
Senyuman Vira terlihat, menatap pintu ruang rawat Winda. Wildan membukakan pintu melihat adiknya yang menatap kedua anaknya.
Kursi roda didorong, Vira tersenyum melihat Winda yang langsung menangis. Vira menggenggam tangan Winda menghapus air matanya.
"Maafkan Winda, gara-gara aku kamu harus melahirkan prematur juga. Maafkan aku Vira." Air mata Winda tidak berhenti menetes, dirinya sangat sedih melihat sahabatnya yang kehilangan kesempatan untuk mempersiapkan kelahiran bayi mereka.
"Kenapa meminta maaf? kamu tidak salah bodoh. Vira sedih mendengar Winda sempat koma, jahat sekali kamu Vir, membuat kita semua hampir jantungan." Air mata Vira juga menetes, merasakan kesedihan yang sama dengan Winda.
"Bagaimana keadaan twin kak Wil?"
"Mereka masih ada ditabung inkubator, belum bisa keluar lama seperti Arwin dan Syila. Jangan khawatirkan mereka, sebentar lagi mereka juga akan keluar, bertemu dengan kalian berdua." Wildan mencium pipi dua keponakannya yang sangat lucu.
"Maafkan Winda kak Wil, anak kalian harus ada dalam perawatan karena Winda." Air mata Winda tidak tertahankan, terus menetes membuat Wildan dan Vira khawatir.
Wildan menghapus air mata Winda, memeluknya lembut. Tidak ada yang pantas disalahkan dalam kejadian ini, apa yang terjadi sudah menjadi musibah. Mereka sangat kuat sehingga diuji begitu besarnya.
"Jangan merasa bersalah Win, kamu sudah sadar lebih dari cukup. Melihat twins A melihat uminya sudah menjadi kebahagiaan terbesar, berhenti menyalahkan diri sendiri. Kak Wildan sayang kamu, maafkan kak Wil yang gagal menjaga adik kesayangan kak Wil." Mata Wildan merah, menahan air matanya.
Vira mengusap punggung suaminya, mereka mengerti jika Winda masih sedih soal keadaan Ar.
Suara tangisan Syila terdengar, Wildan langsung menggendongnya menenangkan Syila yang bangunannya terkejut. Vira mengusap tubuh Syila.
Wildan tersenyum melihat mata biru keponakannya yang sangat cantik, mencium pipinya yang mungil.
"Pinjem Vira, mau cium juga."
Wildan langsung menyerahkan kepada istrinya yang sudah tersenyum melihat cantiknya Syila.
"Mami katakan dia suami Mami, kamu jangan mencari perhatiaan agar mendapatkan ciuman. Ingat ciuman itu hanya milik Mami, kecantikan kamu membuat cemburu." Ciuman Vira bertubi-tubi, membuat Syila menangis.
Wildan menepuk pelan, Vira dan Winda langsung tertawa mendengar suara Wildan yang terdengar mengemaskan.
"Coba ulangi lagi Ayang, cup cup." Vira tertawa melihat Wildan yang merasa malu.
Viana dan Rama hanya tersenyum melihat Vira dan Winda sudah bisa tersenyum, mereka bernafas lega karena keduanya baik-baik saja hanya menunggu kabar Ar yang masih dirawat khusus.
"Ya Allah jauhkan keluarga kami, dari hal-hal buruk, berikan kami kebahagiaan." Viana menatap Rama yang mengusap punggungnya.
__ADS_1
Vira mengusap wajah Arwin yang tidur dengan nyenyak, dia tidak terganggu sama sekali dengan sentuhan Vira.
"Dia mirip Aka, cuek saja. Mirip Elang tidak pernah respon, sekalipun ada ledakan bom."
"Ayo Vira balik ke kamar, kamu harus istirahat."
"Ayang, pindah ke sini. Tidak ingin pisah dari Syila yang cantik ini, pengen cium terus."
Vira merengek ingin satu kamar dengan Winda, tapi Wildan tidak mengizinkan. Dia tahu jika keduanya bersama hanya akan ada keributan, demi ketenangan Arwin dan Arsyila kedua harus pisah.
Viana dan Rama juga setuju, lebih baik berpisah sampai keadaan Virdan dan Vivi membaik, Virdan tubuhnya sudah stabil, tapi Vivi masih belum normal.
Vira harus menemani kedua anaknya, berada di dalam ruangan yang lebih hangat.
Akhirnya Vira menurut untuk segera kembali ke kamarnya, meminta Winda beristirahat. Suara Winda tertawa terdengar menatap Vira sangat lucu.
