SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KEPANIKAN RAVI


__ADS_3

Suara kucing semakin ramai di dalam rumah kecil, Kasih kesulitan menggendong kucing yang sangat gemuk. Kasih sangat suka melihat rumah kucing, di sana juga banyak ruangan terpisah untuk perawatan kucing.


Setiap kucing memiliki kandang dan tertera nama di setiap kandangnya. Kasih ingin sekali tertawa, di sini semua kucing namanya ular.


"Ravi! kenapa nama mereka ular!" Kasih mendekati Ravi yang sedang menuangkan makanan di setiap kandang.


"Tidak punya alasan! suka saja." Ravi mengigat kucing pertamanya, yang sudah meninggal.


"Mereka sakit apa?" Kasih mendekati kandang kucing yang dalam proses perawatan.


"Mereka ditemukan sudah terluka, dan proses penyembuhan." Ravi mendekati Kasih yang mengelus kepala kucing.


"Kasihan, cepat sembuh ya."


"Kamu suka kucing? tapi cinta sangat takut kucing."


"Setiap orang berbeda,"


"Iya, cinta gadis yang lembut dan halus, sedangkan kamu mirip orang gila." Ravi langsung menghindar dari pukulan Kasih.


"Belum juga selesai ngomong, tangannya sudah melayang."


"rumah kucing, bersambung dengan rumah siapa?"


"Rumah Rama Prasetya dan Viana Arsen." Ravi menahan tawa, mendengar Kasih hanya mengucapkan OHH.


"Di sini ada dokter?"


"2hari sekali dokter pribadi khusus hewan datang, setiap hari ada tiga yang merawat kucing, dan dua yang menginap. Mereka tidur dilantai atas, tapi hari ini izin pulang."


"Semua kucing ini, hasil kamu ketemu dan bukan jenis kucing yang diperjual belikan."


"Iya, mereka hewan yang tidak diinginkan. Karena aku sibuk kerja, tidak mungkin juga puluhan kucing dibawa pulang. Jadinya merawat mereka di sini."


"Jika ada yang membelinya?"


"Tidak diperjualbelikan, jika memang suka kucing silahkan diambil." Ravi tersenyum.


Kasih melihat sosok lain dari Ravi, playboy cap kaki tapi hatinya lembut juga. Melihat adik Ravi yang suka bertarung dan membuat masalah, sangat beda dengan Ravi yang terlihat tenang dan jahil.


"Aku pulang!" Kasih langsung berlari ke luar tanpa mendengarkan teriakan Ravi.


Pulangnya Kasih, membuat Ravi juga memutuskan pulang dan menutup pintu rumah kucing. Di teras Ravi melihat lukisan dan di sana tertulis nama Kasih Amora Rahmat.


"Nama yang cantik, seperti orangnya." Ravi tersenyum dan membawa pulang lukisan kucing milik Kasih.


Sampai di rumah Ravi membingkai lukisan dan meletakkan di kamarnya. Lalu Ravi membersihkan dirinya.


***


Keluarga Prasetya bersiap untuk makan malam bersama, Vira yang sedang mengikuti kemah pulang dengan pakaian acak-acakan. Rama langsung bangkit dan melihat keadaan putrinya yang babak belur, Viana menggakat wajah putrinya sambil menghela nafas.

__ADS_1


"Kenapa wajah kamu Vira?" Rama bicara dengan nada tinggi.


"Berantem Daddy!" Vira meletakan tasnya, langsung berlari memeluk Ravi yang baru turun dari tangga.


"Siapa yang menyakiti kamu, bilang ke kakak?" Ravi menangkup wajah Vira yang sedang menangis.


"Kak maafkan Vira! sungguh Vira tidak sengaja."


"Ada apa Vira? jangan buat kakak khawatir, di mana kamu yang sakit. Kita ke rumah sakit sekarang." Ravi terlihat panik melihat Vira yang tidak biasanya.


Rama ingin mendekat tapi ditahan oleh Viana sambil menggelengkan kepalanya, Viana sangat mengenali putrinya. Vira tidak akan pulang dengan menangis, dia wanita kuat dan arogan tidak mudah mengeluh.


"Kak Kasih!" Vira langsung berjongkok dan semakin kuat menangis.


"Kasih! kenapa dengan Kasih?" Ravi semakin panik, dia tidak tahu perasaan sangat cemas setelah mendengar nama Kasih.


"Vira sama twin juga Winda pulang bersama, tapi di jalan kita di rampok preman. Terus Vira telpon Kak Kasih dan meminta bantuan."


