
Semuanya tersenyum bahagia, masih menunggu satu pasangan lagi. Wildan memijit kepalanya, rasanya kepalanya pusing, mual dan tubuhnya lemas.
Keringat dingin sudah membasahi baju Wildan, ini pertama kalinya Wildan merasakan yang namanya deg-degan parah.
"Wildan kamu bersiap sekarang, sebentar lagi kita mulai." Ravi menatap Wildan yang bekali-kali minum, terlihat sekali rasa cemasnya.
Sikap jahil Ravi terlihat, membisikkan sesuatu kepada Erik yang langsung tertawa melihat wajah Wildan yang memucat.
"Kita hancurkan reputasi Wildan yang sangat dingin, juga selalu sempurna. Kesempatan kita hanya satu kali seumur hidup." Ravi menatap tajam Erik yang menganggukkan kepalanya.
Semuanya langsung bersiap kembali, penghulu meminta Wildan duduk di depan Rama yang tersenyum.
Senyuman Wildan terlihat, Ravi dan Erik duduk di belakang Rama menatap Wildan yang berkeringat.
"Ada takutnya juga ini anak." Ravi tersenyum menatap mata Wildan yang tidak tenang, pandangannya berkeliling melihat sekitar.
Penghulu langsung mulai berbicara, membacakan doa untuk memulai acara ijab kabul.
Wildan tidak berani mengangkat tangannya, karena tangan Wildan bergetar ketakutan.
"Silahkan di mulai pak Rama." Penghulu mempersilahkan Rama dan Wildan memulainya.
Tangan Rama terulur, ingin menjabat tangan Wildan. Tangan Wildan terangkat menyambut tangan calon mertuanya, Rama terdiam merasakan tangan Wildan dingin sekali, wajahnya juga pucat.
"Kamu baik-baik saja Wil?" Rama bicara pelan, mengkhawatirkan keadaan Wildan yang mirip orang sakit.
"Deg-degan Daddy." Wildan tarik nafas, buang nafas melihat mata Rama.
"Bisa kita mulai Wil?"
"Silahkan Daddy, Wildan siap." Senyuman Wildan terlihat, matanya sayu tidak bisa menatap tenang.
Rama berdehem, wajah Wildan tidak seperti biasanya. Ketegangannya sangat terlihat.
"Wildan lebih tenang, kamu jangan deg-degan secara berlebihan." Rama menepuk pelan tangan Wildan yang menganggukkan kepalanya.
Wildan tarik nafas buang nafas, mencoba menenangkan dirinya agar tidak mempermalukan harga dirinya.
Rama merasakan lucu melihat pemuda tampan yang selalu unggul dalam segala hal, tapi saat acara Ijab kabul dia langsung demam.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda (Wildan Bramasta) bin (Bima Bramasta) dengan anak saya yang bernama (Vira Prasetya) dengan maskawinnya berupa mas kawin ... seperangkat alat sholat, Tunai.” Rama mengucapkan dengan lantang.
__ADS_1
Tangan Wildan langsung bergetar, sulit sekali mulutnya untuk berucap. Tatapan mata Wildan tajam melihat Ravi yang tertawa melihat Wildan mirip orang bisu.
Rama mengulangi satu kali lagi, Wildan hanya bisa mengeluarkan suara Saya, selebihnya dia lupa semuanya.
Suara tertawa Ravi dan Erik terdengar, mereka mengabadikan momen terlucu dalam sejarah hidup Wildan.
Bima langsung mendekati putranya, meminta waktu sebentar. Senyuman Bima terlihat mengusap punggung putranya meminta Wildan santai.
Ar juga langsung mendekat memberikan air minum, langsung cepat dihabiskan oleh Wildan jantung berdegup kencang.
Bima menyentuh dada Wildan yang terlihat sangat tegang, cemas, khawatir, tangan putranya juga dingin.
"Masih bisa lanjut tidak Wil?" Bima merasakan cemas, putranya sangat panik untuk Ijab kabul.
"Wildan Wildan, kenapa harus membuat kesalahan saat pernikahan. Membuat malu saja." Reva menepuk jidat.
Armand membisikkan sesuatu kepada Wildan agar percaya dirinya kembali, meminta Wildan lebih santai dan tenang. Dia hanya perlu mengikuti bacaan yang Ar ucapkan.
Senyuman Wildan terlihat, dia siap untuk melanjutkan pernikahan. Rama tersenyum langsung menjabat tangan Wildan yang masih dingin.
Bima dan Ar berada di belakang Wildan untuk menenangkannya, Ar tahu Wildan tidak pernah melakukan kesalahan, sehingga dia tidak pernah merasakan yang namanya gagal.
