SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
BONUS PART 1


__ADS_3

Suara berlarian terdengar dari lantai atas, Rama menghentikan kedua cucunya yang berlarian saling kejar dan menangis.


"Kakak Vio jahat, Vani tidak mau main bersama kakak." Teriakan besar Vani menggema.


Rama menggendong cucunya, memintanya untuk duduk diam dan Rama ingin memanggil Vio agar meminta maaf.


Bibir Vani monyong, melipat tangannya di dada langsung melangkah pergi keluar. Melangkah ke rumah neneknya Reva yang juga sudah terjadi keributan.


"Kak Rum, Vion nakal. Lihat tangan Vani dicubit sakit sekali." Omelan Vani menambah keributan di rumah Reva.


Arum langsung berlari keluar rumah, Vani juga ikutan berlari melihat Winda membawa sapu mengejar putrinya.


Dari rumah Rama juga Vio sudah berlari kencang, Vira berteriak mengusir putrinya.


Suara tawa Vio terdengar, Arum juga ngos-ngosan langsung berlari ke lapangan untuk bertemu yang lainnya.


"Kalian berdua bertengkar lagi?" tatapan Arum tajam melihat si kembar yang tidak ada bedanya.


"Vion nakal, gigit Vani."


"Vani juga nakal, dorong Vio." Tatapan Viona tajam, melihat Vani yang menatapnya sinis.


"Diamlah, kalian berdua jika ingin bertengkar pergi jauh-jauh. Kak Arum ingin main sepeda." Langkah Arum berlari melihat Asih dan Ning sudah balapan mobil di lapangan.


"Kalian diusir lagi?" senyuman Bulan terlihat, duduk dipinggir jalan sambil membawa tas ransel yang isinya makanan semua.


Senyuman Vani terlihat, duduk di samping Bulan meminta makanannya. Kedua duduk memperhatikan anak-anak yang lain sedang bermain.


Arum sudah megincang sepeda, di belakang Arum sudah ada Vio yang mulutnya paling besar menyemangati Arum.


"Gila kamu Vio, mengejar Arum naik sepeda." Asih menghentikan mobilnya.


Bening tertawa, memegang perutnya melihat Arum sudah jatuh di dalam semak belukar, hal bodohnya Arum berhasil lompat menyelematkan dirinya membiarkan sepeda jatuh sendirian.


Arum menggelengkan kepalanya melihat Vion sudah masuk semak-semak, dia berlari dan tidak bisa mengerem.


"Vio!" Vira berteriak kuat melihat putrinya sudah kotor semua.


"Bukan salah Arum mami, dia sendiri yang berlari kencang." Senyuman Arum terlihat, menatap Vion yang keluar.


"Jatuh mami, kaki Vio tidak mau berhenti."


Vira langsung pulang ke rumah, kepalanya ingin pecah setiap hari menghadapi kenakalan anaknya.


"Di mana mereka Vira?" Rama menatap putrinya yang memijit pelipisnya.


"Tidak tahu Daddy, kepala Vira pusing." Wajah Vira langsung ingin menangis, dia bisa gila mengurus kedua anak Wildan yang mengalahkan kenakalan Asih.

__ADS_1


"Sabar Vir, mereka masih kecil. Usianya juga baru tiga tahun." Viana tertawa melihat putrinya.


Sebuah mobil berhenti, anak-anak langsung berkumpul. Arum sudah selesai membersihkan Vion yang berantakan.


"Uncel dokter anak." Senyuman Vio terlihat menatap Erwin yang datang berkunjung.


"Hai Vio."


"Vio, aku Vani tahu. Uncle belum bisa bedakan kita ya?" Senyuman dua si kembar yang sudah berlarian di hadapan Erwin.


Senyuman Erwin terlihat, Vio dan Vani meminta untuk menebak mana Vio dan Vani, bahkan mereka saling menyamarkan namanya agar Erwin kebingungan.


Gelang yang pernah dipasang di kaki keduanya sudah dilepaskan, tidak ada lagi perbedaan keduanya.


"Uncle, aku Vani tahu."


"Aku Vani, tidak boleh bohong Vion."


"Kamu yang bohong, aku Vani dan kamu Vion."


Suara tawa Erwin terdengar, langsung berjongkok melihat dua gadis cantik yang saling pukul untuk membohongi dirinya.


