SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PERTUNANGAN


__ADS_3

Bima terdiam melihat Viana yang masih lancar marah-marah, Rama sudah duduk diam mendengarkan Viana marah.


"Vi, kenapa marah-marah?"


"Lagi kangen mengomel saja." Viana langsung memeluk Rama mencium pipinya meminta maaf.


"Mommy, tidak kasihan melihat Vira. Vira juga boleh tidak cium Daddy?" Vira memeluk Rama mencium pipinya.


Suara teriakan Kasih terdengar, tawa Ravi juga terdengar. Viana menggelengkan kepalanya, Ravi tidak pernah berhenti menggoda istrinya, membuat Kasih terus mengomel.


"Iya maaf sayang, Aak menemui Erik dulu." Ravi langsung berlari meminta izin Mommy menjaga Kasih.


Di kediaman Erik juga sudah bersiap, acara pertunangan hanya keluarga inti, tapi tetap mewah, menggunakan baju khusus untuk keluarga.


Ravi lebih memilih menggunakan baju dari keluarga Erik, sedangkan Kasih masih marah tidak suka dengan Erik.


"Gue heran kenapa Kasih benci banget sama Lo Rik?' Ravi langsung tertawa memakai bajunya.


"Kata orang tua zaman dulu, kemungkinan besar anak kalian akan mirip orang yang tidak disukai Ibunya." Tawa Erik juga terdengar.


"Sialan, amit-amit anak gue mirip Lo." Ravi menatap sinis.


"Tidak masalah Vi, lagian aku juga ganteng. Semoga anak Lo mukanya mirip gue." Erik berlari, Ravi sudah mengumpat sambil melempar Erik dengan sepatu.


Tian juga datang menemui Erik, melihat pertengkarannya dengan Ravi, Tian tidak menyangka akan di dahulu oleh adiknya.


"Kak Tian kapan menyusul?"


"Kalian duluan saja, biarkan kak Tian secepatnya menjadi Uncle."


"Sabar ya kak Tian, mungkin sudah saatnya mencoba pacaran membuka hati." Erik mengedipkan matanya


Sebuah sepatu melayang menghantam kepala Erik, Ravi sudah tertawa kuat melihat Bella datang, tatapan matanya tajam membuat Erik menundukkan kepalanya.


"Ingat ya Rik, aku bisa saja tidak merestui hubungan kalian." Nada bicara Bella mengancam.


"Maaf kakak ipar." Tawa Erik langsung terdengar, Tian juga tertawa mendengar suara Erik memanggil Bella kakak.


"Najis aku mendengarnya." Bella langsung menarik Tian untuk mengikutinya.


"Bella galak banget, mirip Siapa? kenapa kak Tian bisa mencintai seorang Billa?"


"Pasti ada sisi baiknya, jangan lihat buruknya Rik, tapi hatinya."


***


Di rumah Bisma sudah ramai, Billa sudah menggunakan make up yang membuatnya semakin cantik. Vira dan Winda secara langsung mendadani Billa, membuatkannya baju khusus.


"Bil, tidak terasa akhirnya kamu tunangan." Vira memeluk Billa sedih.


"Jangan sedih, kita masih akan tetap bersama."


"Kangen masa kita kecil dulu, sebentar lagi kamu akan menikah, mempunyai anak. Semoga kita juga cepat menyusul, jadinya anak kita bisa seumuran." Winda mengkhayal.

__ADS_1


"Win, bayangan kamu sudah jauh, tapi calonnya saja belum terlihat." Bella muncul membawa high heels untuk Billa.


"Pintar banget menjatuhkan mental." Winda menatap sinis.


"Sumpah, kesel banget lihat kak Erik, dia memanggil Bella Kakak ipar." Bella membanting high heels Billa.


"Memang seharusnya, kamu ingin dipanggil nenek Bel." Vira menggelengkan kepalanya.


"Rasanya canggung Vir, biasanya kak sekarang dek." Bella cemberut.


Tawa yang lainnya terdengar, melihat nasib Bella yang berubah menjadi kakak.


Suara ketukan pintu terdengar, meminta Billa keluar. Keluarga Erik sudah datang, acara pertunangan akan segera dimulai.


Acara pertunangan sangat mewah, rumah mewah Bisma berubah seperti tempat pernikahan. Billa turun ke lantai satu melihat keluarga sudah menunggu.


Erik tersenyum melihat nenek kakeknya sangat bersemangat, kakeknya memaksa Erik untuk menikah, tapi Septi memberikan pengertian, barulah berhenti marah-marah.


"Kak Erik, Erwin pulang." Erwin memeluk kakak satu-satunya.


"Jagain kakek sebelum dia cari pacar baru." Erik tertawa pelan bersama Erwin.


