
Kehebohan terdengar, kehadiran Vira, Bella dan Winda membuat suasana ramai, ditambah lagi kehadiran Rasih dan Bening yang banyak bicara.
"Asih princess Prasetya."
"Enak saja, kalian membuang Vira ke mana?" Vira mengeluarkan suara petir, Viana melempar mulut Vira dengan pisang.
"Enti monyet ya? dilempar pisang." Rasih dan Bening tertawa bersamaan.
"Ning, princess Bramasta."
Bella langsung melotot, Bening memonyongkan bibirnya melihat Bella yang menunjukkan ketidaksukaannya.
"Enti, jangan melotot, Ning Atut."
"Atut, Atut kentut kali." Bella tersenyum.
"Aunty Bella kentut, pantas busuk." Wira lewat menggunakan sepatu roda.
"Kurang ajar kamu Wira."
Suara benturan kuat terdengar, semuanya saling pandang sudah tahu siapa pelakunya.
"Mami, Papi ...." Tangisan Winda terdengar, kakinya pincang ditabrak Wira.
Reva tersenyum putrinya masih menjadi bayi besar, menangis hanya karena hal sepele, masih jauh dari nyawa.
Billa muncul bersama Erik menggendong Elang dan Embun, Vira dan Winda langsung menyambut menciumi bayi kembar yang wajahnya bule seperti kakeknya.
"Cantik sekali kak Em." Bella mencium keponakannya penuh cinta.
Billa duduk menyusui Elang, Bella, Winda dan Vira juga duduk bersama. Mengobrol proses lahiran.
Winda langsung merinding ngeri, Vira hanya nyengir, Bella sudah menutup telinganya takut mendengarkan prosesnya.
Suasana rumah Bisma mulai sepi, sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya Tama yang belum pulang, harus menidurkan Bening yang ingin tidur bersamanya.
"Kak Adit, Ning sudah tidur biar Binar pindahkan ke kamar." Binar langsung mengambil Bening, membawanya ke kamar.
Tama berdiri di teras rumah, duduk untuk pamitan. Binar berlari kecil menemui Tama yang ingin pamitan pulang.
"Binar boleh aku berbicara sebentar?" Tama mempersilahkan Binar duduk.
Tama membahas soal Bening, dia sangat menyayangi Bening melebihi apapun. Binar meminta maaf soal dirinya yang lalai menjaga Bening.
"Aku tidak menyalahkan kamu, hanya saja terkadang aku binggung menolak keinginan Bening. Binar ...." Tama menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Tama menyentuh tangan Binar, berharap Binar menolak, tapi ternyata tidak. Tama takut Binar memiliki trauma, bersyukurnya tidak.
Cukup lama Tama diam, perlahan mulai bercerita dia mencari Lala hampir ke segala tempat, tujuan Tama menjadi polisi untuk menemukannya.
Tama mengakui jika dia mencintai Binar, tapi untuk berterus terang dari awal terlalu beresiko. Tama tidak ingin ditolak, atau dianggap merendahkan juga mencari kesempatan, lebih buruk lagi, Tama tidak ingin Binar berpikir dia sedang memanfaatkan dan kasihan melihat Bening.
Binar melepaskan tangannya dari Tama, tersenyum melihat seorang lelaki yang dulunya selalu dia panggil kakak.
"Kak Adit dari dulu tidak pernah berubah, terlalu sering menjaga perasaan."
"Binar aku sayang kamu, sayang Bening."
"pilih salah satu."
"Kalian bukan pilihan, tapi jika kamu ingin tetap dipilih aku memilih Bening."
Tawa kecil Binar terdengar, sejujurnya dalam hati kecil Binar tidak berani memulai sebuah hubungan, dia masih merasa takut, walaupun Bunda selalu mengatakan Binar bukan wanita kotor, dia berhak membuka hati.
"Binar, keputusan ada di kamu, akan aku tunggu keputusan kamu untuk menerima. Jika kamu setuju sebaiknya kita menikah." Tama mencium kening Binar, pamitan untuk pulang.
Setelah Tama pulang, Binar langsung masuk tersenyum malu-malu. Binar tidak menyadari kehadiran Jum dan Bisma yang ternyata mendengar semuanya.
"Niat baik jangan ditunda Binar." Bisma tersenyum melihat putrinya langsung berlari ke dalam pelukan Jum.
"Bunda, pantaskah Binar jatuh cinta, haruskah Binar menerima cinta kak Adit?"
Bisma juga tahu perasaan Tama, dia orang pertama yang paling terluka dengan masa lalu Binar, jadi Bisma berharap Binar menerima niat baik Tama.
