
Rapat berubah kacau, terutama Bastian yang kaget, Ravi juga menolak memimpin LOVER secara resmi. Dia masih punya rencana bulan madu. Wildan lebih lagi menolak karena dia ingin pergi ke Roma.
"Maaf Daddy, Ravi tidak bisa hidup Ravi ribet, masih ingin pacaran sama istri. Jika Daddy ingin beristirahat hanya ingin menghabiskan waktu bersama Mommy, Ravi bisa mengendalikan dari jauh, tapi untuk berkewajiban selalu hadir Ravi menolak Daddy."
"Bastian juga sependapat dengan Ravi."
"Kamu juga ingin pacaran, Ayah kamu sudah katakan untuk berhenti pacaran. Awas ya kalau Bunda melihat kamu membawa wanita lain." Jum yang tidak tahu aturan, main serobot masuk, marah-marah, sekarang meneriaki Tian.
"Jum, ini bukan hutan, suara kamu mantul di sini." Viana menyindir Jum.
"Bastian tidak bilang pacaran Bunda, Tian hanya bisa mengendalikan dari jauh. Banyak bisnis Tian yang harus dikerjakan." Tian merangkul Bundanya.
"Ravi, istri kamu di luar digoda orang." Wildan menunjukkan layar tabletnya. Ravi langsung bangkit, berlari keluar.
"Astaghfirullah Al azim, Bunda lupa tadi pergi ke sini bersama Kasih untuk mengantarkan ponsel Ravi." Jum senyum memeluk lengan Tian.
"Maaf pak Bu, rapat dibatalkan kita pamit untuk kembali ke perusahaan. Acara langsung berubah menjadi acara keluarga." Pemimpin lainnya meminta pamit, Rama mempersilakan.
Viana dan Reva memutuskan untuk pergi, Rama langsung menahannya. Keputusan Viana agar perusahaan tidak dimiliki keluarga langsung diasingkan dari daftar keluarga. VCLO hanyalah perusahaan luar yang bersaing dengan perusahaan lainnya.
"Mommy jangan bercanda, sekarang acara keluarga." Rama menarik kursi meminta Viana duduk.
Reva berjalan mengambil sepatunya, Wildan langsung memeluk Reva meminta maaf jika ucapannya ada yang menyinggung Maminya.
"Maafkan Wildan Mom, sekarang status Wildan seorang putra.
Erik juga melangkah ingin keluar, Bisma memintanya untuk tetap duduk. Karan melangkah keluar melihat Ravi yang sedang mengomeli Kasih.
"Dasar genit, kenapa bicara sembarangan dengan orang?"
"Dia pikir aku sekretaris, lagian Kasih hanya diam saja."
"Kenapa tidak temui aku langsung?" Ravi tetap tidak suka dengan jawaban Kasih."
"Kenapa marah-marah tidak jelas, aku tidak selingkuh, tidak melakukan salah apapun. Jangan membuat kita berselisih paham." Kasih balik marah.
"Aku cemburu Kasih, setidaknya kamu jaga perasaan aku."
"Baiklah aku salah, aku salah datang ke sini. Tidak semua hal harus aku jelaskan, aku tidak suka dituduh. Tidak ada alasan aku harus melirik lelaki lain." Kasih menundukkan kepalanya, Ravi terlalu banyak berjasa, Kasih tidak punya hak untuk melawan.
"Maaf aku yang salah, jangan merasa bersalah. Aku terlalu berlebihan. Maaf ya sayang." Ravi memeluk Kasih.
"Ketrin, kamu mirip Ketrin." Ravi menatap Kasih, melihat arah pandang Kasih menatap Karan.
"Dia orang yang menyelamatkan Karin, ternyata dia juga memiliki saham di sini." Ravi merangkul Kasih mendekati Karan.
__ADS_1
"Terima kasih Karan, kamu sudah menyelamatkan Karin."
"Kamu mengenal Ketrin?" Karan menatap Kasih yang menganggukkan kepalanya.
Kasih meminta ponsel Karan, menghubungi sebuah panti di luar kota. Ravi tidak mengerti bahasa Kasih.
"Karan aku membayar hutang untuk adikku, pergilah ke tempat ini kamu akan menemukan Ketrin. Kita impas, pepatah benar, tolonglah sekalipun kamu tidak kenal, mungkin suatu hari keluarga kamu akan mendapatkan balasannya."
"Ketrin masih hidup?"
"Iya, dia ingin di jual, tapi aku menyelamatkannya membawanya pergi jauh, meninggalkan negara yang bisa membahayakannya. Demi keamanan Ketrin aku menitipkan di sebuah panti, dia menjadi guru di sana."
"Adikku masih hidup." Karan mengusap matanya.
