SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 SALING MEMAAFKAN


__ADS_3

Bella mengaktifkan lokasi yang dikirim Wildan, tidak lama lagi Bella dan Billa akan sampai di Mansion mewah milik Erik.


Mobil memasuki kawasan hutan, seluruh pohon tersusun rapi, sangat terawat, sepanjang perjalanan terasa sangat asri.


"Kak, kita masuk perkebunan? sebenarnya lokasinya di mana?" Billa binggung melihat lokasi yang seperti perkebunan.


"Sudah benar Bil, lihat gerbang penjagaan, tapi di mana penjaganya?"


Bella langsung masuk, dari kejauhan sudah terlihat rumah super mewah. Bella kagum melihat Mansion yang sangat luar biasa indahnya.


Billa langsung keluar, melihat pintu terbuka langsung berlari. Melihat Erik sedang tertawa bersama beberapa anak kecil yang tersenyum.


Erik kaget melihat Billa menangis, langsung berjalan mendekat, Billa berlari memeluk erat Erik yang langsung disambut.


"Kenapa menangis Bil? masalah kemarin sudah selesai." Erik menghapus air mata Billa.


"Kak Erik jangan pernah meninggalkan Billa? Billa tidak siap kak, Billa tidak sanggup." Air mata Billa tidak berhenti menetes.


"Apa yang kamu bicarakan? kak Erik hanya pergi dua hari, besok langsung balik."


Seorang wanita keluar, menggunakan kursi roda, didorong oleh seorang pria paru baya. Bella Billa menatap serius.


"Bil Bel, kenalkan Ibu kak Erik, juga suaminya Paman Arif."


"Billa kenapa menangis, maafkan kehadiran Tante jika mengganggu."


"Tidak Tante, Billa hanya ingin bertemu kak Erik."


"Kak Erik tinggal bersama Ibu yang membuang kakak, sedangkan Mama sedang menangis sesenggukan. Bella tidak mengerti kalian semua, kak Erik memang memiliki banyak rahasia." Bella menggelengkan kepalanya.


Erik meminta Bella dan Billa masuk, menceritakan yang terjadi. Kedatangan Erik tanpa sengaja, hanya ingin menenangkan diri.


Billa menceritakan yang terjadi saat Erik pergi, soal kecelakaan mobilnya. Ammar juga masuk rumah sakit, Septi jatuh pingsan.


Tangan Erik bergetar, langsung mencari ponselnya menghubungi Mamanya. Mata Erik berkaca-kaca sangat menyesali keputusan untuk pergi dalam keadaan kesal.


"Mama angkat, maafkan Erik."


Berkali-kali Erik menghubungi Mamanya, tidak mendapatkan jawaban, membuat Erik semakin khawatir.


"Kita pulang sekarang Dek, kak Erik harus bertemu Mama sekarang."

__ADS_1


"Erik, sebaiknya pergi setelah sholat magrib dulu, kedua adik kamu juga baru sampai, perjalanan mereka hampir delapan jam, sebaiknya istirahat dulu." Arif coba menahan Erik yang terlihat sangat khawatir.


"Kalian diam di sini untuk beristirahat, kak Erik harus bertemu Mama, sholat magrib bisa Erik gabung dengan isya." Erik langsung berlari.


"Erik, seadanya kamu mendapatkan pilihan, antara Ibu dan Mama kamu, siapa yang kamu pilih nak?"


"Maafkan Erik Bu, hati Erik memilih Mama." Erik berbalik, kaget melihat Septi di depan pintu menangis.


"Ma," Erik langsung berlari, memeluk Septi yang tubuhnya sangat lemah, air mata terus membasahi pipinya.


"Alhamdulillah nak, kamu baik-baik saja, Mama takut sekali."


"Ma, maafkan Erik." Erik langsung menggendong Septi yang jatuh pingsan.


Tubuh Septi dibawa ke dalam kamar utama, Erik langsung memasang infus, sangat khawatir dengan keadaan Mamanya.


Di depan pintu Ammar masih terdiam melihat wanita yang pernah membuang Erik, Reva juga kaget langsung melangkah masuk.


"Aku tidak tahu, hati Erik terbuat dari apa? dia terlalu baik, berkali-kali disakiti masih memaafkan, masih menerima, masih menolong." Reva menatap tajam.


Kasih melangkah masuk, langsung menatap tajam melihat Anna, wanita paruh baya yang sangat Kasih kenali.


