SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MALL


__ADS_3

Semuanya sudah bersiap, Wildan mengeluarkan mobilnya yang sudah lama tidak dia gunakan. Melihat mobil mewah yang baru pertama kalinya, Asih langsung ingin ikut Wildan, Bening juga bersemangat untuk ikut Wildan.


"Kak Rav, kak Tama lihat anak kalian menjadi buntut Wildan terus." Vira teriak kuat, karena dulu Wildan tidak suka dia dekati.


"Uncle ikut, janji tidak nakal." Asih memohon.


"Uncle masih harus ke mall membeli kado pernikahan." Wildan bicara pelan.


"Asih juga belum beli Uncle." Rasih memelas.


Akhirnya hanya orang tua yang pergi lebih dulu untuk ke hotel, beberapa mobil pergi ke arah mall.


"Uncle Yu juga bisa membawa mobil ini?" Ning menatap Yusuf dan Wildan.


"Bisa Ning, kita harus selalu belajar hal baru agar tidak ketinggalan majunya zaman, tapi ingat teknologi boleh maju, akhlak tetap baik." Senyuman Yusuf terlihat.


"Iya Uncle baiknya ambil, buruknya buang." Ning bertepuk tangan.


Sesampainya di mall Wildan langsung mengandeng Asih, Yusuf mengandeng tangan Ning.


"Aunty Vir sini Asih gandeng nanti hilang, Aunty soalnya tidak punya pasangan." Asih menggandeng tangan Vira dan Wildan.


Ning juga mengandeng tangan Winda dan Yusuf melangkah masuk, Erik menggendong Elang juga mengandeng tangan Billa.


Tian bersama Embun dan Bella, Ravi merangkul Kasih berjalan seperti orang pacaran.


Tama dan Binar juga berjalan di belakang melihat putri mereka sangat menyukai Yusuf.


"Uncle Ar belikan Ning sepeda, soalnya sepeda Ning rusak oleh Aunty Win." Ning menatap Winda yang buang muka.


"Hai kekasih gelap ku." Winda melambaikan tangannya melihat Wira, ada Steven dan Windy juga yang sudah menunggu.


"Ini pertama kalinya kita pergi ke mall ramai-ramai." Vira tersenyum sangat menyukai moments seperti ini.


Wildan melihat ke tempat perhiasan bersama Ravi dan Kasih, Asih menunjukkan kepada Wildan Kado untuk seorang wanita perhiasan, jika untuk laki-laki rumah mobil.


"Ini Uncle, Asih suka." Rasih melihat kalung kecil.


"Kita beli." Wildan meminta penjaga untuk mengeluarkan kalung yang Rasih inginkan.


"Aunty Vir suka ini harus ada liontin, nenek Vi juga suka ini." Rasih tersenyum malu-malu melihat Wildan tersenyum.


"Baiklah, kita beli ini tiga untuk nenek Vi, nenek Va juga nenek Ju." Wildan meminta dibungkus.


Ravi tersenyum merangkul Kasih, Wildan memang tidak pernah membedakan antara Maminya dan Mommy Bunda.

__ADS_1


Wildan meminta sepaket perhiasan untuk kado pernikahan, langsung membungkusnya menitipkan kepada Kasih.


"Terima kasih Wil." Kasih tersenyum.


"Kita keluarga kak, jangan mengucapkan terima kasih." Wildan melangkah pergi bersama Rasih yang memeluk paper bag.


Kehebohan terjadi di area tempat peralatan memasak, Vira dan Winda bertengkar saling pukul mengunakan penggorengan.


Tian harus menengahi keduanya yang terlihat heboh sendiri, Vira menatap tajam langsung membuang satu set piring yang langsung pecah.


Winda langsung tertawa, karena Vira harus membayarnya. Bella dan Billa juga tertawa.


Winda melihat Yusuf bersama Bening, langsung melangkah pergi mengikutinya yang berjalan ke arah boneka.


"Uncle Ar Ning mau boneka kembar, satunya untuk Asih." Bening turun dari gendongan mengambil boneka.


Seorang anak kecil langsung mendorong Bening, megambil boneka Ning dan memarahinya.


Yusuf langsung memeluk Bening, menatap seorang wanita yang berdiri di samping anak kecil.


"Bening, ada yang sakit?" Yusuf sangat khawatir.


"Kalian jika tidak mampu membeli jangan menghalangi jalan." Bentakan terdengar dari ibu anak kecil.


