SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 DAFTAR BELANJAAN


__ADS_3

Tatapan mengagumi terlihat, Vira tersenyum lebar melihat hotel sangat mewah dengan dekorasi yang fantastis.


Tema pernikahan mereka ala Raja dan ratu sehingga seluruh tempat terlihat seperti tempat kerajaan.


Bukan hanya pelaminan yang mewah, setiap lorong kamar juga dihias. Hotel sudah berubah menjadi Istana.


Biaya untuk dekorasi juga telah terbilang sangat fantastis, Viana bahkan menggabungkan wedding organizer dari beberapa kota dan negara untuk memberikan yang terbaik.


"Sungguh luar biasa mewahnya?" Jum tersenyum menatap Viana dan Reva yang turun tangan langsung mengubah hotel menjadi Istana.


"Mungkin ini akan menjadi penikahan terakhir Viana ada di sini Jum, Vi lega akhirnya bisa mengantarkan putri kecilku ke istana impian, sebuah pernikahan." Viana tersenyum memeluk Jum Dan Reva.


Penikahan coupel yang dilakukan memang menjadi penikahan terakhir, semuanya sudah menikah dan memiliki keluarga masing-masing.


Vira melangkah bersama Winda, Bella dan Billa melihat kamar pengantin. Bunga mawar bertaburan membuat Vira sangat senang melihatnya.


"Kak Bel lebih baik duduk, jaga baik-baik calon twin B. Dia masa depan Bramasta." Winda mempersilahkan Bella duduk.


"Gila keren banget, tidak menyangka ada juga pernikahan yang hampir mengalahkan penikahan kerajaan. Masih ingat pernikahan Raja Athala, ini lebih mewah." Bella bertepuk tangan, sungguh pernikahan yang fantastis.


"Rasanya Bella ada di dunia dongeng, sungguh membuat halu." Bella tertawa diikuti oleh Vira dan Winda.


Senyuman Winda terlihat menatap kamar pengantinya yang tidak kalah mewah, hanya saja Winda sedih karena tempat tidur ini tidak akan mereka gunakan untuk malam pertama.


Winda sudah memiliki bayangan buruk pernikahannya, tapi melihat Ar keturunan Prasetya membuat Winda binggung.


Bella dan Billa melangkah keluar melihat suami mereka, Vira duduk mengusap ranjang Winda.


"Win, tempat tidur kita tidak akan noda merahnya. Ranjang yang indah, tapi pengantinya tidak saling mencintai." Vira tersenyum menatap Winda yang hanya duduk diam.


"Aku rasa takdir kita sama Vir, kamu menikahi keluarga Bramasta belum tahu akhir penikahan kalian. Mungkin saja ending bahagia, atau ada benturan masalah. Sama seperti Winda menikahi keturunan Prasetya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seandainya Winda tahu dia keturunan keluarga kamu, tidak mungkin ada pernikahan ini." Winda mengaruk kepalanya, menjambak rambutnya yang sangat bodoh tidak mencari tahu asal-usul Ar.


Winda terjebak di dalam penikahan yang dia sendiri membuatkannya, keinginan Winda menikah bukan untuk bahagia, tapi untuk menemukan ibunya Ar, kenyataannya Ar bukan anak kandung.


"Bella menikah langsung tahu untuk memiliki keturunan, Vira menikah hanya menjadi pajangan." Suara Vira tertawa terdengar lucu, Winda juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


"Bagaimana jika malam pertama mereka memaksa?" Winda langsung merinding.


"Kita paksa balik." Vira langsung tertawa, menutup mulutnya saat melihat Wildan melangkah masuk.


Wildan melihat kamar pengantin yang terlihat seperti kehidupan kerajaan, tema yang aneh.


"Apa gaun pernikahan juga pakai rambut panjang?" Wil melihat dirinya dikaca.


"Kak Wil ini kamar Winda, kamar kalian ada di sana. Cepat keluar." Winda mendorong Wildan dan Vira.


Tatapan Wildan tajam, Vira langsung cemberut langsung ingin melangkah ke kamar Bella, tapi Wil menahannya.


"Bella sedang bersama kak Tian, jangan diganggu." Wildan melepaskan tangan Vira.


