SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KAKEK


__ADS_3

Pintu kamar Raka terbuka, Ravi masuk bersama Erik melihat putra mereka yang sedang berdebat. Langsung mematikan komputer saat menyadari kehadiran ayah mereka.


Ravi duduk mengulurkan tangannya meminta sesuatu, Elang hanya duduk diam menatap Aka yang menolak memberikan penemuan mereka.


"Aka, Daddy selama ini memberikan kamu kepercayaan yang sangat besar juga memberikan kebebasan kepada kamu."


"Aka tidak melakukan kesalahan Daddy."


"Maka serahkan."


"Daddy tidak boleh seperti ini, Aka juga ingin punya privasi." Tatapan Aka memohon agar Ravi mengabaikannya.


Erik tersenyum, langsung mengambil sesuatu di tangan putranya, sebuah flashdisk. Memasangkannya di komputer dan melihat isinya.


"Bisa kamu jelaskan ini El?"


Elang duduk di samping Papanya, dia tidak terlalu mengerti apa yang terjadi. Hanya ada sedikit bukti yang dia temukan saat penyerangan Lin.


Wanita yang datang kemungkinan besar memiliki luka di kaki, dia bukan wanita dari kalangan bawah terlihat dari harga kacamata yang bermerek.


Cincin yang digunakan juga memiliki harga yang sangat fantastis, El yakin pasti bukan orang suruhan.


"Menurut El kak Lin diserang karena dendam pribadi."


"Kenapa Aka bisa tahu jika kak Lin keturunan Mafia?" tatapan Ravi lembut melihat putranya.


Raka menghela nafasnya, dia hanya memprediksi saja dari apa yang dia temukan. Raka juga berharap dugaannya salah.


Saat kejadian Bintang menemukan sebuah pin yang terlihat cukup tua, menyerahkan kepada Aka yang langsung mencari tahu soal pin.


Ravi memegang pin yang ditemukan anak-anak, menurut pencarian Aka melalui komputer jika pin yang tertinggal milik seorang mafia dari luar.


Pin salah satu lambang yang harus dimiliki oleh setiap keturunannya, dan menjaganya sampai ke anak cucu agar bisa membedakan status mereka.


Mafia yang sangat terkenal dengan kekuasaannya, tidak ada aparat yang bisa menemukan kesalahan dari bisnisnya.


"Menurut cerita, dia seorang mafia yang paling bersih dalam bertindak."


"Aka, Elang. Daddy tidak ingin kalian mencari tahu lagi soal mafia ini, karena Uncle Wildan yang mengurusnya."


Ravi mengambil semua yang Aka dan Elang miliki, langsung keluar bersama Erik untuk menuju ruangan rapat.


Pintu terbuka, Ravi kaget melihat banyak orang. Rencana rapat hanya Wildan, Ar, Steven, Ravi, Tian dan Bisma, tapi tri istri juga ikut-ikutan.


"Kenapa Mommy di sini?"


"Kepo." Vi tersenyum meminta Ravi duduk.


Wildan langsung menghidupkan komputernya, menunjukkan sebuah organisasi yang sangat terkenal dipimpin oleh seorang Mafia.

__ADS_1


"Jelaskan Wil soal keluarganya?"


"Begini Ayah, masalahnya anak-anak kandung tidak pernah terdeteksi keberadaannya."


"Boleh Ar yang menjawab."


Wildan langsung mempersilahkan, Ar langsung berdiri mengatakan jika dia pernah berbisnis di negara kecil yang sebenarnya memiliki banyak kekayaan.


Keluarga mereka memiliki Pin yang hanya dipegang oleh anak kandung, dugaan Mafia mungkin benar, tapi bisnis mereka tidak dijalankan oleh anak kandung.


"Organisasi ini memiliki lima penerus yang tinggal di lima negara, Ar pernah bertemu satu dari mereka." Ar menunjukkan satu penerus yang sampai detik ini masih berhubungan baik.


Reva menunjukkan foto pernikahan Clara, ada foto suaminya juga dan ada seorang pria yang hanya terlihat satu kali, tapi wajahnya sangat menyeramkan.


"Siapa lelaki tua ini?" Ravi menatap Bisma menyerahkan foto.


Bisma hanya melihat sekilas melemparkan kepada Viana yang cengengesan, ada satu orang yang mengenalinya.


"Ammar pasti tahu soal dia, Vi juga merasa tidak asing."


Erik langsung mengirimkan foto kepada Papanya yang mungkin mengenali pria tua yang ada di foto.


"Unik, foto pria ini tidak pernah ada. Mungkin saat pernikahan dia hanya muncul satu kali untuk kenang-kenangan." Wildan menatap Ar yang memiliki pemikiran yang sama.


"Kira-kira Ayah Lin anak kandung atau angkat yang memimpin salah satu bisnis." Erik menatap semua orang yang tidak terlalu yakin


"Siapa yang menyerang Lin kak?"