"Kenapa tidak menelpon kakak? lalu di mana Kasih?"


"Preman menggunakan senjata!"


"Vira jawab Kasih di mana!?" Ravi teriak dengan mata tajam, menahan kedua bahu Vira.


Untuk pertama kalinya Vira melihat kakaknya marah, mata Ravi lebih mirip mommy kalau marah. Niat mengerjai Ravi langsung membuat lutut Vira lemas. Mendadak Vira takut menghadapi kakaknya yang biasanya selalu menjadi korban kejahilan Vira.


"Kakak jangan marah sama Vira!" sekarang tangisan Vira sudah tidak bercanda lagi, dia benar-benar takut.


"Kak Kasih baik-baik saja, dia tidak terluka?" Ravi bicara selembut mungkin menghadapi Vira yang semakin takut.


"Kak Kasih!" Vira menudukan Kepalanya.


"Ya sudah." Ravi mengelus rambut Vira, tidak ingin mendengar lagi ucapan Vira yang selalu putus.


"Daddy bawa Vira ke rumah sakit, Ravi pergi dulu." Ravi menyalami kedua orangtuanya, dan langsung berlari keluar.


Viana menatap Vira, Rama juga menatapnya tajam. Vira hanya tersenyum.


"Kamu mengerjai Ravi lagi Vira?"


"Iya Daddy, tadi Vira pulang ke rumah aunty Jum. Lihat kak Ravi sama kak Kasih lagi gendong, bilangnya tidak suka tapi ketemu terus."


"Ravi Ravi, jika dia tidak suka Kenapa mendadak khawatir?"


"Mommy bilang juga apa pesona wanita galak memang mampu menaklukkan lelaki seperti Ravi dan Daddy."


"Suami Vira nanti juga seperti uncle Bima, dingin pendiam tapi penuh Kasih sayang."


"Kenapa tidak mirip Daddy saja Vir?"


"Vira sudah mirip Daddy tidak mungkin suami Vira juga harus mirip Daddy."

__ADS_1


"Terserah kamu Vira! sekarang baju kamu mengapa sobek semua, rambut acak-acakan."


"Memang Vira sobek Dad, biar nanti bisa beli baju baru." Vira langsung berlari ke kamarnya.


"Lihatlah anaknya Daddy, semuanya mirip daddy." Viana tertawa dan langsung melangkah pergi ke ruang makan.


"Ya Allah, setiap hari pasti ada saja drama di rumah ini." Rama menggelengkan kepalanya.


***


Ravi pergi ke rumah kasih tapi ternyata sudah pindah, Ravi langsung menghubungi Tama kakak Kasih dan menanyakan sekarang tinggal di mana. Sejalan-jalan Ravi mengumpat, mereka sekarang satu kompleks hanya beda jalur.


Sampai di rumah Tama, Ravi langsung masuk dan bertemu Tama yang memang ingin pergi.


"mencari Cinta, tapi tadi keluar sama Erik."


"Kasih! di mana Kasih?"


"Kasih di rumah sakit!"


"Apa? Kasih terluka, di mana rumah sakitnya. Cepatlah Tama katakan rumah sakitnya."


"Sabar Vi, aku juga mau pergi menyusul sekarang, jangan teriak-teriak."


"Ayo cepat!"


"Tunggu! kenapa kamu bisa kenal Kasih?"


"Tidak penting Tama! ayo cepat."


"Jangan coba-coba kamu menjadikan Kasih pacar kamu apalagi selingkuhan, kasih masih polos."


"Polos, dicium tidak nolak."


"Apa Vi!?" Tama menatap Ravi tajam, yang langsung berlari keluar.


***


BANYAK YANG TANYA SOAL ANAK MEREKA, DI SINI TIDAK DI JELASKAN. KARENA MEREKA SUDAH BESAR SEMUA. MAU JELAS SOAL ANAK MEREKA, BACA DI MENGEJAR CINTA OM DUREN.


YANG TANYA BIMA REVA KAPAN UP.


Silahkan klik profil, di sana Reva Bima judulnya mengejar cinta Om Duren.


DETAILNYA WINDA, TIAN, ERIK, BILLA DAN BELLA NANTI MUNCUL DI SEBELAH, DI SINI HANYA MENCERITAKAN MASA DEWASA MEREKA.


KITA FOKUS LAGI KE CERITA RAVIπŸ’›πŸ’›πŸ’›


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


***


__ADS_2