
Perdebatan soal nama terjadi, Winda dan Wira terus bertengkar hanya karena soal nama. Vira hanya tertawa saja melihat Syila yang kebingungan mendengar suara Umi dan Kakaknya.
"Wira, nama Arsyila sudah terdaftar, kita semua juga sudah terbiasa memanggil dia Syila. Aunty tidak ingin menggantikannya lagi." Nada Winda tinggi tidak ingin mengabulkan apa yang Wira inginkan.
"Apa yang tidak bisa dilakukan oleh keluarga Bramasta? hanya untuk mengubah nama itu hal mudah." Omelan mulut Wira terdengar, bahkan Winda bekali-kali kalah debat dengan si kecil tampan yang selalu melakukan sesuka hatinya.
Windy dan Steven datang, terkejut melihat putra mereka yang sudah membuat keributan. Vira menjadi orang yang cekikikan melihatnya, sedangkan Winda sudah emosi.
Ar dan Wildan masih duduk diam, melihat perdebatan keduanya yang sangat panjang. Wira tetap memaksakan keinginannya.
"Wira, hentikan sayang. Kamu tidak bisa memberi nama seperti itu, Aunty Winda juga punya hak untuk putrinya." Stev menggendong Wira untuk keluar.
Tangisan Wira langsung terdengar, dia sangat sedih mendengar penolakan Winda. Menutupi wajahnya, tidak ingin bicara dengan Winda lagi.
Semuanya diam, Wira tidak terbiasa menangis di depan banyak orang. Tuan muda Alvaro yang memiliki kekuasaan, tidak pernah ditolak apapun keinginannya.
"Baiklah, berikan Uncle alasan kamu ingin mengubah nama, mungkin kita bisa memikirkannya." Ar akhirnya angkat bicara, meminta Wira berhenti menangis.
Mendengar ucapan Ar, Wira langsung turun duduk di samping Wildan.
"Apa alasannya Wira?" Wildan mengusap air mata yang masih membasahi pipinya.
"Uncle, nama adik cantik Arum artinya dia wangi."
"Bukan alasan itu, tapi alasan kamu ingin mengubahnya?"
Wira tersenyum, saat tengah malam hujan turun dengan derasnya. Ada kilat yang terpancar di langit malam, muncul beberapa kali dengan tulisan Arab, awalnya Wira hanya mengabaikan saja sampai Elang juga menyadarinya.
"Apa bacaannya? Wira sudah bisa membaca tulisan Arab?" Ar menatap Steven dan menganggukkan kepalanya, jika putranya bisa.
"Bacaannya Arum, tiga kali muncul dengan tulisan yang sama. Bukannya dia nama yang ada dalam doa, saat di pemakaman Wira mencium bau yang sangat wangi, bukan bunga, bukan wewangian, hanya bau harum yang sangat menyengat. Bau hilang saat Dede Vivi sudah dimakamkan." Wira menatap seluruh orang yang diam mendengarkannya.
__ADS_1
"Vira juga menciumnya, bau wangi putriku. Mulai saat ini nama kamu Arum Fatimah Prasetya, menjadi anak yang baik, Sholeha, juga menjadi anak yang mirip Mami dan Umi. Kamu putrinya Mami Vira." Kecupan lembut terlihat menyentuh mata, hidung, bibir, pipi Arum.
Wira sudah lompat-lompat kesenangan, jika Vira sudah mengatakan sesuatu maka tidak ada yang bisa mengubahnya.
"Oke, ini terakhir mengubah nama Syila menjadi Arum. Jangan diubah lagi, karena akan segera didaftarkan." Ar menatap Wira yang menganggukkan kepalanya.
Winda terdiam, dia sedikit panik jika putrinya mirip Vira dan dirinya. Ingin menjadi apa seorang Arum yang memiliki karakter dua wanita pengacau, kasian Ar yang akan mendidik putrinya.
"Assalamualaikum, ternyata sudah ramai." Senyuman Erik terlihat, langsung mengecek keadaan Ar.
"Uncle, nama si cantik Arum." Wira tersenyum memperkenalkan Arum Fatimah Prasetya.
"Ganti nama? siapa saja nama panjang tiga bayi?"
