
Matahari bersinar terang, Kasih bersama Ravi berjalan-jalan pagi mengendong kedua anak mereka melihat kebun yang sedang musim buah, sekalian menjemur bayi.
Rasih terlihat sangat bahagia dalam gendongan Daddy-nya, Raka tertidur setelah menyusu dalam gendongan Kasih.
"Sayang, terima kasih sudah berjuang mengandung dan melahirkan kedua anak kita, aku sangat mencintai kamu Kasih, maafkan Aak jika tidak sesuai keinginan kamu." Ravi mencium kening Kasih.
"Kasih tidak menuntut apapun Ak, jujur Kasih merasa semua ini mimpi, menjadi seorang istri, menjadi Ibu. Dulu Kasih berpikir tidak ada kata bahagia, hanya berjuang untuk bertahan hidup. Hari ini hidup besok mungkin mati, tapi Kasih ingin hidup lebih lama, membesarkan anak kita, melihat mereka tumbuh besar." Kasih tersenyum melihat ke atas langit.
"Amin, semoga kita menua bersama, melewati segala cobaan, saling melengkapi dan setia."
Ravi merangkul Kasih, mencium putranya Raka yang tidurnya tidak terganggu, berbeda dengan Rasih yang matanya besar melihat alam.
Kasih melihat Tama duduk di kursi taman, Ravi juga melihat melangkah mendekat secara perlahan. Tama sedang mengobrol dengan Bening sambil menjemur Bening.
"Bening, panggil Ayah. Kamu harus selalu tersenyum, hadirnya kamu anugrah terindah dari yang maha kuasa. Ayah akan menjaga Bening, tapi Bening tinggal bersama Bunda, karena Ayah harus bekerja." Tama tersenyum mencium pipi Bening, tawa Bening juga terdengar.
"Kenapa tidak memberitahu Binar, memintanya kembali dengan mantan suaminya."
"Tunangan sayang, bukan suami."
"Mereka sudah menikah siri Aak, tapi demi menutupi hubungan mereka bertunangan, keluarga lelaki hanya mengagumi kecantikan Binar, sebelum pernikahan lelaki itu mengenalkan wanita yang bukan hanya cantik, tapi memiliki harta."
"Binar dicampakkan oleh Ayah Bening, padahal mereka tahu Binar hamil."
"Iya, Binar dituduh hamil anak orang lain, dihina dan diusir secara tidak terhormat sampai akhirnya bertemu Maria."
"Bagaimanapun masa lalu Bening, dia tidak akan pernah aku izinkan disentuh lelaki brengsek yang tidak mengakuinya. Bening akan ada dalam perlindungan aku, mungkin aku tidak memiliki harta, tidak pula memiliki kekuasaan, tapi aku mencintai dia seperti anakku sendiri." Tama memeluk Bening, mengusap punggung Bening yang tersenyum menatap Kasih.
Kasih meneteskan air matanya, mengusap punggung kakaknya yang memang memiliki hati yang lembut. Ravi mendukung Tama dengan keputusan, Ravi menjadi orang pertama yang akan berdiri di sisi Tama untuk menjaga Bening, melindunginya.
"Bening sudah menjadi bagian kita kak, jangan pernah mengkhawatirkan Bening. Dia aman berada dalam cinta dan kasih sayang Bunda Jum." Ravi menepuk-nepuk pundak Tama.
"Kenapa kak Tama tidak menikah Binar? Kasih tahu kak Tama mencintainya sejak dulu. Apa karena Binar sudah tidak sempurna?" Kasih berbicara kuat, di depan Binar yang kaget menatap Kasih.
"Perempuan semuanya sempurna, aku tidak ingin Binar menganggap jika aku kasihan kepadanya, Bening terlahir dari wanita yang sangat sempurna. Dia sempurna di mata pria yang tepat. Betul sayang, Ayah sayang Bening." Tama mengangkat Bening tinggi tersenyum melihat Ayahnya.
Tama melangkah pergi, tanpa menoleh ke belakang. Binar berdiri di belakang Tama yang sudah membawa Bening pergi, tangan kecil Bening terulur melihat Binar yang meneteskan air matanya, botol susu terjatuh.
Ravi kaget saat berbalik melihat Kasih menatap Binar, Sedangkan Binar sudah berlutut menangis sesenggukan.
__ADS_1
Binar langsung berlari pulang untuk mendengarkan penjelasan, Kasih menatap Ravi yang kebinggungan.
"Sayang, kamu sengaja?" Ravi menatap Rasih yang tertawa.
"Kenapa kamu tertawa Rasih? ini namanya pertengkaran lagi."
"Tenang saja Aak, aman. Ayo kita kembali." Kasih melangkah pulang.
