
Ravi duduk memeluk Rasih, Viana mendekat mengelus wajah mungil yang sangat mengemaskan. Ravi memberikan Rasih kepada Mommy yang langsung menyambut bahagia, melihat Rasih yang masih tidur nyenyak.
"Kak Vi Rasih cantik sekali, dia memiliki wajah bule." Reva mengelus wajah mulut Rasih.
"Iya, dia calon menantu Jum." Jum tersenyum kagum melihat kecantikan Rasih.
"Menantu Jum? masa iya jodohnya Tian." Viana langsung melotot.
"Bukan Tian, tapi calon anaknya Billa Erik." Jum tersenyum mengemaskan.
"Benar juga." Viana tertawa bersama Jum.
"Bunda, baru lahir sudah dijodohkan. Bagaimana kalau anak Billa perempuan semua?" Billa duduk di samping Erik.
"Jodohkan dengan Wira, cucu utama Bramasta yang sangat tampan." Reva tersenyum.
"Reva juga benar, cucuku memiliki banyak jodoh."
"Berarti Raka menjadi menantu keluarga Bramasta selanjutnya." Jum tetap memaksa untuk menjodohkan.
Rasih terbangun, melihat perdebatan tri istri di depannya. Diskusi yang berputar-putar membuat Rasih langsung menangis kuat, kakinya yang terbungkus kain menendang kuat, seakan mengungkapkan kemarahannya.
"Hayo Mommy, Mami, Bunda Asih jadinya marah, dia tidak suka dijodohkan." Billa langsung tertawa melihat Mommy yang cemberut, memberikan Rasih kepada Billa.
Billa menenangkan Rasih, meletakkan di dekat Kasih yang belum selesai menyusui Raka. Ravi mengelus pipi Raka yang menolak bergiliran susu Mommynya.
"Raka, lama sekali menyusunya adik kamu juga lapar." Billa mengelus wajah Raka yang tangannya keluar memegang baju Kasih.
Ravi mengambil ASI botol, memberikan kepada Asih yang sudah menangis kuat. Merasakan mulutnya sudah dimasukkan susu langsung berhenti, menyedot cepat, karena haus.
Ravi tersenyum melihat kedua anaknya, Erik langsung melangkah keluar karena dia tidak dibutuhkan.
Melihat Erik keluar, Ravi juga melangkah keluar mengikuti Erik yang duduk di ruang tunggu.
"Rik, maaf seharusnya sekarang sudah persiapan pernikahan kamu, karena masalah aku jadinya harus diundur." Ravi duduk di samping Erik, Ravi tersenyum melihat Erik yang menjauh.
"Masih marah soal kita merahasiakan soal Zava. Kita hanya ingin melindungi keluarga Erik, bukan ada maksud lain."
"Iya aku mengerti, karena aku memang bukan keluarga kalian." Erik membuang pandangannya, melihat Tian yang datang sambil berlari.
__ADS_1
"Astaghfirullah Al azim Erik, kenapa tiba-tiba kamu berpikir bodoh seperti ini?" Ravi menggelengkan kepalanya.
Tian melihat Erik dan Ravi, langsung bertanya soal twins yang menghilang. Ravi menjelaskan hanya kesalahpahaman.
"Kak Tian lihat Erik, masih marah soal kejadian kemarin." Ravi menatap Erik yang memainkan ponselnya, langsung melangkah pergi.
"Erik berhenti!"
"Kenapa?"
"Di mana pelacak yang kamu keluarkan? seandainya kamu tahu jika sebenarnya kamu juga hampir menjadi korban seperti Ravi, jika aku tidak meminta bantuan pengawal, sehingga lengah terhadap Ravi."
"Woww, jadi sebenarnya aku yang dikhianati. Kak Tian memilih menolong Erik demi Billa, tapi mengorbankan Ravi."
"Aku melakukan ini demi Erik, kejadian masa lalu membuat kamu sangat menjaga diri agar tidak menyentuh sembarangan wanita, bisa kita bayangkan jika kamu bangun tidur dengan wanita." Tian memegang kedua lengan Erik.
"Sebagai kakak, sahabat kalian yang paling tua, kak Tian ingin yang terbaik untuk kalian, kamu orang baik Rik, kamu satu-satunya orang yang paling setia terhadap keluarga kita. Kita memang tidak ada yang sedarah, kakak, Ravi dan kamu, kita berbeda, tapi ingat perjalanan kita sampai sejauh ini." Tian menepuk lengan Erik membuatnya mengerti.
