SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 DEWI


__ADS_3

Di dalam gedung bawah tanah yang sangat mewah, Dewa berlutut dalam keadaan muntah darah.


"Kamu mengingkari janji Dewa, kenapa kamu meminta bantuan orang lain untuk menyerang kami?"


"Aku tidak pernah melakukannya, bahkan tidak mengenal mereka. Semua perintah kalian sudah aku lakukan, tapi kenapa aku ditahan?"


Seluruh alarm berbunyi, Dewa binggung siapa yang mulai menyerang. Dewa sudah menghacurkan semua hasil penelitian Yusuf dan Randu, sudah menyebarkan virus ke sistem keamanan jaringan Wildan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Dewa teriak kuat.


"Kamu yakin Dewa tidak melakukan apapun? kamu hampir mati satu kali, jika para bodyguard bodoh ini tidak membantu kamu."


"Aku tidak tahu kak Dewi! bahkan Dewa tidak mengenali mereka semua." Dewa teriak kuat penuh kemarahan.


Dewi tertawa kuat, Wildan ternyata mengetahui siapa Dewa. Dari awal kemunculan Wildan, dia sudah menipu Dewa lebih mempercayai Randu, bahkan Wildan sudah mulai menyerang.


"Sulit sekali menarik kamu keluar Wildan, sudah lama aku melakukan segala cara agar bisa melihat wajah kamu, juga wajahnya Vira dan adikmu. Siapa namanya?" Dewi menatap Dewa.


"Winda."


"Satunya, dia juga ahli komputer."


"Bella bukan adik, tapi kakak."


"Oh, jadi mereka bertiga yang mengerakkan bodyguard ini."


"Bagaimana bisa?" Dewa menatap Dewi.


"Grup V memiliki kekuasaan, dia berhasil menghancurkan gudang bisnis keluarga kita. Secara tiba-tiba V menghilang dan tidak pernah diketahui keberadaannya. Beberapa tahun yang lalu grup V meroket mulai sejajar dengan kita, masih sama seperti dulu wajah mereka tidak diketahui, aku yakin keturunan V sebenarnya Vira."


Randu berhasil masuk melihat Dewa langsung berlari menolongnya, Dewa mengerutkan keningnya melihat Randu muncul.


"Ternyata kamu dan Wildan menipu aku?"


"Kak Dewa, Randu datang ingin berdamai. Tolong kak tinggalkan bisnis ini, mereka menipu kita." Randu membantu Dewa berdiri.


"Hai adik tiri." Dewi melambaikan tangannya menatap Randu.


"Kak Dewi." Randu berjalan mendekati Dewi.


"Kenapa kak Dewi bisa ada di sini?"


"Membunuh kamu!" Dewi tertawa lucu melihat wajah Randu.

__ADS_1


"Salah Randu apa? bukannya kak Dewi cacat, sedang dalam perawatan." Randu menatap Dewi dan Dewa.


Dewi meminta Randu mendekat, menceritakan masa lalu keluarga kita. Sebenarnya kematian kedua orang tua Dewa, Dewi dan Randu sudah Dewi rencanakan sejak kematian ibu kandung Dewi yang kecelakaan karena ulah ibu kandung Randu.


Bukan hanya ibunya yang meninggal, tapi Dewi juga cacat karena satu mobil dengan Mamanya. Belum cukup membunuh dan membuat Dewi cacat, ibu kandung Randu juga menikahi Ayahnya mengabaikan Dewa dan Dewi yang membutuhkan kasih sayang.


Dendam dan benci terus menumpuk, Dewi bersumpah akan membunuh semuanya dan menjadi orang yang berkuasa.


"Randu tidak tahu apapun?"


"Iya, karena kamu sibuk menikmati uang, hidup enak di luar negeri berfoya-foya."


"Hentikan semuanya kak, tujuan kak Dewi meminta Vira datang apa?"


"Tidak ada, hanya ingin melihat kehebatan keturunan Grup V."


Suara high menggema terdengar, Dewi menutup telinganya. Dewa dan Randu kaget melihat Vira dan Winda meskipun wajah mereka ditutupi.


"Bagaimana kalian bisa masuk? pengawal." Dewi teriak kuat.


"Eish tunggu, jangan teriak nanti suara high heels kami yang cantik ini tidak terdengar sehingga tidak terlihat keren." Vira meletakkan jarinya di bibir.


"Annyeonghaseyo, kamsahamida." Winda melambaikan tangannya.


Vira mendekati Winda, mencubit pinggang Winda karena kesal mendengarnya.


