SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 TIDAK INGIN BERPISAH


__ADS_3

Suara dengkuran Vira terdengar, Wildan tidak tidur selain sibuk mencari pelaku yang ingin mengusik perusahaan Vira.


"Kenapa belum tidur kak Bel? Wildan akan mengurusnya fokus saja untuk mengurus kehamilan kak Bel. Jangan khawatir." Wildan mengirimkan pesan, meminta Bella yang tidak bisa tidur beristirahat, karena memikirkan pengkhianatan.


Sudah hampir subuh Wildan masih sibuk sendiri, dugaannya benar Fly sudah mengincar perusahaan Vira sejak awal.


"Dragonfly, jadi mereka satu tim yang terpencar. Dragon mendekati Vira, sedangkan Fly mendekati aku. Tujuan mereka hanya ingin menyingkirkan Grup V yang masih ada di posisi satu terkuat." Wildan tersenyum, dia baru terpikirkan ternyata Diego memiliki nama terkenal dengan sebutan dragon.


Vira terbangun melihat isi laptop Wildan, lelaki yang pernah dekat dengan Vira saat di Roma, dia juga yang mengacau di saat acara ijab kabul.


Pelukan tangan Vira melingkari pinggang Wildan, melihat Diego yang ternyata orang jahat.


"Kenapa tidak ada lelaki yang mencintai Vira dengan tulus? Diego dulu sangat baik, selalu ada untuk menghibur Vira tenyata dia juga mempunyai niat jelek." Vira mengeratkan pelukannya, meletakan kepalanya di pundak Wildan, nada bicara Vira hampir tidak terdengar karena sangat kecewa.


Wildan mengusap tangan Vira, tidak ada yang tulus mencintai bukan berarti Vira buruk. Di mata Wildan Vira wanita yang istimewa, sehingga sulit untuk dimiliki.


"Vir, kamu wanita baik selalu menganggap semua orang baik, sehingga kamu selalu percaya setiap orang memiliki sisi baik. Sekian banyak orang yang dekat dengan kamu masih kurang sempurna untuk mendampingi wanita sempurna seperti kamu. Akulah lelaki yang sempurna itu." Wildan tersenyum, Vira tertawa langsung mencubit perut Wildan yang kepedean.


"Sejak kapan kamu bisa bicara manis?"


"Hanya perumpamaan, sebaik apapun mantan dia hanya menjaga jodoh orang, karena yang terbaik pastinya suaminya." Wildan menghela nafasnya, melihat secara langsung kekacauan di pabrik milik dragon.


Senyuman Vira terlihat, dunia yang canggih. Penjahat paling menakutkan di dunia maya, seorang hackers.


Saat mereka menyerang, meninggalkan virus bukan hanya bisa menghacurkan satu perusahaan, tapi bisa mengacaukan satu dunia.


Wildan menghilangkan seluruh jaringan, hanya dirinya yang bisa masuk sehingga hacker sehebat apapun tidak akan bisa menembus sistemnya.


Vira meletakkan kepalanya di paha Wildan, kagum melihat kehebatan Wildan yang mengacau banyak perusahaan hanya dalam hitungan jam.


"Done." Vira bertepuk tangan.


"Masalah belum selesai Vir, dragon salah satu orang yang cukup kuat di Roma. Dia memiliki tim yang cukup hebat, sehingga dia akan berbuat nekad. Orang serakah dia yang tidak menerima kekalahan." Wildan langsung ingin mandi, sholat lalu kembali ke perusahaan.

__ADS_1


Vira mengikuti Wildan untuk sholat bersama, mereka berjuang berdua untuk menyelesaikan masalah. Vira bahagia meskipun ketiga sahabatnya sedang berjuang dengan kebahagiaan masing-masing, ada suaminya yang berdiri di depan untuk menjaga dan melindunginya.


Selesai sarapan Wildan dan Vira kembali, di jalanan Wildan memiliki perasaan tidak enak. Meminta bantuan Karan mengirim bodyguard untuk mengawalnya di persimpangan jalan.


Wildan tidak ingin Vira terluka, tidak akan diizinkan tergores sedikitpun selama dirinya masih hidup.


Vira juga merasakan hal yang sama, tapi melihat Wildan menggenggam erat tangannya Vira tidak takut apapun.


"Hari ini kita kumpul di rumah utama, kamu aku antar menemui mommy."


"Kamu ingin ke mana? Vira ingin selalu ikut." Wajah Vira memohon, Wildan menolak memiliki buntut, dia banyak pekerjaan penting.


