SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 BANGUN


__ADS_3

Pagi-pagi sudah ribut karena kedatangan tamu yang Vira tunggu, Dewa tersenyum menatap Vira mempertanyakan keberadaan Wildan.


"Ada perlu apa kak Dewa?"


"Ada hal penting yang ingin aku pertanyakan."


"Emhhh, ingin minum apa? Vira bisa membuat susu cinta, jus perhatian, juga air dingin penuh kehangatan." Vira tersenyum mempersilahkan Dewa duduk.


Dewa tidak mengerti apapun yang Vira katakan, Bella muncul menatap tajam Dewa yang langsung tersenyum manis melihat Bella.


"Hai Bel." Dewa mengulurkan tangannya.


"Berikan saja dia minuman kematian Vira, agar tidak muncul lagi."


"Enak saja, kak Dewa membutuhkan minuman kasih sayang." Winda membawakan secangkir minuman.


Dewa mengucapkan terima kasih, tatapan lembut Dewa hanya tertuju kepada Bella yang sedang duduk mengawasi kantornya hanya melalui tablet.


Vira langsung melangkah ke lantai atas, menuju kamar Wildan yang belum keluar juga sejak malam.


Winda menatap wajahnya di kaca, melihat dirinya yang sangat cantik, tetapi kenapa Dewa tidak memperhatikannya.


"Siapa jodoh Winda? dari dulu tidak pernah mendapatkan seseorang yang sesuai. Lebih seringnya bertemu dengan benalu." Winda menatap Yusuf yang ingin pergi ke kantor.


"Kamu ingin pergi ke mana amin?


"Kantor."


"Pagi sekali?"


"Iya, karena perjalanan hampir dua jam."


"Winda ikut, tunggu di sini. Jangan pergi dulu, jika tidak ingin mobil kamu aku bakar." Winda mengancam Yusuf yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Vira membuka kamar Wildan, melihatnya masih tidur nyenyak di ranjang.


"Tumben dia belum bangun, biasanya bangun pagi, kecuali ...." Vira duduk di pinggir ranjang, menyentuh kening Wildan takutnya sakit.


"Sehat, tidak panas." Vira meletakkan tangannya di leher Wildan.


"Wil, Wildan bangun. Ayo bangun Wil, ada Dewaku mencari kamu." Vira menepuk pelan pipi Wildan.


Kedua tangan Vira ditahan, kedua mata Wildan terbuka menatap wajah Vira yang sangat dekat.


"Aku sudah bangun dari tadi?"


"Bohong, kamu tidak sholat ya? sudah mandi belum?" Vira mencium tubuh Wildan.


"Wangi, ketek kamu juga wangi." Vira tertawa memukul dada Wildan memintanya bangun.


Wildan langsung menutup dadanya dengan menyilang kedua tangannya, Wildan meminta Vira mundur jangan terlalu dekat.


"Ayo bangun, ada Dewa mencari kamu."


"Katakan saja aku sibuk."


"Sibuk apa kamu asik tidur."

__ADS_1


Wildan menarik selimutnya langsung menutup kepalanya dengan selimut, Vira teriak memukuli Wildan menariknya untuk bangun.


"Ayo bangun." Vira menarik tangan Wildan sekuat tenaganya.


Wildan menarik tangannya, membuat Vira jatuh ke dalam pelukannya. Vira menarik selimut , tapi masih gagal.


"Kuat sekali tenaganya, awas kamu Wildan." Vira berdiri di atas ranjang, langsung lompat-lompat sambil tertawa, menendang tubuh Wildan.


"Vira." Wildan membuka selimutnya langsung menendang kaki Vira sampai jatuh di atas tubuhnya.


Wildan langsung membalikan posisi mereka, tatapan mata Wildan tajam melihat mata Vira. Senyuman Vira terlihat menyentuh hidung Wildan, menyentuh alis dan bulu matanya.


"Vira menyukai hidung, bulu mata, juga alis, kamu terlihat tampan Wil."


"Lalu bisa tidak berhenti menyebut nama Dewa."


"Dewa hidung, mata, bibir, alis, pipi, juga tubuhnya. Vira menyukai semuanya." Vira mendorong Wildan yang tersenyum sinis.


"Ayo Wildan kita keluar."


"Duluan saja, nanti aku menyusul."


"Awas kamu lama." Vira tertawa langsung keluar.


Wildan duduk di pinggir ranjang, menyentuh dadanya yang terasa tidak nyaman.


"Perasaan apa ini, aku tidak menyukai perasaan yang membuat sesak." Wildan langsung melangkah ke kamar mandi, menguyur tubuhnya dengan air menghilang perasaannya yang aneh.


Dari lantai dua Vira cemberut melihat Dewa tertawa mendengarkan ucapan Bella yang jutek.


