
Rama berlari memasuki rumah, melihat Viana yang sudah tidak sadarkan diri.
"Sayang! Viana bangun Vi, kita ke rumah sakit. Kita harus kuat.
Viana perlahan bangun dan terus menangis, sampai dia sadar sepenuhnya sudah berada dalam pelukan Rama.
"Hubby! ini pasti karena Viana lagi, Vi bawa sial ya hubby. Viana penyebab keluarga kita dalam bahaya."
"Tidak sayang, semua ini musibah. Ayo kita ke rumah sakit bawa Ravi juga, kita bisa menghadapi semua ini ya sayang."
Viana, Ravi, Reva, juga Rama menuju rumah sakit bersama Bisma. Kecelakaan yang dialami Oma Flo dan Irma yang baru pulang dari desa, menyebabkan kecelakaan beruntun yang memiliki banyak korban jiwa.
Saat tiba di rumah sakit, mommy Vi sudah berkali-kali pingsan, Viana berlari memeluk mommy nya yang sudah tidak punya tenaga lagi.
"Vi, Oma sudah tidak ada nak, Oma pergi ninggalin kita. Bahkan Oma tidak menunggu kita tiba sayang," tangisan Viana dan mommy menyesakkan dada, semuanya meneteskan air mata,
Vi dan Rama masuk kamar jenazah melihat Oma Flo yang sudah pergi. Viana langsung mundur tidak kuat memeluk Rama dan jatuh pingsan.
Semuanya membagi tugas dengan musibah yang bertubi-tubi menimpa keluarga Rama dan Viana. Bima masih mengusut kasus Sakti yang sudah di lepas pangkatnya, dan mendapatkan hukuman seumur hidup. Sedangkan Mitha mencoba melarikan diri dari mobil kepolisian dan mengalami kecelakaan, dia hilang ingatan dan penjara 20tahun.
Bisma pergi ke lokasi kecelakaan Oma, dan banyak korban jiwa, Karena salah satu supir truk mengantuk dan oleng dan menabrak jembatan, dan mobil Oma tidak bisa mengerem karena jarak yang terlalu dekat. Supir tewas di tempat, Oma Flo meninggal saat menuju rumah sakit sedangkan Oma Irma masih kritis. Selain mereka ada 2 mobil bis yang ikut terguling, korban yang meninggal mencapai puluhan dan yang terluka berat juga ringan melebihi yang meninggal.
Kondisi Ammar paska operasi masih belum stabil, ada beberapa anggota tim kepolisian bawahan Ammar berjaga juga Ivan yang sudah kembali dari LN langsung mengawasi perkembangan Ammar.
***
Rama dan Ravi duduk di depan ruang Oma Irma yang masih kritis dan belum ada perkembangan karena dokter sulit melakukan tindakan, usia Oma yang sudah tua bisa berakibat fatal.
"Daddy, jika mau menangis tida apa, pria menangis bukan karena lemah. Ravi tahu daddy sangat sedih melihat Oma di dalam." Ravi memeluk lengan Rama sambil tersenyum.
"Iya Ravi, daddy sangat terpukul dari kecil Oma yang menjaga Daddy, Oma satu-satunya keluarga daddy." Rama menangis mengigat masa kecilnya yang berat karena kehilangan orang tuanya, dan sekarang Omanya juga berjuang bertahan hidup.
__ADS_1
"Rama! Ravi gue bawa makanan kalian berdua makan dulu," Septi mengeluarkan makanan ringan yang dia buat, dari dulu saat salah satu dari mereka sedang bersedih Septi pasti membuatkan makanan penghibur.
Septi menyuapi Ravi sambil tersenyum dan mengelus kepala Ravi, Rama memegang sandwich yang di bawa Septi ada bentuk smile membuat Rama mengusap air matanya dan memakannya.
"Maaf ya Sep, kak Ammar juga terluka karena gue." Rama menundukkan kepalanya yang berat karena banyaknya masalah.
"Santai Ram, gue masih setia menunggu dia menepati janji," airmata Septi keluar, dia sempat melihat keadaan Ammar yang bertahan hidup dengan selang di mulutnya.
