
Suara motor trail mini yang Erik gunakan berhenti, Erik melihat Tian berada dipangkuan Bella yang terus menangis. Erik melihat luka tembak Tian yang berada dipunggung, Tama menghubungi Ravi untuk membawa mobil, sebelum pergi Ravi menarik rambut Wildan agar bangun dan ikut dengannya.
Sesampainya di lokasi, Ravi sangat marah melihat Tian terluka. Wildan melihat para wanita dengan tatapan marah.
"Puas kalian, kenapa harus jadi beban, jika tidak bisa melindungi setidaknya jangan menyusahkan." Wildan menggakat dagu Winda, menarik Bella berdiri, Billa juga menangis terisak. Vira juga tidak bisa menahan kesedihannya, juga takut dengan kemarahan Wildan yang sangat menyakiti hati.
Bella dan Billa terus menangis, Erik memasang alat pernapasan untuk membantu Tian. Mengangkat ke dalam mobil, Ravi memijit pelipisnya.
"Kalian berempat kembali ke rumah utama, sebentar lagi subuh, orang tua pasti akan mulai bangun, bersikaplah tidak terjadi apapun." Ravi meminta Vira geng pulang.
"Kak Tian!" Bella terus menangis.
"Kembali sekarang Bella, urusan Tian biar Erik. Kami yang akan mengatur cara memberi tahu Bunda." Wildan membentak Bella yang langsung melangkah berlari bersama Vira, Winda dan Billa.
"SIAL....!" teriak Ravi kuat, Kasih coba menenangkan Ravi.
"Kita sibuk mengawasi perumahan, mereka menyerang rumah utama, memancing empat bocah nakal keluar."
"Kita ke rumah sakit, melihat keadaan Tian. Minta juga Tim kita bergerak untuk mengawasi, kita yang akan menyerang balik, akan aku hancurkan kalian sampai ke akar kakek paman Sialan."
Wildan lebih marah lagi, Tian tertembak oleh orang suruhan ibu kandungnya sendiri, wanita gila yang menikah dengan Paman dari Rama yang sukses saat keluar dari penjara melarikan diri sampai akhirnya menjadi bandar narkoba.
Lima tahun yang lalu, Brit dan kakek Ravi dari ayahnya menyerang Winda, untuk membalaskan kebenciannya terhadap Reva tapi Ravi dan Wildan berhasil menghentikan. Tapi sekarang mereka lebih besar lagi, musuh lama Viana, dendam lama yang belum tuntas, belum lagi musuh Reva dalam bisnis yang banyak dia hancurkan menyimpan dendam untuk anak mereka.
Ravi coba untuk menjaga keutuhan keluarga, ingin melihat kedua orangtuanya hidup tenang dan bahagia sehingga dia dan Wildan membentuk organisasi untuk mengawasi orang yang terlibat pertengkaran dengan orang tua mereka. Berkali-kali kegagalan, tapi semakin besar juga rasa benci, kini batas kesabaran Ravi habis, dia tidak pernah menyerang hanya menjatuhkan tapi melihat satu keluarganya terluka, tidak akan pernah Ravi biarkan.
Sesampainya di rumah sakit, Tama berdiri dengan keadaan gelisah, Erik juga menggunakan baju kebesarannya masuk ke dalam untuk mengeluarkan peluru. Semuanya diam, Wildan sibuk sendiri, pembalasan untuk rasa sakit Tian akan berlipat-lipat lebih kejam dari sebuah ancaman.
Wildan mengerakan tim untuk mengepung seluruh orang yang terlibat, tidak akan ada yang bisa keluar dari kota, bersembunyi akan menjadi pilihan terbaik.
Ravi mengecek ponselnya, melihat Wildan yang sudah marah, bahkan puluhan orang sudah kehilangan saham dalam beberapa menit, ini yang Ravi takutkan, Wildan memang sangat tenang, dingin, tapi jika sedikit saja keluarganya tergores siapapun akan dia hancurkan.
Sikap dingin Bima memang turun ke Wildan tapi sikap licik dan penuh amarah Reva juga menguasai Wildan jika menyangkut orang yang penting untuknya.
Kasih masih mendampingi Ravi, mengelus lengan Ravi agar bisa menenangkan Wildan. Dia masih muda dan labil, belum bisa berpikir jernih jika emosi menguasainya.
__ADS_1
"Ravi, tegur Wildan."
