
Bisma baru selesai melakukan pembayaran di minimarket tidak jauh dari parkiran, handphonenya berdering bukan untuk pertama kalinya. Akhirnya Bisma menyerah dan mengangkat panggilan Viana.
"[ Bisma mana anak gue? gue bisa mati kalau Lo sampai mempertemukan Rama dan Ravi, gue tahu Lo di Indonesia. Balikan Ravi jangan ganggu kebahagiaan Rama, dia baru memulai hidupnya dan membuka hatinya. Hadirnya Ravi hanya akan melukai Rama dan juga Ravi, jangan beri harapan ke Ravi bahwa kenyataannya dia tidak bisa memiliki Daddy nya. Jangan rusak kebahagiaan Rama, sudah cukup penderitaan yang aku lalui demi kebahagiaan Rama tolong jangan hancurkan pengorbananku.]"
Tangisan pilu Viana membuat Bisma memukul dadanya, dia langsung melangkah pergi ke mobil dan kebingungan melihat Ravi tidak ada di mobil, dilihatnya Ravi berlari ke dalam gedung dengan cepat Bisma mengejar Ravi dan mengendong nya kembali ke mobil.
"Uncle tadi ada ayah, Ravi mau masuk bertemu ayah."
"Tidak sekarang Ravi, mommy sudah tahu kita disini, sekarang kita kembali karena mommy juga sudah ada dirumah. Jika Ravi memaksa maka mommy akan terluka, apa Ravi siap melihat mommy terluka."
Air mata Ravi langsung mengalir melihat kebelakang sampai kantor Rama sudah tidak terlihat lagi, harapannya bertemu Daddy telah hancur.
"Uncle! minta mommy yang datang jemput Ravi, kita tunggu mommy di bandara."
Bisma menghubungi Viana dan memintanya datang menjemput Ravi, Viana langsung mengiyakan karena dia tahu pasti Ravi sangat kecewa dan terluka karena tidak bisa bertemu Rama.
Ravi dan Bisma masuk bandara, mata Ravi masih melihat kebelakang masih berat dia harus meninggalkan Indonesia.
"Ya Allah, Ravi rindu Daddy, Ravi juga sayang mommy. Boleh tidak Ravi minta sesuatu, Ravi ingin meniup lilin yang kelima bersama Mommy dan Daddy. Boleh ya, satu kali saja Amin ya Allah...." Ravi memejamkan matanya dengan menadahkan kedua tangannya berdoa dalam diam.
Bisma meminta Ravi diam di kursi tunggu karena Bisma harus membantu seorang ibu yang membawa banyak barang. Ravi mengambil tas ranselnya, mengencangkan tali sepatunya dan menggunakan kacamata nya yang berwarna biru sama dengan warna tasnya.
Ravi berlari ke luar bandara, melihat taksi yang berhenti dari mengantar penumpang. Ravi langsung masuk ke dalam mobil membuat supir kebingungan.
"Uncle antarkan Ravi ke rumah Daddy, ini uang nya."
Supir kebingungan karena uang yang Ravi berikan bukan uang rupiah tapi dolar. Dia hanya tersenyum dan menjalankan mobilnya.
"Dimana rumah Daddy kamu nak?"
Ravi diam berpikir, dia sempat membaca alamat rumah Daddy nya, tapi karena dia lebih sering berbahasa asing jadi bahasa Indonesia yang tidak familiar sedikit membuat Ravi binggung.
Ravi menyebutkan alamat dengan mengeja satu-persatu membuat supir tertawa
__ADS_1
"Siapa nama Daddy kamu? bapak sering masuk daerah sana, semua yang tinggal di sana keluarga elite."
"Rama Prasetya, mommy Ravi Viana Cloria Arsen, dan aku Ravi Prasetya." Jawab Ravi dengan tawanya yang khas.
"Tuan Rama, bukannya dia belum menikah tapi wajah anak ini memang mirip." Batin bapak supir.
Sampai disana Ravi langsung turun, bapak supir mengembalikan uang dolar Ravi Karena tidak bisa digunakan di Indonesia.
"Tunggu sebentar ya uncle, Ravi minta uang dulu ke Daddy."
"Tidak usah, bapak ikhlas Daddy kamu juga sangat baik."
"Baiklah, terimakasih uncle Ravi akan mengingat wajah uncle dan membalasnya suatu hari nanti."
