SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KEAHLIAN


__ADS_3

Mommy Vi dan Kasih sedang berada di dapur menata rapi kue buatan Kasih di dalam piring.


"Enak, kamu pinter bikin kue Kasih." Viana memuji Kasih yang hanya tersenyum.


Vira datang langsung memasukan kue ke dalam mulutnya, mata Vira langsung melotot mengambil kursi dan terus memakan kue bawaan Kasih.


Sebuah tangan menjitak kepala Vira membuatnya langsung teriak kuat.


"Sakit!" Vira melotot kearah Ravi yang sudah duduk disampingnya.


"kamu tidak tahu malu, yang lain juga belum makannya, tapi sudah hampir habis." Ravi mengambil piring kue menjauhkan dari Vira.


"Dasar pelit! belum pernah melihat orang mati ditimpa kue." Vira langsung melotot.


"Maklum ya Kasih, mereka berdua sudah mirip kucing sama guguk." Viana menggelengkan kepalanya.


Suara berisik dari luar membuat Vira langsung berlari, memeluk ketiga sahabatnya. Viana menghela nafas saat melihat Winda, Billa dan Bella.


"Assalamualaikum Mommy, hai kak Kasih." Winda langsung memeluk Viana dan melirik Kasih dengan gaya menggoda.


"Winda dengar kak Kasih, akan menikah dengan kak Ravi." Winda berdiri di samping Kasih yang hanya tersenyum.


"Kak Kasih dengar, Winda di keluarkan dari pesantren." Kasih tertawa kecil, membuat Winda tersenyum.


"bukan di keluarkan, tapi mengundurkan diri." Winda tertawa langsung berlari meninggalkan Kasih dan Ravi yang masih di meja makan.


"Kamu tahu banyak hal soal mereka?" Ravi mengunyah kue, Kasih langsung duduk di depan Ravi.


Kasih menceritakan jika dia memiliki teman yang mengajar di sana, Winda membongkar hubungan gelap antara guru pengajar dengan siswa sampai akhirnya dipaksa menikah. Winda melakukannya agar mencoret nama baik pesantren, menuntut untuk dikeluarkan karena tidak bersedia belajar di pesantren yang kotor. Ayahnya Winda tidak bisa berbuat apapun, akhirnya memutuskan untuk mengikuti keinginan Winda keluar dari pesantren.


"Gila parah banget sifat Winda!" Ravi menggelengkan kepalanya, gadis cantik tapi sangat nakal, melebihi adiknya.

__ADS_1


"Winda tidak salah, semua yang dia buktikan benar."


"Entahlah aku pusing melihat mereka berempat."


"Cobalah mengerti mereka, karena sebenarnya keempatnya anak yang luar biasa. Di luar ceria di dalamnya menyimpan sifat yang mengerikan, jangan main-main dengan mereka." Kasih pergi meninggalkan Ravi menyusul Viana ke depan sambil membawa kue.


Di ruang tamu bukan hanya Viana, tapi ada Reva juga Jum. Keduanya menatap Kasih, dengan manis Kasih menyapa keduanya. Reva hanya mengerutkan keningnya, Jum tersenyum.


"Hallo Tante Reva, aunty Jum." Kasih mencium tangan keduanya.


"Kenalkan dia Kasih, calon menantu aku." Viana meminta Kasih duduk disampingnya, Kasih tersenyum malu diperkenalkan sebagai menantu.


"Kak Vi, kak Jum, setelah Windy lulus sekolah, Reva ingin menikahkan dia." Reva menghela nafas, kehabisan cara mengatasi kenakalan putrinya.


"Dia masih kecil Mbak Reva, harus kuliah dulu." Jum tidak setuju dengan keputusan Reva.


"Iya Va, kasihan dia. Kamu terlalu keras kepala Winda." Viana juga tidak setuju dengan keputusan Reva.


"Tante hanya melihat kenakalan tapi tidak melihat keistimewaan dari Winda, dia mirip dengan Tante. Dulu Tante ingin menjadi kuat agar bisa melindungi diri sendiri, tapi Winda ingin menjadi kuat, agar bisa melindungi orang lain karena ada Papi dan Mami juga kakaknya yang melindungi dirinya."


"Jelaskan lebih detail Kasih."


"Maaf Tante bukan Kasih lancang, kalian mendidik Winda dengan segalanya yang sudah terpenuhi, dia putri pengusaha kaya, tapi di hati kecil Winda dia gadis biasa sama dengan rakyat biasanya. Jiwa sosial Winda sangat besar."


