
Sudah larut malam, lelah selama tiga hari tidak tidur membuat Wildan tertidur sejak selesai sholat isya.
Angin kencang terdengar, Mansion mewah Wildan terasa menyeramkan karena jauh dari pemukiman penduduk, juga banyak pepohonan membuat suasana langsung mencengkram.
Lampu langsung mendadak mati, kepanikan terjadi di kamar Vira dan Winda, keduanya langsung melangkah keluar menggunakan senter handphone.
Yusuf yang memang belum tidur langsung menarik Winda dan Vira meminta keduanya mematikan senter.
Kedua tangan Yusuf digantungi dua wanita yang memeluknya erat. Perlahan Yusuf mengintip melihat beberapa orang mulai masuk.
"Horor sekali." Vira bicara pelan karena takut.
"Siapa mereka?" Winda menatap bayangan hitam di lantai satu.
"Mereka benar-benar muncul." Yusuf menghela nafasnya, prediksi Wildan tidak pernah salah. Yusuf menggelengkan kepalanya.
Beberapa orang mulai masuk ruangan pribadi Wildan, mengcopy semua data yang Wildan temukan memasukkan virus untuk merusak sistem komputer.
"Kita akan diam saja?" Vira menatap Yusuf.
"Emh."
Vira melangkah perlahan, membuka kamar Wildan yang terlihat gelap. Vira berpikir Wildan sedang mengawasi, tapi ternyata Wildan tidur nyenyak.
Senter handphone hidup, Vira menutup mulutnya menahan tawa melihat Wildan tidur mengorok.
"Astaga Wil ternyata kamu punya kurangnya juga." Vira langsung tertawa lucu melihat Wildan yang masih mimpi indah.
Vira merekam tidur Wildan, saat Wildan bangun pasti akan malu sekali melihatnya dirinya."
Winda meraba mencari tangan langsung menggenggam erat, Yusuf menatap tangannya melihat wanita yang paling membencinya.
"Di mana Vira?"
"Kamu tahu ini tangan aku?" Yusuf menatap ke arah suara.
"Bau tubuh kalian beda, ukuran tangan juga beda. Anggap saja aku akan menyelematkan kamu karena ada hutang."
"Kamu pengacara, tapi mengapa melakukan penyelidikan melalui tatapan dan penciuman."
"Karena aku tidak percaya dengan siapapun." Winda menggenggam tangan Yusuf melihat langkah kaki menaiki tangga.
Yusuf dan Winda langsung sembunyi, satu tangan Yusuf menutup mulut Winda.
Pintu kamar Wildan terbuka, Winda ingin melangkah menemui kakaknya tapi Yusuf menahannya.
Di dalam kamar Vira melihat bayangan masuk, mendengar pembicaraan keduanya ingin membunuh Wildan.
"Dia harus kita singkirkan, W memang bekerja di belakang layar, tapi dia mengetahui segalanya."
"Hidupkan lampunya."
__ADS_1
Lampu hidup, Wildan terlihat sedang tidur nyenyak.
Vira langsung berlari menahan belati yang akan ditancapkan di dada Wildan, tiga orang langsung menatap Vira, salah satunya menendang Vira kuat sampai terpental.
"Wildan bangun." Vira teriak kuat.
Tangan Wildan langsung menahan, menendang kuat. Vira langsung berdiri menyerang.
"Kenapa kamu ada di sini Vir?"
"Kenapa kamu tidur Wil?"
Wildan langsung maju menyerang, Vira juga membantu Wildan melumpuhkan lima lawan.
Seluruh lampu sudah hidup, Winda dan Yusuf sudah bertarung karena ingin mengecek keadaan Wildan.
Di dalam kamarnya Bella sedang mengotak-atik komputer bersama Randu yang harus bisa mendapatkan yang Wildan katakan, Randu tersenyum melihat lawan masuk jebakan Wildan.
"Sudah selesai belum?" Dewa menatap Randu.
"Sebentar lagi kak?" Randu mengakses sistem keamanan.
"Mati kalian semua, beraninya menyusup ke sini." Bella tersenyum, menyebarkan virus untuk komputer lawan sehingga Randu bisa mengambil alih.
"Hanya satu yang lolos, dia membawa file penting yang Wildan temukan." Dewa menatap CCTV.
"Kalian gila ya?" Winda membuka pintu langsung membantingnya.
Winda kesal karena Wildan sudah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Winda dan Vira. Wildan sudah memprediksi cuaca jika akan ada hujan dan angin kencang.
