
Pertengkaran di depan lift tidak bisa dihindari, Asih mengintip sedikit sambil tersenyum melihat Daddy-nya.
Mengusap dada yang langsung lega, karena wanita jahat sudah pergi meninggalkan mereka.
"Kak Lin, kenapa bisa ada di sini?" Asih tersenyum masih memeluk piringnya.
Senyuman Lin terlihat, langsung berjongkok di depan Asih memeluknya erat. Air mata Lin tidak tertahankan.
Saat melihat Asih mengomel Lin langsung ingin menyiapkan makan, tapi Asih berlari keluar. Suara panggilan Lin tidak Asih dengarkan tetap pergi begitu saja.
Melihat Rasih naik lift, secara bersamaan Dewi juga masuk, Lin tidak punya pilihan berlari kencang melewati tangga darurat sampai bisa masuk ke dalam lift.
"Asih baik-baik saja? maafkan kak Lin yang membuat kamu dalam bahaya." Tangisan Lin terdengar, mengusap kepala Asih yang hanya tersenyum.
Ravi mengusap kepala Lin, memintanya kembali ke Mansion. Mereka tidak bisa menangkap Dewi, karena lebih dulu ditangkap bawahan Ayahnya.
Kasih mencium putrinya, meneteskan air mata takut sekali jika Asih sampai terluka.
Senyuman Ravi terlihat, bersyukur karena putrinya terlihat normal bahkan langsung cepat bisa tersenyum.
Semuanya keluar dari lift, Winda menatap tajam Lin yang membuang topi yang sama dengan bawahan Dewi.
Gadis remaja yang penakut, tapi saat melihat Asih dalam bahaya, Lin langsung memiliki keberanian.
"Ayo kita kembali untuk membicarakan masalah ini." Tatapan Wildan tajam, meminta para pengawal kembali ke posisi.
Lin langsung melangkah ingin pergi, dia ingin menyerahkan diri kepada Mafia yang hampir mencelakai keluarga.
"Biarkan Lin pergi dan menyelesaikan masalah ini." Kepala tertunduk, meminta maaf sampai berlutut karena rasa bersalah Lin sangat besar.
"Kamu masih ingat apa yang Raka katakan, jangan pergi jika sudah mengambil keputusan. Ada tidaknya kamu di sini, keluarga ini tetap terlibat." Ravi meminta Lin masuk, tidak menerima alasannya.
Mereka semua ingin melihat akhir dari siapa keluarga Lin, apapun resikonya mereka akan tetap bertemu dengan kakek Lin.
Winda langsung mendorong Erlin untuk kembali ke mansion, suara Asih mengomel sudah terdengar. Dia menceritakan kepada Daddy-nya hampir kencing di celana.
Perutnya yang lapar langsung hilang, bayangkan paha ayam lenyap. Di pikiran Asih dia akan segera diculik, tidak diberikan makan.
Ravi menggendong putrinya, menciumnya bekali-kali karena gemes. Putrinya wanita hebat, masih kecil sudah berani melihat orang jahat.
"Daddy, Asih hebat tidak?"
"Hebat dong sayang, berhasil membuat Mommy menangis." Ravi meringis melihat Kasih mencubit perutnya, tapi langsung memeluk erat.
"Asih berdoa agar menghilang, para penjahat tidak bisa melihat keberadaan Asih."
"Jangan doa begitu sayang, kamu tidak punya mantra untuk muncul. Jika berdoa hal yang nyata, jangan halu." Ravi menepuk jidat menahan tawa.
__ADS_1
Doa Asih sudah dikabulkan, tubuhnya tidak terlihat berada dalam lindungan Lin. Allah mengirim Lin untuk menjaga Asih.
"Ucapkan terima kasih kepada kak Lin." Ravi mencium tangan putrinya.
"Kak Lin terima kasih, awalnya Asih takut dan ingin menangis, tapi saat tahu ada kak Lin Asih lapar lagi." Suara tawa Rasih terdengar, langsung turun dari gendongan.
Asih bercerita kepada para saudaranya apa yang terjadi, ocehannya tidak sesuai kenyataan. Menakuti adik-adiknya yang satu persatu langsung menangis.
Wira memeluk Rasih, meminta maaf karena tidak bisa melindunginya. Bahkan Wira asik bermain game.
Raka juga sama terlihat bersalah, dia tidak bisa menjaga adiknya sampai hampir celaka.
"Asih baik-baik saja, sekarang ingin makan." Asih menatap piringnya retak lalu pecah berhamburan.