Bening langsung ingin merampas boneka, tapi tangannya ditepis.


"Kamu tidak tahu siapa saya, semua yang ada di sini bisa saya beli. Jangan bilang kamu menggunakan anak ini untuk menipu." Tubuh Yusuf didorong, langsung ditinggal pergi.


Mata Yusuf terpejam, hanya bisa mengucapkan istighfar. Bening menahan air matanya, melihat boneka yang dia inginkan dibawa pergi.


"Uncle, kenapa kita meminta maaf? mereka yang mengambil punya Ning." Bening cemberut.


"Tidak apa sayang, tidak ada salahnya kita meminta maaf." Yusuf mengusap kepala Bening.


"Bening benci orang jahat." Tangan kecil Bening memeluk Yusuf.


"Bening, jangan pernah menyimpan rasa benci. Datangnya orang baik menjadi kebahagiaan, tapi datangnya orang jahat memberikan kita pengalaman. Seburuk-buruk sikap seseorang dia memberikan kita pelajaran hidup." Yusuf tersenyum mengusap punggung Bening meminta melihat boneka lagi.


Erik tersenyum bersama Billa, Tama juga tersenyum mendengar nasehat Yusuf. Winda dan Vira yang emosi ingin menjambak wanita yang menghina Ning, dia tidak tahu siapa Ning.


Orang bisa membeli isi mall, tapi keluarga Bramasta pemilik mall.


"Ibu-ibu sialan, mulutnya kebanyakan makan sampah." Winda menatap tajam.


Wildan menegur Yusuf, senyuman keduanya terlihat langsung melangkah bersama untuk melihat mobil yang mereka pesan.

__ADS_1


Semuanya mengikuti langkah Wildan dan Yusuf ke ruangan pribadi, Bening dan Asih juga ikut melihat hadiah pernikahan untuk Karan.


"Kak Ravi, mall ini milik siapa?" Vira menatap serius.


"Wildan, tapi bukan dia yang mengolahnya. Wildan pemilik juga pemegang saham terbesar. Memangnya kenapa?" Ravi menatap ke arah pintu.


"Bagaimana caranya kita masuk ke sana?" Erik menunjuk pintu.


"Langsung masuk saja." Tian membuka kunci otomatis menggunakan sidik mata.


Semuanya berhasil masuk, lift turun ke lantai dasar yang dipenuhi oleh mobil mewah.


Wildan binggung melihat keluarga juga masuk ke area mobil, Ravi langsung lompat kesenangan meminta satu mobil canggih.


"Wil, kak Ravi minta dua." Ravi memeluk dua mobil impiannya.


"Kak Erik satu ini saja Wil." Erik menatap mobil mewah.


"Winda juga minta satu." Winda langsung berlari memilih mobil bersama Vira, Bella dan Billa.


Kehebohan terlihat, suara tertawa mencoba suara mesin mobil. Wildan hanya menggelengkan kepalanya.


"Semua mobil ini bukan punya Wildan." Wil berteriak menghentikan keributan.


Semuanya langsung hening, melihat ke arah Wildan, terlihat sekali wajah kecewa mendengar ucapan Wildan.


"Ini semua mobil Uncle Ar." Asih berdiri di atas satu mobil.


"Siapa Uncle Ar?" Vira menatap Winda.


"Muhammad Armand Yusuf, pemiliknya ternyata Amin." Winda melihat kartu nama.


Bella, Vira langsung berlari mendekati Winda. Mereka berpikir Yusuf seorang dosen di kampus bergengsi, pemuda terpintar dan dosen termuda.


"Wow, ternyata calon suami kamu kaya juga Win." Vira menyenggol Winda.


Ravi memeluk mobil, langsung melangkah merangkul Yusuf untuk negosiasi harga.


Mata Kasih tajam melihat Ravi yang mulai ingin membeli mobil lagi.


"Ayo kita pergi ke hotel." Tian langsung melangkah menepuk tangannya untuk keluar, pintu terbuka.


"Sebenarnya mall ini milik siapa? kak Ar memiliki banyak mobil mewah, Wildan pemiliknya, tapi kenapa kak Tian mempunyai akses ke sini." Bella kebingungan langsung melangkah keluar mengejar Tian.


Wildan melangkah keluar menggendong Asih, Ning masuk mobil bersama Yusuf langsung keluar gerbang menuju hotel.

__ADS_1


***


__ADS_2