SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PLAYBOY


__ADS_3

Ravi Kasih pulang ke rumah, Karin juga datang berkunjung untuk bertemu Kasih mengatakan jika Cinta akan pulang.


Melihat Karin Ravi hanya tersenyum meninggalkan Kasih dan Karin. Ravi tidak ingin ikut campur pembicaraan keduanya, karena tidak ingin menyakiti perasaan salah satunya.


"Kak Cinta besok pulang, Ibu memutuskan untuk membawa Cinta tinggal di kampung."


"Besok kak Kasih ikut menjemput dia, jika Ravi memberikan izin."


"Soal Paman, kapan kak Kasih akan menjenguknya?"


"Kemungkinan besok juga Rin, aku ingin mengatakan beberapa hal."


Kasih dan Karin diam, berada dalam pikiran masing-masing, Ravi juga mendengarkan pembicaraan keduanya dari ruang kerjanya.


"Karin, kak Kasih tahu kamu sangat mencintai Ravi. Maafkan kak Kasih yang mengambil Ravi dari kamu." Kasih menghela nafas, menundukkan wajahnya.


"Kak Kasih mencintai Ravi?"


"Maafkan kakak Karin, awalnya aku tidak tertarik padanya, tapi sekarang aku ingin menjadi istrinya, menjadi ibu untuk anak-anaknya."


"Jika Cinta pertahankan kak, Karin akan melupakan Ravi. Jangan pikirkan Karin, kakak cukup bahagia."


"Aku juga ingin kamu bahagia."


"Terkadang rasa penyesalan ini datang kak, jika aku tidak melanggar perintah kak Kasih untuk jatuh cinta, jika Karin jujur soal Ravi, kita tidak mungkin seperti ini. Tapi Karin juga bersyukur karena sekarang kita berdua bebas. Dulu kita hidup dalam satu nama, tapi nama kita sudah kembali." Karin meneteskan air matanya, melihat foto pernikahan Ravi dan Kasih.


"Kak jika aku menginginkan Ravi, apa kak Kasih akan melepaskannya?" Karin menghapus air mata, menatap Kasih tajam.


Ravi kaget sampai tersedak, jantung Kasih berdegup kencang. Memilih antara adik dan suaminya.


"Aku mencintai dia Karin, kamu tidak punya hak untuk memilih, hanya Ravi yang bisa memutuskan siapa wanita pilihannya."


"Bagaimana jika Ravi memilih Karin?"


"Tidak mungkin, dia mencintai Kasih bukan Karin."


Karin langsung tertawa, memeluk Kasih erat. Kakak dinginnya sudah berubah menjadi wanita yang memiliki pendirian.


"Terus seperti ini kak, berhentilah untuk kuat sendirian. Karin senang dengan sikap kak Kasih yang sekarang ingin bertahan, bahagia selalu ya kak, doakan Karin agar menemukan cinta pengganti."


"Amin, kamu juga harus bahagia Karin." Kasih mengelus kepala Karin yang langsung memeluknya.


Di dalam kamar Ravi tersenyum, cintanya akhirnya terbalaskan. Setelah perjuangan panjang, menguras tenaga dan otak Ravi.


"Sudah waktunya liburan." Ravi mengambil ponselnya, meminta Tian menyempatkan diri untuk mampir.


Kasih meminta maid membersikan kamar tamu untuk Karin, sebelumnya Kasih izin terlebih dahulu kepada Ravi.

__ADS_1


Karin menjalankan sholat magrib sendirian, Ravi sholat bersama Kasih berjamaah.


"Aak besok Kasih izin ingin menemui Cinta, bapak Cinta juga bersama Karin."


"Boleh, nanti kamu ditemani Karan."


"Kenapa?" Kasih menatap Ravi, senyuman Ravi terlihat sambil mencium kening Kasih.


"Karan dan Wildan satu frekuensi, hanya bedanya Karan dewasa sedangkan Wildan sulit dikendalikan, dia bisa bergerak sendiri, tidak ada tempat takutnya."


"Karan akan menjadi pengawal pribadi?" Kasih masih belum mengerti.


"Karan seorang hacker sayang, besok dia harus menyelidiki sesuatu, sekalian menemani kalian."


"Ohhhh, Kasih berpikir memiliki pengawal pribadi?" Kasih tersenyum, Ravi menciumi Kasih terlalu indah untuk diabaikan.


"Kamu lebih kuat dari pengawal sayang." Ravi memeluk erat, mencium mukenah Kasih.


Di dapur Kasih dibantu oleh maid dan Karin menyiapkan makan malam, Kasih hanya melihat saja yang masak maid, dia hanya menunggu di meja makan menjadi pencicip.