Ravi tersenyum dan berlari masuk ke gerbang rumah, satpam mencoba menahan nya tapi tidak ada yang berani apalagi melihat wajahnya yang seperti melihat tuan muda saat kecil.
"Daddy!" teriak Ravi menggema membuat orang yang mendengarnya seperti mendengar Viana saat pulang kerja pasti langsung teriak dan lanjut ngibah.
Ravi berteriak-teriak berkeliling memanggil Daddy, semua orang berkumpul dan kebingungan melihat bocah kecil tampan sangat lucu dengan kacamata dan juga tas ransel Doraemon, yang lebih mengejutkan wajahnya.
"Rama!" ucap Oma
"Aku Ravi, Daddy namanya Rama." Jawab Ravi santai.
Semua orang saling pandang dan menggelengkan kepala Masing-masing seakan tidak percaya jika bocah tampan dihadapan mereka anak tuan muda mereka.
"Mana Daddy? aku harus ketemu daddy sebelum mommy datang." Teriak Ravi membuat semua orang tersadar.
"Mana mommy nak, apa kabar mommy kamu."
"Nanti saja bahas itu, ketemu daddy dulu. Kalau mommy datang Ravi tidak mungkin bisa bertemu Daddy lagi, mommy pasti akan membawa Ravi pergi jauh."
Oma menangis melihat kegelisahan Ravi, dan Ravi yang tidak mendapatkan jawabannya langsung duduk dilantai guling-guling sambil menangis meminta bertemu Daddy.
__ADS_1
"Jum! telpon Rama sekarang minta dia pulang karena keadaan mendesak," teriak Oma yang langsung menggendong Ravi yang sudah ngamuk.
"Sabar ya cu, sebentar lagi Daddy kamu datang, sini peluk Oma dulu." Tangis Oma semakin menjadi melihat Ravi yang mencari Rama dan terlihat wajah rindu dari matanya.
Rama yang berada di kantor mendapatkan panggilan dari rumah langsung bergegas pulang dan meninggalkan semua pekerjaannya.
"Ada apa Rama?" tanya Bima.
"Entahlah kak, Jum bilang segera pulang keadaan mendesak,"
Mobil dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Rama, wajah Rama sedikit panik takut Omanya terluka.
Ravi masih asik mengomel membuat semua orang tertawa dengan kehebohannya dan suaranya yang berisik, sesekali Oma menepis air mata yang mengalir di pipinya.
"Cerewetnya mirip kak Vi, tidak ada kalemnya." Ucap Jum.
"Iyalah, wajahnya mirip tuan, cerewet nya mirip nyonya, sifatnya gabungan." Semua orang tertawa melihat Ravi yang sangat tampan juga ceria.
Suara mobil yang berhenti dan juga langkah kaki membuat Ravi langsung berdiri siap menyambut Rama, Rama langsung masuk dan terdiam saat seorang anak kecil berteriak.
"Daddy!" lari Ravi membuat Rama mematung dan melihat ke bawah.
Semua mata melihat ke bawah kaki Rama, Ravi sudah bergantung disana sambil memeluk kaki Rama dengan kuat, sebenarnya orang ingin tertawa tapi tidak bisa saat melihat wajah Rama yang mengangkat tubuh Ravi melihat wajahnya, mata mereka berdua bertemu, Ravi tersenyum dan langsung memeluk leher Rama sambil memejamkan matanya menahan airmata. Rama masih terdiam mengelus punggung Ravi, mata yang Rama lihat sangat mirip dengan mata wanita yang selalu dia rindukan.
"Daddy, I love you! wajah kita mirip ya dad,"
"Viana!" air mata Rama langsung tumpah dan kembali memeluk Ravi.
"Daddy! tolong Ravi, ada uncle."
Rama langsung menoleh kearah Bima yang mematung melihat wajah Ravi, Ravi menciumi seluruh wajah Rama dan langsung minta turun dan mengandeng tangan Bima.
"Daddy impian Ravi cukup memeluk daddy, walaupun Ravi ingin meniup lilin bersama mommy dan daddy tapi kebahagiaan mommy jauh lebih penting dari apapun, Ravi sayang Daddy."
__ADS_1
"Ayo uncle Bisma kita kembali, sebelum mommy marah." Ravi menarik tangan Bima sedangkan Bima masih dengan wajah binggung.
Rama langsung menghapus air matanya dan mendekati Ravi lalu mengendong nya masuk ke dalam rumah.