
Suasana di rumah sakit sedang berbahagia menatap bayi laki-laki yang mengerakkan tangannya.
Tama mengusap tabung inkubator menatap putranya, Ning berada dalam gendongan Tama melihat adik lelakinya.
Seluruh keluarga mengucapkan selamat untuk Tama dan Binar atas hadirnya malaikat tampan dalam keluarga mereka.
Jum dan Bisma paling bahagia, menyambut satu lagi cucu mereka. Memiliki dua cucu laki-laki dan dua cucu perempuan, sedangkan Bella juga sedang mengandung.
Vira datang bersama Wildan menjenguk keadaan Binar yang sudah jauh lebih baik, menatap bayi kecil yang masih harus berada di tabung inkubator.
"Selamat kak Tama, dia tampan sekali." Wildan tersenyum melihat bayi kecil.
"Minggir." Wira langsung menarik kursi menatap bayi kecil di dalam inkubator.
"Daddy, Raka punya adik, Elang juga punya adik, Ning juga punya, kenapa Wira tidak punya adik?" Wira menatap bayi mungil dihadapannya.
Steven dan Windy saling pandang, pertama kalinya Wira mempertanyakan soal adiknya.
"Kamu sudah memiliki adik Wira, bahkan sangat banyak." Wildan menatap Wira yang mengerutkan keningnya binggung.
"Mana?"
"Bening, Raka, Rasih, Embun, Elang, sekarang ada Aditiar juga."
Wira mengangguk kepalanya, dia memiliki banyak adik. Windy tersenyum menatap putranya yang menjadi anak semata wayang.
Selesai menjenguk baby Tiar Wildan dan Vira langsung pulang bersama kedua orangtuanya, Bima Reva juga pulang.
Hanya tersisa, Jum Bisma, Bella Tian yang menjaga baby Tiar. Billa juga menunggu di ruang kerja Erik untuk menemani putra putrinya karena Erik ada operasi dadakan.
Di dalam mobil Vira menatap tajam Wildan, dia ingin pulang bersama twin R dan Winda, tapi terus memaksa untuk menjenguk ke rumah sakit terlebih dahulu.
"Di mana kak Ravi Mom?"
"Sudah pulang dari tadi malam." Viana menatap Wildan dan Vira binggung.
Vira langsung memukul dasbor mobil, dia kesal sekali melihat tingkah kakaknya yang menitipkan anak-anaknya, sedangkan dirinya asik bermesraan dengan istrinya.
Sepanjang malam Vira tidak bisa tidur tenang, karena anak-anak selalu bangun meminta susu.
Wildan juga menggelengkan kepalanya kesal, Ravi memang sangat suka menjahili orang. Pengantin baru dia jadikan baby sister anak-anak.
"Kapan Winda pergi ke luar negeri Wil?"
__ADS_1
"Kurang tahu Mom, sebenarnya besok Ar sudah pergi, tapi Winda mengulur waktu, karena belum siap untuk berpisah."
Semuanya hening, menunggu kabar dari Armand untuk mengatakan jika dia harus tinggal di luar negeri untuk sementara.
Rama mengirimkan pesan kepada Ar untuk tidur di rumah mereka, karena banyak hal yang ingin Rama bicarakan.
Sesampainya di kediaman rumah tawa Ravi sudah terdengar, Winda teriak marah melihat kejahilan Ravi yang mengerjainya.
"Ada apa Winda? masa iya di rumah mertua teriak-teriak begitu." Reva menarik telinga putrinya.
Vira langsung berlari mengejar Ravi yang mengacau malam pertama mereka, Rama menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya yang jahil.
Pertengkaran Ravi dan Vira sudah terdengar, rambut Ravi sudah dijambak oleh Vira, karena membuat dirinya tidak bisa tidur.
"Kak Ravi gila ya?"
"Kak Ravi hanya mengajari kalian rasanya tidak bisa tidur, karena setiap malam harus bangun." Ravi tertawa menahan tangan Vira.
Suara teriakan Vira terdengar, Asih menjambak rambutnya sangat kuat karena menyakiti Daddy-nya.
Kemarahan Vira semakin terdengar, teriakannya membuat semua orang tutup telinga, teriakan Rasih lebih besar lagi.
