
Tangan Winda sudah bergetar, Bella berhasil membuka gerbang, berlari keluar, sesaat menoleh ke belakang melihat Winda yang terus bertahan.
"Tunggu kak Bel mencari bantuan ya Win?" Bella meninggalkan Vira dan Winda untuk menemui Wildan.
Winda langsung batuk mengeluarkan darah, ponselnya terjatuh, langsung lemas hampir terjatuh.
"Winda." Vira langsung berlari memeluk tubuh Winda, melupakan laser yang mungkin akan mengoyak habis tubuhnya.
Winda tersenyum dalam pelukan Vira, wajah Vira menangis sambil tersenyum mengkhawatirkan Winda yang berhasil mematikan laser.
"Ternyata kamu cengeng juga Vir?" Winda tertawa, menepuk dadanya yang terasa sesak.
"Ayo kita pergi Vir, menangkap dua manusia iblis." Winda berdiri melangkah melewati gerbang yang digunakan Maria dan Noval untuk melarikan diri.
Keduanya berlari melihat lapangan kosong, Winda yakin pasti banyak orang yang sedang mengintai untuk menyerang. Vira melihat beberapa cahaya kecil, menatap Winda meminta berhati-hati.
Suara pertarungan sudah terdengar, Winda Vira masih bergerak pelan. Suara Bella memanggil terdengar melewati pintu, Winda meminta Bella diam.
"Wildan tidak ada lagi di tempat, mereka sudah bergerak juga." Bella mendekati Winda melihat keadaannya.
Terlihat di kejauhan, Wildan sedang bertarung dengan puluhan orang, ada Karan juga Yusuf di sana hanya Billa yang tidak terlihat.
Vira langsung berlari ke dalam rumah, mencari Billa terlebih dahulu. Bella diam melihat beberapa layar yang masih hidup, Bella sibuk mengotak-atik komputer Noval yang menyimpan banyak rahasia gila.
Vira juga melihat beberapa kotak yang berisikan hal yang tidak Vira mengerti, langsung melangkah melihat ruangan lain, Winda sudah berdiri terpaku, Vira melihat ke arah pandang Winda.
Billa sedang menggendong seorang bayi yang memprihatinkan, keadaannya mengenaskan karena lapar juga butuh perawatan intensif.
Winda dan Vira mendekat meneteskan air matanya melihat bayi mungil yang lahir prematur, teringat dua keponakan kecil mereka yang juga lahir prematur, tapi mereka beruntung mendapatkan cinta Daddy Mommy juga keluarga besar.
"Bil, kasian bayinya. Dia bisa bertahan tidak?"
'Dia baru saja menyusu air biasa, aku harus melakukan pengecekan detail."
"Di bawah ada ruangan yang sangat lengkap, mungkin bisa menyelamatkan dia." Winda meminta Billa mengikutinya, masuk ke dalam ruangan di mana Winda di bawa oleh Noval dan Maria.
__ADS_1
Bella mengabaikan keributan Billa, Winda dan Vira, dia sibuk mengotak-atik komputer. Banyak hal yang luar biasa ditemukan.
Billa memasang beberapa alat, bayi yang berusia hampir 5 bulan, tapi masih seperti bayi 2 bulan. Billa sungguh kagum dengan yang maha kuasa, membuat bayi kecil bertahan tanpa perawatan juga penjagaan ketat. Memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika Allah sudah berkehendak.
"Gadis kecil yang hebat, bertahan sayang, Aunty akan berjuang menyelamatkan kamu." Billa menyentuh pipi kecil, kulitnya hitam membiru membuat hati Billa sangat sakit melihatnya.
"OMG, anaknya Laura masih hidup. Lihatlah rekaman saat Laura melahirkan, kasian bayinya dipaksa keluar, Laura juga jatuh pingsan." Bella merinding ngeri, Billa langsung mendorong Kakaknya menyingkir melihat bayi yang dikeluarkan oleh Maria.
"Perempuan sinting." Vira mengelus dada, kasian melihat bayi yang tidak bersalah terluka.
"Ini bayi siapa? tadi tidak ada bayi di sini?" Bella kaget melihat bayi yang sudah berada dalam boks.
"Dia bayinya Laura, astaga kita Aunty beneran." Billa menatap Bella.
