHAN


__ADS_3

Di kediamannya Kasih tidur dengan gelisah, memasuki bulan ke 7 tubuh Kasih sakit semua. Ravi setiap malam tidak bisa tidur, memijat seluruh tubuh Kasih agar bisa tidur. Ravi tidak tega melihat Kasih yang terus meringis setiap malam, perutnya juga semakin besar.


Melihat Kasih sudah tidur dengan tenang, Ravi keluar kamar untuk menemui Tian yang datang untuk diskusi. Erik yang masih belum kembali, menolak panggilan Tian dan Ravi.


"Erik gila sudah lebih satu minggu belum juga kembali, kesalnya kali ini lama banget marahnya." Ravi menghela nafasnya.


"Rav, Erik sudah mengetahui keadaan Wildan, kemungkinan juga sudah menemui Vira untuk berhenti bermain-main, juga menceritakan keadaan kita."


"Bella ada berbicara sesuatu?"


"Tidak, hanya feeling. Soalnya data Vira sudah di delete semua, berarti mereka menutup permanen."


"Baguslah, aku juga tidak ingin mereka dalam bahaya. Walaupun Ravi tidak meragukan kecerdasan mereka."


"Iya Vi, semoga saja setelah ini semuanya tenang."


"Bagaimana keadaan Wildan? kapan kita bisa membawanya kembali?"


"Dia akan kembali jika sudah saatnya, Wildan tidak ingin orang mengetahui identitasnya."


"Setidaknya Ravi bersyukur, kecerdasan Wildan bisa berguna juga di saat sedang genting. Dia bukan hanya pintar kepalanya, tapi fisiknya juga."


"Sama Rav, aku juga tidak menyangka dia ahli bela diri, gurunya Yusuf. Keluarga kita juga berhutang kepada Yusuf yang sudah menyelamatkan dan menolong Wildan."


"Kak Tian benar. Lalu bagaimana perusahaan?"


"Aman, aku bisa menariknya lagi ke atas, tapi tidak bisa menjatuhkan Karin karena ada Karan di belakangnya." Tian tertawa jika mengingat kemarahan Mommy.


"Sangat menyebalkan bersaing dengan seorang hacker, selain ahli komputer, dia pintar membolak-balik fakta." Ravi menggeleng kepalanya.


Ravi masih mengobrol banyak hal bersama Tian, pembicaraan keduanya saling nyambung dalam banyak hal. Karena Ravi sudah terbiasa jarang tidur malam, menemani Kasih yang selalu mencarinya.


"Rav, sebaiknya kak Tian pulang. Sekarang sudah hampir subuh, sampai bertemu besok saat rapat."


"Iya kak."


Teriakan kuat dari lantai atas mengagetkan Ravi dan Tian yang baru berdiri dari duduknya, suara Kasih memanggil Ravi dengan sekuat tenaga.


Ravi langsung berlari, menaiki tangga membuka pintu melihat Kasih tidak ada di ranjang, pintu kamar mandi terbuka.

__ADS_1


"Aak ...."


"Sayang." Ravi kaget melihat darah mengalir di kamar mandi, Tian juga masuk kaget melihat Kasih sudah terduduk lemas, penuh darah.


"Ravi sadar." Tian menepuk pundak Ravi untuk melihat Kasih.


"Astaghfirullah Al azim Kasih, kak Tian tolong keluarkan mobil. Kita langsung ke rumah sakit."


"Langsung menggunakan mobil kak Tian saja."


Ravi langsung menggendong Kasih, tubuh Kasih terkulai lemas. Tangannya penuh darah, mengelus wajah Ravi yang terlihat sangat panik.


Tian sudah menghidupkan mobil, Ravi Kasih masuk langsung menuju rumah sakit. Air mata Ravi menetes menenangkan Kasih yang terus merintih menahan sakit.


"Aak, sakit. Anak kita baik-baik." Kasih mengelus perutnya, Ravi juga mengelus perut Kasih.


"Sabar sayang, kalian akan baik-baik saja." Ravi berusaha untuk tenang, menenangkan Kasih yang terus menahan sakit perutnya.


"Aak sakit sekali, kenapa twins tidak bergerak lagi Aak, biasanya jam segini mereka sudah bangun." Kasih terus menangis.


"Twins baik-baik saja sayang, kamu kenapa bisa jatuh. Jangan berpikir hal jelek."


