
Di rumah sakit sudah menunggu dokter dan beberapa suster, mobil Rama tiba yang langsung keluar mengendong Ravi yang sekarang sudah diam tidak terdengar lagi kicauannya.
Bima dan Bisma ikut keluar, tapi dihentikan oleh Rama yang meminta Bima menunggu di depan akan ada satu mobil lagi yang akan tiba.
Bima menunggu bersama dokter dan suster yang menyiapkan peralatan sangat lengkap, Bima binggung siapa yang ditunggu.
Mobil ambulance tiba, suster membuka pintu dan mengeluarkan seorang pasien yang penuh darah, Bima mendekat dan melihat Windy menggenggam tangan wanita yang sudah dipasang alat bantu bernafas.
Bima terdiam, terasa dunianya hancur dan runtuh melihat wanita yang terbaring tidak berdaya, Bisma menggoyang tubuh Bima yang sedang mencari kesadaran. Windy sudah berada dalam gendongan Bisma yang masih menangis terisak.
"Kak Bim, wooyy bodoh sadarlah." Bisma memukul kepala Bima dan melangkah masuk membawa Windy.
"Reva! tidak mungkin kamu,"
Bima berlari ke dalam mencari keberadaan Bisma yang sudah berdiri di depan ruangan UGD dan coba menenangkan Windy.
Dari luar Bima bisa melihat Reva yang sudah dipasang banyak alat bantu, Bima memijit kepalanya, dadakan sesak gadis kecil yang bertahun-tahun selalu menganggu nya kini terbaring tidak berdaya. Tidak ada lagi ocehannya. Bima meneteskan air matanya.
"Papi! maafin Windy, ini salah Windy."
Windy berpindah ke Bima yang memeluk sangat erat, Bima mengelus punggung Windy agar dia tenang.
***
Ravi di bawa kedalam ruangan khusus, Rama membaringkannya di ranjang, masuklah dokter cantik yang langsung tersenyum melihat Rama.
"Indri periksa anak gue, wajahnya terkena tamparan." Rama memperlihatkan wajah Ravi yang merah membiru.
"Lo gila ya Ram, masa iya Lo kasar sama anak kecil, gak habis pikir gue." Indri mengejek Rama padahal dia tahu Rama tidak mungkin menyakiti anak kecil.
Viana yang berada dibelakang mereka memancarkan api cemburu, mereka berdua terlihat seperti pasangan yang sedang membicarakan anak mereka, dan Viana nyamuknya.
"Sialan, 5tahun gue pergi, cacing berkeliling mengepung Rama, belum selesai satu datang lagi satu."
"Woyy, mendingan Lo periksa anak gue berhenti ngobrol." Viana berteriak membentak.
Rama menoleh ke belakang tajam menatap Viana, Vi membalas tatapan Rama tidak kalah tajam, Indri baru tersadar jika ada wanita lain di ruangannya.
__ADS_1
Ravi langsung diperiksa seluruh kepalanya takutnya ada gumpalan darah di kepalanya, Ravi membuka matanya dan tersenyum melihat dokter cantik dan mengedipkan matanya.
"Dasar bocah genit, masih sakit tidak kepalanya."
Ravi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Ravi! masih sakit tidak." Rama mengelus pipi Ravi dan kepalanya.
"Tidak daddy, hanya saja wajah Ravi terasa tembam sebelah." Ravi menyentuh kedua pipinya.
Viana mendorong Rama dan langsung mendekati Ravi, berbicara lembut ke Ravi tanpa memperdulikan Rama yang sedang berbicara dengan Indri soal keadaan Ravi. Sakit hati Vi melihat Rama akrab dengan wanita lain.
Ravi dibiarkan beristirahat sebentar sebelum pulang, Viana menerima pesan soal kecelakaan Reva langsung kaget dan berlari keluar mencari ruangan Reva, yang sudah di kirim oleh Bisma. Rama juga sudah menghubungi keluarga Reva.
"Bagaimana keadaan Reva?" Vi melihat Bima yang sangat kacau sambil memeluk gadis kecil yang cantik tapi sangat mirip dengan Brit.
"Masih belum ada kabar," jawab Bisma.
Dokter keluar meminta Keluarga korban yang mempunyai golongan darah yang sama bersedia menyumbangkan darah. Karena butuh waktu untuk mencari tambahan, Reva banyak kehilangan darah.