Suara salam terdengar, Tian langsung masuk menyapa Kasih dan Karin. Tama juga datang bersama Tian langsung duduk bersama adik-adiknya.


"Kak Tama sering sekali bersama kak Tian, padahal kalian beda pekerjaan." Karin memberikan minum untuk Tama.


"Tian tidak memiliki teman dekat, setiap hari mengacau kakak untuk menemaninya, selama ponsel hidup dia tidak akan berhenti." Tama juga kesal, tidak memiliki waktu liburan.


"Kamu bisa membedakan Kasih dan Karin Vi? aku kakak mereka juga masih binggung." Tama memperhatikan Ravi dan Kasih.


"Kamu Kasih atau Karin?" Ravi mencium pipi.


"Ravi, kalau kamu tidak yakin kenapa langsung dicium." Kasih melotot menatap tajam.


"Silahkan kalian perhatikan,"


Tama tertawa mengelus kepala Kasih, Karin hanya tersenyum melihat Kasih yang pemarah. Tian hanya menggelengkan kepalanya melihat Ravi yang jahil.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh teman-teman, hai Nur, sehat Nur." Erik tertawa langsung duduk.


"Kenapa wajah kak Erik?" Karin menatap Erik wajahnya memar.


"Biasalah." Erik tertawa melihat keterkejutan Karin.


Wildan berjalan bersama Karan, langsung duduk tanpa salam, Ravi sudah terbiasa dengan sikap Wildan yang marah jika dipanggil mendadak.


Sebelum Ravi bicara, mereka semua makan terlebih dahulu. Mengisi perut untuk berpikir menghadapi hari esok.


Kasih menatap satu-persatu yang sedang asik makan, Kasih penasaran dengan rencana Ravi, mengumpulkan seluruh timnya.

__ADS_1


Ponsel Tian berbunyi, langsung didiamkan. Berkali-kali ponselnya berbunyi, Ravi menatap ponsel Tian langsung merampasnya, mengangkat dan menghidupkan speaker.


[Bastian brengsek! kamu memang memiliki segalanya Tian, tapi kamu tidak memiliki cinta. Aku tidak rela kamu memperlakukan aku seperti ini, akan aku balas kamu Tian.]


[Maaf, aku sudah menikah. Istriku sangat cantik, tidak bisa dibandingkan dengan apapun.] Ravi tersenyum, Kasih terdiam menatap Ravi dan Tian.


[Aku tidak akan menjadi korban kamu, akan laporkan kamu sebagai penipu.]


[Penipu hati. Kalian yang bodoh, berharap mendapatkan lelaki kaya dengan menawarkan diri, jangan salahkan jika hanya diabaikan, dipermainkan. Walaupun kami playboy, kami memilih wanita yang pantas menjadi ibu untuk anak kami.]


Cacian dan makian terdengar, Ravi hanya menggelengkan kepalanya. Tian masih fokus menghabiskan makanannya. Sampai akhirnya panggilan berakhir.


Keheningan terjadi, Kasih dan Karin penasaran, tidak ada yang bertanya kepada Tian, soal wanita barusan.


"Kak Tian, jika tidak suka jangan memberikan harapan, walaupun dia bukan wanita baik." Karin akhirnya angkat bicara.


"Kapan aku memberikan harapan? wajah mereka saja aku tidak tahu."


"Tapi tadi terdengar kamu mengambil keuntungan."


"Karin diamlah kamu tidak mengenali Tian, jangan hanya mendengar apa yang orang katakan."


"Kasih juga penasaran, kalian semua playboy."


"Biarpun kita playboy, masih tetap jaga diri harus membedakan antara cinta dan nafsu." Erik tersenyum melihat Kasih dan Karin yang tidak puas.


Suara high heels terdengar, jantung Kasih berdegup. Kemungkinan pacarnya Tian, tetapi membingungkan bisa mengetahui keberadaan Tian.


"Assalamualaikum kak,"


"Salsa, kapan kamu kembali?" Ravi kaget melihat Salsa yang tiba-tiba muncul.


Erik hanya melihat sekilas, dia tahu Salsa sudah kembali saat melewati rumah uncle Ivan.


"Besok Salsa langsung pergi lagi, hanya ingin mengatakan jika pacar kak Tian mencari kediamannya."


"Pacar yang mana?" Tian menatap Salsa.


"Berapa banyak pacar kak Tian, Nabila hamil kak. Salsa yakin bukan anak kak Tian, tapi wanita Sholehah bisa hamil."


"Masalahnya bukan hamil, takutnya dia bertemu Bunda." Erik menatap Tian yang masih santai.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2