SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PAMITAN PERGI


__ADS_3

Suara langkah kaki terdengar di area bandara, keributan terdengar dari tiga wanita yang mempermasalahkan nama.


"Sssttt nenek diam, adik Ning masih tidur jangan berisik." Bibir Bening monyong, berjalan di depan sambil menggendong ranselnya.


Tama yang sedang menggendong putranya Tiar hanya tersenyum melihat kelucuan putrinya, tidak terasa Ning semakin mengemaskan.


"Ning pulang, Ning kangen Asih."


"Ning sssttt, jangan berisik Tiar masih tidur." Reva menahan tawa melihat mata gadis kecil melotot langsung berlari menjauh.


"Jangan lari Ning, nanti jatuh sayang." Bisma langsung pindah menggandeng tangan cucu perempuannya.


"Tidak ada yang menjemput kita?" Viana menatap Rama yang sedang menghubungi supir.


"Ning ingin bertemu Asih, Aka, Em,


El, Bulan, Bintang, Arum, Arwin, Virdan masih kurang satu siapa ya?" Ning binggung menghitung jarinya.


"Wira Bramasta Alvaro." Windy tertawa merindukan putranya.


"Iya, kak Wira. Kenapa Ning bisa lupa?" Bening tertawa lucu menunggu mobil tiba.


Suara teriakan Bella terdengar, berlari mengejar putrinya Bulan yang sudah bisa berlari kencang, Bisma langsung berjalan menghadang cucu cantiknya yang langsung tertangkap dalam pelukan kakeknya.


"Ya Allah lucunya cucuku, kamu cantik sekali Embun." Bisma meringis mendapatkan pukulan dari Bulan.


"Maafkan kakek sayang, mata Kakek sudah rabun, ternyata ini si gemes Bulan." Bisma mencium kening cucunya yang mirip sekali dengan Tian.


Senyuman Viana dan Reva terlihat, menatap tiga si kecil sudah bisa mulai berjalan meskipun masih miring-miring sempoyongan ingin jatuh.


Ar dan Wildan berdiri di belakang untuk mengawasi jangan sampai ada yang jatuh, karena jika Arum ingin jatuh pasti mendorong Arwin dan Virdan yang sudah berjalan tanpa miring.


Bima dan Rama langsung jongkok, merentangkan tangannya meminta ketiga cucu mereka untuk segera mendekat.


Senyuman Arum terlihat, mempercepat langkahnya, tubuhnya miring ke kiri membuat semua orang teriak, karena Virdan jatuh didorong Arum. Wildan langsung sigap menangkap putranya sambil tertawa.


Arwin memilih berhenti sebelum didorong oleh adiknya, membiarkan Arum berjalan sendiri mendekati kedua kakeknya.


Rama dan Bima saling pandang, mereka merasa lucu melihat Arum yang berhenti karena binggung ingin memilih siapa.

__ADS_1


Langkah Arum mengarah kepada Viana dan Reva, keduanya langsung saling dorong ingin berebut, Arum tersenyum ingin memeluk Viana, tapi langsung putar arah mencari Abinya.


"Dasar tukang PHP ini perempuan." Reva gemes melihat tawa Arum.


Rama langsung menggendong Virdan, begitupun dengan Bima langsung mengambil Arwin yang tersenyum melihat kakeknya.


Wildan langsung mencium tangan para orang tua, memeluk kakaknya Windy, Bella juga mengikuti Wildan, Armand, Tian mencium tangan para orang tua.


"Di mana Asih?"


"Ada sayang." Tian melihat ke belakang Ravi berjalan bersama Kasih, Raka sedangkan Asih tidur dalam pelukan Daddy-nya


Embun juga terlihat berlari bersama Elang, diikuti oleh Bintang. Suara Billa mengomeli putrinya terdengar, Erik hanya tersenyum saja merangkul istrinya yang hobi mengomel.


Vira berjalan bersama Winda yang asik tertawa, di belakang mereka ada Erlin yang menggendong Wira sedang tidur.


Steven langsung berjalan mendekati putranya, mengambil alih untuk menggendongnya, bertubi-tubi Stev mencium wajah putra kesayangannya yang terlihat sangat lelah kecapean.


"Wow, jiplakan. Kak Steven tampan sekali sangat mirip sama Wira, katanya kak Stev jauh lebih tua, tapi Lin merasa kak Stev seumuran kak Erik, kak Ravi." Lin tersenyum bahagia melihat tampannya bule yang awet muda tidak bisa tua.


Windy mengerutkan keningnya, melihat wanita muda memuji ketampanan suaminya. Stev memang tidak berubah masih terus terlihat tampan.


"Halo semuanya, perkenalkan aku Erlin. Wow Daddy Rama tampan seperti di foto, Papi Bima juga tampan, ini ada dua Papinya. Oh ternyata kembar, dua-duanya tampan sekali, meskipun sudah tua, tetap sempurna."


