
Senyuman kebahagiaan terlihat, hotel mewah yang bernama Virda berdiri di tengah hutan buatan, menjadi tempat yang baru Wildan resmikan.
Hotel berbintang yang menjadi tempat honeymoon pasangan yang sedang berbahagia, Wildan sengaja membentuk hotel dengan desain yang Vira sukai.
"Wow, bagus sekali. Banyak hotel yang sudah Vira kunjungi, tapi hanya hotel VIRA yang dibuat khusus untuk mommy, juga VIRDA yang dibuat khusus untuk Vira. Terima kasih Ayang Wil." Pelukan hangat Wildan rasakan.
"Kamu menyukai mawar putih?"
"Iya, tapi Vira suka apapun yang Wildan berikan." Senyuman penuh kebahagiaan terlihat.
Wildan memberikan setangkai bunga mawar putih, harumnya masih menyengat. Vira tidak tahu lagi cara mengekspresikan kebahagiaannya.
Wildan menggenggam erat tangan istrinya, berjalan melihat kemegahan taman belakang hotel, Vira sangat menyukainya.
Ada taman bermain untuk anak-anak, kolam berenang yang lebih mirip Waterboom yang sangat luas, ada kebun binatang.
Vira tertawa saat melihat penangkaran kucing, Asih pasti sangat senang jika main ke hotel, ada perkebunan mini.
Semuanya bisa dinikmati oleh pengunjung, penjagaan juga sangat ketat bahkan Wildan memperkerjakan ratusan orang untuk menjaga, dan memberikan kenyamanan.
"Tempat ini bisa menjadi wisata keluarga."
"Iya, nanti kita main ke sini bersama keluarga."
"Nanti anak kita biarkan saja bermain, kita di kamar membuat adiknya."
"Jangan sayang, mereka harus diawasi orang tua."
"Kita bisa menggunakan pengasuh, jika perlu bodyguard, takutnya dia nakal seperti Rasih."
"Aku tidak mempercayai orang lain untuk menjaga anakku." Wildan tidak ingin melepaskan anaknya bermain sendiri.
Vira tepuk jidat, suaminya tidak bisa bercanda. Selesai melihat area belakang, Wildan dan Vira menuju kamar mereka.
Suara Vira tertawa terdengar, langsung lompat-lompat monyet melihat bunga mawar putih menghiasi beberapa tempat.
Wildan hanya tersenyum melihat kebahagiaan Vira, bangunan atas sengaja Wildan jadikan seperti mansion agar seluruh keluarga berkumpul.
"Di mana kamar kita?"
"Kamu ikuti saja bunga mawar."
Wildan tersenyum mengecek satu-persatu kamar yang sudah memiliki nama, sejak rumah utama menjadi tempat tinggal Windy, akhirnya Wildan memutuskan membangun kembali tempat berkumpul keluarga.
Langka Wildan terhenti melihat kamar Ar dan Winda, berharap keduanya segera kembali dan bergabung bersama keluarga.
Wildan membuka pintu kamarnya melihat Vira yang sudah tidur di atas bunga mawar putih, ada aroma lilin yang menenangkan.
"Ayang, ayo kita mandi."
"Apa kita harus membuat Virdan?"
"Hayuk." Vira minta digendong.
Wildan tertawa langsung menggendong istrinya untuk mandi, aroma wangi membuat Vira dan Wildan saling memuaskan.
__ADS_1
Tidak tahu berapa kalian melakukannya, tubuh mereka sampai lemas. Tidak sadar jika keduanya tertidur di bathub sambil berpelukan.
Wildan membuka matanya, meminta Vira bangun. Wildan akan menyiapkan makan malam untuk mereka, membuat Virdan lanjut malam.
"Yang, bagaimana jika anak kita perempuan?"
"Tidak masalah, dia pasti cantik seperti kamu."
Wildan langsung mengambil air bersih, meminta Vira segera mandi.
Vira membuka matanya, mengingatkan kembali bagaimana mereka berdua yang sedang dimabuk cinta.
"Ayo mandi Vira, kita kumpulan tenaga untuk membuat Virna. Siapa Virna?" Tawa Vira terdengar melihat dirinya sendiri.
***
Selesai sholat isya keduanya sibuk di dapur, sebenarnya hanya Wildan yang sibuk, sedangkan Vira menjadi juri yang mencicipi makanan.
"Yang kenapa tiba-tiba terpikirkan untuk membuat mansion, di atas hotel. Ini juga lantai tertinggi."
"Emh, karena kak Windy ingin menjadikan rumah utama, menjadi tempat singgah baca Al-Qur'an. Hotel ini memang aku yang membangun, tapi ada keluarga juga memiliki saham untuk pembangunan ini."
"Siapa?"
"Saham Wira, kak Windy dan kak Stev yang mengurus."
"Tunggu, Wira bocah kecil itu memiliki saham. Sejak kecil dia menjadi sultan, tapi wajar saja anak semata wayang."
