
Kasih sudah bangun, menyiapkan sarapan. Wildan dan Karan juga ternyata sudah pulang lebih dulu. Ravi sudah sholat langsung berolahraga.
"Morning sayang."
"Ak, sudah mandi, hari ini tidak ke kantor."
"Emhhh, aku temani kamu ke rumah sakit dan kantor polisi."
Kasih tersenyum, tidak lama suara Karin datang membawa makanan untuk Cinta. Ravi hanya tersenyum, Kasih meminta Karin duduk bersamanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, silahkan duduk Karan."
Karan menatap Kasih dan Karin, dia masih binggung membedakan keduanya hampir tidak memiliki perbedaan.
"Kenapa binggung? dia Kasih istriku, dia adik ipar ku. Jangan pernah menatap Kasih."
"Aku sendiri tidak tahu apa beda keduanya?" Karan langsung duduk bersama Ravi.
"Bagaimana kabar adik kamu Karan?" Kasih menyiapkan makan untuk Ravi, sesekali melihat Karan.
"Dia baik, aku ingin membawa dia kembali, tapi menolak karena ingin mengabdi."
"Niatnya baik, aku juga ingin sekali pergi ke pedesaan." Karin membayangkan segarnya perdesaan."
Ravi mempersilahkan untuk makan, Karan akan ikut dengan Ravi untuk melihat Cinta. Ravi menatap Kasih dan Karin bersamaan, Ravi tersenyum melihat orang yang tidak bisa membedakan keduanya.
"Karin, kamu menggunakan softlens?"
"Tidak ini mata asli, Memangnya kenapa?" Karin menatap Ravi, Karan juga memperhatikan keduanya.
"Astaga mata mereka berbeda." Karan tersenyum, Karin juga langsung tersenyum baru menyadari perbedaan.
"Karin murah senyum, Kasih jarang tersenyum." Karan menatap Karin, Kasih tersenyum bersamaan dengan Karin."
"Senyuman kalian berdua juga berbeda."
"Sudah cukup memperhatikannya, sekarang sudah tahu sedikit perbedaan mereka." Ravi meminta Kasih mengambil minum.
Setelah makan Ravi bersiap bersama Kasih di kamar, tatapan Kasih memperhatikan Ravi yang tidak biasanya.
"Aak, mengapa melibatkan Karan, Aak juga memperingati Karan perbedaan kami." Kasih memeluk Ravi dari belakang.
"Tidak ada alasan sayang, aku ingin ada yang menjaga Karin. Bagaimanapun aku pernah memberikan harapan kepadanya, aku tidak ingin Karin merasa kesepian. Dia harus memiliki alasan untuk menikmati hidupnya, Karan orang yang tepat, menjaga Karin, selanjutnya hanya Allah yang tahu."
"Ravi kamu baik sekali, maafkan aku yang membuat kamu berada dalam dilema."
"Siapa bilang aku dilema, Kasih bahkan saat memanggil nama kamu, aku takut salah sebut, saat menatap Karin aku takut kamu salah paham. Aku tidak ingin kamu kecewa, aku selalu berusaha membuat kamu nyaman bersamaku." Ravi menangkup wajah Kasih.
"Aku nyaman, sangat nyaman. Aku bukan wanita pencemburu Ravi, aku bukan wanita yang mudah melepaskan yang sudah menjadi milikku."
__ADS_1
"Tapi aku cemburuan Kasih, bahkan aku tidak rela kamu tersenyum dihadapan orang lain."
"Senyum seperti ini,"
Ravi langsung menahan Kasih, tapi Kasih lebih cepat menghindar berlari keluar, bisa tidak pergi jika Ravi sudah minta jatah.
Di lantai bawah, Kasih melihat Karan dan Karin bertengkar. Ravi juga melihat keduanya berselisih paham.
"Karan, kamu buta aku bukan wanita bodoh yang tidak mengerti, bahkan aku dulu bersama Wildan sebagai siswa berbakat."
"Tapi aku senior Wildan, kamu yang otaknya kampungan."
"Kamu bilang apa? kampungan!" Karin memukuli Karan yang berusaha menahan tangannya.
Kasih melongo, adiknya yang lembut ternyata bisa berubah menjadi singa juga. Pukulan Karin lebih kuat, tidak kasihan melihat Karan.
"Kenapa mereka bertengkar Ak?"
"Bertengkar mencari rasa nyaman sayang, terkadang pertengkaran yang membuat rasa rindu." Ravi memeluk Kasih dari belakang.
Karan terjatuh, kepalanya menghantam meja. Karin langsung kaget menyentuh kepala Karan yang berdarah.