"Aku takut, sangat takut saat tahu kalian terluka. Aku mencari kalian melihat keadaan kamu yang terluka parah, sedangkan Erik duduk santai, tanpa tahu luka kalian." Erik menundukkan kepalanya.
"Selama kamu ada, kita yakin pasti selamat." Ravi memeluk Erik dan Tian.
"Seandainya ada Wildan, kita pasti lengkap walaupun semuanya tidak sedarah." Tian memeluk Ravi Erik.
"Bagaimana rasanya menjadi seorang Daddy?" Tian tersenyum melihat tawa Ravi.
"Sangat luar biasa bahagianya. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sekarang sudah menjadi Daddy Ravi." Ravi tertawa bersama Erik.
"Pernikahan kalian sudah dilakukan persiapan, kak Tian akan mengurus semuanya."
"Kenapa ingin membayar semua modal nikah, boleh request tidak? mobil Lamborghini Gallardo dua." Erik tersenyum mengejek Tian.
"Billa pasti mengamuk melihat kamu memiliki banyak mobil, sejujurnya Billa mirip Bunda, manis tapi galak." Tian berbisik pelan.
"Iya aku sudah melihatnya, sebagai Dokter baru Bil menghina seorang Erik, memarahi Dokter berpengaruh di sini. Wanita pendiam saat marah, keluar dari ruangannya cacat." Erik tertawa kuat.
Bisma mendengar percakapan anak-anak, di sana juga ada Ammar yang merangkul pundak Bisma. Rama juga tersenyum kagum melihat anak-anak mereka.
"Keluarga ini harus semakin kita pererat, menikahnya Vira dan Wildan akan mengikat menjadi keluarga, lanjut ke cucu kita." Ammar tersenyum kagum melihat kesetiaan sejak kecil yang dijaga Erik, Ravi dan Tian.
__ADS_1
"Semoga saja jodoh mereka ada di sekitar kita, sehingga harta warisan terus berputar." Bisma langsung tertawa, Ammar menatap sinis.
***
Di dalam kamar Kasih masih ramai, satu-persatu keluarga datang untuk melihat twins. Billa mengizinkan melihatnya, tapi harus hati-hati karena mereka belum kuat.
"Gantengnya Raka, mirip Daddy Rama." Tian mengelus pipi Raka yang berada dalam gendongan Jum.
Raka tidak perduli siapa yang mengendong, baginya selama perutnya kenyang, dia bisa tidur lama, bangun saat lapar. Berbeda dengan Rasih yang sangat sensitif, lebih cengeng hanya diam jika dalam pelukan Mommynya.
Daddy Rama mendekati Rasih yang masih tidur di samping Kasih, Daddy Rama mengelus pipi mungil Rasih, mata Rasih terbuka menatap kakeknya.
"Asih sayang, kamu cantik sekali. Terima kasih cu kamu sudah kuat, hebat, menjadi anak yang baik, berjuang bersama Mommy Daddy kamu." Rama mencium tangan mungil, mata Asih berkaca-kaca.
Daddy Rama menggendong Rasih, Viana juga mendekat melihat Rasih mirip Ravi kecil. Hanya bedanya Ravi suka tidur seperti Raka.
"Cantiknya cucu kita Mommy."
"Iya kek, mirip Nenek Vi ya sayang."
"Mommy bangga sekali di panggil Nenek, tidak ingin mencari nama yang lebih lucu."
"Tidak, Mommy ingin dipanggil Nenek, jadi mengingatkan Mommy jika sudah tua, perlahan wajah mulai keriputan, tubuh sering sakit, penglihatan rabun. Mommy tidak muda lagi Rav, Mommy bahagia diberikan umur panjang bisa melihat anak kamu." Viana mencium pipi Rasih.
Ravi memeluk Mommy dari belakang, tidak perduli tua muda jika sudah waktunya, pasti akan kembali.
"Mommy terus dampingi Ravi, lihat Ravi juga menjadi Kakek."
"Gila kamu Ravi, tua sekali." Viana menjitak kepala Ravi.
"Mommy masih cantik, kuat, karena Mommy bahagia. Kasih ingin seperti Mommy menjadi wanita kuat dan cantik sampai tua." Kasih tersenyum menggenggam tangan Mommy Vi.
"Kasih sayang, ucapan kamu seperti pujian, tapi juga hinaan." Viana tertawa kecil.
Suara teriakan Wira mengagetkan, semuanya tegang jika Wira sudah datang, dia pasti ingin menggendong twins. Jika tidak diizinkan dia pasti marah, mengamuk.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA.
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
***