Setelah perdebatan panjang, akhirnya Vira mengalahkan untuk mengikuti ucapan Wildan, Vira akan menunggu di rumah utama.


Mobil akhirnya sampai di rumah keluarga, Wildan meminta Vira turun untuk masuk ke rumah mommy.


"Wildan, Vira masih ingin bersama." Air mata Vira langsung menetes memeluk erat, menolak untuk untuk turun.


"Kenapa menangis Vir? nanti malam kita bertemu di rumah utama." Wildan mengusap lembut kepada Vira, memintanya untuk menunggu.


"Iya, jangan menangis. Kamu mirip Rasih jika menangis."


"Enak saja, Vira lebih cantik dari Rasih, dia kalau menangis suka teriak-teriak." Tangisan Vira terdengar, menolak untuk turun.


Senyuman Wildan terlihat menghapus air mata, mencium kening Vira lama. Jika Vira terus membuat drama maka Wildan tidak bisa pergi.


"Aku pergi dulu Vir, jangan khawatir aku sudah terbiasa mandiri."


Vira langsung mencium bibir Wildan lama, memintanya cepat pulang. Vira ingin memberikan hadiah.


Wildan tertawa, hadiah yang Vira katakan membuatnya takut.


Tangan Vira melambai langsung melangkah keluar, membiarkan Wildan pergi. Vira hanya berdoa agar Wildan menepati janjinya untuk cepat pulang.

__ADS_1


***


Suara barang berhamburan terdengar, satu perusahaan kacau balau. Saham langsung terjun payung, membuat perusahaan merugi.


Pabrik yang direncanakan agar segera launching terhenti, perusahaan tidak bisa mengeluarkan dana untuk melakukan promosi dan banyak hal.


"Aku membangun perusahaan puluhan tahun agar bisa sebesar sekarang, tapi Wildan bisa menghacurkan semudah itu." Diego langsung menembak bawahan yang tidak bisa menghentikan Wildan.


Fly tertawa sudah dia peringatkan, Wildan memang sudah hebat sejak dulu. Keluarga Dewa juga bisa kehilangan segalanya karena Wildan muda, apalagi dia yang sekarang.


Kehebatan Wildan dalam mengacau jaringan tidak bisa di prediksi, otak jeniusnya sungguh luar biasa.


"Kamu tidak bisa mengalahkan Vira, juga tidak bisa mendapatkan Wildan. Untuk apa aku memberikan fasilitas untuk kamu, jika tidak bisa memberikan keuntungan." Diego mengarahkan senjata di kepala Fly.


"Jangan mengancam aku Diego, apa bedanya sama kamu. Vira saja bisa lepas, jangankan menghentikan dan menguasai grup V, mendapatkan Vira saja kamu tidak mampu." Fly tersenyum sinis.


"Aku akan membunuh Wildan, kamu lihat saja. Jika aku tidak bisa mengoperasikan pabrik, maka Wildan harus mati. Lebih baik kamu banyak bertindak, daripada banyak bicara Fly." Diego langsung melangkah pergi, ada tiga orang yang harus dia singkirkan.


Wildan, Dewa dan Randu, salah satu dari mereka harus dijatuhkan agar dirinya bisa menjadi orang paling kuat.


"Bagaimana pergerakan Dewa dan Randu?"


"Mereka juga masih ada di sini, sepertinya ada kerja sama antara Wildan dan Randu. Kita bisa menyingkirkan Dewa untuk peringatan."


"Bunuh saja, jadikan satu orang kambing hitam. Salah satu dari mereka bertiga harus mati." Diego tertawa, langsung melangkah pergi.


"Aku sendiri yang akan membunuh kamu jika mencelakai Wildan." Fly menatap tajam punggung Diego.


Tatapan Randu tajam, dia tidak menyangka jika Fly dan dragon satu tim yang di kenal dragonfly.


Cepat Randu berlari menghubungi Wildan yang ingin menemuinya, Randu tidak bisa bertemu karena harus menemukan keberadaan kakaknya.


Suara benturan mobil terdengar dari balik panggilan, Randu langsung memanggil nama Wildan yang tidak terdengar lagi suaranya.

__ADS_1


"Wildan, kamu baik-baik saja?" berkali-kali Randu memanggil Wildan, tapi suara benturan semakin besar membuat Randu langsung menghubungi Karan untuk tahu keberadaan Wildan.


***


__ADS_2