
Pesta hampir selesai dengan lancar, tamu undangan mulai meninggalkan pesta.
Suara tangisan Bening membuat semuanya langsung panik, melihat Bening menangis Embun langsung memegang dadanya ikut menangis sedih melihat kakaknya menangis.
Rasih yang kaget langsung berlari mencari Daddy-nya untuk meminta bantuan, Raka lebih sigap langsung menghubungi Tama yang berada di luar hotel bersama Karan.
Wildan langsung berlari kencang, melihat Binar pecah ketuban ingin melahirkan. Tangan kecil Elang menyentuh perut Aunty nya yang terlihat menahan sakit.
"Uncle, Aunty Binar mengeluarkan air panggil dokter?" Raka menatap Wildan yang berusaha menggendong Binar.
"Mama, Papa Aunty kesakitan." Elang langsung berlari mencari kedua orangtuanya yang dia ketahui bisa mengobati orang.
"Kak Ar tolong siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang." Wildan meminta izin untuk menyentuh Binar.
Binar langsung dibawa masuk mobil, jantung Tama berdegup kencang langsung masuk mobil.
Bella juga langsung masuk memeriksa Binar, menghubungi dokter kandungan yang menangani Binar.
Pihak rumah sakit diminta bersiap, Karan meminta Ar tetap di hotel. Langsung mengambil alih membawa mobil untuk ke rumah sakit.
Bening yang menangis berada dalam gendongan kakeknya Bisma, yang langsung masuk mobil lain bersama Jum untuk ke rumah sakit.
Ketegangan saat pernikahan Bima dan Reva terulang kembali, Viana menahan tawa langsung masuk mobil bersama suaminya. Reva dan Bima juga langsung masuk mobil.
Ravi dan Kasih juga langsung masuk mobil bersama anak-anak untuk ke rumah sakit.
Wildan dan Ar kebingungan, mereka dilarang pergi, tapi seluruh keluarga pergi.
"Wildan Ar kalian masuk kamar saja, silahkan membuat anak." Viana berteriak kuat, Reva tertawa menyemangati.
Rama dan Bima menatap tajam istri mereka yang tidak tahu malu, keadaan sedang tegang masih sempat-sempatnya memikirkan malam pertama.
Wildan mengaruk kepalanya, Ar juga menundukkan kepalanya merasa tidak nyaman dengan semangat dari mertuanya dan Mommynya.
Vira dan Winda masih berada di pelaminan asik berfoto, Wildan dan Ar mengerutkan keningnya melihat dua anak yang tidak ada rasa khawatir sama sekali.
"Apa semua keluarga kita pergi?" Vira menatap dua pria yang menganggukkan kepalanya.
Wira yang duduk santai sambil mengemil menggelengkan kepalanya, merasa kasihan dengan parkir rumah sakit yang akan penuh mobil orang penting.
Koridor rumah sakit akan penuh dan sesak, karena banyaknya keluarga yang pergi untuk menyaksikan lahiran.
"Satu orang yang melahirkan, seluruh keluarga Prasetya dan Bramasta memenuhi rumah sakit. Padahal mereka semua tidak dibutuhkan, cukup suaminya saja." Wira menggelengkan kepalanya, Winda dan Vira setuju dengan ucapan Wira.
Kepala Wira dipukul oleh Windy, meminta segera masuk mobil untuk mengantarkan baju bayi.
__ADS_1
Wira menolak, dia tidak ingin menambah sesak rumah sakit. Akhirnya Wira ditinggalkan sendirian, bersama dua pasang pengantin.
Wildan duduk di samping Wira yang masih asik makan, bocah kecil yang baru berusia tujuh tahun tapi nakalnya luar biasa.
"Uncle sama Aunty masuk kamar saja, Wira akan berjaga di sini." Suara tawa Wira terdengar, menatap Vira dan Winda yang turun dari pelaminan.
"Kamu masih kecil Wir, jangan terlalu banyak gaya." Winda menarik telinga keponakannya.
"Kita do'akan saja semoga Binar melahirkan anak yang sehat, ibunya juga dalam keadaan sehat. Insha Allah kabar baik untuk keluarga besar." Ar mengusap kepala Wira lembut, tatapan Wira tajam melihat Ar.
"Uncle, boleh Wira bertanya sesuatu?"
"Silahkan sayang."
"Kenapa lelaki harus mengalah kepada wanita? uncle Wildan yang jawab. Kenapa lelaki yang sudah menikah harus setia? uncle Ar yang jawab." Wira menutup mulut Vira dan Winda yang menjawab perempuan tidak pernah salah.
