SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 HARUS PERGI


__ADS_3

Makan malam bersama dengan keadaan hening, Ravi menatap yang lainnya dalam keadaan binggung. Biasanya Vira akan sibuk tertawa, Winda mengomeli yang lainnya, tapi kali ini terasa hening.


Bastian melangkah pergi setelah menghabiskan makan malamnya, langsung tidur di sofa depan. Bella berjalan mendekati kakaknya yang terlihat gelisah.


"Kak, tidur dia kamar saja, rumah ini ada 3 kamar tamu." Bella mendekat duduk di samping Tian.


"Biarkan Ravi bersama Kasih, kak Tian ingin sendiri Bella."


Bella melangkah pergi, langsung ingin tidur bersama Kasih, Karin. Vira yang merasakan cemas juga pindah kamar, empat wanita tidur satu kamar. Suara ketukan pintu terdengar, Billa datang membawa selimut tebal dan bonekanya.


"Bil, pindah kamar boleh, tapi tinggalkan boneka busuk kamu." Bella membuang boneka Billa, bibir Billa monyong memungut bonekanya.


"Kira-kira Bil, kamar sempit kamu pakai acara membawa boneka santet." Vira memeluk Karin yang sudah berbaring.


"Boneka bear bukan santet." Billa meletakkan bonekanya di dekat meja rias.


Ravi langsung mengedor pintu, Kasih langsung cepat membuatnya, Ravi langsung menarik Kasih untuk tidur bersamanya.


"Tujuan kita liburan untuk membuat anak, kenapa kalian tidur kumpul kebo?" Ravi langsung menarik Kasih keluar.


Vira menatap Bella dan Karin langsung lompat turun, Karin juga langsung menjauh mendengar sindiran Ravi.


"Kenapa? Bella tidak kentut, tidak juga Iler." Bella mencium bau badannya melihat Karin dan Vira turun.


Karin tersenyum langsung berbaring lagi, Billa juga langsung tidur di tengah, mengambil tempat Vira. Aksi tarik-tarikan antara Vira dan Billa membuat kamar heboh.


Erik yang mendengar teriakan langsung masuk, melihat kamar kacau, Billa sudah menangis, Bella bukan menolong adiknya tapi tertawa, Vira hidungnya sudah berdarah, rambut Karin acak-acakan.


"Apa yang kalian lakukan?"


"Rebutan tempat tidur." Vira merapikan rambutnya.


Erik menatap tajam, langsung bicara dengan nada tinggi. Saat yang lainnya sedang mengasah otak untuk mencari aman, tapi di kamar ribut, tertawa tidak punya beban.


Semuanya diam mendengarkan Erik marah, orang yang Wildan kirim untuk menjaga keamanan sudah hilang jejak, bahkan keamanan yang Karan buat bisa dihancurkan.

__ADS_1


Wildan sudah sangat berhati-hati, untuk menembus keamanan orang yang terkenal punya kekuasaan di kota Roma. Karan sudah kehilangan kesempatan, bahkan identitasnya sudah dilacak, bahkan Karan sudah keluar rumah untuk menjadi tawanan, agar bisa mengecoh.


Vira meneteskan air matanya, dulu dia yang kabur dari acara kemah sekolah. Melarikan diri ke Roma demi menolong temannya yang dijual Ibunya, setelah pekerjaan selesai Vira bukannya pulang, tapi ikut campur dalam perdagangan ilegal. Walaupun saat itu Bella berhasil, keduanya bisa kembali sesuai jadwal, tidak pernah terpikirkan akan berlanjut setelah bertahun-tahun.


"Maafkan kita kak Erik, kita salah tidak berpikir ke depannya." Vira menghapus air matanya.


"Mulai sekarang belajar dewasa, sebelum bertindak berpikir lebih dulu." Erik keluar, meminta Vira geng langsung tidur.


Erik turun ke lantai satu, mencari Wildan yang masih sibuk di depan komputernya. Karan sudah pergi ke luar.


***


Winda terbangun, melihat jam sudah pukul 02.11 dini hari. Bunyi kaca lantai satu pecah membuat Winda memegang dadanya yang kaget.


Cepat Winda berlari keluar dari kamarnya, berjalan ke kamar Winda tapi kosong, Winda semakin pucat. Pergi lagi Ke kamar Billa hasilnya sama, Winda langsung lompat-lompat ketakutan.