"Win, jangan membuat malu. Annyeong artinya apa kabar, sedangkan kamsahamida terima kasih tidak nyambung." Vira gemes melihat Winda, ingin sekali rasanya menendang agar menghilang.


"Memangnya dia mengerti?" Winda tersenyum.


Para bodyguard di sisi Winda menahan tawa, jika bos mereka sudah bergabung hanya membuat lelucon.


"Sawadikap, kap kap." Winda tertawa mendengar suaranya.


Dewa tersenyum melihat Vira dan Winda tidak punya rasa takut sama sekali, Dewa langsung berjalan berdiri di samping kakaknya.


"Dewa, kamu mengatakan mencintai Bella, tapi berbuat kejahatan."


"Aku harus menjaga kakakku, dia satu-satunya keluarga yang aku miliki."


"Lalu pori-pori, dia hanyalah sampah di hidup kamu, padahal pori-pori tulus menyayangi kamu, tidak seperti nenek keriput."


"Dia yang menghacurkan keluarga kami, sama seperti pemimpin V yang sudah menghancurkan bisnis kami."

__ADS_1


"Kita kembali ke topik, keluarga kalian pernah hancur oleh wanita yang melahirkan aku, tapi wanita yang meyelamatkan ayah kalian adalah ibunya Randu, seharusnya kalian bersyukur hidup mewah. Seluruh kekayaan kalian milik ibunya Randu, karena dia tangan kanan pemimpin V grup, orang yang sudah meninggalkan Mommy."


"Bohong, kamu berbohong Vira."


"Tujuan aku datang ke Roma untuk menyelidiki kasus ini, aku ingin dia berhenti menggunakan nama Mommy dalam menjalankan bisnis, tapi keadaan memaksa aku harus mengambil alih grup ini demi menyelamatkan mereka semua."


"Dia membunuh ibuku."


"Bukan dia, tapi kamu yang membunuh ibu kamu sendiri." Vira tersebut, menatap Winda yang sibuk matanya berkeliling melihat sekitar.


Vira menarik baju Winda untuk bicara, karena Vira juga lupa dengan cerita Bella.


"Apa?"


"Lanjutkan bodoh." Vita menarik rambut Winda.


"Aku lupa kebenarannya, intinya kamu bertengkar dengan ibu kamu, menarik setir mobil akhirnya jatuh ke tebing, kepala ibu kamu terbentur pohon lalu pecah, otaknya keluar, darah mengalir dia mati." Winda tersenyum.


Dewi menatap Winda penuh kemarahan, Vira menggaruk kepalanya. Seharusnya memang harus ada Bella, jika hanya Winda cerita lima menit dia singkat menjadi satu menit.


"Kalian datang ke sini mengantarkan nyawa." Dewi menatap semakin tajam.


"Hei keriput, jangan melotot kamu mirip kuntilanak, hanya butuh suara hi hi hi. Matanya sudah besar, melotot sebentar lagi lompat keluar." Winda melipat tangannya di dada.


"Aku pastikan kamu mati Winda!" emosi Dewi sudah memuncak.


"Dewi, kamu berdiri di sini karena Dewa yang membangunnya. Sadarlah kamu hanya bisa memberikan perintah, tapi tidak bisa melakukan apapun." Vira menatap lebih tajam.


"Jaga ucapan kamu Vira, kalian memang tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini."


"Dewa, aku datang untuk menyelamatkan kamu. Aku ingin memberikan kesempatan untuk kamu, tapi kenapa kamu seakan menutup mata dan telinga?"


Dewa langsung menatap tajam, mengeluarkan senjata di arahkan kepada Vira. Dewa tersenyum sinis melihat Vira tidak mundur sedikitpun.


"Aku punya satu pertanyaan, bagaimana ibunya Randu bisa menjadi tangan kanan Viana, sedangkan ada Bisma dan Ammar."


"Orang yang mengenal Viana hanya tiga orang, Ammar, Mita dia Dokter pribadi juga pengkhianat dan satunya ibunya Randu yang diketahui sebagai pemimpin, meskipun sebenarnya dia hanya tangan kanan. Dia berkhianat berpura-pura mati dan menghilang, padahal dia menarik setengah pengikut Viana."


Dewa terdiam menatap Dewi yang masih terlihat marah.


"Dia merebut cinta Papa sehingga melupakan kami." Dewi menggenggam tangan erat.


"Siapa yang ingin tinggal bersama wanita setengah gila? sadarlah Dewi kamu sudah gila, sinting, bego dan seharusnya kamu tinggal di rumah sakit jiwa." Winda menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2