
Suasana Mansion penuh canda tawa, ada 5 anak kecil yang akan menetap di sana bersama Ibu Anna. Erik menginginkan Ibunya menjaga Mansion bersama anak yatim piatu, juga para lansia.
Erik memperkerjakan puluhan asisten, juga keamanan yang ketat, bahkan memiliki puluhan tukang kebun.
Septi sibuk memasak di bantu banyak Maid, Jum juga membantu untuk mempersiapkan makan malam.
Wildan datang bersama Tian, Winda dan Vira dengan wajah kesal. Ravi mentertawakan Wildan yang menjadi korbannya.
Erik tersenyum melihat keakraban keluarga, untuk pertama kalinya Erik merasakan tidak memiliki beban, Erik juga ingin menyapa Hariz agar dendam Hariz tidak berlarut-larut.
"Papa, maaf karena rumah ini Erik serahkan kepada Ibu dan paman Arif."
"Erik, bagi Papa cukup kamu bersama kami, jangan pergi dari kami sampai Papa menutup mata, jaga Mama dan adik kamu."
"Pa, jangan berpikir untuk pergi meninggalkan kami. Erik tahu soal penyakit Papa, Dokter yang menangani Papa juga teman Erik, Papa harus melihat anak-anak Erik."
"Kamu mempunyai rencana memiliki banyak anak Rik?" Ammar tertawa bersama Erik.
Suara Vira marah-marah kepada Ravi terdengar, Vira kesal dengan Kasih yang kekanakan.
"Vira diam," Viana memasuki roti ke dalam mulut Vira.
"Di mana Billa? handphone Vira ada di Billa." Vira teriak kuat mencari Billa.
"Kak Erik Billa di mana?"
"Iya dari tadi tidak ada yang melihat Billa." Bella celingak-celinguk mencari adiknya.
Semuanya langsung bergerak mengelilingi rumah mewah Erik, tidak ada yang melihat Billa yang sedang duduk di kegelapan malam.
"Apa yang kak Billa lakukan? semua orang mencari Kakak." Wildan duduk di samping Billa yang ternyata sedang menangis.
Seluruh lampu taman hidup, cahaya terang memperlihat Wildan dan Billa, Wildan mengangkat bahunya tidak tahu apapun.
"Billa, ayo masuk." Erik ingin menyentuh tangan Billa, tapi Billa berdiri sendiri, langsung melangkah masuk.
__ADS_1
Langkah kaki Billa cepat memasuki rumah, Jum menatap khawatir dengan putrinya yang masih banjir air mata. Billa memeluk erat Jum, tangisan Billa semakin kuat, membuat semua orang kebingungan.
"Kamu kenapa Bil? jangan menangis bicara dengan Ayah." Bisma menarik Billa ke dalam pelukannya.
Bisma mengelus kepala Billa, memintanya menenangkan diri, menarik nafas untuk berbicara pelan.
"Ayah, Billa salah ya mempunyai hati, rasanya sakit sekali. Billa kehilangan logika, saat hati terluka." Billa menyentuh dadanya, Bisma memeluk Billa yang sudah berhenti menangis.
"Namanya cinta Billa, saat kamu jatuh cinta hilang sudah logika. Kamu sedang takut kehilangan cinta, jangan dipikirkan, hari ini sudah berlalu." Bisma menangkup wajah Billa, menatap Erik yang berdiri diam.
"Ayah." Billa mengusap dadanya.
"Iya sayang."
"Billa ingin menikah."
Vira yang sedang memegang dadanya melotot, langsung batuk, Bella sedang minum langsung menyembur, Winda yang sedang duduk di pinggiran kursi terjatuh kaget.
Bisma langsung tertawa pelan, mengacak rambut Billa. Billa tidak pernah meminta apapun, sekali minta langsung ingin membuat Bisma jantungan.
"Menikah dengan siapa? Billa tahu arti pernikahan?" Bisma menatap tajam Billa.
"menurut kak Tian, apa yang harus Billa lakukan?"
"Dek, kamu masih kecil belum mengerti pernikahan, fokus dengan kuliah kamu. Kak Tian tidak setuju Bil."
"Kalau kak Ravi?" Billa menatap Ravi yang sedang berpikir.