"Wildan, tenanglah Tian pasti akan selamat."
"Sebelum aku mendapatkan kabar Tian selamat, akan aku buat mereka semua jatuh miskin, datanglah kehadapan ku, mereka harus bersujud sampai aku melepaskan mereka, bahkan nyawa mereka tidak bisa mengembalikan setetes darah kakaku."
"Papi kamu bisa tahu, Uncle Bisma juga pasti akan cepat tahu. Kamu baru hidup 17 tahun tapi mereka sudah sejak muda berurusan dengan bisnis, jangan bongkar identitas kamu Wildan, kasihan Tian yang selama ini melindungi adiknya."
Wildan langsung berhenti, diremasnya kuat tabletnya.
"Aku janji akan menemukan nenek peot, juga kakek peot. Dalam hitungan hari dia akan ada dihadapan kita. Selama ini kita terlalu baik membiarkan mereka."
"Siapa sebenarnya orang yang menyerang?" Kasih yang penasaran akhirnya bersuara.
"Ibu kandung Tian, dan paman Daddy."
"Ibu kandung, jadi Bunda Jum."
Kasih langsung diam, rasa kagumnya semakin besar dengan hubungan keluarga Bramasta dan Prasetya. Ikatan yang melihat ikatan darah, hubungan yang melebihi persaudaraan.
***
"Tian di mana mas, perasaan Jum tidak enak. Ini sudah siang mereka belum ada yang kembali." Jum langsung menangis.
Rama mengangkat ponselnya, panggilan dari Ravi membuat Rama mengucapakan istighfar.
"Kita ke rumah sakit sekarang?" Rama membisikan sesuatu untuk Bima, Bisma, dan Ammar yang lainya sudah kembali ke rumah masing-masing.
Bisma langsung cepat berlari, coba untuk tenang, Jum berkali-kali bertanya tapi Bisma terus mengelak. Viana dan Reva saling pandang, melihat putri mereka matanya sembab semua.
Semuanya meluncur ke rumah sakit, tiba di sana, semuanya menatap tidak ada Erik dan Tian. Hanya ada Ravi yang menunduk, Wildan dan Tama yang hanya terdiam hanya Kasih yang mempersilahkan duduk.
"Di mana Tian?" Jum meneteskan air matanya, Kasih menunjuk ke dalam."
"Tian kenapa?"
__ADS_1
Kasih menatap Ravi, tidak ada yang memberikan jawaban. Perasaan Jum makin gelisah tangisan dan teriakan mulai terdengar.
Ravi berdiri dan memeluk Jum, tangan Jum memukuli dada Ravi. Kasih langsung meneteskan air matanya.
"maafkan Ravi ya Bunda, Ravi tidak bisa menjaga Tian. Tapi Bunda tolong tenang, Ravi takut Bunda akan semakin terluka."
"Katakan ke Bunda Tian kenapa?"
"Kita tunggu Dokter keluar ya Bunda." Ravi tidak menahan kesedihannya, Bunda Jum salah satu wanita lembut yang Ravi sangat Ravi jaga perasaannya.
"Erik, di mana?"
"Erik juga di dalam Aunty, tapi tolong jangan marah jika kalian melihat kebenaran tentang Erik."
Ravi membawa Jum untuk duduk dan menenangkannya, sudah delapan jam belum ada tanda operasi selesai.
Bunyi pintu terbuka, seorang Dokter keluar. Memberikan hormat kepada keluarga korban, semuanya terdiam tidak ada yang mengeluarkan suara.
Ravi maju menatap Dokter, Wildan juga maju menunggu berita yang akan Dokter sampaikan.
"Bagaimana Dok keadaan kakak saya?" Wildan yang memulai pembicaraan.
"Dia mengalami koma...." Belum selesai Dokter bicara, Jum langsung jatuh pingsan, Bisma langsung menangkap istrinya.
Reva langsung terduduk dilantai karena dengkulnya lemah, Bella juga jatuh pingsan yang duduk di kejauhan. Ravi langsung mengumpulkan tangannya, Wildan wajahnya sudah gelap menyimpan kemarahan..
Tidak lama Dokter muda keluar, melihat keluarga semuanya menangis. Beberapa keluarga kaget melihat sosok pemuda yang keluar menggunakan jas putih.
"Erik!" Ammar menatap putranya tajam.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE, TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***