SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KEHABISAN TENAGA


__ADS_3

Suara nafas beraturan terdengar, Wira melihat baju Vira yang berhamburan di lantai. Di atas ranjang Vira dan Wildan tidur berpelukan.


"Uncle, Aunty ayo bangun sholat. Wira mau keluar." Bibir Wira monyong, membuka pintu, tapi tidak bisa.


Wildan masih nyaman tidur memeluk erat Vira, tidur ternyaman yang dia rasakan bisa bersentuhan bahkan menjadi satu.


Vira terbangun, merasakan tubuhnya remuk, rasanya tubuhnya sakit semua dari kaki sampai ke pundak sakit.


"Aunty bangun." Wira ingin pipis, tapi tidak ingin ke kamar mandi sendirian.


"Wira, kamu tidur di sini?" Vira langsung masuk ke dalam selimut, melihat tubuhnya yang ternyata sudah menggunakan baju, meskipun tanpa dalaman.


"Aw aduh sakit." Vira tersenyum melihat Wira yang mengerutkan keningnya, Vira berjalan perlahan mengandeng tangan Wira untuk ke kamar mandi.


Vira menatap tubuhnya di balik kaca, bagian lehernya penuh merah kecil yang terasa perih.


"Aunty digigit nyamuk, atau semut." Wira menatap Vira yang menyentuh lehernya.


"Ini gigitan vampir bergigi." Vira tertawa, mengusap kepala Wira.


"Mommy juga sering digigit semut, tapi pindah terus letaknya. Kenapa Wira tidak pernah digigit?"


"Kamu masih kecil, nanti saat kamu sudah besar baru mengerti."


Wira memukul meja, dia sudah besar baginya. Jika masih kecil seperti Tiar yang masih menyusu.


"Uncle bangun, sholat Uncle sebelum disholatkan." Wira berteriak kuat.


Wildan langsung duduk, kaget mendengar ceramah Wira langsung melihat Vira yang sudah tidak ada lagi di ranjang.


"Uncle sholat dulu, eh mandi dulu." Wildan langsung berdiri.


"Buka pintu dulu uncel, Wira ingin keluar sholat bersama Mommy Daddy." Wira memukul pintu berteriak memanggil mommynya.


Wildan langsung membuka pintu, berlari ke kamar mandi melihat Vira yang sedang mandi.


Wira membuka pintu, melihat Wildan berlari ke kamar mandi melihat noda darah di ranjang.


"Siapa yang terluka?" Wira langsung keluar, melihat Mommynya yang sudah panik mencari putranya.


"Mommy, Wira tidur bersama Uncle, ada suara menggelegar."


"Ya Allah nak, mommy sama Daddy mencari kamu, mulai besok tidur bersama kita saja."


"Mom, aunty sama Uncle bangunnya lama sekali, sepertinya ada yang terluka?"


"Luka?" Windy kaget.


"Iya, ada darah, baju Aunty juga berhamburan. Leher Aunty banyak gigitan vampir. Astaga aunty terluka karena vampir." Wira berjalan ke lantai bawah untuk menemui Daddy-nya.


Windy menutup mulutnya, gemes melihat Wildan dan Vira pagi ini. Windy langsung cepat turun ingin memberi tahu Maminya, jika ada yang baru menanam benih.

__ADS_1


Di kamar mandi Wildan langsung memeluk Vira, tidak ada rasa canggung lagi. Bahkan Wildan sudah berani melihat tubuh Vira yang tanpa busana.


"Ayo mandi? sudah jam setengah lima, pasti semuanya sudah menunggu untuk sholat berjamaah." Vira menyentuh wajah Wildan yang masih memejamkan mata.


"Sholat sendiri saja, aku kurang tidur." Wildan memeluk tubuh istrinya, mencium tekuk lehernya.


"Ini namanya brondong ketagihan, tubuh Vira rasanya remuk."


"Satu kali saja, siapa tahu ada yang jadi." Suara tawa Wildan terdengar, memeluk Vira yang mencubit pipinya.


"Dasar modus, bilang saja kamu ketagihan." Vira mencium bibir suaminya.


Setelah tiga puluh menit barulah keduanya selesai mandi langsung cepat sholat, sebelum waktu habis.


Selesai sholat Vira masih memeluk erat merasakan tubuhnya lelah, ingin lanjut tidur. Wildan membiarkan istrinya tidur kembali.


Wildan juga memilih untuk tidur lagi, rasanya dia kurang tidur sehingga memilih pergi kerja siang.


