SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
SEBUAH PENGORBANAN


__ADS_3

Rama menghela nafas melihat tawa Ravi dari balik layar dan melihat kearah Viana yang terduduk menangis, Rama tidak tega melihat wanitanya menangis tapi Viana harus sadar jika dia mempunyai Rama dan juga Ravi. Tidak bisa bertindak bebas seperti dahulu.


Bima mengendong Ravi, Bisma mengamankan para orang suruhan Abi, Ravi dibawa masuk ke dalam mobil disusul oleh Bisma yang langsung mengecek tubuh si kecil yang masih tertawa.


"Ravi, di mana yang sakit, kasih tahu uncle, Abi sialan! Dari kecil aku menjaga dia beraninya kalian menyentuhnya." Ucap Bisma kesal.


"Uncle berisik! Ravi laki-laki jadi harus kuat."


"Kenapa kamu tidak memukulinya,"


"Gimana caranya, dia tinggi sekali tubuh Ravi hanya sampai paha saja, mau memukul apanya." Ravi bicara dengan ekspresi lucu dan gerakan konyol di mata Bisma.


"Sia-sia uncle ajari kamu bela diri, ujungnya juga kamu lari."


"Uncle! tubuhnya besar, sedangkan Ravi apalah daya yang kurus dan kecil ini. Ravi harus berlari untuk mengulur waktu,"


"Ravi hari ini sangat hebat, berhasil keluar dari mobil dan bisa melawan orang yang jauh lebih besar dari Ravi."


"Iya uncle Bima, daddy selalu mengajari Ravi cara memahami gerakan orang, sebelum tidur daddy terus mengulanginya jadi Ravi paham membedakan orang disekitar Ravi. Dan kebetulan Ravi melihat mobil yang mencurigakan, demi keamanan bapak Asep juga Ravi lebih baik keluar."


"Mengapa Ravi menggunakan pulpen untuk menyerang,"


"Terus Ravi harus pakai apa? Ravi sekolah mana boleh bawa pisau dapur, masa iya Ravi bawa gergaji, atau cangkul memangnya Ravi tukang kebun." Rama kesal dengan pertanyaan Bisma, Bima hanya tertawa kagum dengan kecerdasan Ravi, sedangkan Bisma hanya mengomel dalam hati.


"Tapi serangan Ravi hebat ya, tepat sasaran." Ucap Bima yang disambut tawa oleh Ravi.


"Uncle Bisma yang mengajari Ravi, bagian dada dan bawah perut kelemahan, makanya Ravi manjat menancapkan pulpen ke dada."


"Ravi dodol itu kelemahan wanita bocah, laki-laki badan besar dadanya keras Lo tancep pakai pulpen." Tawa Bisma terdengar diikuti Ravi.


"Tapi tadi uncle dadanya lembut tidak keras, pulpen pemberian daddy masih di dadanya. Haduhhh Ravi lupa mengambilnya."


"Jangan-jangan dia perempuan Ravi," Bisma tertawa yang langsung dipelototi Bima, Ravi hanya mengerutkan keningnya binggung.


"Uncle Bima, tolong cariin pulpen Ravi, hadiah pertama dari daddy, Ravi ingin menjaganya."


"Iya nanti uncle cari, jika pulpen sangat berharga bagi Ravi."


"Sangat berharga uncle, kata daddy benda kecit yang kita anggap tidak berguna bisa menjadi penyelamat kita, tapi benda yang berguna bisa membahayakan kita, hari ini Ravi membuktikannya pulpen yang habis tintanya pasti langsung dibuang, tapi hari ini menyelamatkan Ravi."


"Kamu tahu benda berbahaya seperti apa?"


"Tidak tahu! daddy bilang seiiring berjalannya waktu Ravi akan mengetahui semuanya."

__ADS_1


"Daddy sangat mengajari kamu dengan baik, hilanglah sudah sosok mommy," sindir Bisma.


"Tidak Mommy nomor satu dalam hidup Ravi dan daddy,"


Bisma mengelus kepala Ravi penuh kasih sayang, dan Ravi langsung memeluknya. Pipi Ravi yang merah dan membengkak tidak dirasakannya.


"Ravi! sudah saatnya uncle pergi, Rama bisa menjaga kamu dan Viana. Aku ingin kembali dengan kehidupanku yang bebas." Batin Bisma.