Kematian listrik juga Bella yang melakukannya, mereka sengaja menjebak laman agar mendekat.
Wildan masuk bersama Yusuf dan Vira yang mengomel karena dia tidak mengetahui jika ada rencana jebakan.
"Kamu baik-baik saja Wil?" Dewa menatap Wildan yang menganggukkan kepalanya.
Wildan langsung meminta Winda bergeser karena dia ingin tidur, Winda yang cemberut tidak mengizinkan.
Melihat tingkah adiknya yang sedang kesal, Wildan langsung tidur mengenai tangan Winda.
"Kak Bel semangat semoga berhasil, Wildan istirahat dulu." Wildan memejamkan matanya.
Winda langsung memukul Wildan, memeluk kakaknya yang tidak menganggapnya ada.
"Kalian semua tega sekali, kenapa kita tidak dikasih tahu?"
"Vira, kita sudah membicarakannya, kamu dan Winda yang tidak mendengarkan sibuk bercerita tidak tahu arah." Bella menatap tajam.
"Jahat." Vira langsung duduk di samping Dewa, meletakan kepalanya di pundak Dewa yang diam saja.
Wildan membuka matanya, Winda juga melihat ke arah Vira dan Dewa. Merasa ditatap tajam oleh twins W Dewa langsung berdiri mendekat Bella.
__ADS_1
Mata Wildan tertutup, Winda tersenyum memeluk kakaknya. Vira mendekati Dewa yang sedang menatap Bella.
"Dewa ikut aku sebentar." Vira melangkah ke arah balkon diikuti oleh Dewa.
Angin kencang dan ujan masih lebat, Dewa melihat petir menggelegar. Vira hanya diam saja melihat langit yang sedang tidak bersahabat.
"Ada apa Vira?"
"Kenapa kamu selalu menghindari aku?" Vira menatap tajam.
"Apa tujuan kamu mendekati aku?" Dewa menatap ke depan, tidak ingin melihat kemarahan Vira.
"Dewa, aku tidak mempercayai kamu. Jangan dekati Bella, dia memiliki luka besar di hatinya. Hanya ada satu lelaki dalam hidupnya, jangan kamu pikir bisa memiliki dia."
"Aku tahu, dia sangat mencintai Bastian. Salah jika aku ingin menggantikan Tian, salah jika aku ingin mengobati lukanya?" Dewa menatap mata Vira.
"Siapa kamu Dewa? kamu tahu banyak hal soal kami?"
"Siapa yang tidak mengenal keluarga kalian? aku sangat mengenal baik Bastian, pengusaha muda yang sangat baik, tapi sayang dia sudah beristri."
Vira tersenyum, mendekati wajah Dewa meminta berpikir kembali untuk mengambil hati Bella.
"Aku mencintai Bella Bramasta, setelah masalah ini selesai aku akan melamarnya. Kamu yang berhenti mendekati aku hanya untuk memanasi Wildan." Dewa langsung melangkah ingin pergi.
Vira mencengkram kuat tangannya, menatap punggung Dewa yang berhenti di depan pintu langsung membalikan tubuhnya kembali mendekati Vira.
"Vira, aku tidak menyangka kamu mengetahui siapa aku?" Dewa tersenyum merapikan rambut Vira.
"Kamu sendiri yang mengatakan jika kami sangat terkenal, aku tidak akan melepaskan kamu Dewa."
"Kamu mencintai aku sehingga tidak ingin melepaskan?" Dewa menyentuh hidung Vira.
Vira mengalungkan tangannya di leher Dewa, mendekati telinga Dewa membisikkan sesuatu yang membuat Dewa kaget.
"Vira."
"Jangan main-main Dewa, aku bukan wanita lemah. Kamu pasti tahu jika di dalam tubuhku ada darah Viana Arsen." Vira tersenyum licik.
Dewa tersenyum langsung melangkah pergi, Bella dan Randu menatap Dewa yang melangkah pergi.
Yusuf hanya diam saja menatap Vira yang melangkah kembali ke atas ranjang, memeluk Winda.
"Sakit hati Vir?" Winda berbisik.
"Iya, dia mencintai kak Bel. Vira patah hati kedua kalinya." Vira memeluk erat Winda.
"Ayo kita membuat grup komunitas jomblo." Winda mengusap rambut Vira.
"Dia orang yang sudah kamu prediksi Winda, dugaan kamu tidak salah."
"Jangan marah, jangan takut ada Winda di sisi Vira." Winda dan Vira saling menggenggam tangan.
__ADS_1
***