SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KESEDIHAN WINDA


__ADS_3

Pintu kamar Winda diketuk, Ar langsung membuka pintu menatap Winda yang sedang memperbaiki make-upnya.


Ar menatap Winda dari balik cermin yang memperlihatkan mereka berdua, Winda juga masih menggunakan baju yang sobek, Ar membuka jasnya menutup tubuh Winda.


Winda tidak memperdulikan keberadaan Ar, dia masih sibuk mengubah gaya make up agar lebih sederhana dan mewah.


Ar juga hanya diam memperhatikan Winda, senyuman Ar terlihat melihat Winda ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.


Baju rancangan Viana sangat pas di tubuh Winda, Ar menyerahkan hijab Winda yang langsung disambut.


Winda menggunakan hijab, langsung kembali lagi ke tempat duduk untuk melanjutkan makeup-nya.


Mata Winda melirik Ar yang merapikan alat make up yang Winda letakan sembarang, senyuman Winda terlihat menatap wajah Ar yang sangat tampan, tidak banyak bicara.


"Jam berapa Ijab kabul di mulai?" Winda menatap Ar yang melihat jam tangannya.


"Setengah jam lagi, tapi jika ingin diundur juga tidak masalah. Kamu bisa berdandan lebih lama lagi." Senyuman Ar terlihat, memperhatikan keahlian Winda dalam makeup.


"Menatap wanita yang bukan muhrim dosa." Tatapan Winda langsung tajam, Ar hanya tersenyum meminta maaf, dia khilaf.


Di luar pintu Viana duduk bersama Reva, Jum, Bella, Billa menguping pembicaraan Armand dan Winda yang tidak terdengar apapun.


Keduanya tidak berdebat, juga tidak saling bicara. Vira yang melihat langsung ikut-ikutan menatap keluarganya yang meminta Vira tetap berdiri.


Vi melangkah masuk sedikit ingin melihat apa yang keduanya lakukan, Viana menatap aneh langsung keluar lagi.


"Apa yang mereka lakukan kak Vi?" Jum penasaran, dia sangat ingin tahu seorang Ar bicara apa?


"Ar hanya duduk diam, Winda tidak terlihat keberadaannya. Mungkin dia sudah pergi dari hotel." Viana menatap Rama sedih.


"Tidak mungkin Ar diam saja, memangnya dia gila berdiam diri." Reva tidak mempercayai Viana.


"Mungkin mereka berbicara dari mata ke mata?" Billa sangat tahu Winda bisa membaca mata orang.


"Mungkin saja dari hati ke hati?" Bella menatap Mami yang terkejut.


"Astaghfirullah Al azim, Ar tidak boleh menatap dada Winda mereka belum sah." Jum menatap aneh, Bella dan Billa menepuk jidat.

__ADS_1


Viana membekap mulutnya agar tidak tertawa, Reva langsung memeluk Bima menahan tawanya. Semua orang menahan tawa, melihat tingkah Jum yang tidak mengerti istilah.


Wira menghela nafasnya melihat keluarganya yang hobi menguping pembicaraan orang, langsung melangkah mendekat.


Tatapan Wira melihat Winda yang sudah rapi, hanya tersenyum melihat Aunty Winda yang sangat cantik.


"Sebenarnya kita jadi pesta tidak?"


Windy langsung menutup mulut putranya, memintanya untuk segera pergi. Wira menatap sinis tidak suka diusir.


Vira langsung melangkah masuk, langkah Vira terhenti mendengar suara Winda dan Ar yang sedang berbicara pelan.


Wildan juga masuk, berdiri di belakang Vira mendengarkan pembicaraan keduanya.


"Kenapa Winda kamu berbicara seperti tadi?" nada bicara Ar sangat pelan, hampir tidak terdengar.


"Tidak ada alasan, hanya ingin mengusir semua orang dari dalam kamar. Terlalu berisik, dan menggangu." Winda memasang lipstik.


"Tidak boleh bicara seperti itu Winda, keluarga harus nomor satu kamu utamakan. Kehadiran mereka tidak pernah menganggu, tapi hal yang selalu dirindukan." Tatapan Ar sangat lembut, dia tahu Winda sebenarnya menyukai keheningan.


Armand tersenyum, menarik kursi Winda untuk melihat ke hadapannya. Ar menjelaskan kepada Winda bukan masalah pernikahannya, tapi halalnya.