"Golongan darah pasien AB+,"
"Saya B+ berarti bisa melakukan transfusi darah ke Reva dok," jawab Vi.
Dokter mengecek darah Viana dan langsung melakukan transfusi darah, Rama datang mencari Viana tapi Vi sudah di dalam ruangan operasi Reva.
"Golongan darah Viana unik dan sangat jarang," batin Rama.
Semuanya terdiam menunggu kabar keadaan Reva, Viana juga masih belum keluar. Keluarga Reva langsung datang dan menangis, Bima menundukkan kepalanya tidak berani menatap keluarga Reva.
Bisma memperhatikan gerak tubuh kakaknya, dia paham Bima takut membalas cinta Reva karena statusnya belum lagi Windy yang membutuhkan Bima.
"Rama apa yang terjadi pada Reva."
"Semuanya salah Windy, tadi ada yang menghina Windy katanya Windy kotor sama seperti Bunda Windy jadi berlari. Tidak lama mami Reva datang meminta masuk mobil tapi Windy malu. Lampu merah berhenti Windy langsung berlari dan ada mobil dengan kecepatan tinggi ingin menabrak Windy dan mami yang menyelamatkan Windy." Tangisan Windy terasa menyayat hati.
Ibu Reva mendekati gadis kecil dan menghapus air matanya, lalu membawanya dalam pelukannya.
__ADS_1
"Sejak kapan putri nakal ibu menjadi seorang mami, dan rela mengorbankan nyawanya demi calon anaknya."
Bima melihat kearah ibu Reva yang mengelus kepala Windy. Viana juga sudah keluar dari dalam ruangan dan terlihat pucat. Rama memeluk punggung Vi tapi langsung ditepis.
"Urus saja dokter cantik di ruangan Ravi, lebih seksi, bahenol, montok, jauh dari Vi."
Ibu Reva tersenyum melihat sosok wanita yang putrinya kagumi, di depan banyak orang masih sempat mengomel dan cemburu padahal tubuhnya masih lemah.
"Ibu Vi izin duduk lemes, rasanya sama seperti habis melahirkan, laki-laki mana tahu, enak bisa bercanda dengan sembarang wanita dengan alasan anak yang berjuang melahirkan siapa yang dikagumi siapa."
"Vi mau menunggu Reva keluar, Viana cuman mau bilang sudah membayar hutang, dan awas saja jika tidak Bagun, Viana minta keluarkan lagi darah Vi yang ada di tubuhnya."
Windy dan ibu bapak Reva tertawa melihat tingkah Viana yang kesal juga cemburu sedangkan Rama tidak membalasnya sama sekali.
"Maafkan saya ya Bu pak tidak bisa menjaga Reva, saya takut mengecewakan Reva,"
"Bima yang mana kalian kembar sangat mirip." Tanya bapak Reva
"Mereka hanya sama wajah otak dan sifatnya beda, dan bersyukurlah yang dicintai Reva yang lembut dan cerdas, bukan yang setengah waras."
Windy kembali tertawa membuat Viana melotot, dan menatap sinis kearah Bima.
"Anak Lo kenapa mas Bram, dia ketawa terus setiap gue ngomong, apa Vi mirip badut," tawa Windy semakin menjadi membuat semuanya tersenyum.
"Reva beruntung berada disisi orang baik seperti kalian semua, setiap pulang ke rumah Reva selalu bercerita Viana, menjaga Rama, perusahaan VCLO, barang limited apa ya ibu tidak mengerti yang paling membuat pusing dia selalu membicarakan seorang pria dewasa yang selalu menolak cintanya."
"Terakhir kali Reva datang sambil menangis dan menyatakan menyerah mengejar cintanya dan minta di jodohkan, katanya dia tidak punya harga diri."
"Tepat! Viana ada jodoh untuk Reva, dia pria baik, tampan, mapan, dan yang lebih menguntungkan Reva dia pria dewasa yang bisa menjaga pandangan, dan juga hati." Vi bicara sambil berdiri dan duduk lagi kepalanya sedikit pusing.
"Tidak bisa Vi," ucap Bima tegas.
"Iya, tidak boleh, mami Reva cintanya sama papi, papi juga cinta kami." Ucap kesal Windy.
"Percuma jika tidak ada perjuangan, yang sudah berjuang saja masih goyah melihat dokter seksi dan bahenol."
Tatapan Rama dingin, sambil menggelengkan kepalanya, Viana masih sama seperti dulu kekanak-kanakan.
__ADS_1