SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KORBAN


__ADS_3

Kobaran api sangat besar, Wildan langsung menghubungi pemadam kebakaran. Melihat mobil Erik menghilang dilahap api, Ammar terduduk lemah.


Septi jatuh pingsan, Billa juga pingsan. Kepanikan sedang terjadi, Ravi melangkah lemas melihat kobaran api. Tian juga tidak sanggup melihat api yang berkobar, mengeluarkan asap hitam.


Mobil kebakaran tiba, mematikan api yang semakin membesar. Puluhan polisi berdatangan, menjaga keamanan, Tama langsung mendekati mobil.


Hampir satu jam, api akhirnya padam. Tama melihat tubuh seseorang hangus terbakar, tim medis langsung menyiapkan bantuan untuk membawa korban.


Ammar masih berlutut, melihat tubuh gosong di bawa ke dalam mobil ambulans. Air matanya langsung menetes, bibir gemetaran, Ammar menyentuh dadanya yang terasa sesak.


Tian langsung masuk ke dalam mobil ambulans, Ravi meminta Kasih diam di rumah, menitipkannya kepada Karin. Ravi mengeluarkan mobilnya, langsung mengikuti mobil ambulans.


"Ammar, kamu kenapa?" Bisma panik melihat Ammar sesak nafas.


Tubuh Ammar langsung ambruk, Rama mengeluarkan mobilnya untuk ke rumah sakit. Wildan meminta Timnya membantu menutup akses jalan agar lebih cepat.


"Wildan, selidiki kasus ini." Bima langsung melangkah pergi, masuk ke dalam mobil Rama.


Di dalam rumah juga masih kacau, Septi pingsan, Billa juga pingsan. Viana kasihan melihat Septi, juga binggung mengatakan jika Septi bertanya.


Bella menangis melihat adiknya, kejadian yang menimpa Erik di sebabkan olehnya.


Septi sadar, langsung melihat sekelilingnya, mencari keberadaan Erik.


"Erik ... di mana putraku?" Septi langsung berdiri, Reva menahan Septi.


"Istirahat dulu Sep, kita tunggu kabar dari rumah sakit." Reva mengusap telapak tangan Septi.


"Aku harus segera ke rumah sakit Va, Erik membutuhkan aku." Septi langsung melangkah keluar, Reva langsung berlari mengejar.


Supir yang membawa mobil, Septi pergi bersama Reva dan Viana, Jum tetap di rumah untuk menjaga Billa.


Semua orang dalam kepanikan, Karin juga sangat khawatir, sampai menghubungi Karan yang sedang berada di luar kota untuk memberikan kabar. Karin heran melihat Kasih yang masih sempat tidur dengan tenangnya.


Billa juga sadar langsung menangis, matanya melihat dengan tatapan kosong, Jum menangkup wajah Billa memintanya sadar.

__ADS_1


"Billa, dengarkan Bunda sayang. Billa harus kuat, ini ujian sayang."


"Mobil kak Erik meledak, tidak mungkin ada harapan. Billa belum siap Bunda, Billa tidak sanggup." Air mata Billa terus menetes, Jum berkali-kali mengusap air matanya.


"Bunda, maafkan Bella."


"Sudahlah, Bella diam di rumah ini sudah sangat malam. Bunda pergi ke rumah sakit dulu." Jum langsung berdiri, tubuhnya sebenarnya lemah, tapi tidak ingin terlihat lemah di mata anak-anaknya.


"Billa ingin ikut Bunda."


"Vira juga Bunda."


"kalian tetap di rumah, Winda jaga yang lainnya."


"Bunda, Karin yang akan menemani Bunda. Kak Kasih sudah tidur, kalian bisa menyusul ke rumah sakit besok pagi."


***


Di rumah sakit, Ammar dirawat belum sadarkan diri. Jenazah korban juga sudah ada di kamar jenazah, Septi tidak berhenti menangis.


Ravi duduk di depan Septi, menggenggam kedua tangannya. Dokter sudah mengatakan meninggal, kepolisian juga sudah mengatakan jika korban memang Erik.


"Ma, Ravi akan menunggu kabar dari Wildan. Kita berharap saja jika yang di dalam bukan Erik, jika memang dia kita langsung membawa pulang jenazah, tapi jika bukan kita akan melakukan otopsi untuk mencari tahu siapa korban. Ravi berjanji akan menemukan Erik, Ravi janji." Tangisan Ravi juga pecah, dia juga tidak siap kehilangan Erik, sejak kecil bersama, Erik sahabat terbaik, keluarga, seseorang yang paling setia.