Di dalam agama mereka pernikahan bersatunya dua insan, bukan untuk saling mencari kesempurnaan, tapi menyempurnakan. Kenapa harus menikah? karena di mata Ar pernikahan sebuah tali pengikat yang sah di mata agama dan hukum.


"Menikah baik jika sudah ada jodohnya, kenapa harus menundanya?"


"Aku tidak mencintai kamu?"


"Aku tidak minta dicintai, karena aku yang akan mencintai kamu. Jangan lakukan apapun Winda, karena aku yang akan melakukannya, segala hal baik akan aku lakukan untuk membuat kamu menyadari rasa cinta yang hadir tanpa diucapkan." Tatapan mata Ar terlihat serius, tidak ada keraguan sama sekali.


Wildan dan Vira saling tatap, keduanya merasa mendapatkan tamparan dari ucapan Armand yang mengatakan dia yang akan menunjukkan cinta, sedangkan Vira dan Wildan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Kamu cukup mengikuti langkah kaki aku, jika aku terjatuh maka kamu harus mencari jalan lain. Biarkan aku yang memberikan jalan terbaik untuk kamu." Suara Armand terdengar sangat lembut.


"Wil, kita berjalan ke mana?" Vira berbicara pelan menatap Wildan yang mengerutkan keningnya.


"Jalan masing-masing, kenapa harus pusing jika sudah tahu satu jalan berbahaya maka buat jalan sendiri, karena aku tidak ingin jatuh." Wildan menahan tawanya melihat Vira memukul dada Wildan kesal.

__ADS_1


"Dasar pria brengsek." Vira mencubit perut Wildan kesal.


"Tarik kembali ucapan kamu, sudah diperingati jangan bicara tidak sopan."


"Biarkan saja, kita belum menikah jadinya bebas." Vira menjulurkan lidahnya mengejek Wildan.


Armand tertawa melihat Vira dan Wildan yang sedang saling tatap, Vira tersenyum melihat Ar yang menepuk pundak Wildan untuk keluar memberikan waktu untuk Winda dan Vira menyelesaikan make up mereka.


Wildan melangkah keluar bersama Ar, melihat keluarga yang sedang berkumpul di luar saling bisik.


"Apa yang Winda ucapkan Ar?"


"Dia hanya bercanda mom, Winda sudah selesai makeup. Sebaiknya Ar turun."


"Winda kurang ajar." Reva dan Viana langsung masuk ingin memukul kepala Winda.


"Papi, Winda seperti ingin bicara dengan Papi, ada kesedihan di matanya yang akan berpisah dengan cinta pertamanya." Ar tersenyum berjalan bersama Bima.


"Terimakasih Ar, Papi mohon jaga dia. Nanti Papi akan bicara dengannya." Bima merangkul Armand untuk turun ke tempat ijab kabul.


Wildan juga turun, menanyakan kertas kepada Rama yang hanya tersenyum melihat Wildan yang baru ingin menghafal.


Vira duduk di samping Winda yang diam saja, mata Winda menatap wajahnya di cermin.


"Maaf, aku sudah bicara kasar. Kita saling mengenal selama dua puluh satu tahun, tapi ternyata Vira tidak memahami perasaan kamu Winda." Vira mengulurkan tangannya meminta maaf.


"Aku ingin menangis, mungkin ini hari terakhir aku ada di sini. Pergi tanpa Papi Mami, kamu, Bella dan Billa. Berapa lama? Winda juga tidak tahu, kenapa kalian sangat bahagia berpisah dengan Winda?" Air mata Winda ingin menetes, menahan kesedihannya yang tidak bisa memeluk Papinya lagi.


"Maaf."


"Kamu enak sudah mengenal lama kak Wil, Daddy Rama juga sangat dekat dengan kamu. Mami sudah seperti ibu kandung sedangkan Winda, jika aku tahu dia keluarga Prasetya sudah lama aku menolak. Keluarga Prasetya bagian hidup keluarga Bramasta, tapi kenapa aku tidak bisa mencintai dia?" Winda memukul meja kesal, dia masih memikirkan dendam, sedangkan kenyataannya Ar tidak boleh dia tinggalkan.


Vira langsung memeluk Winda, mengusap air mata sahabatnya.


"Vira sayang Winda, jangan khawatir kita tidak akan terpisah lama." Vira mengusap kepala adik bungsunya.


***

__ADS_1


__ADS_2