Windy dan Reva menunggu sampai jam sembilan pagi, tapi belum ada yang keluar kamar. Viana muncul bersama Tiar, Jum juga datang bersama Em yang terus mengomel.


"Apa yang sedang kalian tunggu?" Viana melihat ke arah lantai atas.


"Ada yang baru saja menanam benih, tinggal proses pemupukan." Reva tersenyum berharap segera memiliki cucu dari Wildan.


"Seriusan, kenapa harus menunggu di bawah, lebih baik kita grebek saja." Viana langsung melangkah sambil tersenyum mencium pipi tembem Tiar yang sudah bisa tertawa.


Pintu terbuka, Vira duduk di pinggir ranjang merasakan tubuhnya remuk. Melihat Mommynya datang.


"Baru saja pergi kerja, soalnya ada meeting penting." Vira langsung tidur lagi, mengambil Tiar langsung memeluknya.


"Capek Vir?" Viana mengusap kepala putrinya.


"Begitulah Mom, Vira sudah kalah sebelum bertempur."


Reva, Jum dan Windy ikut masuk, Em langsung lompat-lompat di atas tempat tidur.


"Em, di mana Mama kamu?"


"Kerja, bersama Papa."


Vira tersenyum, mengusap kepala Tiar yang bermain rambut Vira.


"Kamu butuh tukang urut Vir?" Reva merasakan khawatir melihat menantunya kelelahan.


"Bunda bisa memijit kamu."


"Tidak Bunda, Vira dosa nantinya. Minta tolong sama mbak saja."


Viana langsung menghubungi mbak di rumahnya, langsung memijit Vira yang tubuhnya rasanya remuk semua.


"Sekuat apa Wildan membuat kamu tumbang Vir?" Reva menatap tajam, membuat Vira tertawa lucu melihat keluarganya.

__ADS_1


Viana langsung tertawa, mempertanyakan masa subur Vira, dulu sebelum hamil Vira Viana juga kalah sebelum bertempur dan langsung hamil, karena sedang subur.


"Emhh, kurang tahu Mom. Vira lupa karena tidak pernah teratur."


"Kamu bahagia Vir?"


"Tentu bahagia, Vira sangat bahagia lahir ke dunia ini menjadi putri Mommy dan Daddy, memiliki keluarga yang sangat harmonis juga suami yang sangat Vira cintai. Kebahagiaan Vira tidak bisa diutarakan dengan kata-kata." Senyuman Vira terlihat menatap mommy dan mami yang berpelukan.


"Boleh secepatnya minta cucu, kalian berdua jangan menunda. Lihatlah Tiar, dia lucu sekali." Reva memasang wajah memelas.


"Amin, semoga ya Mami. Vira juga tidak ingin menundanya, karena tidak ingin kalah dari Winda." Vira langsung menutup mulutnya, karena Winda meminta dirahasiakan.


Reva langsung menghubungi Winda, melihat putrinya yang masih tidur setelah suaminya pergi bekerja.


"Apa yang Winda lakukan Mam?"


"Masih tidur, dasar anak nakal." Reva hanya melihat wajah Winda yang menjawab panggilan, tapi lanjut tidur.


Senyuman Vira terlihat, merasakan nyaman setelah dipijat.


Suara Bella datang juga terdengar, bumil rempong yang selalu membuat masalah muncul dengan cengengesan.


Langsung tidur di samping Vira, bermain dengan Tiar yang selalu tersenyum. Melihat Em yang bercerita tidak jelas.


"Aduh, kacau. Pengacau pulang." Vira menepuk jidat, mendengar suara Rasih dan Bening ditambah lagi Wira yang baru muncul.


"Nek mud, Asih datang." Asih tersenyum membawa cacingnya.


Vira langsung tertawa melihat cacing menggunakan jilbab, semua orang tertawa melihat kekonyolan putri Ravi yang bermasalah tingkahnya.


"Asih, cacing menggunakan jilbab?"


"Iya, masa topi."


"Sambung rambut saja." Vira mengusulkan melihat kucing putih yang kepalanya tertutup.


"Oh, benar juga. Nenek ayo telpon Daddy, kita harus pergi ke salon." Asih memeluk cacing erat, tidak melihat wajah cacing yang depresi.


Viana langsung menghubungi Ravi, mengatakan jika putrinya ingin ke salon.


[Kenapa ke salon Mom?]


[Menyambung rambut.]


[Siapa yang ingin menyambung rambut?]


[Cacing.] Viana langsung tertawa diikuti yang lainnya.


[Innalilahi wa innailaihi rojiun, Allahuakbar.] Ravi teriak kuat.


***

__ADS_1


__ADS_2