Keluarga besar Billa bertemu dengan keluarga besar Erik, Ibunya Erik menolak untuk datang, hanya akan datang saat pernikahan Erik.


"Ini calon istri kamu Erik, cantik sekali tapi lumayan tua." Kakek Erik mengelus kepala Jum.


Viana sudah menyembunyikan wajahnya di tubuh Rama, Reva sudah menutup mulut kuat agar tawanya tidak terdengar.


"OHH kakek pikir calon istri kamu, dia calon istri kamu. Pintar sekali mencari istri Rik, tapi kenapa lebih tua."


Reva sudah menahan perutnya melihat wajah Viana yang sudah cemberut, Jum juga tersenyum melihat wajah Vi.


"Kakek lebih baik Kakek diam, dia Mommy nya kak Ravi bukan kak Billa." Erwin menarik kakeknya.


"Jadi yang mana Billa? Kakek sudah tidak sabar."


Suara high terdengar, Billa tersenyum berjalan menuruni tangga bersama Vira, Bella dan Winda. Erik tersenyum melihat Billa yang sangat cantik.


"Calon istri Erik ada empat, Septi di mana kacamata bapak, dari kejauhan rabun."


"Bukannya dari dekat juga rabun." Viana bergumam pelan.


"Nahhh, ini dia Billa baru cantik, masih muda. Cocok untuk Kakek."


"Untuk Kakek." Billa, Winda, Vira langsung tertawa, Bella menatap sinis, matanya melotot hampir keluar.


Tian langsung menarik Bella yang ingin memukul, tawa Vira tidak bisa di kontrol lagi, terus tertawa melihat Bella.


"Assalamualaikum kek, perkenalkan aku Billa."


"Iya iya kamu Billa, cantik sekali."


Erik menarik kerah baju kakeknya, memintanya untuk berdiri di belakang. Kakek terus menolak, sampai Nenek menunjuk.

__ADS_1


"Dasar cucu kurang ajar, tidak sopan dengan kakek."


Erik hanya menahan tawa mengejek kakeknya yang berjalan ke belakang.


"Kakek Kakek takut Nenek." Ravi tersenyum memeluk pinggang Kasih.


Seluruh keluarga langsung bersiap melihat Erik memasang cincin ke jari Billa, senyum keduanya terlihat bahagia. Jum meneteskan air matanya, putrinya baru bertunangan, tapi bisa membuat Jum sedih.


"Putri kita sudah besar sayang, sedangkan kita terus menua." Bisma mengusap punggung Jum.


"Terima kasih Ayah sudah memberikan kebahagiaan untuk Putra putri kita, Bunda juga sangat bahagia, sangat beruntung menikah dengan Ayah." Jum mencium tangan Bisma.


Erik memasangkan cincin di jari manis Billa, sebaliknya Billa juga memasangkan cincin di jari Erik. Keduanya tersenyum menunjukkan cincin sambil berfoto.


"Aak kita dulu tidak bertunangan?" Kasih melihat Ravi yang hanya nyegir.


"Sudah selesai belum, kakek lapar."


Septi langsung melihat bapaknya, melotot tajam membuat Ammar tersenyum.


Seluruh keluarga berkumpul, melakukan foto bersama. Billa teringat foto saat kecil, walaupun personil berkurang, tidak ada Wildan dan Salsa.


Keluarga Ivan, Romi juga datang memberikan selamat untuk Septi. Salsa juga muncul membuat Ivan menghela nafas melihat putrinya.


"Selamat malam pak." Salsa menyapa Tama sebagai atasannya.


"Kak Tian, Salsa benar-benar nekat jadi polisi. Dasar perempuan sinting." Bella menatap sinis.


"Sal, foto bareng." Vira teriak kuat memanggil Salsa.


Semuanya berkumpul untuk berfoto, hanya Wildan yang tidak hadir. Reva berkali-kali menghubungi putranya untuk melihat acara, tapi tidak ada jawaban.


Sebuah layar besar hidup, Wildan duduk dengan tatapan dingin, semuanya teriak menyapa Wildan. Ravi meminta Wildan memberikan hadiah.


"Sudah aku kirimkan, selamat kak Erik Billa, saat kalian menikah Wildan akan usahakan untuk datang."


Semuanya melambaikan tangan untuk Wildan sebelum panggilan mati, seorang wanita cantik muncul di belakang Wildan.


Seluruh tatapan mata melihat Vira, Wildan belum sempat mematikan ponselnya langsung berbicara dengan wanita cantik di belakangnya.


"Ayo Wil, aku lapar."


"Tunggu aku di mobil."


Bella langsung mematikan layar, tidak memperdulikan Mami meneriaki Wildan.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2