"Sebelum Papi Wildan melihat kalian, Uncle orang pertama yang melihatnya. Meskipun kalian berdua tidak ada bedanya, Uncle tahu yang mana Vio dan mana Vani." Erwin memasangkan kalung liontin Vi dan Va.


Senyuman Vio dan Vani terlihat, Erwin benar-benar bisa membedakan mereka berdua. Hanya orang-orang jenius yang bisa membedakan mereka, salah satunya Erwin.


"Ini untuk Bulan, lambang Bulan purnama, begitulah sempurna Bulan di mata uncel." Kalung cantik bermata gambar bulan purnama sudah melingkar di leher kecilnya.


"Rum, ini milik kamu."


"Terima kasih uncle, kak Asih dan kak Ning juga dapat tidak?"


Erwin menganggukkan kepalanya, memasangkan kalung kepada keenam anak cantik di keluarga, hanya ada dua wanita yang tidak terlihat.


Lin yang sedang kuliah di luar negeri, dan tidak pernah kembali. Dia dalam pengawasan ketat Steven, bahkan dia tidak bisa didekati sembarang orang.


Satu lagi si kecil yang selalu bangun kesiangan, setiap rumah sudah ribut sedangkan kediaman Billa masih tenang, karena Em selalu bangun terlambat.


Langkah kaki terdengar, semua mata menatap ke arah suara kaki. Embun berjalan dengan rambutnya yang acak-acakan mirip singa


Bajunya masih kebalik, kakinya menggunakan alas Papanya yang ukurannya sangat besar.


"Good morning Em." Senyuman Erwin terlihat menatap Embun mencium tangannya langsung berjalan lagi duduk di bawah pohon lanjut tidur.


Asih yang jahilnya kumat, langsung mendekati Em meniup balon sangat besar. Semua anak-anak sudah berlarian menyelamatkan diri sendiri.


"Stop kak Asih, Em marah jika sampai meledak."

__ADS_1


"Marah saja." Asih memecahkan balon tepat di atas kepala Em.


Asih langsung berlari kencang, Embun juga berlari mengejar Rasih. Nyawanya langsung terkumpul jika berurusan dengan balas dendam.


"Vion, Bulan ikut." Suara teriakan Lan terdengar, langsung naik sepeda membonceng Viona yang mengejar dua wanita yang masih kejar-kejaran.


"Kenapa Vio dipanggil Vion?" Erwin menatap Vani yang masih diam.


"Karena dia oon Uncle." Vani langsung naik sepeda bersama Arum mengejar Bulan dan Vio yang sudah pergi lebih dulu.


Ning langsung berlari menyelamatkan Asih sebelum Em semakin marah, Erwin hanya bisa diam melihat anak-anak kejar-kejaran.


Terlihat Asih tertangkap, langsung terguling bersama Em. Keduanya berpelukan, Ning juga langsung tidur di lapangan.


"Vio datang, ada cendera." Vio sudah membawa pembalut luka membungkus kaki Asih yang tidak ada luka sama sekali.


"Wah, ada tiga korbannya." Vani membawa tas dokternya mengecek keadaan Em yang memejamkan matanya.


Tangan Em menyentuh tangan Vani yang memeriksa kepalanya, seharusnya dia mengeceknya di dada.


Perlahan tangan Vani turun ke bawah, mendengarkan detak jantung Embun.


"Kamu harus memeriksa di sini, lalu tangan menyentuh di sini." Em mengajari Vani yang tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Kakak baik-baik saja." Arum menginjak kaki Em dan Asih membuat keduanya berteriak sangat kuat.


Senyuman Arum terlihat, meminta semuanya kembali ke rumah masing-masing untuk pergi sekolah.


Tanpa ada jawaban, Bulan, twins langsung mengikuti Arum. Em membantu Asih dan Ning untuk berdiri, melangkah bersama untuk kembali ke rumah dan sekolah.


"Uncel, masih menyimpan kalung kak Lin?" Arum menatap tajam.


Kepala Erwin mengangguk, dan tersenyum melihat anak-anak yang sangat cantik dan mengemaskan.


"Belajar yang rajin kalian semua."


"Vio pergi ke sekolah untuk main bukan belajar, iyakan Vani?"


"Em, tapi Papi meminta kita belajar."


"Bukannya main juga belajar, namanya belajar main." Vio tersenyum.


"Benar juga, kita belajar main agar besar nanti terus main." Vani tertawa bersama kakaknya yang sepakat untuk belajar main.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2