"Dia menunggu kakaknya untuk datang menjemput." Kasih hanya bisa melihat Ketrin dari kejauhan, Kasih melakukannya demi kebaikan Ketrin.
"Terima kasih, aku pergi sekarang. Kasih kamu orang baik tidak sejahat yang orang katakan." Karan langsung pergi meninggalkan perusahaan.
Ravi tersenyum memeluk Kasih, Ravi menggandeng tangan Kasih untuk masuk ke dalam.
"Aku bukan wanita baik Ravi, terkadang aku menjadi orang jahat."
"Aku tidak perduli masa lalu kamu, tapi jika boleh aku ingin membimbing kamu, kita berdua berjuang bersama untuk menjadi lebih baik."
Pintu terbuka, Kasih melihat Keluarga yang sedang tertawa. Suasana yang sudah lama tidak Kasih rasakan.
"Sayang, kemari peluk Mommy." Viana mencium kening Kasih.
Kasih mencium tangan Rama, Bima juga Bisma, memeluk Reva yang mencium kening Kasih.
"Terima Mommy untuk semua baju, tas sepatunya." Kasih memperlihatkan pakaiannya.
"Iya sayang, bilang terima kasih juga kepada Mami dan Bunda. Kita bertiga seharian mencarikan semuanya."
"Terima kasih Mami, Bunda Jum terima Kasih banyak."
"Sama-sama sayang, kamu putri kami." Reva mengelus kepala Kasih.
Suara panggilan terdengar, layar langsung hidup memperlihat Vira geng yang sedang berpelukan.
"Kalian berempat pernah tidak bertengkar?" Kasih menatap ke layar.
"Vira tidak pernah marah serius, tapi kalau cemburu haus kasih sayang sering."
"Kak Kasih jangan heran jika kita bertengkar, atau saling dorong-dorongan, kita dari kecil selalu seperti ini." Billa tersenyum melihat Vira dan Bella yang mengeroyok Winda.
__ADS_1
"Kalian akan bertengkar karena cinta, ada kemungkinan kalian mencintai orang yang sama."
"Tidak mungkin Kak kasih, Vira cinta Wildan, tidak mungkin Bel dan Billa suka Wildan. Kalau Billa sudah ada yang selalu menemaninya setiap malam."Winda mengedipkan matanya.
"Siapa?" semua orang menanyakan hal yang sama.
"Dokter Erik." Wildan menjawab, Vira geng langsung heboh.
"Billa hanya membicarakan pelajaran Bunda, kak Rik banyak bantu Bil. Kita tidak pernah membahas cinta." Bella membela diri.
"Ya sudah kak Rik buat Winda saja, lumayan ganteng, Dokter lagi."
"Winda, kita sudah buat perjanjian tidak mencintai orang yang sama!" Bella teriak, langsung menutup mulutnya, Billa langsung berlari menyingkir dari layar."
"Bukan salah Winda, kamu sendiri yang mengaku." Winda tertawa bersama Vira dan Bella.
Erik terdiam, menundukan kepalanya. Bisma mengetahui gerakan Erik cara menatap Billa juga beda. Erik pengecut karena dia merasa dirinya lahir dari seorang wanita malam, asal-usulnya tidak jelas, berkali-kali Erik ingin menjauh dari keluarga Bramasta dan Prasetya, Ravi, Tian terus merangkul Erik tetap bersama.
"Bella, pernikahan kak Tian sudah ditetapkan." Ravi tersenyum, di layar langsung diam berhenti tertawa menatap Bella.
"Siapa calonnya?" Bella menatap tajam, sinis melihat Semuanya.
"Kemarilah." Ravi memanggil seorang wanita berhijab, sekretaris Tian.
"Cantik Solehah, insyaallah istri yang setia." Ravi tersenyum meminta sekretaris Tian bergabung duduk bersama keluarga.
Bella langsung melangkah pergi, Vira coba menahannya tapi langsung ditepis kuat. Winda langsung berlari mengejar Bella.
"Bunda Ayah Billa tidak setuju. Kak Tian sudah berjanji kepada Bella dan Billa saat menikah harus dengan restu kita. Sampai kapanpun Billa tidak merestui kak Tian, Billa tidak ingin bicara lagi, Billa tidak punya kakak pembohong."
Layar langsung mati total, Ravi langsung ngakak, Viana dan Reva menggelengkan kepala melihat Ravi yang jahil.
"Wanita kebiasaan kalau marah tidak mendengarkan penjelasan, langsung saja marah. Kalau cinta pertahankan, bukan lari sampai akhirnya pelakorr masuk."
"Menyindir Kasih, tadi siapa yang cemburuan, menuduh tidak jelas." Kasih menatap sinis.
"Matamu sayang, hobi melotot."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
***
__ADS_1