***


Rama dan Viana mendengarkan suara kaki berlari, juga teriakan khas si kecil yang ceria dan heboh.


"Mommy daddy Ravi datang," Ravi memeluk Viana yang masih menangis, Ravi menghapus air mata mommy nya.


"Mommy! jangan menangis nanti Ravi juga sedih, mommy tidak boleh menangis." Ravi memeluk erat Viana yang juga memeluknya erat.


"Maafkan mommy ya sayang, mommy sayang Ravi."


Ravi tersenyum menciumi wajah Viana, dan langsung berlari mencari Rama yang masih duduk di tempat lain sambil menunduk.


Ravi langsung memanjang tubuh Rama dan sudah tertawa diatas gendongan Rama yang tertawa cekikikan.


"Aww..., daddy pipi Ravi sakit," Ravi memegang pipinya yang terasa membengkak.


"Roy, minta dokter Indri menunggu aku di rumah sakit."


Cepat Roy bergerak melaksanakan perintah Rama.


Rama keluar sambil mengendong Ravi dan menggenggam tangan Viana masuk ke mobil yang sudah ada Bima dan Bisma yang belum pergi.


"Ravi terluka ya Ram,"


"Iya kak, pipi Ravi membengkak, ke rumah sakit sekarang."


"Kenapa tidak bilang sama uncle, jika kamu terluka."


"Ravi tidak tahu, baru terasa sekarang."


"Daddy kepala Ravi sakit, mommy kepala Ravi kenapa sakit sekali?" Ravi memukul kepalanya dan Viana langsung menahannya sambil menangis.


"Ravi pejamkan mata, berdoa dalam hati, minta sakitnya diberikan keringanan, kamu tahan sebentar ya nak, daddy tidak akan membiarkan kamu terluka."


***

__ADS_1


Reva keluar dari gedung pameran, masuk ke dalam mobilnya dia tersenyum penuh kemenangan, Ririn kalah dan menyatakan VCLO berada didaftar teratas. Saham VCLO juga naik, Reva juga membawa desain nya sampai keluar negeri yang akan dipasarkan bulan depan.


Mobil Reva berhenti di depan lampu merah dan melihat Windy berjalan di trotoar sambil menundukkan kepalanya.


Beberapa anak remaja mengejek Windy membuat nya berlari, Reva melajukan mobilnya dan berhenti coba mengejar Windy yang masih menangis.


"Windy! Ayo ikut tante,"


Windy menggelengkan kepalanya, meminta Reva pergi dan jangan memberitahu Papi nya soal apa yang tadi Reva lihat.


Ririn berada di sana melihat pembicaraan Reva dan Windy sambil tertawa sinis.


"Reva! kamu mencintai Bima tapi sayang kamu tidak akan pernah bersatu. Aku akan membuat Bima membenci kamu, karena anaknya mati."


Windy melihat lampu sudah berwarna hijau, langsung berlari menyebrang jalan, Ririn menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk menabrak Windy.


Reva melihat Ririn dari kejauhan menatap tajam Windy, Reva sudah menebak pikiran Ririn, tanpa berpikir panjang Reva ikut berlari mengejar Windy dan mendorong tubuh Windy kuat dari pinggir jalan.


Windy yang kaget langsung melihat kearah jalan, Reva sudah terlempar jauh, mobil yang menabraknya melarikan diri.


Bodyguard yang dikirim Rama terbagi dua ada yang menyelamatkan Reva, dan mengejar mobil Ririn.


"Mami maafkan Windy, seharusnya tadi Windy mendengarkan ucapan mami, Papi tolong Mami Reva." Tangisan Windy berteriak kuat memeluk erat Reva yang sudah tidak sadarkan diri.


Tubuh Reva langsung diangkat, Windy ikut menggenggam tangan Reva yang penuh darah.


***


Tawa Ririn terdengar penuh kemenangan, dia sangat bahagia bisa menabrak Reva diluar sasarannya.


"Reva mati, Viana gagal, Rama juga gagal, Ravi terluka. Kalian semua hancur dan tidak akan pernah bahagia."


Rama mendapatkan panggilan dari pengawal Reva soal kecelakaan, Rama melihat wajah Bima yang masih fokus menyetir.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE


FOLLOW IG AUTHOR YANG MAU NGOBROL BARENG BOLEH DM


__ADS_1


__ADS_2