"Mereka pergi ke mana?" Winda membuka kamar Bella kuat.


Langsung menangis lompat ke atas tubuh Vira dan Bella yang tidur berpelukan, Karin sampai jatuh ke bawah kasur. Billa langsung terbangun melihat Karin dilantai.


"Gila kamu Win." Vira langsung mendorong Winda, Billa langsung jatuh, Karin teriak karena Billa di atas tubuhnya.


"Kalian kenapa lagi?"


"Winda Kak Karin, masuk langsung naik, tidak sadar diri beratnya sudah 100kg." Vira kesal, sedangkan Bella masih tidur nyenyak.


"Gila, berat Winda hanya 45kg."


Winda menceritakan suara keras di lantai satu, keributan juga terjadi di bawah. Karin langsung berlari keluar, melihat Erik dipukuli. Billa langsung teriak histeris, berlari ke lantai bawah, tidak peduli lagi dengan teriakan Karin.


"Jangan sakiti kak Erik." Billa melemparkan pas bunga.


Ravi juga terbangun sambil mengucek matanya, mendengar teriak, Erik yang jatuh pingsan berlumuran darah. Ravi cepat keluar, Kasih juga di kamar panik. Mencari bajunya entah di mana, tidak mungkin dia keluar menggunakan selimut.


Vira juga langsung turun, mengejar lima pria yang melangkah pergi. Mereka melemparkan batu bersama kertas ancaman.

__ADS_1


"Kak Erik bangun." Billa tidak berhenti menangis, merasakan denyut nadi Erik yang lemah.


"Erik, bangun Rik." Ravi mengangkat kepala Erik di letakkan di pahanya.


Kasih langsung melangkah keluar, melihat di lantai bawah penuh darah. Bella turun bersama Kasih, Vira dan Winda yang mengejar pengacau balik lagi.


"Siapa yang melakukan ini?" Kasih melihat keadaan Erik yang masih pingsan. Wajahnya babak belur.


Vira menatap Kasih yang meringis, Winda menyenggol Vira menunjukkan leher Kasih yang berwarna merah.


Rasanya Vira ingin mengejek, tapi keadaan sedang tidak mendukung. Membiarkan Kasih yang terlihat lucu.


Tian berlari dari luar, kepalanya juga berdarah. Bella langsung teriak mendekati Tian yang langsung mencari Wildan di dalam kamarnya.


"Wil, mereka bisa mencelakai orang sekitar. Penyerang di tengah malam ...." Tian berhenti bicara, melihat Wildan yang tertunduk. Komputer Wildan menunjukkan Karan yang berlumuran darah, digantung di tiang tinggi.


Tian langsung terduduk lemas, tidak bisa bicara lagi. Di luar sedang kacau karena keadaan Erik yang babak belur. Sekarang Karan juga meninggal.


Melihat keadaan Wildan tidak memungkinkan bisa berbicara, Tian melangkah keluar lemas. Di depan pintu ada Bella yang sangat khawatir.


'Ada apa kak?" Bella langsung menangis, Tian merangkul Bella untuk menjauhi kamar Wildan.


Ravi menatap Tian yang berjalan lemah, langsung mendekatinya bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


Tian menceritakan ada yang melemparkan batu, Erik dan Tian belum tidur langsung melangkah mendekat. Beberapa orang langsung menyerang, salah satu orang membawa bom. Tian meninggalkan Erik sendirian, membawa bom ke lapangan kosong, melemparkan ke atas.


Tian juga mengatakan soal Wildan yang sedang terpuruk, Karan meninggal digantung. Karin langsung teriak kaget, tangannya langsung gemetaran, air mata langsung menetes. Bella langsung terduduk lemah, Vira juga langsung mundur duduk di lantai.


Masalah mereka, mengakibatkan Karan meninggal, karena dia yang memegang kode sandi Bella. Setelah Karan, Wildan juga pasti terlacak. Tangisan Billa takut keadaan semakin memburuk.


"Kak Ravi, kita harus membawa Erik ke rumah sakit "


"Tidak bisa Bil, kita harus pergi dari kota ini malam ini juga." Ravi menatap Erik yang memprihatikan.


Tian menganggukkan kepalanya setuju, malam ini juga mereka semua harus keluar. Mereka sedang berada di negara luar, pergerakan tidak bebas, jadi jalan terbaik, harus pergi.

__ADS_1


***


__ADS_2