Wildan menatap Wira sambil tersenyum, sejujurnya Wildan tidak terlalu mengerti kenapa lelaki harus mengalah.
"Wira, lelaki tidak pernah mengalah karena dia salah. Mengalah tidak memandang dia lelaki atau perempuan, hanya perbedaannya wanita ingin lelaki mengalah meskipun dia tahu dia salah." Wildan menatap Ar yang menahan tawa, Wildan tidak merasa jawabannya salah.
"Menurut uncle Ar?" Wira setuju dengan ucapan Wildan.
"Menurut uncel bukan soal salahnya, atau mengalahkannya."
"Lalu apa?" Winda menatap tajam.
Wira menepuk pundak Winda, Vira juga menahan tawa menepuk pundak Winda karena setiap hari dia akan mendapatkan ceramah dari Ar.
"Pertanyaan kedua untuk uncle Wildan?"
"Apa pertanyaannya?"
"Kenapa orang yang sudah menikah, harus setia?"
"Memangnya orang pacaran harus selingkuh?" Wildan menatap Wira yang memegang jantungnya.
Vira langsung tertawa, mengusap punggung Wira yang terjatuh metalnya. Lelaki yang tidak mengerti cinta di pertanyaan soal setia.
"Setia bukan untuk orang yang menikah saja, tapi berlaku untuk banyak hal. Setia juga bukan hanya soal cinta." Wildan menatap Wira yang wajahnya terlihat kesal.
"Uncel Ar juga jawab." Wira tidak puas dengan jawaban Wildan.
"Ucapan Wildan benar, kenapa orang menikah harus setia? karena dia sudah memegang komitmen untuk sehidup semati. Mengkhianati pasangan sama saja mengkhianati dua keluarga, mungkin karena itu kita harus setia. Satu hal lagi, jika tidak ingin merasakan sakitnya dikhianati, cobalah rasakan indahnya setia." Senyuman Ar terlihat.
Wira menatap Winda dan Vira, langsung melangkah pergi mencari makanan lagi. Winda langsung pamit ke kamarnya untuk mengganti baju, Vira juga meminta Wildan mengawasi Wira, dia masih kecil.
__ADS_1
Wildan mengawasi Wira yang sibuk makan, Ar juga mengikuti Wira mengambil makanan sambil menunggu kabar baik dari rumah sakit.
"Uncle, happy birthday to you happy birthday happy birthday, happy birthday uncle. Satu menit lagi ulang tahun uncel berakhir." Wira membawa lilin untuk Wildan agar meniupnya.
Senyuman Wildan terlihat, baru saja dia ingin meniupkan, tangan Wira sudah menutup mulutnya membuat Wildan menatap sinis.
"Sudah habis waktunya uncle, jadi tiup lilinnya batal." Wira tertawa melihat Wildan kesal.
Ar hanya tertawa melihat kelucuan Wira yang sangat jahil, dia sengaja ingin mengerjai Wildan si manusia kulkas.
"Uncle, kenapa cuek sekali?"
"Wira, kenapa kamu berisik sekali?" Wildan menahan tawa melihat keponakannya yang memenuhi mulutnya dengan kue.
"Karena Wira anaknya Windy Bramasta." Wira berbicara sambil mulutnya penuh, membuat Wildan menutup mulutnya untuk menghabiskan makanan terlebih dahulu.
"Uncle cuek karena anaknya Bima Bramasta."
Ar tidak bisa menahan tawa melihat uncle dan keponakan berdebat, Wildan tetap bisa menjawab jebakan Batman Wira.
"Uncle,"
"Apa?"
"Biasanya apa yang Uncle Wil lakukan sebelum tidur?"
"Bernafas."
Wira langsung memonyongkan bibirnya, memeluk Ar yang menahan tawanya. Wira sudah kenyang, mulai mengantuk.
"Wil, dia mengantuk. Mungkin sebelum tidur, Wira selalu mengobrol bersama Daddy-nya."
Wildan tersenyum mengusap kepala Wira, keponakan yang sangat dia sayangi. Mengigat perjuangan kakaknya melahirkan Wira.
***
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
follow Ig Vhiaazara
***
...MASIH ADA PERTANYAAN KAK WINDA KAPAN UPDATE, TERUS UPDATE DI MANA. KALIAN CEK GAMBAR DI BAWAH....
__ADS_1
...LALU PILIH JUDUL MENGEJAR CINTA OM DUREN S1 REVA BIMA S2 WINDY STEVEN S3 WINDA ARMAND....