
Tatapan Wildan lembut menatap Bella yang menarik kopernya, melambaikan tangannya kepada Vira dan Winda yang tersenyum melambaikan tangannya.
Bella melangkah pergi meninggalkan yang lainnya, tersenyum masuk ke dalam bandara.
"Bella." Vira langsung berlari, merentangkan tangannya. Bella meninggalkan kopernya langsung berlari berpelukan.
Winda juga langsung berlari memeluk Vira dan Bella, sejak kecil selalu bersama membuat ketiganya sulit berpisah.
Meskipun Billa sudah berpisah dengan mereka, hidup bahagia bersama lelaki yang dicintainya juga anak-anaknya, sekarang Vira dan Winda harus melepaskan Bella menemui lelaki yang dicintainya.
"Jangan sedih, nanti kita bertemu lagi. Vira kamu jangan menyerah dengan cinta kamu, akan ada hari di mana seseorang yang tulus mengatakan aku mencintai kamu. Winda kamu juga berhentilah menyimpan kemarahan, mungkin kak Bel tidak tahu sebesar apa luka kamu, tapi tidak ada salahnya memberikan kesempatan." Bella memeluk Vira dan Winda langsung melangkah mundur.
"Semangat Bella, kita menunggu kabar bahagia." Vira melambaikan tangannya bersama Winda.
Bella melambaikan tangannya, tersenyum menatap Wildan yang juga tersenyum.
Bella langsung melangkah masuk ke dalam pesawat menuju negara yang sedang Bastian kunjungi, perjalanan bisnis Tian yang sangat panjang.
Selama di pesawat Bella menatap orang sekitarnya, mengingat saat dirinya kecil selalu duduk bersama Tian, tidur di dada kakaknya.
"Kak Bella rindu, sangat rindu kebersamaan kita. Maafkan Bella yang egois, cinta tertutupi karena rasa cemburu." Bella menyentuh dadanya memejamkan matanya.
Bella memejamkan matanya yang mengantuk, tidak menyadari apapun hanya terdengar suara anak-anak menyapanya, Bella membuka kacamatanya tersenyum melihat dua anak kembar.
"Kakak cantik, mau tidak jadi pacar aku."
"Tidak, ada lelaki yang tersimpan di dalam hati kakak." Bella tersenyum manis, mengusap kepala anak kecil dihadapinya.
Tidak terasa Bella sudah mendarat, langsung keluar dari pesawat untuk mencari mobil taksi yang bisa mengantarkan ke hotel tempat Tian menginap.
Sepanjang perjalanan Bella tersenyum, jantungnya berdegup kencang tidak tahu cara menyapa Tian.
Sesampainya di hotel Bella langsung menuju resepsionis, menunjukkan kartu identitasnya. Meminta kunci kamar Tian, tidak banyak protes resepsionis langsung memberikan.
Bella berjalan ke lantai atas, dari pagi bertemu pagi Bella melewati perjalanan. Rasa lelah dan letih Bella rasakan.
"Jam delapan pagi, kak Tian pasti sudah pergi meeting." Bella membuka pintu.
Langkah Bella terhenti, membayang Tian tidur bersama wanita lain, atau ada wanita lain di dalam kamar Tian pasti akan menghancurkan hatinya yang datang membawa bahagia, tapi dihancurkan oleh kenyataan.
"Masuk sajalah." Bella melangkah masuk.
Kamar yang rapi, bersih, barang tertata rapi. Barang-barang Tian juga sangat tersusun. Menjalankan bisnis membuat Tian harus berpindah tempat dalam kurun waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Bella langsung mandi, menyegarkan tubuhnya memesan makanan lalu beristirahat menunggu Tian pulang.
***
Bastian sibuk melakukan rapat soal pendirian beberapa tempat di berbagai negara, membawa nama Bramasta dalam banyak bisnis.
Kecerdasan Tian dalam bisnis tidak ada bandingannya, dia selalu unggul dalam segala hal. Kekurangan Tian hanya satu, kurang beruntung dalam cinta.
"Terima kasih pak Tian sudah bersedia bekerja sama."
"Kami juga mengucapkan terima kasih pak, suatu kebanggaan untuk kami."
"Bagaimana jika kita makan siang bersama?"
Tian menganggukkan kepalanya, rekan bisnis Tian mengudang istri dan anaknya memperkenalkan kepada Tian.
"Dia putri saya, bagaimana cantik tidak?"
Bastian hanya tersenyum, mempersilahkan untuk makan bersama.