Tian sudah menyiapkan kamar untuk beristirahat, besok pagi akan segera diputuskan, untuk membawa pulang jenazah atau melakukan otopsi.


Reva menemani Septi yang terus menangis, Viana juga diam, Jum yang baru datang semakin bersedih, juga sangat mengkhawatirkan keadaan Billa.


Bisma mengetuk pintu, mengatakan keadaan Ammar kepada Septi, tangisan Septi semakin menjadi, suaminya ternyata memiliki penyakit paru-paru, keadaan Ammar tidak buruk, karena selalu melakukan kontrol.


Jum mendekati Bisma, menariknya keluar untuk berbicara. Bisma sangat mengerti perasaan Jum pasti soal putrinya.


"Mas, Billa kita bagaimana?" Jum meneteskan air matanya.


"Kita akan berusaha untuk menenangkan Billa, dia harus kuat menerima kenyataan hidupnya.

__ADS_1


Bisma sebenarnya sangat menghawatirkan Billa, bukan hanya Bisma yang khawatir, Bima juga karena Ibu mereka meninggal, karena kehilangan Ayahnya. Billa masih muda, mentalnya masih sangat lemah.


Ammar juga sadar hampir subuh, melihat Rama, Bima duduk menunggunya.


"Bagaimana keadaan anakku Rama?" Ammar menatap kosong.


"Kak, fokus dulu kepada penyakit kak Ammar, Septi juga sudah kami beritahu."


"Bagaimana keadaan Erik?"


"Korban meninggal, kita masih menunggu bukti siapa yang membawa mobil, jika Erik jenazah akan kita bawa pulang, tapi jika bukti tidak mengarah kepada Erik, kita akan berencana untuk melakukan otopsi."


Ammar diam, menutup matanya dengan tangan. Air mata Ammar menetes, membayangkan keadaan Erik, juga keadaan istri dan putra bungsunya. Erwin pasti tidak sanggup melihat keadaan kakaknya, seseorang yang melebihi dari orangtuanya bagi Erwin.


"Mar, harus kuat. Septi Erwin butuh kamu, keluarga kalian juga semuanya membutuhkan kamu. Erik anak baik, sangat baik." Bima menepuk bahu Ammar.


"Bima, putraku sangat baik dan setia, sejak kecil dia selalu tertawa, tapi orang tidak pernah berhenti menghinanya. Dia putra terbaikku Bima, terkadang aku ingin hidup lama, agar bisa melihatnya menikah, punya anak. Aku ingin Erik bahagia, membetuk rumah tangga, lepas dari bayangan Ibunya." Ammar mengusap matanya.


"Dia bukan hanya putra kamu, tapi putra kami juga. Kamu juga tahu betapa Reva sangat menyayanginya, sebesar cintanya untuk Wildan. Siapa yang menyakiti Erik, dia menjadi wanita jahat untuk menghancurkan. Erik selalu berkorban sejak kecil, dia lelaki luar biasa."


"Kita berdoa semoga saja korban bukan Erik, setidaknya izinkan kita berharap lebih." Bisma masuk tersenyum menatap Ammar.


"Bagaimana keadaan istriku Bis?"


"Masih menangis, dia tidak akan berhenti sebelum keadaan jelas. Kamu juga harus kuat, Septi sangat membutuhkan kamu Mar." Bisma menatap penuh harapan, Ammar bisa lebih kuat.


Di depan kamar jenazah, Tama tidak menemukan sedikitpun barang bukti, karena ledakan semuanya hancur, handphone, dompet, seluruh isi mobil hancur.


Jangankan barang, tubuh korban juga hancur, sangat sulit melakukan evakuasi, bangkai mobil juga sudah tidak berbentuk.


"Dompet, handphone milik Erik?" Ravi menatap jenazah.


"Iya, milik Erik, seluruh yang ada di mobil milik Erik." Tama menepuk bahu Ravi.


Ravi diam mendekati jenazah, hembusan nafas Ravi kasar, Erik jarang mengganti handphone dan dompet, dia tidak menyukai gonta-ganti barang, semua yang dia gunakan, hadiah dari Billa.

__ADS_1


"Ya Allah kuatkan keluarga kami." Ravi menutup matanya.


***


__ADS_2