Rama, Bima, Bisma mengerutkan kening, masih ada perempuan sejujur Erlin yang memuji ketampanan seseorang secara langsung, tanpa banyak basa-basi.


"Siapa kamu?" Viana menatap tajam, tidak rela ada yang memuji suaminya.


"Apa kalian ada yang menikah lagi? kenapa ada remaja di sini?" Bisma menatap Ravi yang gelang-gelang, Erik juga menggeleng.


"Jika bukan Ravi dan Erik lalu siapa?" tatapan Bisma terarah kepada Wildan, Ar dan Tian.


"Jangan bicara sembarangan ayah, dia masih muda tidak mungkin tertarik dengan lelaki beristri." Jum memukul lengan suaminya.


"Bisa saja sayang, siapa yang bisa menolak wanita cantik dan muda? aku juga mau jika diizinkan." Bisma berteriak kuat, Jum mencubit perutnya sampai luka.


"Ayah Bisma lucu, Lin menyukainya."


"Kamu suka, astaga jiwa mudaku kembali." Pelukan Bisma erat menatap istrinya yang mulai kesal.

__ADS_1


"Siapa kamu? tidak ada yang memberikan kabar jika ada orang baru." Reva menatap tajam, melihat senyuman Lin yang mengaguminya.


"Mami Reva cantik, penampilan sangat modern terlihat sangat elegan. Mommy Viana juga sangat cantik, wajahnya menolak tua, matanya sangat indah dan terlihat penuh wibawa, Bunda Jum juga terlihat sangat natural, penampilannya sederhana, tapi kecantikannya alami. Tidak heran anak cucunya cantik tampan, kakek neneknya juga sangat sempurna." Lin tersenyum melihat Jum yang juga tersenyum.


"Kenapa kamu memuji orang, tapi terlihat sedih."


"Mommy dan Mami bertanya siapa Lin? aku hanya anak yatim piatu yang menumpang hidup kepada kak Vira, Lin senang beberapa bulan tinggal dalam keluarga ini, tapi Lin juga ingin pamitan untuk pergi dari keluarga ini. Lin sudah melamar kerja dan diterima, sudah saatnya Lin mandiri." Senyuman Lin terlihat, menatap Vira langsung memeluknya, mengusap perut besar Vira.


"Kenapa harus pergi? kak Vira masih butuh kamu untuk menjaga Virdan."


"Virdan anak yang mandiri, ada Wira juga yang sangat menjaga adik-adiknya. Nanti Lin akan berkunjung dan melihat twins lahir, kak Vira harus sehat, harus kuat. Lin akan mendoakan kak Vira agar selalu dilindungi, baby dan ibunya sehat. Terima kasih kak Vira, sudah memberikan tempat tinggal, juga kebahagiaan untuk Lin. Kakak malaikat tanpa sayap bagi Lin." Air mata Lin menetes, perjanjian dirinya dan Vira jika orang tua Vira kembali, Lin juga akan pergi.


"Tunggu sampai makan malam perayaan ulang tahun twins B, kamu bisa menjadi tamu dalam keluarga kami." Bella menatap Lin yang menghapus air matanya.


"Malam ini Lin mulai bekerja, happy birthday twins, nanti gaji pertama kak Lin untuk kado kalian." Lin tersenyum menundukkan kepalanya, langsung pamit pergi.


Semuanya tersenyum membiarkan Lin pergi, karena memang sudah pamitan sejak pagi hanya saja dia ingin melihat orang tua keluarga Bramasta dan Prasetya.


Wira membuka matanya, meneteskan air matanya melihat Lin pergi tanpa menoleh ke arahnya.


"Kenapa harus pergi setelah aku merasa memiliki seorang kakak." Wira memeluk erat Daddy-nya.


"Kakak, tunggu." Bulan berlari mengejar Lin, Asih yang sudah bangun juga berlari menarik tangan Ning.


"Kenalkan dia Bening cucu Bramasta."


"Hai Ning, dia pasti anaknya kak Tama dan Binar."


"Kenalan dulu dengan adiknya Ning."


"Nanti saja ya sayang, kak Lin harus kerja pagi, lalu kerja malam. Kak Lin janji akan datang dan menyapa kalian semua." Lin tersenyum melangkah pergi.


Reva menatap Viana yang mengerutkan keningnya mengigat sesuatu.


"Kenapa wajahnya tidak asing?"


"Kak Vi dia mirip temannya kak Vi saat di kantor, siapa ya namanya Clo, Cla, atau Cli?" Reva mencoba mengigat nama yang jarang mereka sebut.


"Mbak Clara, temannya kak Vi dan mbak Sisi." Jum menatap Viana dan Reva yang berteriak mengiyakan.

__ADS_1


***


__ADS_2