Cukup lama Dewa menunggu Wildan yang akhirnya muncul di lantai atas, menatap tajam Dewa dan Vira yang mengobrol bersama.


"Ada perlu apa?"


"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan?"


"Dewa, aku tidak ingin ikut campur dengan urusan kamu juga keluarga kamu. Jangan berharap aku akan membantu kalian."


Vira langsung berdiri mendekati Wildan mencubit perut Wil yang sudah berjanji akan membantunya mendapatkan Dewa.


"Kak Dewa, Wildan akan membantu dengan syarat kalian harus ...." Vira cemberut, belum selesai bicara Wildan melangkah pergi meminta Dewa mengikutinya.


Bella langsung tertawa, bisa merasakan kekesalan Wildan karena tingkah Vira.


"Vira, berhentilah melibatkan Wildan dalam perjalanan cinta kamu."


"Kak Bel, tanpa Wildan tidak mungkin Vira bisa mendekati Dewa."


"Kamu sedang mencari keuntungan untuk diri kamu sendiri Vir." Bella menatap serius.


Wildan membuka pintu, Dewa langsung masuk sambil tersenyum. Wildan duduk diam menatap Dewa yang matanya berkeliling melihat teknologi canggih Wildan.


"Cepatlah bicara, aku tidak mempunyai banyak waktu?"


Dewa duduk dihadapan Wildan menyerahkan sebuah jaringan yang berhasil Dewa lacak, dugaan Wildan benar ada masalah besar di desa yang sudah dia bangun.


"Wil, kamu juga tahu akibatnya apa? anggap saja kita saling menguntungkan. Kamu bisa menjaga desa yang kamu bangun, sedangkan aku berhasil mengungkap kejahatan dan mengembalikan nama baikku, meskipun tidak bisa sepenuhnya.

__ADS_1


"Tidak ada yang tersisa dari kebakaran Mansion Ayah kamu?"


"Tidak ada satupun."


"Bukan tidak ada, karena kenyataannya semua bukti tidak ada di sana." Wildan tersenyum sinis.


Dewa langsung berdiri, menatap tajam mata Wildan yang tidak menunjukkan sedikitpun rasa bersalah.


"Rahasia mereka ada di desa ini?"


"Iya, alasan aku membangunkannya bukan untuk bisnis, tapi menemukan barang bukti. Ayah kamu cukup hebat, jika kita menemukan buktinya pemimpin aslinya akan kita ketahui."


"Kenapa kamu diam saja? seharusnya kamu bertindak cepat."


Wildan menggelengkan kepalanya, tidak semudah yang Dewa pikirkan. Menemukan kebenaran tidak semudah membuat masalah.


"Pergilah, kemampuan kamu masih terlalu lemah."


Wildan menepuk tangannya, pintu terbuka. Dewa melangkah perlahan langsung menatap Wildan kembali.


"Tidak bisakah kamu mempercayai aku Wil?"


"Jangan percaya dengan siapapun Dewa, kamu tidak tahu jika kehancuran bukan karena kalah, tapi karena dikhianati. Seharusnya kamu juga mencurigai Randu."


"Randu."


"Iya, dia memiliki kemampuan meretas komputer, lebih parah lagi dia menggunakan identitas kamu. Hanya orang tertentu yang bisa mengetahuinya."


Dewa menatap tajam, tidak mempercayai keterlibatan Randu.


"Aku mempercayai Randu." Dewa langsung melangkah pergi.


"Satu hal lagi, jauhi kak Bella. Jangan jatuh cinta padanya, karena aku tidak akan membiarkannya." Wildan membelakangi Dewa yang langsung melangkah pergi.


Wildan mengetuk jari telunjuknya, menghidupkan beberapa layar yang langsung mendeteksi Dewa.


Wildan menemukan banyak kebenaran soal Dewata yang memang sangat bersih, tidak pernah keluar dari jalurnya.


"Siapa Randu?" Wildan menatap Vira yang menatapnya sinis.


"Ada apa lagi?"


"Winda meledakan lab Yusuf." Vira langsung meringis sedih, melihat kebakaran di gedung laboratorium milik Yusuf.


Wildan langsung mendekati Vira, memintanya diam di rumah. Wildan langsung mencari kunci mobil.


"Siapa yang terluka Vira?" Bella menghentikan Wildan yang mengkhawatirkan adiknya.


"Winda dan Yusuf di dalam lab."


"Bisa tidak Win sekali saja kamu tidak membuat aku khawatir." Wildan berlari keluar.


Bella menatap punggung Wildan langsung mengejarnya, Vira juga berlari mengejar.


"Apa mungkin Dewa sengaja mengalihkan perhatian kita, lalu membahayakan Winda. Bella menatap Wildan dan Vira.


***

__ADS_1


__ADS_2