SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 RUMAH SAKIT


__ADS_3

Pintu ruangan terbuka, dokter tersenyum menatap Bima dan Rama yang menunggu Yusuf sejak mendapatkan kabar jika Yusuf mengalami pendarahan bagian kepala.


Semuanya hening mendengar dokter menjelaskan keadaan Yusuf yang kepalanya terbentur, dia juga mengalami pendarahan ringan.


"Bagaimana keadaan dia sekarang dok?" Bima melihat ke arah dokter.


"Sudah membaik, tapi belum sadar." Dokter langsung pamit.


Wildan mendekati pintu, melihat dari luar Yusuf tergeletak di ranjang. Tian menepuk pundak Wildan mengatakan jika Ar pasti baik-baik saja.


"Kak Tian yakin Ar anak yang kuat." Tian mengusap kepala Wildan.


"Kenapa kalian semuanya memanggil dia Ar? nama itu sudah menghilang sejak ayahnya meninggal dan ibunya menghilang dikabarkan juga meninggal." Wildan kembali duduk.


"Lebih keren Armand, dari pada kita panggil Yu jadinya nanti Yuyun." Ravi tersenyum.


Suara tawa Vira dan Winda terdengar, Ravi bernafas lega karena ternyata Vira dan Winda tidak trauma, bisa cepat tertawa.


"Bagaimana keadaan yang di hotel Papi?" Wildan duduk di samping Papinya.


"Baik, anak-anak juga sudah bermain. Embun dan Elang juga sudah dicek semuanya aman. Bahkan Binar juga sudah cek kandungan, anaknya baik-baik saja." Bima menatap Wildan, langsung merangkulnya.


"Syukurlah Pi, bagaimana Mami dan yang lainnya?" Wildan masih belum puas.


"Baik Wil, Mami kamu sudah lanjut gosip, menghubungi Tya istri sahabat kami, langsung marah-marah karena pernah menyumpahi dia jatuh dari pesawat." Rama tersenyum.


"Astagfirullah Mami tidak penting sekali pekerjaannya." Wildan memijit pelipisnya.


"Kasihan kak Karin trauma malam pertama." Winda langsung tertawa kuat.


Vira langsung menutup mulut Winda, pikiran Winda jauh sekali memikirkan malam pertama pengantin baru.


"Pernikahan Tian diundur, pemberitaan sedang heboh karena dua pesawat juga mengalami kecelakaan. Ada letusan gunung juga sehingga kita tidak bisa berpesta di atas kesedihan banyak orang." Bisma datang bersama Karan dan Erik.


Tian sudah menerima kabarnya, Bella sedang mengamuk di hotel, tapi tidak memaksa harus tetap menikah.


Hebohnya pemberitaan semuanya akan menetap di Bali kurang lebih satu bulan, undangan juga diundur untuk disebar langsung ubah tanggal lagi.


"Sudahlah kita ambil hikmah saja, paling penting seluruh keluarga kita baik-baik saja, kita juga berdoa agar Yusuf segara pulih." Bima meminta Vira dan Winda pulang.


Wildan juga melangkah pulang karena harus mengganti bajunya, sepanjang perjalanan pulang Wildan dan Karan hanya diam.


"Kak Karan baik-baik saja?" Winda menatap binggung.

__ADS_1


"Baik Win, hanya saja kecelakaan pesawat membuat aku berpikir terkadang ada saatnya kita tidak bisa berbuat apapun. Sebanyak-banyaknya harta, sehebat-hebatnya kemampuan kita tidak bisa menyelematkan dari takdir." Karan memejamkan matanya.


Wildan menganggukkan kepalanya, ucapan Karan ada benarnya. Wildan merasa ditegur jika kita tidak bisa menjadi seseorang yang serba bisa, juga menjadi seorang pelindung bagi orang tersayang.


Pesawat hampir jatuh, tidak ada yang bisa Wildan selamatkan selain Rasih. Jika hal buruk terjadi, mungkin dirinya sendiri jauh dari kata selamat.


Masalah alam tidak bisa diprediksi, tapi Allah maha baik memberikan setiap orang kelebihan.


"Kita bersyukur karena ada Yusuf bersama kita." Wildan mengusap dadanya.


"Kamu juga takut Wil, pesawat sempat turun dadakan. Beberapa menit mungkin detik perlahan naik lagi, jantung rasanya turun naik." Karan menutup mulutnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Winda menatap Vira yang juga merasakan mereka semua turun naik, bersyukurnya ada yang bisa membawa pesawat.