"Tante pikir, Kasih menolong karena Kasih orang baik, bukan Tante. Aku menolong karena Tante Ibu dari Erik, sahabat terbaik suamiku, juga putra kesayangan Bunda, Mami, dan Mommy." Kasih duduk santai di kursi.


"Tante sudah menyesali perbuatan Tante selama ini Kasih."


"Kasih tahu, tapi niat hati Kasih ingin Tante hancur, tapi Erik yang bodoh, lagi, lagi, dan lagi masih sangat baik. Setidaknya sekali saja, Erik marah dan mengungkapkan kemarahannya, tapi bodohnya tidak sedikitpun dia melakukannya." Kasih menatap tajam.


Semuanya duduk di sofa, Ammar juga duduk menatap tajam. Ravi juga binggung Kasih bisa kembali menjadi wanita yang kejam.


"Tante setidaknya mengerti, kenapa Mama Septi sangat penting bagi Erik."


"Saya mengerti, Septi wanita luar biasa yang sangat menyayanginya. Aku pernah melihat Erik saat pulang sekolah, Septi menjemputnya, makan disuap, mengajari Erik bersedekah, bercanda, tertawa, bermain. Dia memang berhak atas Erik."


Kasih mengigat saat mendapatkan laporan dari pengawal tersembunyi, Kasih mempekerjakannya untuk menjaga Karin, tapi saat penculikan Karin, pengawal sedang mengawasi Ibunya, sehingga Karin bisa diculik.


Saat melihat kebenaran Anna ibu Erik, Kasih tidak ingin perduli dengan hubungannya bersama lelaki yang dicintainya.


Kasih menyelamatkan suami Anna melalui pengawalnya, menganti racun dengan obat tidur. Setelahnya Kasih tidak perduli jika Arif tertangkap lagi, setelah kejadian Arif, Kasih harus terlibat lagi dengan kasus bunuh diri Anna, bersyukurnya masih bisa dilarikan ke rumah sakit.


Erik tidak mengetahui, jika Kasih orang dibalik penyelamatan orangtuanya. Sebenarnya Kasih ingin menghukum, tapi Erik jauh lebih berhak, tidak pernah Kasih bayangkan jika Erik memilih melindungi.

__ADS_1


"Ammar maafkan aku."


"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu, anakku hidup dengan nama kamu yang kotor, bersusah payah Septi membersikan, tapi buruknya kamu sulit dihilangkan nodanya."


"Sebaiknya kami keluar, kalian beristirahatlah. Sebentar lagi magrib, maafkan kami." Arif mendorong kursi roda untuk pergi.


"Tidak perlu kami yang akan keluar, ini rumah kalian bersama Erik, berikan aku waktu untuk membawa istriku keluar." Ammar langsung berdiri, menuju kamar Erik, tapi Erik sudah menuruni tangga.


"Papa, biarkan Mama istirahat."


"Kita bicara nanti saja Erik." Ammar melangkah ingin naik, Erik menahan Ammar dengan wajahnya memelas.


"Ibu, paman Erik minta maaf, bisa kalian tinggalkan rumah ini, Mama harus beristirahat." Erik menudukan kepalanya.


"Iya Erik, jangan khawatirkan kami."


"Jangan pergi, aku baik-baik saja." Septi berjalan membawa infus ditangannya. Erik langsung mendekat, menggendong Septi turun ke bawah.


"Kamu baik-baik saja sayang."


"Iya Ma, maafkan kedatangan kami yang tiba-tiba, seharusnya kami menyapa." Septi tersenyum, ingin berjabatan dengan Anna.


"Maafkan aku Septi, terima kasih kamu sangat menyayangi Erik."


"Dia putra pertama kami, nyawaku. Kita seorang Ibu, Kak Anna yang melahirkan Erik, sedangkan aku yang membesarkannya. Kita bisa membahagiakan Erik bersama-sama, bantu aku membuat Erik bahagia, Kebahagiaan Erik akan lengkap, jika ibu kandungnya juga bahagia." Septi mengusap tangan Anna, air mata Anna tidak bisa berhenti keluar.


"Sayang."


"Pa, kita tidak pernah disakiti, putraku yang paling sakit juga bisa memaafkan, kenapa kita tidak. Kita semua sudah tua, hanya ingin melihat anak-anak kita bahagia."


Erik memeluk Septi, menciumi tangannya. Kasih mengusap air matanya, mengelus perutnya, berharap hati anaknya sebaik Aunty Septi.


"Erik sangat menyayangi Mama." Erik tersenyum melihat Kasih yang menjulurkan lidahnya, tidak suka melihat wajah Erik.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA,


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2