
Ravi keluar dari mobil diikuti oleh Ammar, langkah bocah yang mulai aktif membuat Ammar kewalahan.
"Hai aunty cantik, ruangan Mommy Ravi dimana?" sapa Ravi sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat banyak yang teriak karena melihat bocah lucu juga mengemaskan. Ammar hanya menundukkan kepalanya karena malu.
Selesai menggoda para karyawan wanita, Ravi naik keatas menuju ruangan mommy nya, Ammar melihat bocah 5 tahun yang memang sangat tampan cengengesan tersenyum tebar pesona.
"Siapa yang dia ikuti jadi fuckboy, Rama pendiam, Viana tidak tertarik dengan cinta." gumam pelan Ammar.
Sampai didepan ruangan Viana, dia melihat dua wanita cantik yang juga memandanginya, Ravi langsung tersenyum membuat Sisi dan Clara tersenyum dan mendekati Ravi lalu menciumi nya, Ravi langsung mundur dan cemberut.
"Aunty! tidak suka dicium, Ravi sudah besar,"
Dengan langkah kesal Ravi masuk ruangan Viana yang membuat Clara dan Sisi tertawa.
"Mommy! Ravi datang."
Viana langsung memberhentikan pekerjaan nya dan menyambut Ravi sambil menciumnya. Reva masih sibuk menyelesaikan desain yang akan mereka luncurkan di rapat pemegang saham.
Ravi mendekati Reva yang mengabaikannya, melihat desain Reva yang sangat indah dan menatap wajah cantik didepannya.
"Ravi hilangkan sebentar saja kejahilan kamu, aunty tahu kamu sedang memikirkan sesuatu yang jahat, aunty lagi fokus sebelum buyar."
Senyum Ravi terlihat dia tidak jadi menjahili Reva tapi langsung mendekati Viana yang kembali membaca beberapa berkas, Ravi meletakkan sesuatu didekat Vi dan dia langsung duduk di sofa menunggu drama mommy nya.
Sebuah susu diantar, Ravi langsung meminumnya, saat Viana ingin mengambil berkas dan terpegang sesuatu dan langsung melihatnya, mata Viana melotot dan teriak histeris sambil naik keatas kursi, Reva yang sedang konsen kaget, pensilnya langsung mencoret desain nya.
"Awwwwww kodok, kecoak, tikus, cicak, apa itu namanya." Teriak Viana yang sudah berdiri diatas kursi.
"Ibu! desain Reva hancur," Reva berdiri mengacak rambutnya sambil menahan tangisnya,
"Kak Vi lebay banget, Reva kaget!
ini ular mainan bukan cicak, kecoa apa lagi tikus," Reva membuang ular mainan dan menatap tajam Ravi yang dari tadi tertawa menonton kekacauan.
"Sorry Reva gue juga kaget, ini bocah memang minta ditelan hidup-hidup."
"Ravi punya hewan asli, seperti yang mommy sebut tadi."
"Sudah ya Ravi, sekolah itu bawa buku bukan mainan. Kalau enggak sayang sudah aunty buat peyek kamu."
"Ravi tidak bohong liat ini ya," Ravi mengambil tasnya, Reva dengan santainya menantang Ravi. Viana pindah ke meja Reva dan naik kursi dia paham betul, Ravi tidak pernah bohong.
Ravi mengeluarkan satu kodok, Reva langsung mundur, Viana memandang geli, Ravi mencari lagi dalam tasnya sampai 5 kodok keluar dan berbunyi juga lompat dengan cepat Ravi menangkapnya dan memasukan kembali ke tasnya.
Dengan wajah imutnya Ravi tersenyum tidak berdosa, Viana mengelus dada, Reva hanya geleng-geleng keheranan.
__ADS_1
"Ravi, dari mana kamu kodok menjijikan ini,"
"Dari sekolah Mom, lagi istirahat makan, Ravi ke taman terus dengar mereka bunyi krok krok kasihan jadi Ravi bawa saja, nanti minta daddy buatin kandang."
"Ravi Ravi, sekalian aja kamu pergi ke sungai kalau lihat buaya, kamu bawa pulang buayanya, kalau kamu juga pergi kehutan lihat harimau atau singa bawa juga, biar habis manusia di rumah kalian." Ucap ketus Reva kesel.
"Rama mengapa anak Lo modelnya gini." Teriak Viana kesal.
***
Karena kesal Viana membawa Ravi ke kantor Rama untuk menasehati anaknya, biar sekolah itu belajar bukan jadi pawang hewan, Ravi yang tidak mengerti kekesalan Viana sesekali mengintip tasnya, dan suara kodok yang terdengar membuat emosi Viana di ubun-ubun.
