
Billa tersenyum menatap Ravi dan Tian, melangkah mendekat. Billa menyentuh kulit kepala Ravi yang keras, tertawa memeluk Ravi, tangan Billa mengelus kepala Ravi.
Erik menutup mulutnya menahan tawa, mata Ravi sudah menatap tajam Erik, meminta Erik menjauhkan Billa.
"Kak Tian Billa suka rambutnya, tapi ini terlalu panjang. Billa hanya ingin batas lutut, Billa potong sedikit." Billa mencari gunting, memotong rambut Tian.
"Ya Allah hubby, kasihan Erik Tian, Billa lebih parah dari Jum." Viana berdiri bersama Rama yang langsung cepat pergi, takut jika Billa minta sesuatu, dulu saat Jum hamil, Rama dipaksa naik atap rumah.
Wildan juga datang bersama Maminya, Reva langsung tertawa, Wildan langsung menunduk jalan jongkok, takut bertemu Billa.
Kasih datang bersama Karin dan Cinta, langsung kaget melihat kepala Ravi yang tanpa satupun rambut.
Cinta langsung tertawa, menutup mulutnya melihat Ravi dan Tian yang sangat aneh. Pusat perhatian pindah kepada Cinta, akhirnya Cinta merespon, melihat Ravi yang botak, Cinta tertawa sampai duduk di lantai.
"Astaghfirullah Al azim, Ravi kamu jelek sekali." Cinta tidak berhenti tertawa.
"Tian, kamu mirip kuntilanak." Cinta memegang perutnya, tidak sanggup menahan tawa.
Tian melangkah mendekati Cinta, melihat Tian berlutut membuat tawa Cinta semakin menjadi, tangan Cinta menyentuh rambut Tian yang sangat panjang.
"Syukurlah kamu akhirnya tertawa." Tian memeluk Cinta, tawa Cinta langsung berhenti melepaskan pelukan Tian.
"Cinta, maafkan aku."
"Apa yang kamu katakan Tian, Cinta tidak mengerti." Cinta langsung berdiri, Tian juga berdiri memeluk erat Cinta yang selama berbulan-bulan membuat Tian khawatir.
Semua orang mengucapkan syukur melihat keadaan Cinta, akhirnya botaknya Ravi tidak sia-sia, bukan hanya menghibur Billa, tapi bisa mengembalikan Cinta.
Tama datang langsung menyapa semuanya, sesekali Billa melirik Tama, Binar menyerahkan Bening kepada ayahnya.
"Kak Adit lebih baik ke lantai atas, nanti Billa menginginkan sesuatu." Binar mendorong Tama.
Tama mendekati Billa, senyum Billa langsung terlihat bahagia, langsung menatap Tama yang menggendong Bening.
"Untuk kamu Bil, jaga kesehatan kamu, selalu berhati-hati, jaga kandungan kamu, banyak istirahat." Tama memberikan sebuah kalung yang Tama belikan untuk Bening.
"Terima kasih kak Tama, Billa ingin memakainya." Billa ingin memasang dilehernya.
"Tidak muat Billa, jika kamu ingin memakainya, jadikan gelang, lilitkan dua kali." Tama tersenyum melihat Billa yang sangat bahagia.
"kak Tama, boleh tidak memegang kumis kak Tama."
__ADS_1
"Kumis? aku tidak berkumis Billa, apa kamu ingin menunggu sampai tumbuh."
"Itu ada sedikit."
"OHH, silahkan, izin dulu kepada suami kamu."
"Kak Erik, boleh tidak Billa memegang kumis kak Tama?"
"Boleh sayang."
Billa langsung memegang kumis tipis Tama, menariknya kuat, Erik meringis, tapi wajah Tama biasa saja, setelah Billa puas baru Tama pergi. Billa menghitung kumis halus yang berhasil dia cabut.
"Sayang, kumis Tama ingin kamu apakan?"
"Buat Wildan, dia tidak punya kumis, boleh minta kumis kak Erik tidak, Ayah juga, uncle, siapapun yang punya kumis, Billa boleh minta."
"Tidak boleh." Jawab semua orang memilih pergi.
"Ya sudah, Wildan tidak perlu berkumis." Billa melangkah pergi, Erik mengusap dada bersyukur.
"Kasih, apa semua wanita hamil berubah menjadi anak kecil?" Erik menatap Kasih yang sibuk mengemil.
Erik menatap sinis, langsung melangkah pergi. Kasih sejak memiliki anak kerjaan hanya makan saja.