Suara tawanya terdengar, tapi tidak ada yang merespon karena semua orang tahu jika Asih sedang menutupi rasa takutnya.
Perlahan tangisan terdengar sangat besar, Lin menutup wajahnya langsung menangis melihat Asih langsung berlari ke arah kakeknya.
Rama memeluk erat cucu perempuannya, mengusap punggungnya. Tangisan Asih terdengar sangat kuat membuat Viana juga sedih.
"Sayang, Asih anak baik." Senyuman Rama terlihat, mengacak-acak rambut cucunya yang langsung berhenti menangis.
Rama dengan penuh kelembutan mencium kedua tangan kecil cucunya yang ketakutan, mencium matanya yang mengeluarkan air mata.
"Di mana lagi yang takut?"
Rama mencium dada Asih membuatnya tertawa merasakan geli, menunjukkan kakinya yang gemetaran.
"Kek, rum duga."
"Sini sayang, bagian mana yang takut."
"Cemuannya." Arum memberikan tangannya langsung duduk dipangkuan.
Rama tersenyum melihat Asih dan Arum tertawa, sudah lupa bagian yang menakutkan baginya.
"Kalian saat besar nanti harus akur, saling menjaga, selalu tertawa menangis bersama." Rama mencium kening dua cucu Prasetya.
Tangan Rama meminta dua wanita lagi mendekat, langsung memeluknya erat.
"Em berat tidak kakek? kata kakek Em berat sering membuat kakek sakit pinggang." Embun menatap Bisma yang duduk di depan mereka.
"Aku jauh lebih kuat dari Rama." Tatapan Bisma tajam, lalu tersenyum melihat cucu perempuannya.
"Ning datang, kenapa kalian duduk bersama kakek?"
"Ning tidak boleh naik juga, ini juga sudah sempit. Bulan Endut, kakak Ning juga berat dosa." Em terlihat kesal, karena Ning juga ingin naik.
__ADS_1
"Lan tidak Endut."
Asih memukul perut Bulan yang buncit, Arum langsung tertawa melihat perut buncit Bulan karena sangat kuat menyusu.
Bening langsung berlari ke arah Bisma, memeluk kakeknya. Em langsung turun dari berpidah ke kakeknya.
Bulan juga langsung pindah ingin duduk dipangkuan sampai rebutan, Asih dan Arum saling pandang tidak ada yang ingin turun.
"Kakek Rum." Tangan Arum merentang, meminta Bima menggendongnya.
Suara salam terdengar, Ammar datang bersama istrinya Septi.
"Kakek." Asih langsung berlari diikuti oleh yang lainnya, langsung minta digendong oleh Ammar yang baru muncul.
Bisma tersenyum meminta Ammar duduk, langsung mencium cucunya Embun yang memeluk erat.
"Kakek Em dicium kita tidak, namanya tidak adil tahu?" Asih menjambak rambut Arum agar menjauh.
"Sini semuanya." Ammar mencium kening satu-persatu cucu cerewet.
Septi tersenyum melihat kehebohan, tatapan langsung penuh haru saat melihat dua bayi yang ada dalam gendongan Viana dan Reva.
"Subhanallah cantiknya, sehat terus sayang. Panjang umur nak." Septi mencium twins V yang masih tidur.
"Nenek, Asih lapar." Protes Asih karena Septi jarang pulang, padahal dia sangat menyukai masakan neneknya Embun.
"Maafkan nenek, kalian ingin makan apa? ikut nenek semuanya." Septi melangkah ke dapur, anak-anak langsung berjalan beriringan untuk melihat koki hebat memasak.
Viana duduk di samping Ammar, menatap tajam karena memiliki banyak pertanyaan.
"Apa benar dia yang mengirim kamu Mar?" Vi ingin semuanya cepat selesai, apalagi bawahan mereka sudah menangkap Dewi.
"Nanti aku jelaskan, aku hanya ingin bertanya apa kalian melihat Erwin kembali ke sini?"
"Erwin?" semuanya kaget mendengar kabar Erwin melarikan diri, bahkan sudah berganti nama ala luar negeri sampai Ammar kewalahan mencarinya.
"Kenapa Papa tidak memberi tahu Erik?"
"Papa juga baru tahu, tidak ada yang berani laporan jika adik kamu sudah kelayapan."
Billa diam saja hanya menelan ludah, perlahan melangkah mundur karena Papa mertuanya pasti tahu orang jujur dan bohong.
"Di mana putrinya Delon?"
"Delon? apa dia Ayahnya Li?" Viana meminta Lin mendekat.
***
__ADS_1