Langkah kaki Vi masuk ke kantor, saat akan menuju lift khusus Viana ditahan satpam, dia di minta melapor dulu ke resepsionis tujuan kedatangannya apa?.
Viana yang menang sedang emosi melangkah cepat sambil mengandeng Ravi ke meja resepsionis.
"Cepat hubungi Rama, sebelum aku marah." Teriak Viana.
Panggilan terhubung ke sekretariat Rama yang langsung menggakat nya, Viana langsung menyambar telpon dengan marah-marah memberi perintah minta Rama menjawab.
Mendengar jawaban sekretaris membuat Viana semakin emosi, Ravi langsung melepaskan tangan Vi dan berlari memeluk seseorang.
"Daddy! mommy marah-marah."
"Handphone hubby kenapa tidak aktif? lagi enak-enak ya sama perempuan ini." Mata Viana tajam menatap Andin sekretaris pribadi Rama, wanita yang pernah dia pukul kepalanya.
"Viana! ayo naik keatas," Rama juga memperingatkan seluruh karyawan yang di mana bawah jika Vi dan anak kecil yang berada dalam gendongannya, anak dan istrinya.
Rama merangkul pundak Vi, tapi langsung ditepis. Hati Viana yang sudah kesal karena Ravi belum lagi karyawan Rama sekarang melihat Rama baru kembali bersama Andin.
Saat masuk di dalam Rama melihat tatapan Vi yang masih menahan amarahnya.
"Ravi sayang! Daddy bicara sama mommy dulu ya, Ravi main diruangan sana,"
"Oke Daddy!" Ravi melangkah pergi membawa tasnya.
Rama duduk disebelah Viana yang masih cemberut, Rama menarik tubuh Vi menghadapnya, diciumnya kening Vi, dan memeluknya lembut.
"Viana jangan pernah meragukan kesetiaan juga cinta aku Vi."
"Terimakasih karena sudah cemburu, berarti kamu sangat mencintai aku, aku juga sangat mencintai kamu, aku keluar dengan Andin tidak berdua bersama Bima juga, tapi kak Bima masih diparkiran."
Ciuman Rama mendarat di setiap inci wajah Vi, dia tersenyum melihat Viana yang mulai menatapnya, Rama mencium bibir Vi yang dibalas pelan.
"Kita lanjut dirumah, takut khilaf."
__ADS_1
"Kamu masih berkerja dengan cacing Andin, mommy tidak suka dia hubby."
"Dia sudah berubah mommy, tidak seperti dulu lagi, dia takut kepalanya pecah karena mommy."
"Hubby tahu dari mana?"
"CCTV, Andin juga pernah mengajukan surat pengunduran diri, tapi hubby tolak. Tidak ada salahnya orang ingin berubah di kasih kesempatan."
"Iya hubby, tapi mommy tetap akan antisipasi, tidak boleh kecolongan apa lagi wanita montok seperti dia."
"Iya sayang."
"Hubby! kedatangan mommy karena Ravi, hubby lihat sendiri tingkahnya."
Rama melangkah memasuki kamar dan melihat Ravi asik bermain dengan kodok, setiap kodok lompat langsung ditangkap.
"Ravi! bisa jelaskan ke daddy, kodok ini!"
"Kita pelihara ya daddy, kasihan mereka tidak punya rumah."
Rama tertawa dan duduk di pinggir ranjang melihat Ravi yang tulus menatap kodok yang terus berbunyi.
"Ravi kamu sadar tidak sedang menyakiti mereka."
Ravi kaget dan mengerutkan keningnya, niatnya baik mengapa bisa menyakiti.
"Sayang kodok hidup di alam bebas, bisa darat juga air, jika Ravi mengambil mereka maka mereka terkurung. Kehidupan kodok berbeda dengan kucing, daddy tahu Ravi niat baik, jika Ravi melihat mereka cukup jangan disakiti, jika Ravi melihat hewan kelaparan kasih makan tapi jangan renggut kebebasan mereka, contohnya, Ravi memelihara kucing tapi tidak menyayangi dan juga memberi makan maka Ravi menyakitinya, saat Ravi memberi makan kucing liar maka Ravi menyelamatkannya.
"Kita lepaskan kodoknya Daddy, kasihan."
"Iya sayang ayo Daddy temani melepaskan mereka."
"Daddy kita bukan hanya baik ke sesama manusia tapi hewan dan tumbuhan juga kn daddy,"
"Iya sayang, jangan suka merusak tanaman, jangan menyakiti hewan yang tidak bersalah, apalagi hati.
"Iya daddy Ravi akan mengingat pesan daddy. Tapi dad tadi aunty Reva minta Ravi menangkap buaya, harimau dan singa."
"Astaghfirullah Al azim, mereka hewan yang berbahaya sayang,"
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE
__ADS_1