Di lantai atas Tama melihat Tian duduk bersama Cinta, keduanya mengobrol soal niat baik Tian, tapi Cinta menolak. Dia ingin bekerja, menyibukkan dirinya.
Tian menerima keputusan Cinta, berjanji akan selalu ada untuk membantu. Cinta jangan pernah merasa dirinya sendiri.
"Terima kasih Tian, dari dulu kamu orang yang selalu memahami aku. Jika semua orang meninggal aku, hanya kamu satu-satunya yang datang mengatakan aku tidak sendiri. Kamu terlalu baik, aku tidak pantas untuk kamu, jangan kasihan aku, maafkan aku dulu pernah menolak Cinta kamu, sekarang juga jawabannya sama, aku tidak bisa Tian. Maafkan amanah ibu yang membuat kamu memiliki beban."
"Cinta, aku akan menunggu sampai kamu siap."
"Baiklah, buktikan jika kamu serius. Aku sudah seperti wanita obral, dari Ravi, Erik sekarang kamu. Walaupun sejak awal kamu yang selalu ada untuk aku. Dulu aku sangat membenci kamu yang terlalu baik."
"Mulai besok, kamu menjadi sekretaris pribadi aku. Ikut kemanapun aku pergi, kita partner kerja, kamu harus ingat, di kantor aku atasan kamu." Tian tersenyum melihat Cinta yang tertawa.
Tama datang menyapa, memeluk Cinta yang akhirnya kembali tersenyum, berbicara. Cinta mencium Bening langsung meninggalkan Tian dan Tama.
Lama Tama dan Tian diam, Bening sudah terlelap dalam gendongan ayahnya.
"Tian, bagaimana hubungan kamu dan Bella? lupakan amanah ibu."
__ADS_1
"Bella adikku, selamanya akan tetap menjadi adikku."
Tama mengetahui kebaikan Tian kepada Cinta, sekalipun Tian tahu Cinta jahat, tetap dia baik, masih menyapa, bahkan mengeluarkan Cinta dari dalam hotel yang hampir menjadi korban puluhan lelaki.
"Cinta bukan wanita yang sempurna Tian?"
"Apa kamu mencari wanita sempurna Tama?"
"Bukan seperti itu Tian, aku tidak bisa melihat kamu berkorban. Aku memang tidak memahami kamu yang sangat baik kepada Cinta, tapi aku merasa cinta kamu bukan miliknya." Tama menatap tajam.
Tian tersenyum, saat bersahabat dengan Tama, Tian menyadari sosok Cinta adik Tama mirip seperti dirinya, sama-sama pendiam, sulit bergaul, terlalu banyak berhati-hati. Tian pernah menolong Cinta yang terjatuh, Cinta dan Tian membuat janji untuk selalu menjaga, Tian akan selalu menolong Cinta dalam hal apapun.
Janji ini yang membuat Tian berusaha untuk membantu Cinta kembali ke jalan yang benar, hasutan orang membuat Cinta gelap mata, sudah tugas Tian yang membuat janji untuk menggenggam tangan Cinta menjadi orang baik.
"Izinkan aku menikahi Cinta Tian."
"Keputusan ada pada Cinta, aku tanya satu hal, kamu mencintai Cinta?" Tama menatap mata Tian.
"Tidak, tapi aku yakin kasih sayang aku bisa menjadi cinta, kamu sangat mengenal aku Tama. Sulit bagi aku membuka hati."
"Kamu masih mencintai adik kamu?"
"Iya, tapi dari awal kamu juga tahu dia tersimpan di lubuk hati paling dalam."
"Kamu jadikan Cinta pelampiasan, kenapa kalian tidak menikah saja, pasti uncle merestui."
Tian menggeleng kepalanya, hubungannya dan Bella sudah berakhir. Bella akan menemukan cinta baru, kehidupan baru.
Tama tidak tahu harus berbicara apa? Tian sulit diubah pikirannya. Tama cukup tahu, Tian orang baik, tidak akan menyakiti hati adiknya.
"Sebagai sahabat, aku hanya bisa mendoakan kamu memilih keputusan yang tepat."
"Terima kasih Tama, kamu juga harus menjaga jarak dengan Bening, karena kamu dan ibunya orang lain."
"Urus saja hubungan kamu,"
"Binar adikku, Bening keponakanku, kamu sahabatku, bagaimana aku bisa tidak terlibat."
Tian merangkul Tama.
***
__ADS_1