"Besok belajar naik pesawat Wil, jika perlu kamu harus naik roket." Vira tersenyum menatap Wildan.


Winda langsung tertawa, Wildan tidak punya waktu untuk berusaha dengan lapangan, dia lebih suka duduk dipojokkan, menatap komputernya.


Senyuman Vira terlihat, meminta Wildan berhenti untuk membeli makanan. Winda langsung keluar bersama Vira melihat pemberitaan di televisi kecelakaan pesawat.


Mereka masih bernasib baik, karena Yusuf sudah ahli membawa pesawat sejak dia muda.


"Ya Allah semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, semoga saja yang menjadi korban dilapangkan kuburnya, Khusnul khatimah surga tempat mereka." Vira memeluk Winda yang mengamini doa Vira.


***


"Mami." Winda langsung berlari memeluk Maminya.


"Kamu baik-baik saja Winda, kakak kamu Windy belum bisa ke sini. Lihatlah berita." Reva mengusap air matanya.


"Kak Bel, kecelakaan pesawat kita masuk berita tidak?" Wildan mendekati Bella yang sedang meretas media.


"Kita semua aman, tidak terekspos ke media. Sayangnya Yusuf yang terekspos, masa lalunya diungkit kembali." Bella menunjukkan foto Yusuf berdarah.


"Astaga, kak Ar pasti tidak menyukainya." Wildan coba berpikir.


Vira duduk menatap layar, berita heboh pemuda berbakat yang mengikuti jejak Ayahnya menjadi seorang pilot, karirnya hancur karena ulah ibunya yang selingkuh.


Kapten Ar mengundurkan diri setelah Ayahnya meninggalkan, sedangkan ibunya lari dengan pria lain. Banyak sekali berita soal ahli agama berzina.


Wildan langsung fokus di depan komputer Bella, dia harus menghapus semua artikel sebelum Yusuf membacanya.


Keluarga besar Wildan memiliki hutang kepada Yusuf, tanpa Yusuf mereka tidak mungkin bisa berkumpul.

__ADS_1


Reva menatap putranya yang berkali-kali menutup matanya, Reva langsung memesan makanan untuk menyuapi Wildan.


"Makan dulu Wil." Reva mengarahkan sendok.


"Terima kasih Mami." Wildan melanjutkan pekerjaannya.


Winda langsung duduk, meminta disuap juga, Reva tersenyum menyuapi kedua anaknya yang sudah besar.


"Winda, bagaimana sudah siap menikah belum?" Viana berbisik mengusap kepala Winda.


"Nanti, Bella dulu. Lihat mata kak Bel bengkak batal menikah." Tawa Winda terdengar.


"Bukan batal hanya ditunda minggu depan, atau depannya lagi." Bella langsung memeluk Bundanya.


Winda menatap Wildan yang selesai makan, langsung duduk mendekat menunjukkan tangannya yang terluka.


Wildan langsung menghentikan pekerjaannya, menyentuh tangan Winda yang membiru.


"Kenapa tangan kamu?" Wildan mengecek tangan satunya yang juga biru merah-merah.


"Winda, kenapa tidak bicara di rumah sakit? ayo kita ke dokter, nanti terjadi sesuatu." Wildan menyentuh tangan adiknya.


"Winda baik-baik saja, lebam karena tertimpa barang-barang di pesawat." Winda tersenyum.


Wildan terdiam langsung melihat ke arah Vira yang juga melihat tubuhnya lebam.


"Vira, lihat tangan kamu." Wildan menghela nafasnya melihat tangan Vira juga bengkak.


Semuanya langsung panik melihat Winda dan Vira banyak biru-biru karena tertimpa barang, mereka duduk paling belakang bertepatan dengan koper dan barang-barang penting.


"Daddy sakit." Vira langsung menangis merasakan tubuhnya sakit semua.


"Ke rumah sakit dulu Wil, takutnya ada luka dalam hampir sekujur tubuhnya biru semua." Jum melihat tangan Winda.


"Winda juga, lehernya merah-merah semua." Billa mengecek keadaan Winda yang duduk diam.


"Winda takut Mami, takut berpisah." Winda meneteskan air matanya.


"Iya sayang, Alhamdulillah kita semua baik-baik saja." Reva juga menetes air matanya melihat tangan putrinya biru semua.


Viana juga langsung menghubungi Rama, mengatakan Vira terluka.


Vira bersyukurnya dirinya yang di belakang, tidak terbayangkan jika melukai Asih, Elang, Raka apalagi Embun.

__ADS_1


***


__ADS_2