
Suara tangisan twins terdengar, Vira kerepotan sendiri mengurus dua bayi yang menangis bersamaan.
Winda hanya cekikikan tertawa, merasa puas melihat Vira kerepotan sendiri mengurus bayi kembar.
"Terus tertawa, tidak setia kawan sama sekali." Tangan Vira memukul kesal, langsung ingin menangis.
Kasih masuk langsung menggendong satu bayi, meminta susu ASI yang sudah ada di botol, memukul kepala Winda dengan botol susu.
"Sakit kak." Winda mengusap kepalanya.
Kasih mendiamkan Vio, memberikan susu agar berhenti menangis. Vira mengucapkan terima kasih kepada kakak iparnya.
Tatapan Kasih tajam, ada hal yang mengganjal pikirannya. Vira dan Winda bisa melihat perubahan ekspresi Kasih.
"Win, kamu tahu jika perempuan itu tidak lumpuh?" tatapan Kasih tajam ke arah Winda yang tersenyum menganggukkan kepalanya.
Sejak pertama melihatnya Winda sudah bisa menebak jika Dewi tidak cacat, dia bisa berjalan terlihat dari kakinya yang menggunakan alas kaki yang ada bekas rumput.
"Kalian membicarakan Tante Lin? lalu bagaimana kabar Lin anaknya Maria?"
"Mafia, bukan Maria." Winda menghela nafasnya sedikit merasakan khawatir.
"Lin cucu mafia, tapi belum tahu pasti sebelum menemukan Dewi. Dia yang mengetahui asal-usul keluarga Lin." Kasih juga merasa cemas melihat status keluarga Lin.
Bella muncul menghela nafasnya berkali-kali, perasaan Bella tidak enak jika keluarga mereka juga ikut terlibat dalam urusan Lin.
"Kenapa Lin tidak diserahkan saja? kak Stev tetap akan mengambil Lin sekalipun harus melawan Kakek Lin." Kekesalan terlihat dari wajah Bella, berniat menolong orang, tapi bisa membahayakan keluarganya.
Billa juga muncul, status Lin sudah jelas cucu kandung mafia terkenal. Cepat atau lambat, Lin harus dikembalikan.
"Apa status Lin tidak bisa ditutupi? bagaimana jika dia menjadi wanita jahat?" Ekspresi Winda binggung, antara kasihan kepada Lin, tapi keselamatan keluarga jauh lebih penting.
Kasih menggelengkan kepalanya, tidak ada cara untuk menghindar lagi. Dewi bukan wanita bodoh, buktinya dia berani menyingkirkan kakak kandungnya, bahkan satu keluarga.
Seandainya Dewi memiliki hati tidak mungkin dia bisa melangkah sejauh sekarang, gagal membunuh Lin karena dilindungi oleh keluarga, pasti Dewi punya rencana lebih jahat lagi.
"Kita akan segera berurusan dengan keluarga mafia."
"Aku setuju dengan kak Kasih, tidak ada pilihan untuk mundur. Dewi akan mengadu domba keluarga kita dengan mafia itu." Senyuman sinis Vira terlihat, meletakan putrinya yang sudah tidur kembali.
"Bagaimana tanggapan kak Stev dan Windy?" Kasih yakin pasti Steven tidak akan melepaskan Lin.
Winda melipat tangannya di dada, jika bertanya tanggapan Steven sudah pasti membuka tangannya, menyambut baik.
"Kak Stev mempertahankan Lin, kita semua tahu jika kak Stev sudah mengambil keputusan tidak akan dia ubah." Billa meminta semuanya tenang dan melihat akhirnya.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar, Vira mempersilakan masuk. Wildan tersenyum melihat kedua putrinya yang sudah tidur.
Sebuah foto jatuh, Kasih langsung mengambil dan melihatnya. Tatapan mata Kasih tajam, melihat Wildan mengambil kembali foto.
"Apa dia kakeknya Lin?"
"Kak Kasih mengenalinya?" Wildan penasaran melihat ekspresi Kasih, menyerahkan kembali foto.
"Tidak, aku tidak mengenalnya." Kasih menyerahkan Vio, langsung melangkah keluar untuk menemui suaminya.
Tatapan Bella dan Winda langsung tajam, mengikuti langkah kaki Kasih. Melihat dari ekspresi Kasih mengetahui sesuatu.
"Mommy, Asih lapar."
"Nanti Asih, mommy cari Daddy dulu." Kasih melewati putrinya yang sudah membawa piring.
Wajah Asih langsung kesal, melihat Winda ingin minta makan, tapi dilewati begitu saja.
"Kenapa sih? Asih pengen makan." Rasih berjalan ke meja makan, tapi tidak sampai, naik ke atas kursi dan tidak ada makanan.