"Balikin anak gue." Winda menatap Syila yang masih dalam pelukan Vira.
"Boleh pinjam?" bibir Vira cemberut, memohon.
"Tidak Vir, aku masih ingin bersama anakku." Winda tertawa melihat Vira yang menatap tidak rela, Wildan mengambil Syila menyerahkan kepada Winda.
"Kak, fokus saja kepada Virdan dan Vivilia. Kami baik-baik saja, doakan anak-anak segera bertemu Abinya." Senyuman Winda terlihat, meminta kakaknya lebih tenang, bisa bernafas lega.
Wildan mengusap kepala Winda, langsung pamit keluar. Mendorong kursi roda, menuju ke tempat kamar Vira.
Sepanjang jalan, Vira menyentuh tangan Wildan. Mempertanyakan keadaan Ar, Wildan tidak memiliki jawaban. Dia juga binggung melihat kondisi Ar yang belum ada perubahan.
Erik juga belum memberikan jawaban pasti, hanya mengatakan semuanya baik, hanya butuh waktu pemulihan.
Mereka semua hanya bisa menunggu sampai kabar baik, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali berdoa.
"Yang, maafkan Vira yang gagal menjaga anak kita."
"Sudahlah Vira, mereka akan segera membaik. Dokter sudah mengatakan jika anak-anak baik, hanya saja mereka membutuhkan waktu. Bayi masih terlalu kecil." Sebenarnya Wildan juga masih mengkhawatirkan anaknya Vivi, keadaannya terus menurun membuat Wildan sedih.
Vira tidak tahu jika Vivi sudah dipisahkan dari Virdan, dia mengalami kejang dan langsung melakukan perawatan.
__ADS_1
"Yang, Vivi baik-baik saja? perasaan Vira tidak enak, ada rasa khawatir yang sangat besar kepada Vivi." Air mata Vira menetes, tidak tahu kenapa hatinya sangat sedih jika menyebut nama Vivi.
"Dia baik-baik saja sayang, kita tunggu saja kabar baiknya, perbanyak berdoa agar Vivi segera sehat." Senyuman terpaksa Wildan terlihat, dia juga sebenarnya sangat takut.
Vira sampai di kamarnya, langsung beristirahat. Panggilan masuk, Wildan langsung cepat menjawabnya. Tatapan Wildan tajam, keluar kamar secara perlahan, menutup pintu langsung berlari kencang.
Air mata Wildan menetes mendengar kabar jika putrinya mengalami lemah jantung, Ravi langsung menahan Wildan yang memaksa ingin masuk.
Dokter masih berada di dalam melakukan yang terbaik, Wildan melihat putrinya yang dipasang banyak alat.
"Ya Allah, putriku pasti kesakitan." Wildan langsung berlutut.
Ravi juga meneteskan air matanya, melihat Vivi yang mendadak masuk ke ruangan ICU. Viana dan Rama juga berlari melihat Vivi
Bima Reva juga datang melihat cucu mereka yang berada di dalam dalam keadaan buruk, tangisan Viana pecah, Reva juga tidak bisa menahan air matanya mendengar penjelasan dokter soal keadaan Vivi.
Wildan terdiam, menatap putrinya yang tergeletak. Tubuh Wildan langsung lemas memejamkan matanya untuk kuat.
Bima memeluk Wildan, merangkulnya agar kuat. Bima meminta putranya harus sabar, karena Allah tahu yang terbaik untuk hambanya.
"Kasihan putriku Pi, dia kesakitan. Wildan rela menggantikannya." Air mata Wildan menetes.
Kasih berlari sambil menangis meminta Wildan melihat Virdan yang badannya panas, dia terus menangis.
Wildan pergi ke tempat putranya, langsung menggendongnya memberikan ketenangan, Wildan tahu jika putranya sedang bersedih melihat keadaan adiknya.
Dia hanya bisa menangis, berharap adiknya bangun.
"Maafkan Papi ya nak, kamu sabar dan doakan adik kamu segera membaik. Kamu sangat takut kehilangan dia, sama Papi juga." Wildan mencium kening putranya.
***
TERIMA KASIH YANG SUDAH MENGIKUTI GIVE AWAY, SILAHKAN BUKA PESAN DI IG MASING-MASING.
UNTUK YANG BELUM BERUNTUNG, NANTI KITA BUAT GIVE AWAY LAGI. JANGAN KECEWA APALAGI BERKECIL HATI.
AUTHOR UCAPKAN TERIMA KASIH, KARENA KALIAN MASIH SETIAP MENGIKUTI CERITA AUTHOR.
__ADS_1
JANGAN LUPA FOLLOW IG.