
Peresmian hotel VIRDAN dilakukan setelah usia kandungan Vira memasuki bulan ketiga, Wildan kesulitan karena dia yang mengalami muntah, lemas, pusing, di waktu tertentu.
Lebih buruknya lagi, jika Winda muntah Wildan juga muntah. Melihat kakaknya ikutan sengsara membuat Winda bahagia.
Vira terlihat paling santai, dia hanya tidur dan makan, karena yang menderita suaminya.
Sudah siang Wildan baru keluar kamar, melihat makanan yang dia inginkan. Viana selalu menyiapkan apapun yang Wildan inginkan, jika Vira tidak sulit, karena memakan apapun.
"Minum susu dulu Wil." Viana duduk menatap menantunya.
"Terima kasih mommy, di mana Vira?"
"Masih pergi belanja bersama Billa, Winda dan Bella untuk kelahiran baby twins B. Bagaimana peresmian hotel?" Vi mencium tangan Rama yang baru saja pulang.
"Tetap hari ini Mom, kita mengadakan sore, karena pagi tidak memungkinkan. Langsung sekalian syukuran dua bumil." Senyuman Wildan terlihat, melihat ponselnya.
"Ar di mana ya Pi?"
Viana langsung tertawa, Ar lebih buruk dari Wildan dari subuh sudah muntah, tubuhnya langsung lemas, tidak bisa makan apapun sampai jam dua belas siang.
"Ar, masih terkapar. Reva yang mengurus, sedangkan Winda sibuk belanja." Senyuman Vi terlihat menatap lelaki yang menderita jika istri hamil, tidak heran jika langsung stop hamil.
"Bagaimana perkembangan hotel? kamu dan Ar sama-sama tidak berdaya?"
"Kak Stev yang mengurusnya, mereka juga sudah beberapa hari di sana. Kak Windy sudah marah-marah, karena Wira main air terus." Wildan menunjukkan rekaman video Wira yang main perosotan yang cukup tinggi. Lima bodyguard yang mengawalnya masih kewalahan.
"Wira kamu nakal sekali, tapi kenapa tampan sekali. Siapapun yang melihatnya langsung jatuh cinta?"
"Mom, kemarin mobil Stev goresan besar gara-gara Wira marah mendengar Bella menginginkan dia botak." Rama tertawa lucu melihat wajah Wira, karena ingin berambut panjang.
"Sekarang rambut dia pendek, lebih ganteng." Viana berharap cucunya juga mendapatkan wajah bule.
Rama dan Wildan hanya tertawa, mereka tidak khawatir soal tampan atau cantik, paling penting sehat.
Suara Vira pulang terdengar, langsung memeluk Wildan mencium pipinya.
"Kapan kita berangkat ke hotel? Vira ingin mandi." Mata berkedip menggoda suaminya.
"Ingat, ada dia. Jangan bermain hal yang berbahaya." Wildan mengusap perut yang sudah terlihat.
__ADS_1
"Vira banyak makan, perut besar, badan melar, pipi tembam, tapi masih cantik tidak Ayang?" Wajah Vira terlihat lucu.
"Cantik, sangat cantik." Senyuman Wildan terlihat melihat Vira ingin siap-siap.
"Mom Dad ke kamar dulu soalnya ingin siap." Wildan langsung berjalan ke arah kamarnya melihat istrinya yang menatap kaca.
Vira melihat perutnya yang terlihat mulai membuncit, pelukan hangat dari belakang terasa. Tangan lelaki tampan mengusap perutnya.
"Perut Vira sudah mulai terlihat."
"Kita berpelukan bertiga, sebelum dia lahir. Sungguh tidak sabar lagi ingin melihatnya lahir." Wildan berlutut mencium perut buncit istrinya.
Vira membuka baju, tawa Wildan langsung pecah. Kebiasaan Vira yang selalu ingin berhubungan meminta Wildan menyapa anaknya.
"Ayang."
"Ya udah ayo, sebentar saja soalnya kita ingin pergi." Wildan menahan tawa, langsung memeluk menggendong istrinya ke atas ranjang.
Suara tawa Vira terdengar, Viana yang berniat mengetuk pintu mengurungkan niatnya. Membiarkan putrinya tertawa bahagia bersama lelaki yang dicintainya.
Pintu terbuka, Vi tersenyum melihat Wildan yang masih tertawa. Wildan menghapus air mata yang menetes.
"Mommy kenapa?"