"Ada kak Ravi, kak Erik, kak Tama, kak Tian, Armand juga."
"Aku dan Ar."
"Sudah Vira duga, kak Ar memang sultan. Vira juga mendengar kabar jika perusahaan bergabung dengan kak Ravi?"
"Hanya pusat saja, sehingga itu saham kak Ravi naik tinggi bahkan mengalahkan kak Tian."
"Aduh capek jika membicarakan soal kekayaan, semoga saja semakin kaya semakin amanah. Amin, rajin sedekahnya, taat ibadahnya, baik akhlaknya terutama anak cucu." Vira memeluk Wildan manja.
"Mereka sudah tahu tempat ini?"
"Belum sayang, tempat ini akan diresmikan setelah kak Ar kembali."
"Berarti Winda akan segera pulang." Vira lompat bahagia, dia sangat merindukan sahabat gilanya.
Wildan dan Vira makan bersama, menikmati malam berdua sambil bercerita penuh canda dan tawa.
Makan Vira juga harus disuap, Wildan dengan penuh kelembutan mengikuti keinginan Vira.
Keduanya bercerita saat mereka masih kecil, perasaan pertama Wildan saat menyadari jika ada Vira sangat terganggu. Suara Vira yang mengalahkan petir, tertawanya mirip kuntilanak, teriakannya mirip bom.
"Aku tidak menyukai Vira yang setiap hari ke rumah, kamu datang membawa sendok, piring, sapu, baju, vas bunga, uang, handphone, bahkan ular kak Ravi." Wildan tertawa merasa lucu melihat Vira kecil yang selalu memberikannya kado, tapi entah kenapa saat itu tidak ada yang lucu.
"Semua yang Vira bawa untuk kado, dasar Vira bodoh." Tangan Vira memukul kepalanya sendiri, tapi Wildan langsung menahannya.
"Kamu ingin tahu apa yang paling lucu, Mommy berteriak, Reva pulangkan piring dan sendok yang Vira bawa, sebentar lagi Rama makan menggunakan daun kelor." Wildan tertawa lepas, memegang perutnya jika mengingat keributan saat kecil.
__ADS_1
"Ponsel siapa yang Vira bawa?"
"Punya halmeoni."
Vira tersenyum memeluk Wildan, ternyata sejak kecil dirinya memang pembuat masalah. Tidak terasa dirinya sudah menjadi istri.
Sudah larut malam, Wildan menggendong Vira menuju kamar mereka untuk beristirahat. Suara Vira yang manja masih terdengar jelas, tapi Wildan suka mendengarkannya.
Keduanya tidur setelah ritual malam, rasanya tidak ada kata bosan untuk terus bersama. Karena terlalu lelah Vira dan Wildan bahkan tidak bangun sampai matahari tinggi.
Suara teriakan terdengar, mata Vira terbuka. Suara Asih rasanya trauma untuk Vira, karena saat tidur juga bisa mendengar suara berisik.
Vira lanjut tidur memeluk Wildan, mata Vira terbuka lagi langsung membangunkan Wildan.
"Yang bangun, kenapa ada suara anak-anak? tidak mungkin ada hantu." Vira memeluk erat.
"Sudah siang Vir." Wildan mengacak-acak rambutnya.
Pintu terbuka, Vira langsung teriak bersembunyi dibalik tubuh Wildan.
"Astaghfirullah Al azim, bangun kesiangan lagi." Reva dan Viana kaget melihat Wildan tidak menggunakan baju.
"Gas pool banget kalian berdua? awas saja lama." Ravi meminta Wildan segera mandi dan keluar.
Asih mengintip melihat Vira yang hanya menggunakan selimut menutup wajahnya. Wildan sudah masuk ke kamar mandi, sedangkan Vira menatap tajam Asih dan Ning.
Bahkan si kecil Em juga sudah ikut-ikutan, Vira meminta Em mendekat.
"Kenapa kamu mengintip? Embun cantik sekali."
"Em tantik, enti jelek." Em tertawa mengejek Vira.
"Em Engi, enti ucuk." Embun memegang hidungnya, menutup hidung.
Asih dan Ning tertawa mengejek Vira, tatapan Vira sinis melihat Asih yang suaranya besar sekali.
"Kenapa kalian bisa di sini Asih?"
"Emh, Asih lihat kertas di kamar enti, langsung memberitahu semuanya untuk pergi ke sini, karena hari libur." Asih menunjukkan denah tempat.
"Asih kamu mencuri?"
"Tidak, itu sudah Asih kembalikan." Rasih langsung melarikan diri, Vira teriakan kuat melihat kenakalan keponakannya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
JANGAN LUPA GIVE AWAY DI AKHIR BULAN.
MENGEJAR CINTA OM DUREN JUGA MENGADAKAN GIVE AWAY.
***
__ADS_1