"Dewi, dia bukan hanya ingin menyingkirkan Lin, tetapi putrinya sendiri." Steven menunjukkan foto Feby yang sekarat.


Semua orang terdiam, Feby memilki tiga tusukan, perut, punggung, paha karena parahnya tusukan di paha membuatnya harus diamputasi.


Dewi ingin membunuh Feby, tapi berhasil dihentikan sedangkan dia langsung melarikan diri.


"Sekarang keberadaan Dewi belum diketahui?"


"Belum, kita tidak bisa menghalangi kerja kepolisian." Stev menunjukkan hasil pemeriksaan Dewi saat dia kecelakaan.


"Mommy rasa dia sudah gila." Vi melihat hasil laporan cacat.


"Dia lumpuh, kenapa bisa berjalan?" Reva juga penasaran.


"Dia melakukan pengobatan, mungkin hasilnya baik sehingga memberikan perkembangan."


"Lalu bagaimana soal Ayah Lin?"


Steven menunjukkan hasil laporan, jika suami Clara hanya dua bersaudara bersama Dewi. Keduanya terlihat sangat akur, tapi semuanya berubah setelah pernikahan.


Dewi tidak menyukai Clara yang merebut cinta kakaknya, rasa sayang suami kepada istrinya membuat kecemburuan.

__ADS_1


Rasa benci yang terus ditumpuk, Dewi mulai lepas kendali mengakui jika dia mencintai Kakaknya sendiri sampai Dewi angkat kaki dari rumah mewah kakaknya.


"Semua ini bukan hanya soal harta, tapi juga cinta. Syukurnya kita tidak mencintai lelaki yang sama? Vi merangkul Reva dan Jum yang fokus memperhatikan.


"Kak Vi sama Reva juga mencintai lelaki yang sama, Reva menyukai suami kak Vi, kak Vi menyukai suami Reva. Kalian berdua yang aneh." Jum menatap sinis.


"Beda konsep Jum." Viana dan Reva berteriak kuat.


"Papa mengenali dia." Erik langsung melakukan panggilan, tersenyum melihat Papanya dari Panggilan video.


Ammar cukup kaget saat melihat Lin muncul, dia berencana kembali dan akan menunjukkan daftar keturunan mafia yang sedang diselidiki.


[Ammar, pertanyaan aku hanya satu. Apa dia masih hidup?] Bisma mencoba mengingat.


Kepala Ammar mengangguk, semuanya langsung tegang. Jika sampai terbukti Ayah Lin anak kandung maka Lin keturunan satu-satunya yang mereka miliki.


[Siapa dia uncel?] Steven menunjukkan foto Ayah Lin.


Jawaban Ammar membuat semuanya terdiam, Ayah Lin putra kandung mafia terkenal. Seadaanya mereka mengetahui keberadaan Lin sudah dipastikan Lin akan diambil oleh mereka.


Windy melihat suaminya yang menatap Lin, sebenarnya keberadaan Dewi sudah dicari, Feby cucu satu-satunya yang diketahui.


"Berarti Lin cucu mafia ini." Ravi memijit pelipisnya.


"Pasti akan terjadi keributan besar jika kita ikut campur." Tian menatap semuanya yang memiliki pemikiran sama.


Steven tersenyum, dia akan tetap mempertahankan Lin. Tidak peduli cucu atau anak seorang Mafia.


Bisma tersenyum, mengusap punggung Steven yang setiap mengambil keputusan tidak pernah melangkah mundur.


"Pertahankan Lin Steven, seperti Ayah yang mempertahankan Bastian. Ayah tidak bisa memastikan ini aman, tapi kamu harus mencobanya."


Wildan tersenyum, ada satu cara agar mereka bisa menang sekalipun lawannya seseorang yang memiliki kekuasaan.


"Cari tahu terlebih dahulu hubungan Dewi dan Ayahnya, bagaimana komunikasi mereka?"


"Lin pernah melihat kakek itu menampar Tante Dewi, dan meminta bawahannya membunuh Feby yang anak ... Lin tidak boleh menyebutnya."


"Anak tiri Dewi, berarti Dewi sudah tidak dianggap anak. Alasan Dewi ingin membunuh Lin untuk menyingkirkan keturunan satu-satunya." Vi tersenyum lucu karena urusan semakin rumit.


"Kamu yakin tidak mengigat dia Vi?" Bisma menatap serius.


"Apa aku mengenalnya?"


Bisma tersenyum, meminta Viana mengingat awal dirinya berada di jalan hitam. Orang pertama yang merangkul Viana, kakeknya Lin.


"Dia orang yang mengirim Ammar untuk melindungi kamu, apa kamu lupa?" Bisma melangkah pergi melihat satu lagi masa lalu muncul.


***

__ADS_1


__ADS_2