
Waktu masih tengah malam, Wildan meminta Nahkoda kapal untuk menepi secepatnya di pelabuhan terdekat. Ravi masih diam terduduk di lantai, coba mengendalikan dirinya.
"Kak, jangan ada yang memberi tahu Mommy."
"Iya Rav, kamu harus kuat."
Kasih terbangun, tidak melihat Ravi di sisinya. Kebiasaan sebelum sholat, Ravi akan memeluk Kasih, mengungkapkan rasa cinta, tapi tidak melihat Ravi membuat Kasih sedih.
Langkah kaki terdengar, Ravi masuk ke dalam kamar, langsung tersenyum melihat Kasih.
"Aak, dari mana Kasih bangun Aak sudah pergi." Kasih bergelantungan manja, menciumi pipi Ravi gemas.
"Ayo mandi sayang, kita sholat berjamaah. Kamu mau mandi bareng."
"Mandi berdua, bisa dua jam lamanya. Aak duluan yang mandi, setelahnya baru Kasih."
Ravi menggagukan kepalanya, Kasih mengerutkan keningnya tidak biasanya Ravi langsung setuju, biasanya banyak alasan agar bisa bermesraan di kamar mandi, melihat Ravi murung dan sedih membuat Kasih khawatir.
Wildan berdiri di atas kapal, melihat jarak pelabuhan, mereka tidak memiliki banyak waktu, mobil juga sudah dipersiapkan untuk segera ke bandara.
"Wil, semuanya sudah siap." Tian berdiri mendekati Wildan.
"Kak, baru saja kita tertawa, sebentar lagi akan penuh air mata. Terkadang masalah tidak ada habisnya."
Tian tersenyum mengelus kepala Wildan, adiknya yang dingin mulai menjadi orang yang perasa, jiwa sosialnya mulai muncul, kepeduliannya terhadap sesama semakin terlihat.
"Kamu semakin dewasa Wil, banyak orang membutuhkan orang spesial seperti kamu. Satu hal lagi dek, masalah dalam hidup sudah menjadi bumbu kehidupan. Kita sedang diingatkan tentang kematian, datangnya tidak memandang usia, pangkat, baik buruknya orang."
"Waktu terlalu cepat berlalu." Wildan melihat matahari terbit.
"Waktu sangat lama Wildan, hanya saja kamu melupakan setiap hari yang kamu lewati."
Suara langkah kaki terdengar menuju ke atas, melihat matahari terbit akan menjadi fenomena alam yang sulit ditemukan, Vira tidak akan mengabaikan matahari begitu saja, setidaknya meninggalkan jejak untuk berfoto.
Suara rusuh terdengar, langkah kaki yang lainnya juga mulai berdatangan. Wildan geleng-geleng melihat setiap pose Vira, belum lagi ditambah Winda, Bella Billa yang sudah main jambak-menjambak.
"Bella, jangan kasar." Tian menghentikan Bella, Billa sudah memeluk Tian erat.
__ADS_1
Tangan Wildan ditarik untuk berfoto bersama, Vira meletakkan tangannya melingkari leher, mendekatkan wajah keduanya, Winda yang memotret tersenyum. Walaupun hanya bayangan hitam terlihat sangat indah, Vira berganti banyak gaya, tapi Wildan hanya diam saja.
"Kak, Tian tolong di foto." Winda memberikan kameranya, langsung meminta gendong di punggung Wildan, sedangkan Vira memeluk lengan kiri Wildan, Bella kanan, Billa berada di bawah dengan gayanya yang mengemaskan.
"Wildan tersenyum melihat adik dan ketiga kakak wanitanya yang super heboh, sejak kecil mereka selalu bersama, berpisah saat Wildan harus ke LN, Wildan menjadi penonton aksi gila mereka.
"Aku akan menjaga kalian, sampai kalian menemukan pasangan hidup." Batin Wildan dalam hati.
"Billa, Bella, Winda, Vira bisa kalian diam sebentar, sebenarnya kita sedang berduka, sekarang kita juga sedang menuju pelabuhan terdekat, untuk secepatnya kembali." Wildan melihat ke depan, pelabuhan sudah terlihat.
"Ada apa kak?" Winda melihat kesedihan di wajah Wildan."
"Halmeoni sudah berpulang, masih menunggu Mommy untuk proses pemakaman." Wildan menundukkan kepalanya.