Wildan langsung menarik Vira, Ravi langsung menarik Rasih. Vira yang tidak ingin mengalah langsung menangis dalam pelukan Wildan, tangan Wildan mengusap kepala Vira yang rambutnya rontok.
"Sakit, Asih kurang ajar." Vira menangis memeluk erat Wildan.
"Aunty yang menyakiti Daddy Asih." Tangisan Rasih juga langsung terdengar, Ravi menggendong putrinya agar menjauhi Vira.
"Ravi selalu membuat gara-gara." Viana memijit pelipisnya.
Wildan menghapus air mata Vira, mengusap kepala istrinya yang mengadu kesakitan bahkan Vira melihat rambutnya rontok.
"Sudah jangan menangis lagi." Wildan mengambil tisu, tapi Vira menggunakan bajunya untuk mengeluarkan ingus.
Wildan hanya bisa menatap bajunya yang basah, menyerahkan tisu membersihkan hidung Vira.
"Ayo berdiri." Wildan mengulurkan tangannya.
"Gendong." Vira menatap mata Wildan yang terlihat menenangkan.
Wildan langsung mengangkat tubuh Vira, mempertanyakan letak kamarnya. Vira langsung menunjuk kamar, meminta digendong ke kamar.
Winda dan Ar hanya terdiam melihat Vira dan Wildan, meskipun Wildan tidak mengenal cinta setidaknya dia sangat lembut menghadapi Vira.
__ADS_1
Senyuman Reva terlihat menatap putranya yang mulai mengubah sikap, sikap dingin dan cuek Wildan hanya berlaku untuk wanita luar, tapi dia sangat lembut kepada wanitanya.
Reva masih mengkhawatirkan keadaan Winda yang masih sangat dingin kepada Ar, meskipun sikap Ar sangat lembut dan penyayang.
"Malam ini kalian tidur di sini ya Winda?" Viana menatap Reva sambil memohon.
"Kenapa putra putriku kak Vi kuasai?" Reva menatap tajam.
"Hanya satu hari Va, di rumah kamu ada Windy." Viana masih memaksa.
Perdebatan terdengar kembali, Reva tidak ingin Viana menguasai sendiri. Nada bicara Viana mulai naik, dia hanya meminjam satu hari bukan selamanya.
Vira dan Wildan keluar kembali melihat pertengkaran Viana dan Reva, tatapan tajam Vi terlihat langsung ingin mencengkram lengan Reva, tapi Rama langsung menariknya.
Bima juga menutup mulut Reva yang tidak punya rem, mulutnya lancar sekali mengomel segala sesuatu diungkit bahwa Viana sengaja ingin mengambil putra putrinya.
"Mami mommy cukup, malam ini Ar dan Winda tidur di rumah Bramasta, besok tidur di rumah Prasetya." Ar menengahi perdebatan dua wanita.
"Malam ini Wildan tidur di sini, besok baru pulang ke rumah. Setelahnya kita akan tinggal berdua sesuai perjanjian." Wildan menghela nafasnya.
Reva yang kesal langsung melangkah keluar, dia kesal sekali melihat Viana yang tidak pernah mengalah.
"Winda Ar ayo pulang." Reva teriak kuat.
Winda langsung tertawa, mencium tangan Viana dan Rama langsung melangkah pulang memeluk lengan Papinya.
"Daddy, nanti malam kita bicara. Ada yang ingin Ar katakan." Senyuman Ar terlihat, langsung melangkah pergi.
Viana juga langsung memeluk lengan Ar untuk ikut ke rumah nenek lampir yang mulutnya tidak memiliki rem, semakin Reva tua semakin mulutnya lancar seperti jalan tol.
Ar tersenyum menatap Viana yang ingin mengantarnya, tidak ingin Ar terkena virus dari Reva.
"Wildan kalian istirahat saja, tadi malam tidak tidur, karena mengurus anak-anak." Rama langsung menuju kamarnya membiarkan Viana bersama Ar.
Di dalam kamar Wildan menatap sekeliling yang terlihat sangat aneh, karena kamar Winda sangat besar, tapi kenapa terlihat sempit.
Seluruh barang berhamburan tidak jelas tata letaknya.
"Ini kamar atau gudang?"
Tatapan Vira langsung tajam, menatap sekelilingnya yang memang mirip gudang.
***
__ADS_1