Pernikahan sesuatu yang berbeda, karena satu ucapannya mengubah hidupnya.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda (Wildan Bramasta) bin (Bima Bramasta) dengan anak saya yang bernama (Vira Prasetya) dengan maskawinnya berupa mas kawin ... seperangkat alat sholat, Tunai.” Rama mengucapkan dengan lantang.
Wildan langsung melepaskan tangan Rama yang merah, karena cengkraman. Menepuk dadanya langsung mendengar doa dan mengucapkan Amin.
Keringat Wildan sudah membasahi wajahnya, Bima sampai mengusap keringat putranya yang akhirnya menyelesaikan ijab kabul.
Di dalam kamar Vira tidak berhenti tertawa, dia mereka ekspresi wajah Wildan yang akan menjadi ejekan bagi dirinya melihat suami mudanya kesulitan membaca ijab kabul.
"Wildan lucu sekali, kenapa dia gugup terlihat mengemaskan?" Vira tertawa sampai duduk di lantai, air matanya keluar tidak kuat menahan tawa.
Bella mengerutkan keningnya tidak percaya, seorang Wildan mempermalukan dirinya sendiri.
"Sah. Vira sudah sah." Billa melihat Vira yang menatap rekaman Wildan di ponselnya.
Viana masuk kamar melihat putrinya yang tertawa cekikikan, sulit sekali bagi Vira untuk menghentikan tawanya.
"Sudah Vir, nanti Wildan malu." Viana membawa putrinya keluar kamar untuk bertemu suaminya.
__ADS_1
Di tempat ijab kabul juga penuh tawa, Ravi dan Erik paling kompak tidak berhenti mengulang rekaman saat Wildan hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suaranya.
Kelucuan yang sudah lama Ravi nantikan, sejak bayi Wildan pemuda yang tidak memiliki cacat, dia sangat luar biasa dalam banyak hal.
Tidak pernah disangka kesalahan terbesar Wildan saat pernikahannya, Wildan manusia jenius yang mendadak bisu. Saat bisa bicara dia hanya bisa mengatakan saya saya.
Vira duduk di samping Wildan, penampilan Wildan sudah normal. Gugupnya sudah hilang, tapi rasa malu tidak akan pernah bisa hilang.
Mata Vira dan Wildan bertemu, suara tawa Vira langsung pecah, kedua tangan Vira menyentuh dada Wildan yang ekspresi wajahnya tidak suka.
Tangan Vira menyambut tangan Wildan, langsung menciumnya sambil menahan tawa yang tidak tertahankan.
"Berhenti tertawa Vira, tidak ada yang lucu." Wildan berbisik sambil memasangkan cincin.
Suasana pernikahan tidak menunjukkan kesedihan, seluruh keluarga tertawa melihat Wildan yang bisa gugup juga.
Rama memeluk Wildan, mengusap punggungnya mengatakan jika Wildan hebat, setiap orang pasti pernah salah.
"Wil, jaga Vira dengan baik. Dia butuh didikan dari kamu, meskipun kamu lebih muda juga mengenal Vira sejak kecil, tapi pernikahan berbeda. Daddy ingin kamu memberikan contoh yang baik, panutan yang baik untuk Vira dan anak-anak kalian." Rama mengusap kepala Wildan.
"Insyaallah Daddy, Wildan akan terus belajar menjadi suami yang baik untuk keluarga kecil kami. Terimakasih karena Daddy sudah mempercayai Wildan untuk menjadi imam Vira." Senyuman Wildan terlihat, mencium tangan Rama.
Tatapan mata Wildan tajam melihat Ravi yang tersenyum santai langsung memeluk Wildan mengucapkan selamat menempuh hidup baru.
"Hapus videonya atau video kak Ravi akan Wildan sebarkan." Senyuman licik Wildan mengancam Ravi yang menatap sinis.
"Aku kakak ipar kamu, berani kurang ajar."
"Lihat saja, dalam tiga jam belum di hapus kak Ravi akan merugi." Senyuman Wildan terlihat, dia tidak akan pernah mengalah meskipun Ravi kakak iparnya.
Senyuman Wildan terlihat menatap Vira yang tertawa, wanita cantik yang sudah sah menjadi istrinya terlihat tidak memiliki beban.
Vira sangat santai dan bahagia.
"Pernikahan ini atas dasar apa, bagaimana aku menghadapi kamu? semoga saja pernikahan kita tidak memiliki drama setiap harinya." Wildan menghela nafasnya.
Vira kaget melihat seseorang datang, lelaki yang sangat membenci Wildan muncul di pernikahannya.
"Wildan! Vira milikku."
Wildan mengerutkan keningnya, Vira langsung menutup mulutnya kaget, Winda, Bella dan Billa juga kaget melihat lelaki yang pernah menjalin hubungan dengan Vira hadir dihadapan seluruh keluarga.
__ADS_1
***