
Karin terdiam melihat keadaan Zava yang kedua kakinya harus di amputasi, tangisan Zava terdengar melihat tubuhnya yang cacat.
Butterfly juga sudah melangkah pergi, meninggalkan Kasih untuk pergi jauh. Sudah selesai tugasnya untuk menjaga Kasih, karena Kasih akan baik-baik saja hidup bersama Ravi, lelaki yang mencintainya.
Cinta juga kembali ke Desa, menolak untuk bertemu Erik yang meminta penjelasan. Cinta ingin membuang perasaan lama, membiarkan Erik bahagia dengan Billa.
Langkah kaki Karin masuk ke dalam kantor polisi untuk mengunjungi Ziva, tangisan Ziva pecah mendengar keadaan kakaknya. Kemarahan Ziva sudah tidak ada gunanya, penyesalan Zava dan Ziva tidak ada gunanya lagi.
Karin juga bersyukur, Kasih masih bisa dia nasehatin, jika tidak Butterfly sudah membunuh Ziva.
Karan sudah menunggu Karin di luar kantor polisi, Karin menghapus air matanya. Saat melihat Karan langsung berlari memeluk kekasihnya, Karan menenangkan Karin yang tidak tega melihat Zava dan Ziva.
"Zara meninggal di tangan Zava, sedangkan Ziva mendekam di jeruji besi seumur hidup."
"Sayang, jangan jadi beban pikiran, sudah menjadi jalan mereka harus ada yang membayarnya."
"Zava juga lumpuh, kejiwaannya terganggu, mungkin dia memilih masuk rumah sakit jiwa, daripada kantor polisi." Karin memeluk lengan Karan manja.
"Karin, aku mendapatkan kabar soal pengawal Kasih. Di mana dia sekarang?"
"Ohhhh kamu kembali setelah berbulan-bulan hanya untuk bertemu Butterfly." Karin langsung melepaskan tangan Karan, melangkah cepat meninggalkannya.
"Dasar cemburuan, jika Wildan tidak menginginkannya, tidak mungkin aku bertanya." Karan tersenyum, mengejar Karin yang sedang ngambek.
***
Erik menghela nafasnya, tidak menyangka Tian dan Ravi merahasiakan kebenaran, bahkan dirinya sendiri tidak diberitahukan.
Mata Erik menatap Tian yang mulai tersadar, sejak malam Erik mencari Tian yang pingsan di dalam mobil. Akhirnya Erik membawa Tian ke rumahnya, tanpa sepengetahuan orangtuanya.
Panggilan dari Ravi Erik abaikan, dia kesal karena tidak dilibatkan. Padahal Erik juga stres memikirkan keadaan keluarga, dengan teganya dia dilupakan.
Suara ketukan pintu terdengar, Septi mengedor kamar Erik memaksa untuk masuk. Erik langsung membuka pintu, Septi kaget melihat Tian yang masih terbaring lemas, terluka bahkan perutnya terbalut kain.
"Kenapa tidak dilarikan ke rumah sakit?"
"Dokternya di sini ma." Erik tersenyum mengeluarkan kopernya.
__ADS_1
Septi langsung menghubungi Jum, Erik juga pamitan kepada kedua orangtuanya untuk berangkat ke acara seminar di luar negeri.
"Kamu tidak menunggu Tian sadar terlebih dahulu?" Septi menemani Erik keluar kamar untuk sarapan.
"Tidak perlu Ma, nanti kalau dia sadar cepat usir dari kamar Erik. Sepertinya Erik langsung berangkat, sarapannya di bandara saja, sekalian ada urusan." Erik mencium Septi, langsung menemui Ammar untuk pamitan, langsung melangkah pergi, Erik kesal melihat tingkah Ravi dan Tian.
Di dalam mobil Erik melihat Bunda Jum menangis menuju rumahnya, terlihat juga Ravi dan Kasih. Melihat keadaan Ravi, Erik tersenyum, cukup bersyukur Ravi kembali dengan selamat.
Tangisan Jum memenuhi rumah Ammar, Septi menenangkan Jum membawanya ke kamar Erik, ternyata Tian sudah sadar berusaha untuk duduk, tapi tubuhnya terasa remuk.
"Bunda." Tian terus memanggil Bunda.
Jum membuka pintu, melihat keadaan Tian membuatnya menangis semakin kuat, langsung mendekati Tian tidak tega melihat keadaan Tian yang penuh luka.
