
Suara canda dan tawa terdengar, Bima hanya diam saja melihat dari kejauhan keempat putrinya tertawa bahagia berlarian.
Bima mengukur tubuh mereka yang dulunya sepinggang dirinya, sekarang sudah tinggi ke atas. Senyuman Bima terlihat melihat anak-anak sudah besar.
"Billa bagaimana rasanya menjadi seorang istri?" Vira berlari mundur mengejar burung.
"Happy, very very happy." Billa tertawa melihat Vira yang terjatuh.
"Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu?" Winda menahan tangan Billa.
"Sedih, kagum, bangga, senang, merasa menjadi wanita yang sempurna. Melihat tawanya membuat hati tenang bersyukur menerima anugerah terindah, melihat tangisan membuat jantung berdegup kencang. Billa sangat menikmati menjadi seorang ibu." Tangan Billa menyentuh dadanya, merasakan jatuh cinta kepada anak-anaknya.
Vira, Winda dan Bella menyentuh dada mereka, membayangkan kebahagiaan yang Billa rasakan. Vira tersenyum Mommy pernah menikah tanpa cinta, tapi akhirnya mereka hidup bahagia.
Winda juga memejamkan matanya, dirinya memang tidak pernah melihat keburukan Yusuf. Rasa bencinya tidak beralasan, tapi rasa cintanya tidak pernah ada.
Bella langsung teriak mengatakan ingin menikah, dia ingin menjadi istri juga menjadi ibu.
Vira tersenyum langsung memeluk Bella, mereka juga ingin melihat Bella segera menikah dan hidup bahagia dengan pangeran pilihannya.
"Papi ayo pulang." Bella melangkah mendekati Bima yang menganggukkan kepalanya.
Vira, Billa langsung berlari masuk ke mobil, Winda masih berdiri diam menatap jauh arah pantai.
"Suatu hari kami akan kembali ke tempat ini, mungkin dengan banyaknya si kecil yang mengemaskan. Saat kami datang air surut sebuah fenomena gravitasi bulan, melihat mereka berlari, tertawa bahagia." Winda melangkah mundur melambaikan tangannya.
"Winda ayo cepat." Suara Vira teriak terdengar.
Bima menjalankan mobil, menatap keempat wanita cantik sudah duduk diam, senyuman keempatnya terlihat saling mengejek.
"Papi, bagaimana keadaan Mami? masih marah tidak? Win takut." Winda tertunduk lesu.
"Mami sangat mencintai kamu Win, bagaimana bisa kamu takut?" Billa mengusap kepala Winda.
Senyuman Winda terlihat, fokus melihat ke depan untuk pulang menemui Maminya.
Mobil sudah tiba di perumahan keluarga mereka, di depan rumah Jum sampai ke jalan depan rumah sudah penuh tenda untuk acara lamaran Bella dan Tian.
"Pohon mangga jangan dipotong, Winda suka." Suara Winda teriak terdengar, mengancam ingin memotong bagian bawah para pekerja jika menyentuh pohonnya.
"Winda ini pohon di rumah Bella, kenapa bisa menjadi punya kamu?" kepala Bella menggeleng terheran-heran.
__ADS_1
"Pohonnya tumbuh karena Winda pernah membuang bijinya, jadi punya Winda, tapi menumpang hidup di rumah kak Bel." Winda melangkah masuk ke rumah Bella.
"Sudahlah kak Bel." Billa tertawa bersama Vira.
"Perasaan Vira pohonnya sudah tumbuh saat kalian lahir, Vira pernah berdiri di samping pohon yang ukuran tinggi kami sama. Bagaimana bisa Winda yang menanamnya? dia juga masih sibuk mencari ASI." Vira menepuk jidat.
Suara keributan di dalam rumah sudah terdengar, teriakan Asih sangat dominan suka menghakimi orang.
Dia bahkan memarahi Embun, melarang Embun ikut bermain. Ravi harus membawa pergi putrinya, karena memukul Embun dengan mobil-mobilan.
Suara tangisan Embun terdengar, Elang menatap tajam Asih yang membuat adiknya menangis, Bening yang mengusap kepala Embun memintanya diam.
"Asih nakal sekali."
"Embun yang nakal Daddy, dia merusak mobilnya Asih."
"Tahu dari mana?" Ravi menatap putrinya.
"Di sini hanya ada Asih, Ning, kak Aka, Embun dan Elang. Kak Aka dan Elang tidak mungkin, Ning tidak mungkin merusak mobil dan sepeda kita, sudah pasti pelakunya Embun." Asih melipat tangannya di dada, ekspresi bibirnya monyong.