"Kak Tian, ini makanan paling populer silahkan dicoba."
"Terima kasih." Tian tidak menyentuh sama sekali.
Seorang wanita menyentuh tangan Tian, langsung ingin memeluknya, tapi sekretaris Tian langsung melindungi untuk menghindari pemberitaan.
"Tolong jaga sikap, wanita cantik dia yang bisa menjaga harga diri." Tian langsung melangkah pergi dengan tatapan tajam.
"Saya hanya ingin lebih dekat, bisa mengenal kamu lebih dalam lagi Tian."
"Aku tidak punya waktu membuka hati, hilangkan niat kamu karena tidak ada gunanya." Tian langsung masuk ke dalam mobil.
Mobil jalan meninggalkan restoran, Tian menghela nafasnya. Hal yang selalu membuatnya terganggu.
"Kamu bisa ke hotel sekarang untuk beristirahat, aku ingin sendiri." Tian keluar dari mobil melangkah jalan kaki.
Senyuman Tian terlihat menatap sebuah baju, Seandainya ada Bella dia pasti sangat menyukainya, Tian langsung masuk memesan baju ukuran Bella.
Melihat beberapa baju, sepatu, tas, aksesoris kesukaan Bella.
"Aku sangat merindukan kamu Bel, hanya ini yang bisa aku lakukan membeli apa yang kamu sukai." Tian tersenyum menatap high heels cantik.
Selesai berbelanja baju, lanjut mencari cemilan kesukaan Bella membawanya pulang ke hotel.
__ADS_1
Di tengah kesibukannya, Tian selalu menyempatkan diri untuk menenangkan pikirannya sebelum bekerja kembali.
Sesampainya di hotel sudah sore, Tian membagikan makanan yang dia beli untuk resepsionis yang setia bekerja di hotel keluarganya.
Senyuman resepsionis terlihat menatap Tian yang tampan, mapan juga sangat ramah.
"Pak sudah dari pagi ditungguin."
Bastian hanya tersenyum, langsung naik ke lantai atas. Senyuman Tian terlihat menatap ponselnya yang berisi fotonya bersama keluarganya.
Pintu terbuka, Tian langsung meletakkan barang belanjaan di atas meja. Membuka jas dan bajunya.
Tian melewati tempat tidur, langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Cukup lama Tian berendam air hangat.
Selesai mandi langsung menggunakan baju santai, karena malamnya tidak memiliki jadwal pekerjaan.
Bella masih tidur dengan nyenyak, menutup kepalanya dengan selimut. Tian juga hanya duduk santai di sofa memainkan ponselnya.
Bastian melakukan panggilan dengan Binar, melihat Bening yang sangat dekat dengan Tama. Suara tawa Bening suatu kebahagiaan untuk Tian, melihat Bening dan Binar bahagia.
Selesai bicara dengan Bening, langsung menghubungi Billa ingin melihat perkembangan baby Embun dan Elang.
Meskipun Billa dan Erik sibuk di rumah sakit, Embun dan Elang tidak kekurangan kasih sayang karena ada Bisma dan Ammar, Jum dan Septi yang selalu rebutan.
"Aku bahagia melihat kalian semua bahagia, meskipun aku tidak bisa berkomunikasi dengan Bella." Tian menutup ponselnya, menatap ke arah ranjang.
Cukup lama Tian duduk menatap rajang yang berantakan, padahal saat pergi selalu dia rapikan.
Tian langsung berdiri, menarik selimut langsung terduduk kaget melihat wanita cantik sedang tertidur dengan nyenyak di atas ranjang.
Tian mengucek matanya, memperhatikan kembali penglihatan. Tian menampar wajahnya, tidak percaya jika ada Bella di dalam kamarnya.
Cepat Tian menghubungi resepsionis mempertanyakan kedatangan Bella, resepsionis membenarkan jika Bella datang sejak pagi.
Senyuman Tian terlihat, mematikan panggilan langsung melangkah ke pinggir ranjang.
"Ini bukan mimpi, bisa melihat kamu dengan jarak sedekat ini." Tian mengusap wajah Bella.
Tian masih tidak percaya jika rasa rindunya bisa membawanya ke dalam mimpi indah, bisa menatap Bella dari jarak yang sangat dekat.
"Kak Tian rindu Bel, hanya dengan menyibukkan diri cara satu-satunya untuk melupakan rasa sakit berpisah dari kamu." Tian meneteskan air matanya.
***
__ADS_1
AUTHOR AKAN CERITAKAN SEDIKIT CERITA MEREKA.