"Selamat ya Billa, selamat ya Bella." Winda dan Vira menyalami twins B.
"Aiishh, ayo kita tangkap terlebih dahulu Maria dan laki-kaki buruk rupa." Bella memalingkan wajahnya dari bayi Laura.
"Bagaimana dengan bayi ini, tidak ada yang menjaganya?" Winda menatap bayi kecil yang tidak bisa tidur karena lapar.
"Bening, nama yang cantik. Bastian, Binar, Bella Billa dan Bening. Asik Bunda Jum sama Uncle punya cucu tapi tidak punya menantu." Vira tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
"Mulut kamu terlalu jujur Vira, ayo kita menangkap dua manusia kotor." Winda melangkah bersama Vira keluar.
"Bening, bertahan cantik, Aunty akan segera kembali." Billa juga melangkah keluar.
***
Wildan kehilangan komunikasi dengan Bella, Winda dan Vira. Karan langsung keluar bersama Billa untuk masuk, Yusuf keluar menuju ke belakang. Wildan juga keluar melihat keadaan.
Yusuf melihat dua orang berlari, langsung memberikan sinyal kepada Wildan dan Karan, cepat Wildan berlari mengejar, Karan juga keluar meninggalkan Billa.
Yusuf berdiri seorang diri menghadang Maria dan Noval. Puluhan orang di belakang Maria yang ternyata bawahan.
"Kita bertemu lagi Yusuf, aku pikir kamu orang yang pendiam, tidak menyukai keributan, tapi berani ikut campur dalam pembebasan bocah pembuat onar." Noval tersenyum sinis.
__ADS_1
"Aku memang tidak menyukainya, aku suka hidup diam dan tenang, tapi terkadang kita harus keluar ketenangan, demi menghentikan orang seperti kalian. Banyak orang yang tidak bersalah tersakiti." Yusuf tersenyum bicara dengan tenang.
"Kalian tidak bisa menangkap aku, saat di Roma kalian juga gagal, aku terlalu bersantai sampai harus bertemu kalian lagi."
"Iya, urusan di Roma memang belum selesai, semuanya akan selesai hari ini juga, kalian harus secepatnya dihentikan."
"Coba saja, mungkin tempat ini akan menjadi kuburan kalian." Maria tersenyum licik, mengeluarkan senjata.
Yusuf masih tersenyum berusaha untuk tenang, puluhan orang langsung mengelilingi Yusuf, Maria dan Noval melangkah pergi, tapi Wildan dan Karan muncul.
"Kalian tidak akan pernah bisa melarikan diri." Wildan tersenyum sinis.
"Kita tidak punya banyak waktu, mereka juga menggunakan senjata." Karan menatap Wildan tajam.
Suara pukulan mulai terdengar, Yusuf sudah di serang, Karan tidak ingin membantu Yusuf, karena Yusuf sangat ahli beladiri, Karan ingin memecahkan kepala lelaki bejat, yang banyak menyakiti wanita dan anak-anak.
Karan langsung maju, Maria mengarahkan senjatanya kepada Wildan yang hanya tersenyum, Wildan maju mendekat, Maria langsung lari menjauh.
Wildan menghela nafas, meminta Karan menangkap Noval, juga puluhan bawahan mereka. Batuan akan segera datang, jadi sementara harus bertahan.
Langkah kaki Wildan langsung mengejar Maria, Wildan tidak menyerang secara langsung. Dia ingin mengetahui siapa Maria sebenarnya, apa motif kejahatan, kenapa Erik menjadi targetnya.
Apa Maria mengenali keluarga besar mereka, jika Maria memiliki gangguan jiwa tidak mungkin dia tidak pernah melakukan kesalahan selama berada di rumah sakit.
"Siapa kamu Maria? akan aku berikan kamu kesempatan hidup, tapi katakan kebenaran siapa kamu?" Wildan melihat Maria yang mengarahkan senjatanya di kepala.
"Kamu tidak akan mendapatkan informasi apapun." Maria tertawa kuat, meludah merasakan jijik dengan Wildan.
"Aku sudah mendapatkan jawaban, kamu tidak gila, kamu juga bukan seorang psikopat, kamu menyadari semua yang kamu lakukan, kenapa kamu memilih menjadi orang gila? sebenarnya apa yang kamu cari?" Wildan tertawa kecil.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***