"Astaghfirullah Karan, jangan mati." Karin menepuk wajah Karan pelan.
Kasih bersama Ravi kaget, langsung berlari menuruni tangga melihat Karan jatuh pingsan.
"Karin, kenapa kamu membunuh Karan?" Kasih menutup mulutnya.
"Kamu harus bertanggung jawab Karin, dia masih jomblo belum menikah, bagaimana bisa mati muda?" Ravi membantu Karan untuk duduk, Karin menangis histeris.
Kasih menahan tawa, Karin begitu polosnya tidak mengerti jika Karan hanya berpura-pura.
"Biasanya di tv bisa memberikan nafas buatan." Karin bicara terbata-bata.
"Aku lelaki normal, tidak mungkin memberikan nafas buatan, Kasih juga tidak akan aku izinkan. Jadi siapa ya?" Ravi membalik badannya ingin tertawa lepas.
"Satpam bisa, atau maid. Karin tidak mau." Karin binggung melihat wajah Karan.
"Ya sudah kita biarkan saja dia mati." Ravi menendang Karan, terguling lagi di lantai.
"Ravi jangan seperti itu, kasihan Karan. Karin tidak ingin menjadi pembunuh. Karin tadi salah tapi gengsi mengaku salah.
Kasih sudah berdiri tertawa, Ravi lebih lagi langsung melangkah pergi mencari minum. Karan menepis tangan Karin langsung duduk.
"Kasih dia tidak jadi mati. Alhamdulillah ya Allah."
Karan langsung duduk, Karin berlari meminta obat, langsung membersihkan kepala Karan.
"Karan, ayo bicara jangan bilang kamu hilang ingatan."
"Aku hampir mati karena kamu, jadi perempuan tidak ada lembutnya."
__ADS_1
"Iya Karin salah, lagian jadi cowok lemes banget, begitu saja bisa jatuh."
Ravi langsung menyemburkan air minumnya, mendengar kata lemes Karan memang hanya bekerja menggunakan kepalanya, tapi soal fisik dia hanya ala kadarnya, berbeda dengan Wildan.
"Sudahlah, ayo Ravi kita langsung berangkat, bisa patah tulang belulang karena Karin."
"Karin bukan Hulk." Bibir Karin manyun.
Kasih tersenyum bersama Ravi, langsung melangkah keluar mengikuti Karan dan Karin.
"Nama mereka cocok ya sayang, Karan dan Karin."
"Iya juga, Karin Karin dan Kasih. Lucu juga semisalnya terlibat cinta segitiga."
"What, di sini aku pemeran utama bagaimana bisa digantikan Karan."
Kasih tertawa, Ravi menarik Kasih untuk menarik ucapannya, Kasih membatalkan ucapannya. Ravi masuk mobil bersama Karan di depan, Kasih dan Karin berada di belakang.
"Kak Ravi, kenapa harus Karan yang membawa mobil, nanti dia lupa cara membawa mobil."
"Karin kamu terlalu polos, Karan tidak akan mati dengan mudah, saat kepalanya belah baru mati."
"Ihhh, mengerikan."
Kasih merangkul Karin, sikap baik Karin sangat mudah dimanfaatkan, dia tidak tega melihat orang terluka. Kasih tidak mudah dipancing dengan kebaikan, dia lebih banyak mengabaikan, sehingga tidak mudah ditaklukkan.
Mobil melaju keluar dari komplek perumahan, Kasih menatap tajam rumah mertuanya, Uncle Bima juga Uncle Bisma.
"Aak, bukannya dulu ada rumah yang harus dikunjungi setiap minggu, tapi mengapa sekarang tidak lagi."
"Masih sayang, besok jadwalnya. Selama ini kita saja yang tidak kumpul, yang lainnya kumpul semua."
"Besok kita hadir tidak Ak?"
"Wajib sayang, sekalian pengen izin ke Mommy." Ravi sampai sudah menyusun rencana liburan bersama.
"Biasanya kumpul di sana membawa apa Kak Ravi?"
"Emhhh, tidak tahu, aku hanya datang membawa badan, pulang membawa kenyang."
Kasih tersenyum, ada sesuatu yang membuat Kasih nyaman berada di sana.
"Dulunya rumah utama milik Papi, tapi karena Mami sangat menyukai kumpul bersama sahabatnya, Papi memutuskan pindah rumah."
"Papi sangat mencintai Mami." Kasih tersenyum.
"Bukan masalah cinta sayang, Papi shock rumah mewahnya di renovasi Mommy seperti penginapan."
Kasih tertawa pelan, Karin juga tertawa baru menyadari tidak heran rumah mewah memiliki banyak kamar. Mami Reva memang sesuatu.
***
__ADS_1