Jum mengangguk kepalanya membenarkan ucapan Bisma, juga setuju agar Binar segera menikah.
"sudah malam Ayah Bunda sebaiknya kita beristirahat."
Selesai berbicara, Binar langsung berlari ke kamarnya mencium kening Bening yang panas tinggi. Binar langsung keluar mengambil air kompres.
Binar semakin panik, panas semakin tinggi, Bening juga mengigau ayahnya. Binar berlari memanggil Bunda.
"Bunda, ayah, tolong tubuh Bening panas sekali." Binar mengetuk pintu.
Bisma membukanya langsung berlari ke kamar Bening, Jum berlari ke kamar Erik untuk melihat keadaan Bening.
Billa sudah memberikan obat penurun panas, meminta menghubungi Tama, dia merindukan ayahnya, ada yang dia inginkan dari ayahnya.
Binar langsung menghubungi Tama, mengatakan jika putrinya demam tinggi, selalu memanggil Ayah.
Semuanya keluar untuk sholat, hanya Billa yang masih menjaga keadaan Bening. Tama datang langsung memeluknya erat.
__ADS_1
Billa langsung melangkah keluar, meninggalkan Tama dan Bening berbicara dalam hati antara Ayah dan anak.
Matahari sudah bersinar, Binar membiarkan Tama tidur bersama Bening. Keduanya bangun kesiangan, semua orang sudah sarapan.
"Ayah, Ning bobo sama Ayah." Bening masuk dalam pelukan Tama
"Ayo bangun sayang, kamu jangan demam lagi." Tama mencium kening putrinya.
***
Binar menerima lamaran Tama, disambut dengan baik oleh seluruh keluarga. Tama dan Bening sepakat pernikahan hanya sederhana, mengundang tamu terdekat.
Semua keluarga membicarakan acara pernikahan, Ammar menatap Tama jika pernikahan Tama tidak bisa sederhana, karena status Tama.
Sebagai kepala kepolisian, Tama memiliki pangkat, ada penyambutan untuk hari bahagia Tama. Binar bukan hanya menikahi seorang Aditama Rahmat, dia juga menikahi seorang abdi negara yang memiliki nama dan pangkat tinggi.
"Sebaiknya umumkan pernikahan kalian Tama." Ammar menatap serius.
"Uncle benar, Tama lupa."
Ammar akan membantu persiapan pernikahan, menyusun surat menyurat untuk melaporkan pernikahan Tama.
Tian yang akan mengurus tempat, tapi seperti biasa tri istri tidak akan tinggal diam.
Dia yang akan mengatur seluruh keperluan pernikahan Putri mereka.
"Satu persatu keluarga kita menikah, kak Ravi Kasih, Erik Billa, sekarang Tama Binar, lanjut Bastian Cinta, lalu siapa setelahnya?" Vira menatap Bella dan Winda.
"kamu sudah punya rencana menikah Vir?" Winda menatap Billa dan Vira.
"Sepertinya Wildan harus segera menikahi kamu, bulan depan seorang Vira akan memiliki gelar sarjana, dia juga menjadi wanita yang menenangkan peringkat utama deretan anak jenius, Wildan kalah taruhan." Bella tersenyum melihat Vira yang juga tersenyum.
"Berarti setelah kak Tian, Vira dan Wildan, tersisa aku dan Bella, kalian semua akan memiliki anak." Bibir Winda monyong.
"Kamu setuju Winda, Vira menjadi Kaka ipar kamu?"
"Tidak, Vira wanita mesum, nanti kak Wildan ternodai."
Vira langsung menatap tajam, mengejar Winda yang berani mengatakan jika dirinya yang mesum, padahal Winda yang mulutnya sangat kotor.
Aksi kejar-kejaran melibatkan Bening dan Rasih yang juga berlari, Bella hanya tertawa melihat empat orang saling mengejar, merekamnya menjadikan kenang-kenangan.
"Winda, Vira ...." Reva teriak kuat, Winda langsung berhenti, Vira langsung menabrak tubuh Winda, Bening keningnya menabrak body Vira, Rasih juga menabrak kuat sampai terlempar jatuh.
"Aduh, Ning nabrak, akit sekali." Bening mengusap kepalanya, melihat Rasih yang sudah terkapar.
__ADS_1
Bella tertawa kuat, langsung menggendong Rasih, menciumnya yang berpura-pura pingsan. Sekarang keluarga memiliki mainan baru, setelah mereka semua dewasa.
***