Kasih menceritakan jika dirinya terbangun karena perutnya sangat sakit, awalnya Kasih berpikir mungkin hanya sakit perut, langsung bangun ke kamar mandi, tapi saat ingin buang air kecil Kasih melihat darah mengalir, terus mengalir deras sampai akhirnya dia terduduk tidak berdaya.


"Mungkin tidak Aak, Kasih keguguran. Kasih gagal menjaga anak Kasih." Kasih terus meracau.


Ravi hanya bisa diam, menggenggam erat tangan Kasih. Kesedihan Ravi tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, sekarang Allah mengujinya lagi dengan keadaan anaknya, bayinya belum memasuki usia 9 bulan, Ravi bahkan belum sempat menyediakan kamar bayi, baju twins, bahkan nama saja belum di siapkan.


"Ya Allah, sekuat apa hatiku. Sehingga engkau uji lagi dengan anakku, selamatkan mereka ya Allah." Batin Ravi dalam hati sambil terus meneteskan air matanya.


Tian juga tidak menyadari jika air matanya juga menetes, merasakan kesedihan Kasih dan Ravi soal anak mereka.


Tian menghubungi pihak rumah sakit sambil terus fokus menyetir, meminta tim terbaik untuk bersiap, Tian tidak ingin ada kelalaian dalam menangani Kasih.


***


Rumah Viana dari subuh sudah terdengar suara teriakan, asisten rumah Ravi datang. Rama dan Viana baru saja turun untuk sholat berjamaah, melihat tangan mbak yang mengurus rumah Ravi gemetaran.


"Tuan Nyonya maaf menggangu. Nyonya muda jatuh di kamar mandi, mengalami pendarahan hebat, sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit."

__ADS_1


Viana masih mematung, tidak percaya dengan pendengarannya. Rama juga berusaha untuk tenang, memeluk pundak Viana untuk berpikir positif.


"Sayang kita sholat dulu, doakan mereka baru menyusul." Rama menarik tangan Viana untuk sholat.


Dalam doanya Viana meneteskan air matanya, berdoa semoga cucu dan menantunya baik-baik saja. Ravi juga diberikan kesabaran, Rama menghapus air mata Viana, berdoa bersama-sama.


Rama masih sempat mengabari Bima dan Bisma, Viana juga masih berjalan tenang menunggu Rama di dalam mobil.


"Sayang kita pergi sekarang ke rumah sakit, kita kuatkan Ravi dan Kasih." Rama menggenggam tangan Vi, tidak melepaskannya sedikitpun.


Mobil dikendarai oleh supir, jalanan juga masih sepi karena masih sangat pagi. Viana melihat ke arah luar jendela, mengingat Ravi kecil saat pertama masuk mobil bersama Vi dan Rama.


Tawa Ravi sangat bahagia, melihat bayangan Ravi menggunakan uang dolar, meminta uang rupiah kepada Daddy-nya untuk berbagi.


"Hubby, masih ingat tidak Ravi kecil duduk di sini, saat pertama kali kita satu mobil setelah memiliki anak."


"Hubby pasti ingat vi."


"Mommy bermimpi, melihat dua anak kecil juga duduk di sini sedang mengoceh, tawa mereka melihat sekeliling bersama kita Hubby. Viana jadinya ingin sekali bisa melihat cucu kita seperti melihat Ravi dulu."


"Pasti bisa sayang, nanti kita jalan-jalan bersama mereka. Kita sudah berdoa yang terbaik, tapi Allah yang paling mengetahui yang terbaik untuk kita."


"Demi mereka baik-baik saja hubby."


"Insyaallah Vi, kita serahkan keselamatan Kasih, twins kepada allah."


"Viana baru membeli sedikit baju, sudah membungkusnya dengan kado, Ravi mengatakan akan membeli perlengkapan bayi setelah acara tujuh bulanan, Mommy sudah menyiapkan kado untuk mereka." Viana tidak kuasa menahan air matanya.


"Nanti kita serahkan kepada twins, kado dari Halmeoni. Mereka pasti sangat menyukainya." Rama memeluk Viana, menghapus air matanya untuk tetap kuat, demi Vi dan Ravi.


"Ravi kamu kuat nak, Allah menguji kamu, karena kamu mampu menghadapinya." Batin Rama dalam hati.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2