"Bagus sekali tuduhan kamu Asih." Erik tertawa menggendong putrinya.
Vira dan Winda saling pandang, mereka berdua yang sudah merusak mobil dan sepeda. Melihat kemarahan Asih, berpura-pura saja tidak tahu daripada mengamuk.
"Beda Mommy, Asih harus belajar lagi jika ada yang baru." Rasih melawan mommynya sampai akhirnya berdebat.
Melihat dua pemuda tampan, Asih langsung berlari meninggalkan keributan yang dia perbuat.
"Uncle ... hai Uncle Wil, hai juga Uncle Yu." Asih tersenyum mengedipkan matanya.
"Assalamualaikum Asih." Yusuf mengusap kepala Asih.
Winda langsung tertawa, baginya lucu saja. Saat Asih berbicara bahasa gaul, tapi dibalas dengan salam.
"Uncle Yu, jauhi wanita aneh Bramasta, aunty Win mulai gila." Asih berbisik membuat Yusuf tersenyum.
Wildan langsung mengendong Asih, Rasih Prasetya gadis kecil yang sangat mencintai pemuda tampan terutama Wildan Bramasta.
Vira, Bella, Billa, Winda melangkah menemui tri istri yang sedang sibuk memilih baju untuk acara lamaran.
Senyuman Reva terlihat merasakan ciuman hangat dari putrinya, suara Winda merengek terdengar meminta maaf.
__ADS_1
"Mami," sapa Winda.
"Apa?" jawaban singkat.
"Maafkan Winda, janji tidak nakal lagi." Winda memberikan jari kelingkingnya.
"Mami akan menerima janji kamu, syaratnya kamu harus menerima lamaran dari pemuda pilihan Mami dan Papi." Reva menatap Winda yang sudah menghilang.
Viana tertawa melihat Winda, terkadang mereka harus sabar untuk membujuk. Semuanya memutuskan fokus ke Bella dan Tian yang akan melangsungkan pernikahan satu minggu lagi.
Vira mendekati Wildan yang sibuk melihat daftar tamu undangan, Tian juga sudah mengecek sambil bekerja dari rumah.
"Wil, ayo keluar sebentar." Vira menarik tangan Wildan.
"Ke mana?" Wildan berjalan di belakang Vira.
Vira melangkah ke rumah Wildan, masuk ke kamar pria yang sangat menjaga kebersihan.
Wildan sedikit tidak suka, jika ada yang memasuki kamarnya, apalagi menyentuh barangnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan Vira?" Wildan menarik tangan Vira untuk menatapnya.
"Memberikan kejutan, Vira ingin memberikan kejutan selamat untuk Bella." Vira tersenyum membuka pintu kamar balkon Wildan.
Wildan menghela nafasnya, melihat ke atas awan biru menandakan cuaca sedang bagus.
Vira menjelaskan yang ingin dia lakukan, Wildan hanya diam menyimak apapun yang Vira ucapkan. Sesekali Wildan memejamkan matanya membayangkan kejutan untuk Bella yang Vira anggap paling bagus.
"Wildan berikan solusi, jangan diam saja." Vira memukul dada Wildan.
"Vir, kamu masih punya waktu menyusun acara kejutan. Setelah lamaran hari ini, pernikahan mereka akan di adakan di Bali minggu depan, bertepatan dengan hari pertunangan kita. Tidak ada hal yang ingin kamu lakukan?" Wildan menatap mata Vira yang berkedip-kedip tidak berhenti.
"Apa Vira harus memberikan kejutan untuk diri sendiri?" Vira menatap tajam Wildan.
Wildan hanya diam saja, melihat ke bawah rerumputan hijau yang sangat terawat.
"Kita akan menikah dalam dua minggu, maju dan mundurnya kita yang menentukan. Kamu masih bisa menolak sebelum pernikahan, karena jika kita menikah tidak ada kata perceraian." Wildan menoleh ke arah Vira yang terus mengangguk.
"Kenapa tidak kamu saja yang menolak, usia kamu masih muda. Biasanya pemuda selalu menikah di usia dua puluh tujuh tahun, sedangkan kamu baru masuk dua puluh satu tahun, perjalanan kamu masih panjang." Vira menatap wajah tampan Wildan.
"Kamu tahu berapa usia Rama Prasetya menikah?" Wildan menghela nafasnya.
__ADS_1
Vira langsung tertawa, dia melupakan jika Daddy-nya lebih muda dari Wildan saat menikahi Mommy.
***