"Menurut kak Ravi, sebaiknya ditunda dulu Billa, kamu sedang mencari jati diri, Erik bisa menunggu kamu sampai kapanpun, jodoh tidak akan tertukar."
"Wil, Winda, Vira menurut kalian, salah tidak keputusan Billa."
Wildan menghela nafasnya, menatap Vira dan Winda yang sedang berpikir. Mata Vira menatap Wildan untuk menjawab.
"Boleh Bella mewakili Vira dan twins untuk menjawab, ini pendapat Billa sebagai anak kecil di mata kalian semua."
__ADS_1
"Bella, aku ingin tahu terlebih dahulu pendapat kak Erik, bersedia tidak menikahi Billa."
Erik yang menunduk akhirnya menggakat kepalanya, Menatap Billa yang matanya sembab, bibirnya pucat karena terlalu banyak menangis.
"Kak Erik menolak Billa, kamu harus lulus kuliah, mengejar mimpi kamu, menikah bisa ditunda." Erik membuang pandangannya, cukup sedih menolak keinginan Billa.
Viana memeluk lengan Rama yang hanya diam, Reva juga hanya mendengarkan bersama Bima. Pendapat mereka tidak ingin didengarkan.
"Pikiran orang dewasa sangat luar biasa, Billa sudah 18 tahun, dia bukan anak dibawah umur, sudah bisa berpikir jalan masa depannya. Ada masalah apa dengan kuliah? menikah tidak membuat seseorang kehilangan cita-cita, tidak membuat kehilangan kesempatan untuk sukses." Bella meneteskan air matanya.
"Ayah, jujur jika Bella diposisi Billa melihat orang yang Bella cintai hangus terbakar, tidak mampu lagi Billa berdiri. Setiap hari kita ingin cepat besar agar bisa jatuh cinta, hidup bersama, betapa sakitnya keadaan kemarin Ayah. Billa hanya ingin hidup bersama orang yang dia cintai, tapi kalian mengagapnya anak kecil." Dada Bella terasa sesak, tidak kuat menahan air matanya.
"Kami bukan anak kecil lagi, kita mengerti semuanya. Lalu kapan waktu yang tepat untuk kami menikah, 25 tahun, atau menunggu kami sukses, bisa membangun perusahaan besar, rumah mewah, gedung bertingkat-tingkat. Hallo para orang dewasa, jika mimpi kami soal dunia, maaf kami tidak membutuhkan cinta, karena mengejar dunia kesuksesan terlalu indah." Vira menatap sinis.
"Tujuan kami kuliah bukan hanya untuk sebuah mimpi, tapi untuk mempertahankan, bukan untuk hak kami, tapi karyawan, setiap tahun semakin banyak orang bermunculan dengan kecerdasan semakin luar biasa, saat itu kami juga ingin menjadi orang cerdas yang bukan hanya pintar pengetahuan tapi pengalaman. Billa sudah menguasai semuanya, tapi dia selalu mengatakan ingin menjalani bersama suaminya, agar bisa berbagi segala hal, tapi sudahlah kalian orang dewasa terlalu hebat. Kami masih kecil sebaiknya kita tidur, besok kembali ke LN untuk kuliah." Winda tersenyum, merangkul pundak Billa.
"Ayo Bel kita tidur, besok harus kuliah, kita harus fokus kuliah, karena tujuan anak kecil seperti kita tidak jelas." Vira merangkul Billa menaiki tangga.
"Seharusnya aku membuat penelitian cara mengeringkan lautan untuk dijadikan daratan, sepertinya sampai aku jadi nenek-nenek lautan tidak akan kering."
"Bil, jangan sedih sebaiknya kamu terima saja cinta bule yang memberikan kamu cincin, dia siap melamar kamu, tapi jangan pernah menerima dia, kamu masih kecil pacaran saja."
"Billa tidak berani pacaran, takut tidak bisa menjaga diri."
"Menikah dilarang, sudah hamil diluar nikah saja, pusing juga proses pernikahan."
"Vira, dosa." Wildan menaiki tangga mengikuti Billa.
"Menikah di larang, berzinah dosa. Jadi kita harus berzinah sampai menikah, atau menikah lalu berzinah, astaghfirullah Al azim, otak gue kotor." Vira memukul kepalanya.
"Dua-duanya dosa Vira bego." Winda menatap sinis.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***