"Tidak sayang, mommy hanya bahagia mendengar tawa kalian. Jujur Mommy sempat khawatir saat kalian menikah, tidak ingin masa lalu Mommy Daddy terulang kembali, menikah tanpa cinta. Sekarang melihat kalian akur, jhva tertawa bersama Mommy tidak menyesal menerima lamaran kak Bima." Viana memeluk putra putrinya, meminta mereka turun untuk ke hotel.
Beberapa mobil sudah siap semua, mobil akan pergi beriringan. Suara tawa Ravi terdengar melihat Ar yang duduk di pinggir jalan, wajahnya pucat, karena baru selesai muntah.
"Aku yakin Ar trauma, selesai Winda melahirkan langsung stop anak. Kasihan sekali melihatnya, lucu juga." Ravi tertawa puas mengejek Ar.
"Rav pria keren berwibawa jika dimasukan ke media pasti heboh, lihat wajah Ar mirip orang mabuk mobil, hilang sudah gelar Milioner muda." Erik tidak kalah kuat mentertawakan Ar yang tahu jika sedang dibicarakan.
Wildan memberikan Ar minum, tapi menolak karena nanti air juga keluar. Langsung melangkah merangkul Wildan.
Semuanya masuk mobil, menoleh lagi ke belakang mendengar ada yang muntah-muntah. Suara tawa Ravi terdengar kembali, Kasih memukulnya karena tidak merasakan kasihan.
Wildan melihat ke arah Winda, adiknya yang sedang hamil tidak berhenti makan, jika kekenyangan langsung muntah, Wildan juga langsung muntah. Ingin rasanya menaikkan nada bicara menghentikan Winda makan, tapi tidak tega karena bumil sensitif.
"Kalian berdua lebih baik tinggal saja, dari pada mirip orang mabuk" Ravi tertawa.
__ADS_1
"Minum dulu uncel, Aunty Winda juga makan terus. Tidak niat menawari, Asih juga mau." Rasih mengambil makanan Winda langsung masuk mobil.
Satu persatu mobil jalan, sepanjang perjalanan Wildan tidur sedangkan Vira terus mengoceh sambil mengisi perutnya dengan makanan.
Karena tubuh Vira yang kurus, dia tidak mendapatkan larangan apapun, selama berat badannya seimbang.
"Ayang, nanti makan es krim ya?"
"Kamu sekarang sedang makan apa Vir?" Viana menatap putrinya yang mulutnya masih penuh.
"Es krim, tapi sudah habis. Ini yang terakhir, Vira beli banyak, tapi lupa membawanya. Daddy nanti beli lagi, banyak-banyak ya."
Rama menasehati putrinya untuk makan sehat, jangan mengikuti *****. Bukan hanya demi kebaikan diri sendiri, tapi keamanan bayi yang sedang dikandung.
Vira menutup es krimnya, langsung memeluk Wildan yang tersenyum mengusap perutnya tidak ingin jika anaknya terjadi sesuatu.
Apapun bisa Vira lakukan demi kesehatan anaknya, termasuk makanan tidak sehat.
Mobil tiba di tempat tujuan, sudah ramai orang yang berkumpul untuk memulai acara. Wildan tersenyum melihat beberapa orang menyambut kedatangan mereka.
Mobil Ravi terbuka, pemimpin perusahaan LOVER keluar membawa keluarga kecilnya, Asih berada dalam gendongan, satu tangan Ravi menggenggam tangan istrinya sedangkan Kasih menggandeng Raka berjalan masuk, beberapa media memotret keluarga kecilnya.
Rama keluar berjalan bersama Viana, diikuti oleh Wildan dan Vira yang berjalan beriringan. Tangan Wildan memeluk pinggang istrinya.
Bima juga tiba bersama Reva, kamera memotret kedatangan mereka. Saat Ar keluar banyak kamera menyorot kepadanya, langsung membukakan pintu Winda cepat melangkah masuk.
Kehebohan semakin besar, Bisma keluar mobil bersama istrinya langsung cepat masuk demi keamanan.
Penjagaan Bella juga diperketat, perutnya yang besar mudah emosi, Tian langsung merangkul Bella untuk masuk.
Erik juga tiba, tidak menyangka media ramai, langsung menggendong putrinya. Em melambaikan tangannya mirip artis cilik, Elang menggunakan topi tidak suka keramaian. Billa langsung merangkul lengan Erik, berjalan mengandeng Elang.
Seluruh mobil masuk, Steven dan Windy benafas lega melihat keluarga Tama juga sudah masuk.
Wira tertawa karena dia sengaja mengudang media tanpa ada yang tahu.
"Kenapa banyak media?" Ravi menatap Wildan dan Ar yang juga binggung.
***
__ADS_1