Senyuman Asih terlihat, langsung berjalan keluar, membuka lift ingin turun ke bawah untuk mencari makanan.
Pintu lift tertutup, seseorang menahannya dan melangkah masuk bersama Asih. Tatapan Asih langsung tajam melihat senjata di balik baju.
Mata Asih tidak berkedip sedikitpun, pintu lift terbuka. Seseorang masuk langsung berdiri di depan Asih membuatnya terpojok.
Di setiap lantai ada satu orang yang masuk sampai akhirnya tiba di lantai dasar, Asih tidak bisa keluar.
Tidak ada satu orangpun yang keluar padahal pintu sudah terbuka, seseorang melakukan panggilan mengatakan jika mansion keluarga ada di lantai paling atas, dan dikhususkan untuk keluarga tanpa ada tamu hotel.
Jantung Rasih berdegup kencang, jika ada yang peka pasti orang yang masuk bersamanya menyadari jika Asih keluar dari lantai atas.
"Keberadaan kita sudah diketahui oleh pengawal, Wildan sudah menutup seluruh jalur keluar." Lift ditutup kembali saat beberapa pengawal bergerak.
Suara tawa terdengar, dia tidak akan pergi sebelum salah satu keluarga Bramasta ataupun Prasetya terluka.
"Ravi, Wildan, Ar, Stev kalian cari mati. Anak, suami, ibu bahkan kakak lelaki yang aku cintai bisa aku singkirkan, apalagi kalian yang hanya anak-anak orang kaya." Dewi tertawa mengeluarkan sebuah belati kecil.
Mata Asih melotot, tubuhnya terasa keras dan rasa lapar langsung hilang. Bayangan ayam goreng langsung lenyap dari kepalanya.
Piring yang dipeluknya mulai retak, karena memeluk terlalu kuat. Bibir Asih rasanya ingin bergetar langsung mengigit piring.
"Daddy Mommy Asih takut." Batin Asih yang ingin menangis.
Sebuah tangan mengusap kepala Asih, menutupi tubuh kecilnya agar tidak terlihat. Tatapan Rasih memperhatikan tubuh wanita yang ada di depannya.
__ADS_1
Di mansion Ravi sudah marah-marah melihat putrinya tidak ada di dalam Mansion, Kasih langsung ingin berlari keluar.
"Jangan keluar Kasih, Dewi ada di sini."
"Nyawa putriku dalam bahaya Ravi, kamu pikir aku bisa diam saja."
"Mereka semua ada di lift, termasuk Asih." Wildan meminta lift segera di matikan.
Belum selesai Wildan bicara, Billa sudah mematikan listrik seluruh bangunan. Ravi langsung berlari keluar.
"Wil, jangan gegabah katakan pada Ravi ada Asih didekat mereka."
"Kabari Wildan kak Ar perkembangan di sana." Wildan berlari keluar.
Kasih juga keluar diikuti oleh Winda dan Bella yang sudah menyembunyikan senjata.
Nyali Dewi cukup besar sampai nekat datang untuk menyakiti, dia tidak tahu siapa lawannya.
Teriakan terdengar saat lift berhenti, Dewi memukul kuat dengan penuh kemarahan. Lift terbuka, seluruh lampu kembali hidup.
Puluhan senjata sudah diarahkan, Dewi tertawa melihat Ravi yang terlihat marah.
"Kak Ravi tahan." Wildan menepuk pundak Ravi yang sulit menahan emosinya.
Dewi melangkah keluar perlahan, beberapa bawahnya juga perlahan melangkah sambil mengangkat tangan ke atas.
Tendangan kuat menghantam tubuh Dewi, Kasih melayangkan pukulan bertubi-tubi, mencekik kuat dengan penuh kemarahan.
Bella menahan Kasih, memintanya untuk berhenti dan tenang. Suara tembakan terdengar, Dewi tersenyum melihat seseorang menembak Kasih.
Winda terlempar, tangannya mengeluarkan darah. Puluhan orang berbadan besar menarik Dewi dan membawanya pergi.
Suara tawa Winda terdengar, melihat tangannya berdarah karena melindungi Kasih langsung melayangkan pukulan ke wajah pria yang melepaskan tembakan.
"Kalian cari mati."
"Kalian jangan ikut campur, jika terbukti ada Putri Delon kalian akan hancur."
"Katakan kepada pimpinan kalian, jika dia memang mafia yang terkenal. Temuin kami secara langsung, ambil cucunya jika dia memiliki dua nyawa." Winda tersenyum sinis, mengarahkan senjata di kepala.
***
DONE DUA BAB, GEMES INGIN LANJUT BAB KETIGA, TAPI BUAT BESOK AJA.
LIKE COMENT YA.
__ADS_1