"Bohong, Halmeoni masih di rumah, Halmeoni bilang masih ingat melihat Vira menikah." Vira langsung menangis, berlari menuruni tangga mencari Ravi.
Winda, Bella Billa juga berlari sambil menangis mengejar Vira. Pintu kamar Ravi terbuka secara tiba-tiba, Vira melihat Ravi yang sedang menangis dalam pelukan Kasih.
"Kakak Halmeoni." Vira langsung menangis, Ravi mendekati Vira, menghapus air matanya, memeluk adik kecilnya.
"Sabar ya Vir, Halmeoni sudah tidak sakit lagi. Sekarang Halmeoni sudah sembuh, kita ikhlaskan."
Winda, Bella Billa juga berada di depan pintu sedang menangis, Ravi meminta semuanya mendekat, memeluk keempat gadis yang sangat Ravi sayangi.
"Vira boleh meminjam nenek Winda, tapi jangan diambil lama-lama." Winda menangis sesenggukan, Ravi memeluk Winda yang selalu berbagi, jika salah satu kehilangan.
"Vira juga boleh menganggap Nenek kita menjadi nenek Vira, iya kan Bil." Bella menangis, Billa menggagukan kepalanya.
Kasih mendekat memeluk Vira yang tidak ingin berhenti menangis, Vira yang paling dekat dengan Halmeoni, sejak kecil dia selalu bermanja-manja, apapun yang dia inginkan selalu diberikan, saat Viana marah, Vira langsung mencari pertolongan melalui Halmeoni.
"Mommy, Daddy sudah tahu belum kak?"
"Belum, kita memberitahukan setelah sampai saja, nanti Mommy drop, kita harus mengutamakan kesehatan Mommy."
"Sudah jangan ada yang menangis lagi, kita cepat pulang, kalian bereskan baju kalian, sebentar lagi kita sampai pelabuhan." Tian mendekati Ravi.
Erik juga sudah memberitahu keluarga yang lain, jika ada masalah di perjalanan, langsung menghentikan pelayaran. Melihat Erik yang bicara tenang, tidak ada yang membantah langsung membereskan seluruh barang untuk turun dari kapal.
__ADS_1
Viana melihat wajah Erik yang menatapnya, Viana bisa mengerti Erik sedang bersedih. Melihat tidak ada yang ingin mengatakan kebenaran, Viana memilih diam dan mengikut saja.
"Mas, pasti ada masalah, Erik lebih terlihat sebagai seorang Dokter." Jum memasukkan baju ke dalam koper.
"Kita lihat saja nanti sayang, anak-anak pasti melakukan yang terbaik."
Kapal sudah tiba di pelabuhan, delapan mobil mewah sudah bersusun menunggu untuk menjemput, Tian sudah berbicara dengan seluruh supir, juga menghubungi Tim Jet untuk bersiap.
"Tian, ini daftar yang kamu inginkan." Karan menyerahkan sebuah map.
"Terima kasih Karan, kalian sudah banyak membantu."
Satu persatu mulai menuruni kapal, Vira geng sudah diam, langsung menuju mobil, Tian menyambut tangan Mommy sambil menundukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi Tian? kalian terlihat sekali sedang bersedih." Viana mengelus kepala Tian.
Langsung mengandeng tangan Rama untuk masuk ke dalam mobil, Reva Bima juga melihat keanehan, bahkan Vira geng yang biasanya berisik bisa keluar dengan tenang.
"Ya Allah semoga semuanya baik-baik saja." Reva menatap Bima khawatir.
"Jangan dipikirkan sayang, percayakan kepada anak-anak. Mereka bisa memilih yang terbaik."
Ravi masih berkumpul dengan yang lainnya, meminta Tim yang berada dikediaman bisa mengatur tempat, mereka masih membutuhkan waktu untuk bisa sampai.
"Kak, kita harus pergi sekarang, waktu kita tidak banyak." Wildan memberikan laporan.
Ravi langsung masuk mobil, melihat hasil laporan jenazah, keadaan grandpa juga sedang drop, lemah bahkan dirawat.
Saat kehilangan istrinya, grandpa hanya sendirian, keluarga Verrel juga sedang berada di luar Negeri, Tian sudah menghubungi untuk kembali, keluarga Verrel lebih membutuhkan waktu yang lama untuk sampai.
"Halmeoni maafkan kita tidak menemani saat terakhir, tunggu kami pulang, dan maafkan anak cucu Halmeoni." Ravi meneteskan air matanya, Kasih mengusap lengan Ravi.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***