Vira langsung mengikuti Wildan melihat kamar pengantin mereka, Vir duduk melihat daftar kertas yang sudah tertulis peraturan yang harus Vira ikuti.


"Apa-apaan ini Wil?" Vira langsung membaca dengan tatapan kesal.


Vira melihat daftar, Wildan tidak ingin pisah kamar, apalagi menjadi pertanyaan keluarga. Mereka akan pisah rumah dari kediaman Vira, maupun Wildan sampai jangka waktu yang tidak ditentukan.


"Kita pindah ke mana?" Vira menatap binggung.


"Kenapa tidak membuat rumah lebih jauh?"


"Karena di sini keluarga kita, Mommy dan mami membutuhkan salah satu dari kita. Kamu putri bungsu sudah tugas kamu menjaga kedua orang tua, karena kak Ravi sudah pindah rumah. Belaku juga untuk Winda yang harus menetap bersama Mami dan Papi." Wildan menegaskan ucapan, Vira hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


"Kenapa Billa pindah rumah?" Vira masih penasaran.


"Ada kak Tian dan Bella yang tinggal di rumah bunda, kak Erik juga memiliki pilihan antara mertua dan orangtuanya. Sehingga memilih untuk rumah sendiri.


"Baiklah." Vira menatap aturan selanjutnya.


"Tunggu Wil, ini tidak mungkinkan?" Vira menunjukkan tulisan Wildan tidak ingin ada assisten rumah tangga.


"Benar, kita hanya tinggal berdua jadi tidak harus ada asisten."

__ADS_1


"Tapi Wil, aku tidak bisa beres rumah, tidak bisa memasak." Vira menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku urus rumah, kamu yang kerja. Atau kita kerjakan sama-sama, dan mempunyai kebebasan di pekerjaan masing-masing." Wildan memberikan penawaran.


"Ya sudah kerja sama-sama, dasar cowok pelit." Vira melanjutkan daftar yang masih panjang, mengalahkan daftar belanja bulanan.


Tatapan Vira langsung lemes, guling-guling di atas tempat tidur tidak habis pikir dengan peraturan Wildan.


Rasanya Vira masuk ke dalam perut harimau, terus dimuntahkan lagi karena pahit.


Wildan langsung melangkah pergi, menahan tawa melihat Vira yang seperti orang depresi. Wildan juga tersenyum melihat pintu kamar Winda terbuka, terdengar suara Winda marah-marah karena daftar peraturan yang sama.


"Aku mampu membayar seratus asisten rumah tangga, kamu tidak perlu mengeluarkan uang. Pokoknya Winda harus dilayani."


"Win, kalian tinggal di hotel atau mungkin apartemen kamu ingin punya asisten. Apa kamu ingin suami kamu tidur dengan asisten." Wildan menggelengkan kepalanya.


"Kak lihat, dia juga melarang Winda menggunakan baju seksi." Winda menunjukkan daftar peraturan.


"Bagus, kalau bisa sekalian menggunakan hijab. Kamu jauh lebih cantik." Wildan tersenyum melihat adiknya.


Winda langsung menutup pintu kuat, menatap Ar yang hanya tersenyum santai.


Winda langsung teriak kuat, lompat-lompat dia atas tempat tidur pengantin sambil mengacak-acak kamar.


"Winda, tolong Vira. Lihat ini panjang sekali bisa dibuat selendang Miss Indonesia." Vira sedih melihat milik Winda.


"Winda juga punya, harus kita lipat-lipat seperti ini." Winda membentuk kertasnya, Vira juga melakukan hal yang sama.


"Apa yang kalian lakukan?" Bella mengendong keponakannya.


"Lagi membuat pembalut, mau? ne ambil, gratis." Winda berteriak kuat membuat Vira tertawa.


Bella langsung menangis mencari Tian, perasaannya sangat sensitif sehingga tidak boleh dibentak.


Embun tertawa melihat Bella menangis, mengadu kepada Tian jika Winda memarahinya.

__ADS_1


Wildan dan Ar hanya bisa saling pandang, Winda memang mulutnya tidak pernah punya rem.


***


__ADS_2