"Bunda, maafkan Tian. Jangan buang Tian Bun, Tian harus pergi ke mana?" Air mata Tian juga menetes, Jum menangkup wajah Tian, mencium keningnya.
"Bunda yang minta maaf sayang, Bunda tidak memahami kamu, kita ke rumah sakit sekarang." Jum mengelus wajah Tian yang sudah bengkak.
Viana Septi juga menangis, Reva juga datang melihat keadaan Tian dan Ravi yang terluka.
Bisma juga datang, wajahnya cemas melihat keadaan Tian. Memberikan banyak pertanyaan, melihat tubuh Tian yang memar, bahkan satu matanya tidak bisa terbuka karena bengkak.
"Di mana Erik? bagaimana keadaan Tian?" Bisma melihat Ammar dan Septi.
"Erik sudah pergi, sepertinya sedang kesal. Dia hanya mengatakan jika Tian sadar, segera tinggalkan kamarnya." Ammar tersenyum.
"Sialan Lo Mar, anakku terluka, masih bisa kamu bercanda."
"Ayo kita pulang Ayah, Tian hanya butuh waktu untuk pemulihan, nanti ke Dokter untuk pengecekan saja." Tian berusaha untuk berdiri, Rama mendekat membantu, Bisma juga membantu Tian untuk berjalan.
Jum memegang infus, berjalan ke luar untuk pulang ke rumah. Ravi masih berdiri diam melihat foto di dinding, dirinya bersama Tian dan Erik.
Tian menatap Ravi yang sepertinya mengerti jika Erik sedang marah, sudah menjadi kebiasaan Erik jika marah lebih pilih diam, pergi untuk menenangkan pikirannya.
Di jalan pulang Reva meminta Jum berhenti menangis, Tian juga baik-baik saja, hanya tulangnya yang remuk.
"Rav, Erik pergi ke mana? coba hubungi dia."
__ADS_1
"Nomor aku dia blokir kak, sepertinya dia marah karena kita tidak melibatkan dia, padahal kita memiliki alasannya."
"Erik tidak mengetahui soal masalah kalian?" Bisma menatap Tian.
"Tidak Ayah, Erik menjadi perisai untuk menjaga kalian, jika dia tahu siapa yang akan menjaga keluarga, jika kami gagal dan tidak kembali."
Bisma tersenyum, putranya sungguh luar biasa. Keadaan Tian mungkin akan semakin jatuh saat tahu perusahannya sedang berantakan, bahkan Bima harus turun membantunya.
"Kamu tahu soal perusahaan."
"Ayah, Tian masih sakit, jangan bahas pekerjaan." Jum melotot.
"Ayah tenang saja, Tian tahu soal perusahaan. Biarkan orang yang ingin Tian hancur mengambil keuntungan, jika perusahaan hancur tidak akan ada sangkut pautnya dengan perusahaan Tian yang lain, karena Tian tidak pernah melibatkan satu dengan yang lainnya."
"Memangnya bisa kak, bukannya yang hancur perusahan pusat." Ravi berjalan di depan Tian juga penasaran.
"Kapan aku mengatakan perusahaan pusat? setiap perusahaan berdiri sendiri, tidak ada yang saling bersangkutan."
"Tidak heran kamu jadi pembisnis yang dicari banyak perusahaan, Ayah kagum sama kamu Tian."
"Uncle Bima mengajari Tian dalam bisnis, perusahaan juga berdiri bukan hanya untuk Tian, tapi untuk para pekerja, menghindari pengaguran. Kata Uncle Bima." Tian tersenyum.
"Sudah jangan bahas perusahaan lagi, Bunda pusing mendengarnya."
"Ravi, peringati istri dan adik ipar kamu Karin. Saat aku sehat, jaga baik-baik perusahaan sebelum saham mereka jatuh." Tian berbisik membuat Ravi menahan tawa.
"Mommy, Mami Tian mengancam katanya peringati Karin untuk menjaga perusahaan VCLO, dia akan memberikan pelajaran untuk menjatuhkan saham VCLO, karena VCLO merebut banyak saham perusahaannya."
"Berani kamu Tian, lawan Mommy dulu." Viana langsung melotot.
"Dalam bisnis tidak ada hubungan Ibu dan anak Mommy, bukannya dia duluan yang memulai." Tian hanya tersenyum melihat Mommy dan Mami cemberut.
"Kak Vi, ayo hubungi Karin. Melawan Tian yang tidak pandang bulu, saham VCLO benar bisa hancur." Reva menarik lengan Viana.
"Iya sabar Reva."
***
__ADS_1