"Virdan Hasan Bramasta, Arwin Husein Prasetya, Arum Fatimah Prasetya. Nama yang indah." Vira menatap gemes melihat Arum.
Ar tersenyum, Vira pernah bertanya jika memiliki seorang putra, nama yang ingin Ar berikan Hasan dan Husein. Vira memberikan nama Hasan untuk putranya, dan Husein kepada putra sahabatnya.
Nama ketiga bayi sudah didaftarkan, Wira orang yang paling bahagia. Winda selaku ibu yang mengandung melahirkan dan menyusui tidak memiliki kesempatan untuk memberikan usulan nama.
Tubuh Vira mendadak lemas, Erik memintanya untuk beristirahat di kamar yang berbeda, tapi Vira ingin tidur bersama Winda.
Ar yang pindah ranjang, Winda dan Vira beristirahat sambil menatap ketiga anak mereka. Wira juga ikut tidur, karena dirinya seharian belum tidur.
Windy dan Steven membawa putra mereka untuk kembali, meminta maaf kepada Ar karena putranya mengambil keputusan sendiri.
Wildan tersenyum, mencium kening Wira, tuan muda yang sangat tampan, lucu, baik, penyayang meskipun sangat jahil, nakal, melakukan sesuatu sesuka hatinya.
"Kami pulang dulu Wildan Ar, nanti para orang tua juga datang. Kalian istirahat dulu." Steven pamitan untuk pulang, kasian melihat putranya yang kelelahan.
Wildan tersenyum menatap putranya, tidur bersama Vira yang juga lelah setelah melewati hari yang panjang.
__ADS_1
"Kak Ar, kenapa Ranty bunuh diri?"
"Tidak tahu, aku belum bisa melihat detailnya, Erik menyita seluruh akses untuk aku berkomunikasi."
Erik tersenyum menyerahkan ponsel Ar, melihat keadaan Ar sudah jauh lebih baik, tapi tetap harus berada di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama.
"Bagaimana keadaan baby kak Erik?"
"Arwin baik Wil, hanya saja Virdan dan Arum yang terkadang tidak stabil. Demi kebaikan mereka, kita biarkan perawatan di rumah sakit sampai usia mereka tiga bulan." Erik menjelaskan kondisi bayi menurut beberapa dokter yang menangani, ikatan Virdan dan Arum lebih kuat sehingga jika satu drop satunya mulai tidak stabil.
"Apa ikatan keduanya lebih kuat?"
"Iya, menurut penelitian aku. Arum bisa merasakan kondisi Vivi, begitupun dengan Virdan." Tatapan Erik melihat ke arah dua bayi yang bahkan cara tidur mereka sama.
"Tidak tertukar mereka Rik?"
Erik tertawa melihat reaksi Ar, Wildan juga tersenyum menatap Ar yang ragu dengan ucapannya. Putrinya lebih mirip dirinya.
"Arum ingin tertukar dengan siapa? tidak mungkin Arwin dan Virdan tertukar, wajah mereka saja beda. Penjagaan mereka juga ketat, tapi jika kalian ingin tes DNA mungkin sulit." Erik tertawa lucu melihat Wildan dan Ar kebingungan.
Arwin berada di tengah-tengah dua orang yang memiliki ikatan kuat, cukup lucu melihat ikatan batin Wildan dan Winda, tapi turun kepada Virdan dan Arum.
"Apa mungkin Virdan nakal?" Wildan menatap Erik.
"Aku rasa tidak, dia pendiam sekali sama seperti Arwin, tapi tidak tahu juga jika besarnya." Erik hanya bisa mengusap punggung Wildan, jika memiliki putra seperti Wira bisa kacau dunia.
Sudah cukup ada dua putri yang nakalnya luar biasa, satu putra jangan sampai bertambah lagi anak nakal dalam keluarga, apalagi laki-laki bisa kacau jika ada banyak playboy.
"Semoga saja Virdan mirip aku, cukup punya satu Vira yang susah diatur."
"Wil, lalu aku bagaimana? kamu pikir Winda perempuan pendiam, sekarang ada satu putri berarti ada dua, bagaimana jika Arwin juga nakal? bagaimana nasib aku?" Ar langsung tertawa bersama Wildan dan Erik yang merasa lucu dengan pembicara mereka.
__ADS_1
***