"Vira Prasetya terkenal nakal tapi, dia donatur terbesar dari lima panti yang baru dibuka, dia pemiliknya tapi tidak ada yang mengetahuinya, katena Vira membuka kerajaan bisnis di bagian desainer, dia menjual setiap karyanya lalu disumbangkan." Mendengar ucapan Kasih, Viana menganga dia tidak tahu putrinya bisa mendesain.


"Winda Bramasta terkenal dengan suka berkelahi dan membuat masalah, dia orang yang paling dermawan. Membuka perumahan untuk orang kurang mampu, anak-anak terlantar, juga para lansia. Di usia yang sangat muda Winda berhasil membuka bisnis kecantikan dengan saham tertinggi, melewati VCLO, identitas tersembunyi." Kasih tersenyum melihat Reva yang menjatuhkan air minum.


"Si kembar Billa dan Bella, gadis yang terkenal bodoh tapi aslinya dua wanita jenius, memegang keahlian di bidang penelitian dan teknologi. Billa pernah menciptakan obat penghitungan virus, sedangkan Bella pernah menggagalkan pembobolan bank dengan kehebatan teknologinya, mereka mendapatkan bayaran yang sangat tinggi, tapi semuanya disumbangkan. Didikan orang tua mereka untuk berbagi masih melekat kuat di hati mereka." Kasih menatap Jum seakan tidak percaya.


"Dari mana kamu tahu semuanya Kasih?" Rama yang datang bersama Bima dan Bisma langsung duduk, Ravi juga sudah duduk santai di samping Kasih dengan dagunya di pundak Kasih.

__ADS_1


"Aku memaksa mereka mengakui, saat pertama kali Bella menemukan bom dan mematikan dari kejauhan. Tapi tolong berpura-pura tidak tahu, jika penasaran awasi dari jauh, mereka tidak berbahaya hanya ingin bersenang-senang."


"Sayang, Billa dan Bella jenius tapi mengapa remedial terus." Ravi masih santai dengan dagunya di pundak Kasih, semuanya menatap Ravi yang terlihat manja padahal belum menikah.


"Sayang!" Kasih menatap Ravi sinis.


"Kenapa, kita sudah mirip keluarga kamu menjaga keempat makhluk aneh." Ravi tersenyum menggoda.


"Makhluk aneh, Vira dan Winda bisa menghancurkan bisnis kamu, Bella bisa meretas keamanan kantor kamu, Billa juga bisa membuat racun untuk membunuh kamu." Kasih mendorong Ravi agar menjauh darinya.


"Ravi kamu seperti sudah tahu, soal adik-adik kamu."


"Iya Daddy Ravi tahu, sejak mereka muda. Bisnis Vira dan Winda tapi Ravi yang mengontrol, karena mereka masih suka bersenang-senang, hanya muncul satu tahun sekali. Sedangkan Billa hanya muncul saat sangat dibutuhkan, ini juga harus atas izin manusia es, Bella masih sering berulah tapi manusia es berhasil mengontrolnya. Iyakan sayang!" Ravi menggoda Kasih.


"Kamu tahu, tapi merahasiakan dari kami orangtuanya Ravi." Reva melotot, dia sangat mengkhawatirkan masa depan Winda.


"Maaf aunty, keempat ingin menjadi gadis normal menjadi putri Prasetya dan Bramasta membuat mereka tidak memiliki teman, belum lagi dengan kecerdasan mereka."


"Billa dan Bella menuruni kemampuan ibu." Bisma menggigat ibunya seorang ilmuwan, juga sangat ahli dalam teknologi.


"Daripada membahas mereka, mendingan kita membahas rencana kapan Ravi akan menikah?" Kasih sudah memukul wajah Ravi dengan bantal, Reva juga melempar Ravi dengan bantal sofa.


"Tanyakan pada Kasih?" Rama menatap Kasih yang menunduk.


"Kapan sayang!" Ravi menatap Kasih serius.


"Apa keahlian kamu Ravi, tidak mungkin pintar menembak karena kamu sangat takut darah, jangan bilang pintar merayu." Kasih menatap mata Ravi tajam.


"Aku tidak ingin memiliki keahlian, cukup memiliki kamu."


"Pengen muntah!" Reva langsung melangkah pergi memanggil Winda yang berada di kamar Vira.

__ADS_1


***


__ADS_2