"Ravi makan yang banyak ya, keluarga kita sekarang lagi di uji, Ravi harus memberikan semangat ke Daddy dan mommy Ravi. Badai pasti berlalu."
"Iya aunty, Ravi tahu rasa sakit kehilangan, ular Ravi jarang pulang juga membuat Ravi sedih, apalagi tidak pernah kembali pasti sakit sekali."
***
Viana mulai sadar dan mencari keberadaan Rama yang sedang menunggu keadaan Oma nya, Vi melihat Rama menangis terduduk di depan sebuah kamar, daddy Vi juga menangis di sana, Reva dan Septi juga ikut menangis. Viana dari kejauhan langsung terduduk dan menangis sejadinya.
Bima yang baru tiba melihat tangisan Viana dan juga Rama dari jauh, Bima melewati Viana karena Bisma juga berada di belakangnya. Bima lari mendekati Rama yang terduduk dilantai.
"Kak Bim, Oma ninggalin Rama sekarang Rama tidak punya keluarga lagi, ibu ayah pergi meninggalkan Rama dan sekarang Oma juga pergi kak."
"Siapa bilang kamu tidak punya keluarga, ingat istri anak kamu, ada kakak Bim juga yang akan terus bersama kamu. Kami semua di sini mendampingi kamu, Rama tidak pernah sendiri."
Rama bangkit berdiri, menghapus air matanya dan mencoba kuat masuk ke dalam kamar menemui Omanya untuk terakhir kalinya.
"Oma! maafkan Rama jika belum bisa membuat Oma bangga, terimakasih Oma selama ini sudah menjaga Rama, tenang di sana. Rama di sini akan terus mendoakan Oma dan lihat Rama dan keluarga kecil Rama bahagia. Rama ikhlas Oma!"
Bima yang masuk bersama Rama memeluk pundak Rama memberikan semangat, Rama hanya membalas dengan tersenyum. Mereka keluar Rama melihat Ravi yang menagis dalam pelukan Rev.
Rama mengambil Ravi dan memeluk penuh kasih sayang, Rama juga melihat Viana dari kejauhan yang terduduk sambil menangis, disamping Viana ada Bisma yang sesekali menghapus air matanya.
Langkah kaki Rama terhenti sambil duduk di depan Viana bersama Ravi, Vi menggakat wajahnya melihat dua prianya tersenyum dan langsung memeluk Rama. Semua yang melihat mereka menangis ikut merasakan luka kehilangan.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis, kita ikhlaskan kedua Oma, daddy tidak sendiri sekarang ada mommy juga Ravi yang menjadi keluarga daddy."
"Calon adek Ravi juga,"
Viana replek menjentikkan jarinya di kening Ravi membuat Ravi mengusap jidat dan cemberut mengadu ke Rama.
"Maaf daddy, tidak sengaja soalnya mulut ini anak tidak pernah betul." Viana membela diri.
"Mommy aneh, bukannya bilang amin," Ravi turun dari pangkuan Rama dan pergi mengandeng Bisma melangkah keluar.
Viana dan Ravi memandang heran, melihat Ravi yang gaya dewasa padahal hobi nangis.
"Mau kemana kamu Ravi."
"Kemana kita uncle, emhhh..., kita pulang saja uncle Ravi kangen sama ular. Uncle juga kangen sama aunty Jum. Ravi pulang mommy daddy.
"Yakin, kangennya sama aunty Jum, bukan sama bule tua," Rama langsung menahan Viana agar berhenti bicara tidak sopan.
"Kangen dua-duanya, satunya indo lokal, polos, manis, baik, cantik pinter masak. Dan satunya lagi bule asli, seksi, cantik, ahh capek ngebayangin dua bidadari." Bisma menahan tawa melihat ekspresi Viana.
"Kak tolong jaga Ravi, aku harus mengurus kepulangan kedua Oma,"
"Iya! jika perlu sesuatu hubungi saja."
Ravi mencium Viana dan Rama lalu berlari berpamitan ke nenek dan kakeknya, juga mencium Reva dan Septi baru berlari mengandeng Bisma.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE
__ADS_1