***
Billa keluar kamar dengan santai, Vira dan Winda menatap binggung, katanya sudah malam pertama sulit jalan, tapi nyatanya Billa bisa lari.
"Apa yang kalian lihat?" Billa menatap Vira dan Winda yang kecewa.
"Mereka berdua penasaran sama malam pertama." Bella yang duduk di lantai sambil memainkan ponselnya tersenyum.
"Tidak ada malam pertama, Billa bulanan."
"Yyaahhh, tidak seru. Untung kita dimarah Bunda menguping, jadi punya kesempatan melihat Kak Tama bertarung dengan orang mabuk." Winda tersenyum bersama Vira.
"Memangnya ada apa?"
"Biasalah dari luar kampung ada yang mabuk, jadinya memaksa masuk. Badan mereka besar semua, kak Tama sendirian, kak Karan sudah terlempar karena lawannya lima orang."
"Tidak, kita keluar menggunakan daster. Nanti preman ngeces melihat daster sobek." Bella langsung tertawa.
"Kak Tama baik-baik saja?"
"Iya, kak Tian, Wildan, Yusuf kak Ravi juga bergabung. Kita seperti melihat tontonan tawuran di depan gerbang." Vira juga duduk di tangga bersandar di kaki Billa.
"Siapa yang tawuran?" Erik keluar melihat Billa masih berbicara di bawah bersama sahabatnya.
"Malas Winda mengulanginya, jelaskan kak Billa."
"Tadi malam ada yang tawuran di depan gerbang, antara anak kampung sebelah, dan keluarga. Keluarga kita menang, ceritanya tamat." Bella tertawa diikuti yang lainnya.
"Ada yang terluka tidak?"
"Aman, tapi properti depan hancur."
__ADS_1
Erik duduk di samping Billa, Winda juga duduk bersandar di kaki Erik sambil tertawa. Bella mengejek Erik yang gagal malam pertama, wajah Billa langsung merah seperti kepiting rebus.
"Bel, kamu seperti tahu saat malam pertama. Sudah siap menikah?"
"Masih mencari calon." Bella tersenyum.
Semua mata melihat ke arah Bella, tidak percaya Bella berbicara mencari calon.
"Tian ingin kamu ke manakah? dia cukup lama menunggu kamu Bella?" Erik menatap Bella yang masih asik duduk di lantai.
"Dia kakak Bella, selamanya akan tetap menjadi kakak."
"Bel, kamu masih marah kepada kak Tian?" Vira menatap Bella yang menutup ponselnya.
"Tidak Vir, aku hanya merasa tidak nyaman lagi, jadi sebaiknya kami berjalan masing-masing, sudah cukup aku memaksa Kak Tian mengikuti aku, memilikinya seorang diri, dia berhak memilih wanita pilihannya." Bella sejujurnya sedih, tapi kejadian saat Tian mengabaikannya, menyadarkan Bella, bukan hanya dirinya prioritas Tian, tapi ada orang lain, Bella sudah merampas kebebasan Tian, sudah saatnya Tian memilih bahagianya.
"Apapun pilihan kamu Bel, jangan merusak hubungan kalian. Kamu serahkan semuanya kepada Allah, jodoh, rezeki dan maut sudah ditentukan, kita hanya menunggunya saja." Erik menyemangati Bella.
Suara kaki berlari berhenti tepat di depan Billa, Binar berlutut menangis sesenggukan, Winda Vira langsung berdiri, Erik membantu Billa berdiri. Bella masih melongo tidak berkedip menatap Binar yang seperti wanita gila.
"Ada apa kak Binar?" Billa mendekati Binar, berjongkok meminta Binar menenangkan diri, tangan Billa mengusap punggung Binar.
"A a anak anakku, bayiku Billa. Bayiku masih hidup?" Binar menyentuh tangan Billa, bibirnya bergetar, air matanya sudah mengalir di pipinya.
"Tenangkan dulu diri kak Binar, Billa akan menjelaskannya." Billa memeluk Binar yang memeluknya dengan erat, Winda mengisap punggung Binar yang terlihat luka.
Erik juga melihat Binar yang sebenarnya mengalami depresi jika mengigat anaknya, langsung balik ke kamarnya untuk mengambil suntikan penenang.
***
Binggung sama pembaca gini, menghina sampai season 2. Jika cerita tidak sesuai keinginan kalian jangan dibaca.
Ini novel sesuai halu aku, jadi terserah aku. Kalau ingin sesuai halu kamu buat novel sendiri.
Iseng-iseng baca coment eps awal season 2, sekali baca dibilangin gila.
Berkali-kali diulang bacanya sampai ketawa, aku yang gila, novelnya gila, atau siapa yang gila? 😂
__ADS_1
Karena kamu bilang aku gila, maka aku buat cerita lebih gila lagi.
***